Asal-usul Wewaran dan Penggunaannya

Wewaran adalah bahasa Sansekerta dari urat kata wara di duplikasikan (Dwipurwa) dan mendapat akhiran an (we+wara+an).  Kata wara banyak memiliki arti seperti: terpilih, terbaik, unggul. Wara juga berarti hari; mulia; utama. Dari uraian di atas wewaran dapat diartikan perhitungan hari-hari. Tentang hari-hari dalam Wariga ada sepuluh jenis yang dipergunakan dalam padewasan yaitu pemilihan hari baik untuk memulai suatu pekerjaan atau yajña.

Mengenai mitologi (cerita) lahirnya wewaran dikemukakan dalam Lontar Medangkamulan dan Lontar Bagawan Garga.  Dalam Lontar tersebut di atas diuraikan kelahiran wuku dan juga menceritakan para Dewa dan Rsi adalah berwujud menjadi wewaran sebagai berikut :

”Kunang kang rumuhan,  sang hyang ekataya,  maka linggan taliwang ke,  nga,  sang hyang timira,  maka pepet,  nga,  sang hyang wacika,  dadi waya.  Sang hyang manacika,  dadi byantara,  punika sang hyang tri kursika maka lingga triwara.  Sang hyang caturlokapala,  dadi catur wara,  sri bhegawan bhregu; laba bhagawan kanwa; jaya bhagawan janaka; manala bhagawan narada.  

Sang hyang garga, ka, sang korsika, u, sang hyang metri, pa.  Sang kurusya, pwa. Sang hyang pratanjala, wa, dadi pancawara.

Mwang sadrsi,  indra dadi tungleh,  baruna dadi aryang.  Yama dadi paniron: hyang bajra dadi was.  Sang hyang airawana dadi maulu.  Mwah saptarsi,  slokanya : Radityanca candrayatam kujayencarabudyattam wraspati tamnca saniscara gunatryam,  kunang sang hyang baskara dadi,  ra,  sang hyang candra dadi,  ca,  sang hyang anggara,  sang hyang udaka dadi,  bu; sang hyang suraguru dadi Wra; sang hyang bregu dadi su,  sang hyang wasurama dadi,  sa”

– (Lontar Medangkamulan; lembar 10 a -10 b).

Artinya :

Tersebutlah saat dahulu Sang Hyang Ekayata sebagai perwujudan Taliwangke. Sang Hyang Timira menjadi Pepet, Sang Hyang Kalima menjadi Menga, keduanya menjadi Dwiwara. Sang Hyang Cika menjadi Dora; Sang Hyang Wacika menjadi Waya, Sang Hyang Manacik menjadi Byantara; dan Sang Hyang Tri Kursika berwujud menjadi Triwara.  Sang Hyang  Caturlokapala menjadi Caturwara,  Sri adalah Bhagawan Bhregu,  Laba adalah Bhagawan Kanwa,  jaya adalah Bhagawan Janaka,

Mandala adalah Bhagawan Narada. Sang Hyang Garga menjadi Kliwon, Sang Hyang Korsika menjadi Umanis,  Sang Hyang Metri menjadi Pahing, Sang Hyang Kurusya menjadi Pon,  Sang Hyang Pratanjala menjadi Wage.  Jadi Pnacawara adalah perwujudan dari Sang Hyang Pancakorsika. Dan lagi Sad Rsi berwujud menjadi Sadwara yaitu Indra menjadi Tungleh, Bharuna menjadi Aryang, Kuwera menjadi Urukung, Bayu menjadi Paniron, Hyang Bajra menjadi Was, Sang Hyang Ajrawana menjadi Maulu.

Selanjutnya dalam sloka Sapta Rsi dinyatakan Sang Hyang Baskara menjadi Radite, Sang Hyang Candra  menjadi Coma, Sang Hyang Anggara menjadi Anggara, Sang Hyang Udaka menjadi Buda,  Sang Hyang Suraguru menjadi Wraspati, Sang Hyang Bregu menjadi Sukra, Sang Hyang Wasurama menjadi Saniscara.

Kelahiran Wewaran

Mitologi di atas tidak menyebutkan tentang Ekawara, Astawara, Sangawara dan Dasawara. Oleh karena itu agak berbeda dengan mitologi lahirnya wewaran berdasarkan Lontar Bhagawan Garga sebagai berikut :

”Hana ta dewa anglayang,  guru tunggal,  ingaran sang hyang licin,  suksma nirmala,  endah snenya maring sunya,  pantaranya rumawak tuduh,  yan ta sang hyang licin,  rumaga rama tan sahayebu.  Mayoga sang hyang licin,  hana bhagawan bregu,  mayoga bhagawan bregu hana rwa mimitan,  nga,  rahayu mimitan,  rupanya kadi tunggal,  nga,  dewakala,  rahu mawak ketu lwirya: sang hyang rahu hangadakna,  kala kabeh,  sang hyang ketu ika hamijil kna dewakabeh,  mwang wewaran”

Transkripsi Lontar Bhagawan Garga,  3-4

Artinya :

”Ada tersebut sinar suci melayang-layang,  beliau itu dewa suci yang disebut Sang Hyang Licin, wujudnya sangat gaib dan sangat suci, bermacam-macam wujudnya di alam yang kosong ini,  itulah sebabnya berwujud Sang Hyang Tuduh,  Ia itulah juga Sang Hyang Licin, beliau yang ada pertama kali,  tanpa ayah dan ibu.  Beryogalah Sang Hyang Licin,  Ada bhagawan Bregu,  beryogalah bhagawan Bregu,  lahirlah dua hal yaitu positif dan negatif, wujudnya seperti tunggal (satu) adalah Dewa Kala; yaitu Sang Hyang Rahu dan Sang Hyang Ketu.  Sang Hyang Rahu menciptakan semua Kala,  Sang  Ketu itu menciptakan para Dewa dan Wewaran. ”

Selanjutnya diuraikan bahwa Sang Hyang Licin sebenarnya menjadi Ekawara yaitu Luang. Kemudian lahir wuku Sinta dan Sungsang maka ada Dwiwara yaitu Menga,  Pepet; inilah yang menyebabkan adanya baik buruk (ala ayu).  Sang Hyang Menga menjadi siang adalah Sang Hyang Rahu; Hyang Pepet menjadi malam adalah Sang Hyang Ketu.  Ada wuku Tambir lahirlah Triwara yaitu Dora,  Waya,  Byantara.  Sesungguhnya Dora adalah Kala, Waya adalah Manusa dan Byantara adalah Dewa.  Ada wuku Kulawu lahirlah caturwara yaitu Sri,  Laba,  Jaya,  Mandala; sesungguhnya adalah Batari Gangga,  Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Sang kara,  Sang Hyang Kancanawidhi.  Ada wuku Watiga lahirlah Pancawara, yaitu : Umanis,  Pahing.  Pon,  Wage,  Kliwon.  Sebenarnya adalah Sang Hyang Iswara Sang Hyang Brahma,  Sang Hyang Mahadewa,  Sang Hyang Wisnu,  Sang Hyang Siwa.  Ada wuku Pahing lahirlah Sadwara yaitu: Tungleh Aryang,  Urukung,  Paniron,  Was,  Maulu.

Sesungguhnya Tungleh adalah Antabuta; Aryang adalah Padabuta; Urukung adalah Anggabuta; Paniron adalah Malecabuta; Was adalah Astabuta; Maulu adalah Matakabuta. Ada wuku Bala lahirlah Saptawara yaitu: Radite,  Coma,  Anggara Buda,  Wraspati,  Sukra, Sanicara; sebenarnya adalah Sang Hyang Banu,  Hyang Candra,  Sang manggala,  Hyang Buda,  Hyang Wraspati,  Bhagawan Sukra,  Dewi Sori.  Ada wuku Kulantir,  lahirlah Astawara yaitu: Sri,  Indra,  Guru,  yama,  Ludra,   Brahma,  Kala,  Uma.  Sebenarnya adalah Batari Giriputri,  Hyang Indra,  Sang Hyang Guru,  Sang Hyang Yama,  Hyang Ludra,  Hyang Brahma,  Hyang Kalantaka,  Sang Hyang Amerta.  Ada wuku langkir lahirlah Sangawara yaitu: Dangu,  Jangur,  Gigis,  Nohan,  Ogan,  Erangan,  Urungan,  Tulus,  Dadi.

Sebenarnya Buta Urung; Jangur adalah Buta Pataha; Gigis adalah Buta Jingkrak; Erangan adalah Buta Jabung; Urungan adalah Buta Kenying; Tulus adalah Sang Hyang Saraswati;  Dadi adalah Sang Hyang Dharma.  Ada wuku Uye,  lahirlah Dasawara yaitu Pandita,  Pati, Suka Duka, Sri Manuh,  Manusa,  Raja,  Dewa,  Raksasa.  

Sebenarnya Sang Hyang Aruna adalah Pandita; Kala adalah Pati; Smara adalah Suka; Durga adalag Duka; Sang Hyang Basundari adalah Sri; Kalalupa adalah Manuh; Sang Hyang Suksmajati adalah Manusa; Kalatangis adalah Raja; Sang Hyang Sambu adalah Dewa; Sang Kalakopa adalah Raksasa.(Transkripsi Lontar Bhagawan Garga,  4-5).

Berdasarkan uraian kelahiran wewaran tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa semua wewaran itu dalah ciptaan Sang Hyang Widhi melalui yoganya. Pada mulanya beliau disebut Sang Hyang Licin yang beryoga lahirlah Bhagawan Bregu. Bhagawan Bregu beryoga lahirlah Sang Hyang Rahu dan Sang Hyang Ketu. Sang Hyang Rahu beryoga lahirlah para Kala dan Sang Hyang Ketu beryoga lahirlah para Dewa dan Wewaran. Maksudnya adalah Sang Hyang Widhi itu tunggal tidak ada duanya yang diwujudkan dengan Ekawara adalah Luang. Luang artinya kosong.

Pada mulanya belum ada apa-apa atau alam ini kosong; yang ada hanya kekosongan (luang),  itu adalah sebenarnya perwujudan Sang Hyang Widhi yang tunggal disebut juga Paramasiwa dalam Saptaloka beliau berkedudukan pada Satyaloka. Pada tingkat ini beliau suci nirmala belum terpengaruh oleh apapun juga sehingga disebut dengan Nirguna Brahma. Dari yoganya Sang Hyang Widhi ada Bhagawan Bregu, beliau ada pada tingkat Mahaloka, saat itu Sang Hyang Widhi sudah terpengaruh oleh hal-hal maya. Bhagawan Bregu beryoga lahirlah Sang Hyang Rahu dan Sang Hyang Ketu. Pada tingkatan Mahaloka Sang Hyang Widhi diberi gelar Sadasiwa yang disebut dengan Saguna Brahma karena sudah terpengaruh oleh maya. Itulah sebabnya muncul dua kekuatan Cetana Acetana, Purusa Predana atau Sang Hyang Ketu dan Sang Hyang Rahu. Berpadunya dua kekauatan ini pada jenjang Siwatama yang disebut dengan Gunakarya barulah muncul ciptaan yaitu Sang Hyang Rahu beryoga lahir para Kala(Bhuta) dan Sang Hyang Ketu beryoga lahirlah para Dewa dan Wewaran, demikian seterusnya.

Asal Urip atau Neptu

Selain cerita lahirnya wewaran di atas dalam Lontar Bhagawan garga juga menyebut tentang hurip/neptu dari tiap-tiap wewaran yang ada sebagai berikut:

”Kunang ikang wewaran kabeh sakeng yoganira sang hyang ketu,  ika wak dewa kabeh ri mangke sang hyang ketu.  Mwang sang hyang rahu kinon denira sang hyang licin magawe ana abeking trimandalanya,  iwasira,  awargadesa ring wayabya pranahnya,  tan ana madani ikang awarga wayabya teja kadi surya koti.  Kinon taya kabeh mwang dewa kabeh tekeng wewaran agrebat desa ri wayabya,  neher sira sang hyang sangkara jumunjung ring wayabya.  Ika ingadu kala lawan dewa,  sang hyang rahu,  sang hyang ketu,  angadu prangira kabeh arebat awarga wayabya.  Rame kang prang silih suduk,  nyakra,  enak adameng kasaktennya.  Pejah tang kala kabeh,  ingurip mwah denira sang hyang adikala,  sidhi Yoganya”

Transkripsi Lontar bhagawan Garga, 7

Artinya :

Demikianlah tentang wewaran semuanya lahir dari yoganya Sang Hyang Ketu, begitu juga para Dewa ada karena Sang Hyang Ketu. Sedangkan Sang Hyang Rahu disusruh oleh beliau Sang Hyang Licin untuk mengadakan ciptaan yang memenuhi Trimandala, lalu beliau menjadi warga desa yang bertempat di arah Wayabya (Barat laut), tidak akan menyaingi keluarga desa di wayabya, bersinar seperti matahari sebanyak sepuluh ribu. Diperintahkannya semua para dewa dan wewaran untuk menyerang desa yang ada di wayabya, lalu  beliau Sang Hyang Sangkara berdiri (ada) di wayabya. Itu di adu oleh para kala melawan para dewa, Sang Hyang Rahu, Sang Hyang Ketu, sebagai pemimpin perang menyerbu seluruh warga yang ada di wayabya. Sangatlah seru pertempuran itu saling tusuk menusuk, panah memanah, semua mengeluarkan kesaktiannya, matilah kala semuanya, kehidupan kembali oleh Sang Hyang Adikala yang telah berhasil yoganya.

Selanjutnya setelah para kala hidup semuanya,  lagi terjadi peperangan yang sangat dasyat,  sehingga akibatnya banyak diantara dewa,  wewaran terbunuh menjadi korban perang,  tetapi akhirnya juga kembali dihidupkan. Demikian cerita kehidupan Wewaran berperang melawan Kala semuanya yang  akhirnya dihidupkan kembali oleh Hyang taya,  itulah sebabnya semua wewaran mempunyai urip/neptu seperti telah tersebut di atas. Dari sinilah kiranya Padma Anglayang yang juga disebut dengan pengider-ngider,  setiap arahnya mempunyai urip tertentu.

Sehubungan dengan terciptanya alam semesta yang keadaannya sudah stabil, sempurna dan sejahtera artinya masing-masing dari benda-benda alam (Brahmanda) telah berdiri sendiri-sendiri disebut dengan Swastika sebagai lambang suci agama Hindu.  Lambat laun dari Swastika itulah berkembang menjadi lukisan Padma Anglayang, artinya tunjung terbang melayang-layang di awang-awang mengedari matahari (Suryasewana).  Daunnya yang delapan menjadi 8 (delapan) arah dari bumi yaitu :

  1. Purwa (Timur).
  2. Gneya (Tenggara).
  3. Daksina (Selatan).
  4. Nairiti (Barat Daya).
  5. Pascima (Barat).
  6. Wayabya (Barat Laut).
  7. Uttara (Utara).
  8. Airsanya (Timur Laut).

Dalam Sapta loka yaitu tingkat keempat dari atas atau dari bawah Sang Hyang Widhi itu disebut Loka Pala artinya pemimpin alam.  Dalam kepemimpinan ini Sang Hyang Widhi digelari bermacam-macam menurut tempat dan tugasnya,  misalnya Panca Brahma,  Panca Dewata,  Nawa Dewata atau Dewata Sangga.  Di antara gelar-gelar Sang Hyang Widhi itu di sini akan diuraikan tentang Nawa Dewata atau Dewata Sangga yang berhubungan langsung dengan Padma anglayang atau Pangider-ider sebagai berikut :

  1. Sang Hyang Iswara bertempat di Timur.
  2. Sang Hyang Maheswara bertempat di Tenggara.
  3. Sang Hyang Brahma bertempat di Selatan.
  4. Sang Hyang Rudra bertempat di Barat daya.
  5. Sang Hyang Mahadewa bertempat di Barat.
  6. Sang Hyang Sangkara bertempat di Barat Laut.
  7. Sang Hyang Wisnu bertempat di Utara.
  8. Sang Hyang Sambhu bertempat di Timur Laut.
  9. Sang Hyang Siwa bertempat di Tengah.

Terutama para Dewata Sangga inilah diperintahkan oleh Sang Hyang Widhi untuk menjaga semua penjuru mata angin dunia supaya stabil dengan memiliki urip masing-masing seperti yang telah diuraikan dalam  Lontar Bhagawan garga seperti di bawah ini:

  1. Sang Hyang Iswara melawan para Kala, beliau terbunuh oleh Kala Sanjaya 5 kali,  tetapi dihidupkan 5 kali oleh Sang Hyang taya. Sang Iswara diperintahkan oleh Sang Hyang Widhi mengatur memimpin alam bagian Timur.  Itulah sebabnya dalam pangider-ngider arah Timur mempunyai 5 (lima).
  2. Sang Hyang Maheswara atau Sang Hyang Wraspati terbunuh oleh Kala Amengkurat 8 kali, dihidupkan oleh Sang Hyang Taya 8 kali,  sehingga Sang Hyang Maheswara yang memimpin arah Tenggara mempunyai urip 8 (delapan).
  3. Sang Hyang Brahma terbunuh 9 kali oleh Kala Wiwesa, kemudian dihidupkan 9 kali oleh Sang Hyang Taya,  sehingga Hyang Brahma yang diperintahkan memimpin arah Selatan mempunyai urip 9 (sembilan).
  4. Sang Hyang Rudra dibunuh 3 kali oleh Kala Pundutan dan dihidupkan juga 3 kali oleh Sang Hyang Taya,  sehingga Sang Hyang Rudra memperoleh tugas dibagian Barat daya mempunyai urip 3 (tiga).
  5. Sang Hyang Mahadewa dibunuh 7 kali oleh Kala Agung,  tetapi dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Taya 7 kali,  sehingga Sang Hyang Mahadewa yang ditugaskan memimpin arah Barat mempunyai urip 7 (tujuh).
  6. Sang Hyang Sangkara terbunuh oleh Kala Mretiu sekali, kemudian dihidupkan juga sekali oleh Sang Hyang Taya,  sehingga Sang Hyang Sangkara yang ditugaskan memimpin arah Barat Laut mempunyai urip 1 (satu).
  7. Sang Hyang Wisnu dibunuh oleh Kala Dasamuka 4 kali, juga dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Taya,  sehingga Sang Hyang Wisnu yang ditugaskan menagtur atau memimpin arah Utara mempunyai urip 4 (empat).
  8. Sang Hyang Sambhu atau Sang Hyang Kawia dibunuh oleh Kala Greha 6 kali kemudian dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Taya 6 kali,  sehingga Sang Hyang Sambhu yang ditugaskan memimpin arah Timur Laut mempunyai urip 6 (enam).
  9. Sang Hyang Siwa terbunuh 8 kali oleh Kala Eka Dasabumi, dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Taya 8 kali juga,  sehingga Sang Hyang Siwayang ditugaskan di bagian Tengah sebagai proses mempunyai urip 8 (delapan).

Dari uarain diatas maka timbullah Padma Anglayangatau pangider-ngider yang menunjukkan setiap arah itu memiliki urip/neptu tertentu  dan akhirnya menjadi patokan yang nantinya diikuti oleh Wewaran maupun Wuku. (Transkripsi Lontar Bagawan Garga,  7).

Pembagian Perhitungan Hari:

  1. Eka wara; luang (tunggal), Oleh karena Kala dihidupkan hanya sekali saja, itulah sebabnya Sang Hyang Kala mempunyai hurip 1 (satu).
  2. Dwi wara; menga (terbuka), pepet (tertutup).
  3. Tri wara; pasah/dora (tersisih), beteng/waya (makmur),  kajeng (tekanan yang tajam)
  4. Catur wara; sri (makmur), laba (pemberian),  jaya (unggul),  menala (sekitar daerah).
    1. Hyang Angga terbunuh 4 kali, sehingga Sri mempunyai urip 4 (empat),
    2. Hyang Bayu terbunuh 5 kali, sehingga Laba mempunyai urip 5 (lima).
    3. Hyang Purusa dibunuh 9 kali, sehingga Jaya mempunyai urip 9 (sembilan),
    4. Hyang Kencanawidi terbunuh 7 kali, sehingga manala mempunyai urip 7 (tujuh)
  5. Panca wara; umanis (penggerak), paing (pencipta),  pon (penguasa),  wage (pemelihara),  kliwon (pelebur).
    1. Batara Siwa dibunuh oleh Kala Ekadasabumi delapan kali, itu sebabnya Kliwon mempunyai urip 8 (delapan).
    2. Hyang Iswara dibunuh oleh Kala Sanjala lima kali, oleh karenanya Umanis mempunyai urip 5 (lima).
    3. Hyang Brahma terbunuh oleh Kala Wisesa sembilan kali, itulah sebabnya Pahing mempunyai urip 9 (sembilan).
    4. Hyang Mahadewa dibunuh oleh Kala Agung tujuh kali, karenanya Pon mempunyai urip 7 (tujuh).
    5. Hyang Wisnu dibunuh oleh Kala Dasamuka empat kali, oleh karena itu Wage mempunyai urip 4 (empat).
  6. Sad wara; tungleh (tak kekal), aryang (kurus),  urukung (punah),  paniron (gemuk),  was (kuat),  maulu (membiak). Mengenai Sadwara:
    1. Tungleh terbunuh 7 kali,
    2. Aryang terbunuh 6 kali,
    3. Urukung terbunuh 5 kali,
    4. Paniron terbunuh 8 kali,
    5. Was terbunuh 9 kali,
    6. Maulu terbunuh 3 kali. Transkripsi Lontar Bhagawan Garga,  8).
  7. Sapta wara; redite (minggu), soma (senin),  Anggara (selasa),  budha (rabu),  wrihaspati (kamis),  sukra (jumat),  saniscara (sabtu).  Jejepan; mina (ikan),  Taru (kayu),  sato (binatang),  patra ( tumbuhan menjalar),  wong (manusia),  paksi (burung).
    1. Hyang Aditya dibunuh oleh Kala Limut lima kali, karenanya Radite mempunyai urip 5 (lima).
    2. Hyang Candra terbunuh oleh Kala Angruda empat kali, karenanya Coma mempunyai urip 4 (empat).
    3. Sang Manggal dibunuh oleh Kala Enjer tiga kali, oleh sebab itu Anggara mempunyai urip 3 (tiga).
    4. sang Buda terbunuh oleh Kala Salongsongpati tujuh kali, karenanya Buda mempunyai urip 7 (tujuh).
    5. Sang Hyang Wraspati terbunuh oleh Kala Amengkurat delapan kali, itulah sebabnya Wraspati mempunyai urip 8 (delapan).
    6. Sang Hyang Kawia terbunuh oleh Kala Greha enam kali, oleh karenanya Sukra mempunyai urip 6 (enam),
    7. Dewi Sori terbunuh oleh Kala Telu sembilan kali, itulah sebabnya Saniscara mempunyai urip 9 (sembilan).
  8. Asta wara; sri (makmur), indra (indah),  guru (tuntunan),  yama (adil),  rudra (pelebur),  brahma (pencipta),  kala (nilai),  uma (pemelihara).
    1. Hyang Sangkara dibunuh oleh Kala Mretiu sekali, itulah sebabnya sehingga mempunyai urip 1 (satu).
    2. Hyang Giriputri dibunuh oleh Kala Luang enam kali, karenanya mempunyai urip 6 (enam),
    3. Hyang Guru dibunuh oleh Kala Durgastana delapan kali, oleh sebab itu Guru mempunyai urip 8 (delapan),
    4. Hyang Yama dibunuh oleh Kalantaka sembilan kali, karenanya Yama mempunyai urip 9 (sembilan).
    5. Hyang Rudra terbunuh oleh Kala Pundutan tiga kali, sehingga Ludra mempunyai urip 3 (tiga),
    6. Hyang Brahma dibunuh oleh Kala Agni tujuh kali, sehingga Brahma mempunyai urip 7 (tujuh).
    7. Hyang Kala terbunuh oleh Hyang Guru sekali, sehingga kala mempunyai urip 1 (satu).
    8. Hyang Mreta terbunuh oleh Kala Padumarana empat kali, sehingga Uma mempunyai urip 4 (empat).
  9. Sanga wara; dangu (antara terang dan gelap), jangur (antara jadi dan batal),  gigis (sederhana),  nohan (gembira),  ogan (bingung),  erangan (dendam),  urungan (batal),  tulus (langsung/lancar),  dadi (jadi).
    1. Dangu terbunuh 5 kali.
    2. Jangur terbunuh 6 kali,
    3. Gigis terbunuh 8 kali,
    4. Nohan terbunuh 1 kali,
    5. Ogan terbunuh 8 kali,
    6. Erangan terbunuh 3 kali,
    7. Urungan 7 kali.
    8. Tulus terbunuh 9 kali,
    9. Dadi terbunuh 4 kali.
  10. Dasa wara; pandita (bijaksana), pati (dinamis),  suka (periang),  duka (jiwa seni/mudah tersinggung),  sri (kewanitaan),  manuh (taat/menurut),  manusa (sosial),  eraja (kepemimpinan),  dewa (berbudi luhur),  raksasa (keras)

Itulah semuanya menjadi uripnya masing-masing. Disamping pembagian siklus yang merupakan pembagian masa dengan nama-namanya,  lebih jauh tiap wewaran dianggap memiliki nilai yang dipergunakan untuk menentukan ukuran baik buruknya suatu hari.  Nilai itu disebut “urip” atau neptu yang bersifat tetap.  Karena itu nilainya harus dihafalkan.

Wuku

Disamping perhitungan hari berdawarkan wara sistim kalender yang dipergunakan dalam wariga dikenal pula perhitungan atas dasar wuku (buku) dimana satu wuku memilihi umur tujuh hari,  dimulai hari minggu (raditya/redite).  Setiap hari juga mempunyai urip/neptu,  tempat dan dewa yang dominan,  juga ke semuanya unsur itu menetapkan sifat-sifat padewasaan.

1 tahun kalender pawukon = 30 wuku,  sehingga 1 tahun wuku = 30 x 7 hari = 210 hari.

Adapun nama-nama wukunya sebagai berikut:

  1. Sita,
  2. landep,
  3. ukir,
  4. kilantir,
  5. taulu,
  6. gumbreg,
  7. wariga,
  8. warigadean,
  9. julungwangi,
  10. sungsang,
  11. dunggulan,
  12. kuningan,
  13. langkir,
  14. medangsia,
  15. pujut,
  16. Pahang,
  17. krulut,
  18. merakih,
  19. tambir,
  20. medangkungan,
  21. matal,
  22. uye,
  23. menial,
  24. prangbakat,
  25. bala,
  26. ugu,
  27. wayang,
  28. klawu,
  29. dukut
  30. Watugunung

Penanggal dan Panglong

Selain perhitungan wuku dan wewaran ada juga disebut dengan Penanggal dan Panglong.  Masing masing siklusnya adalah 15 hari.

  1. penanggal dimulai 1 hari setelah (H+1) hari Tilem (bulan Mati), dan
  2. panglong dimulai 1 hari setelah (H+1) hari purnama (bulan penuh).

Padewasaan yang berhubungan dengan tanggal pangelong dibagi dalam empat kelompok, yaitu:

  1. Padewasaan menurut catur laba (empat akibat: baik – buruk – berhasil – gagal).
  2. Padewasaan berdasarkan penanggal untuk pawiwahan (misalnya hindari menikah pada penanggal ping empat karena akan berakibat cepat jadi janda atau duda).
  3. Padewasaan berdasarkan pangelong untuk pawiwahan (misalnya hindari pangelong ping limolas karena akan berakibat tak putus-putusnya menderita).
  4. Padewasaan berdasarkan wewaran, penanggal,  dan pangelong (misalnya: Amerta dewa,  yaitu Sukra penanggal ping rolas,  baik untuk semua upacara)

Sasih

Sasih secara harfiahnya sama diartikan dengan bulan.  Sama sepertinya kalender internasional,  sasih juga ada sebanyak 12 sasih selama setahun,  perhitungannya menggunakan “perhitungan Rasi” sesuai dengan tahun surya (12 rasi = 365/366 hari) dimulai dari 21 maret.

Padewasaan menurut sasih dikelompokkan dalam beberapa jenis kegiatan antara lain: untuk membangun,  pawiwahan,  yadnya,  dll.  adapun pembagian sasih tersebut adalah;

  1. Kedasa = Mesa = Maret – April.
  2. Jiyestha = Wresaba = April – Mei.
  3. Sadha = Mintuna = Mei – Juni.
  4. Kasa = Rekata = Juni– Juli.
  5. Karo = Singa = Juli –Agustus.
  6. Ketiga = Kania = Agustus – September.
  7. Kapat = Tula = September – Oktober.
  8. Kelima = Mercika = Oktober – November.
  9. Kenem = Danuh = November – Desember.
  10. Kepitu = Mekara = Desember – Januari.
  11. Kewulu = Kumba = Januari – Februari.
  12. Kesanga = Mina = Februari – Maret.

Dauh/dedauhan

Merupakan pembagian waktu dalam satu hari.  Sehingga dedauh ini berlaku 1 hari atau satu hari dan satu malam.
Berdasarkan dedauhan maka pergantian hari secara hindu adalah mulai terbitnya matahari (5. 30 WIT).  Inti dauh ayu adalah saringan dari pertemuan panca dawuh dengan asthadawuh

Dewasa Ayu

UpacaraKegiatanSub-KegiatanPilihanHindari
YadnyaDewa yadnya rsi yadnyaDauh hayu,  ayu nulus,  dewa setata,  dewa mentas,
dewa ngelayang,  dewa werdi,  amerta dewa,  amerta masa,  amerta dadi,  amerta akasa,  suba cara,  sedana tiba,  kala wisesa,  purnama,  purwani
Kala manggap, kala mertyu, kala pati, kala rau, kala sudukan, kala temah, sasih katiga, sasih kanem, sasih kasanga, sasih sadha
Manusa yadnyaMetatah,  mapetik,  sudhiwadaniSenin, rabu, amerta murti, amerta yoga, dewa werdi, panca werdi, panca amerta, suba cara, dirgayusa, kala wisesa.Ingkel wong, rarung pagelangan, tali wangke, naga naut, kala wong,  kala jengking, kala pati, kala manggap, kala mertyu, kala sudukan, kala temah
Melukat/ruwatan :Kala wisesa, amerta murti, amerta danta, panca amerta,
dasa amerta, purwani, purnama, kajeng kliwon enyitan.
Tapa brata yoga semadhiPenanggal ping 11, amerta danta, kala lutung magelut
Dewasa pawiwahan/perkawinan/ngantenPanglong, ingkel wong, watek wong, kala wong,
kala tampak, kala jengking, kala manggap, kala mertyu, kala dangastra, kala ngeruda, kala pati, kala rau, kala pegat, kala sudukan,
kala suwung, kala temah,
kala tiga pasah, amerta sula, karna sula, dagdig karana, rangda tiga,
rarung pagelangan, tali wangke, suduk raga, suduk rabi, naga naut,
uncal galung/walung(selasa dungulan hingga rabu pahang pegat tiwakan). 
Pitra yadnyaSwarga menga, amerta akasa, amerta bhuana, dewa nglayang,
sedana tiba, tulus & dadi
Kl.  Mertyu, kl.  Manggap, kl.  Sudukan, kl.  Suwung, kl.  Temah, kl.  Gotongan, semut sedulur, gagak amungsung pati, rarung pagelangan, purwani, purnama, prawani, tilem, pasah/busaya, rerahinan/puja wali,
was penganten, naga naut.
Bhuta yadnyaKajeng kliwon, prawani, tilem, purwani, purnama, dewa mentas,
patra limutan, kala gumarang munggah, watek bhuta, dan semua upacara yang terkait dengan
dewa yadnya, pitra yadnya dan manusa yadnya.
PembangunanMembuat pondasi bangunan, ngeruwakBuda kliwon, kl.  empas, kl.  gumarang, guntur graha, watek watuSasih katiga, sasih kapitu, sasih kaulu, sasih kasanga, sasih desta / jesta, sasih sadha, karna sula, kl.  bergala, kl.
Buingrau, kl. sapuhau,  sasih nglawean/materas bhuta. (pergantian tilem ke penanggal).
Membuat pintu gerbang, tembokKl.  cepikan, kl.  ngadeg, kl.  demit, kl. pager, kl. sor, kl. panyeneng,
kl. kutila,  turun, kl. tumpang, watek wong.
Pasang atap rangkapPenanggal, /panglong:5, 6.
Kecuali sabtu. dan 7 kecuali kamis
Geni rawana, brahma, kl. rumpuh, kl.
Rau, kl. sor, jejepan, semua dewasa geni
Membangun tempat suci, dapurDewa ngelayang, amertadewa, tulus, dadi, semua dewasa dewa yadnya
Menggali sumur /trowonganKl. keciran, banyu milir.Kl.  Olih  
Membuat bendungan,  dam,  tambak,  kolamKl. ngadeg, kl. pager, kl. panyeneng, banyu urungKl. luang, kl. mina, kl. beser, kl. sor.
Membuat saluran airKl. beser, kl. keciran, kl. luang, banyu milir
Mulai kegiatan pertanian
dan perternakan
Mengolah tanah/mengerjakan sawah,  ladangLanus, basah cerik, pemacekan, kl. tampak: kl. mereng, kl. olih, kl. muas, kl. sor
Menanam padi,  jagung,  palawijaHari kamis, basah gede, dewasa amerta, amerta masa, ayu nulus,
srigati munggah, kl. tampak. 
Asuajag munggah, kl. muas, kl. mereng, kl. sor.
Menanam ubi-ubianHari senin, asuajag turun, kl.
Empas, kl. luang, kl. tampak, kl. olih
Tanam tumbuh-tumbuhan penghasil daunHari selasa, kl.
Gumarang turun, kl. tampak
Kl. gumarang munggah, kl. mereng, kl. muas, kl. sor
Menanam tanaman hias/bungaHari rabu, kl. tampakKl. mereng, kl. muas
Menanam kelapa,  palawijaHari jumat, kajeng rendetan, kl. tampakIngkel taru, panglong, kl. olih, kl. mereng, kl. muas, kl. sor
Menanam tumbuhan merambatHari sabtu, kl. metampakIngkel wuku, kl. mereng
Membasmi hama,  ilalangPepedan, kl. beser, kl. buing rau
Menyimpan padi dilumbung/gudangSrigati, srigati jenek,
srigati turun, sri murti
Mantenin padi di lumbung/gudangSrigati, jenek
Menyadap nira/tuakKl. beser, kl. keciran, ingkel taru
Berternak hewan berkaki empatKl. bangkung, watek gajah.Ingkel sato, kl. upa, kl. rumpuh
Nelusuk hidung ternak,  melatih hewanIngkel sato, tutut masih, kl. angin, kl. was, watek suku
Memelihara ungasKl. rumpuh, ingkel manuk, panglong
Memelihara ikanWuku mina, panglong, kl. suwung
Berburu binatangIngkel sato, kl katemu, kl. kutila-munggahKl. lutung magelut
Berburu ungasIngkel manuk, kl. ketemu, kl. tukaran, kl. kutila
Menangkap ikanIngkel mina, kl. anda, kl. jangkut, kl.  Susulan, kl. jengkang, asuajag munggahKl. suwung
Mulai aneka usaha dan kegiatanMembuat alat penangkap ikanKl. jengking, kl. dangastra, kl. jengkang, kl. caplokan, kl. jangkut, kl. tiga dungulan,
kl. manguneb, kl. mina, kl. ngamut, kl. mapas, kl. rebutan, kl. susulan
Membuat sampan,  perahu,  kapal,  jaringCorok kodong, dewa ngelayang, kl. rebutan
Membuat aneka barang tajam dan senjataKl. timpang, pemacekan, kl. pacekan, aryang nemu brahma, kl. aus, kl. bancaran, kl. beser, kl. caplokan,
kl. jangkut, kl. dangastra, kl. gacokan, kl. keciran, kl. muncar, kl. muncrat, kl. rau, kl. kutila turun, kl. macan, kl. pati jengkang, kl. nanggung, kl. sapuhau, kl. sudukan, kl. wikalpa.
Membuat alat bunyi-bunyianKl. geger
MenganyamKl. kilang-kilung, kl. atat
Bakar bata,  genteng,  keramik dllSemua dewasa geni
Pindah tempat tinggalBuda kliwon, penanggal,
tulus dan dadi.
Membuka usaha da sarananyaPurna suka, sedana yoga, amerta gati, amerta yoga, ayu nulus,
dauh ayu, kl. cakra, kl. gotongan
kl. rebutan, kl. raja, tulus, dadi.
Tali wangke, kl. mangap, kl. dangastra, kl. pati jengkang, kl. luang, kl. ngruda, kl. pegat
Pelantikan pejabat,  pengurusKl. raja, kl. wisesa, kl. panyenengSasih kasanga, kl. pegat, kl. suwung, panglong
Mengesahkan peraturan/awig-awigDauh ayu, ayu nulus, kl. panyeneng
Melakukan pertemuan pentingKl. ketemu, kl. ngunya, kl. panyenengKl. pacekan, kl. pegat, kl. macan, kl. rau,
kl. sudukan, kl. suwung, titi buwuk.
Berobat ke dukunBeteng, kajeng, agni agung, patra limutanKl. pati
Meracik obat dan membuat zimat tengenKajeng kliwon enyitan, purwani, purnama, kl. miled, kl. lutung magelut, kl. rau
Pasang guna-gunaKl. jangkut, kl. ngruda, kl. pati, kl. manguneb, kl. mapas, kl. tumpang , patra limutan, kajeng kliwon uwudan, tilem.
Berlatih: tari,  tabuh,  beladiriSuba caraIngkel wong, kl. jengking, wuku berisi tanpa guru
Belajar mantram/buka sekolahHari senin, rabu, kamis, penanggal ping 1 (siki ), tutur mandi, tutut masih, dirga yusa, suba cara, dewa ngelayang, kl. olih, kl. isinan.Wuku berisi tanpa guru, kl. m ertyu, patra
Memisahkan bayi menyusuBeteng, was, kl. pegat.
Memindahkan orang sakit: hindariKl. sudukan
BersenggamaKl. mertyu, kl. ngruda, kl. pati, kl. pegat, kajeng kliwon, purnama, tilem, anggara paing, redite wage, soma umanis, anggara wage,
buda kliwon, wraspati paing, sukra pon, saniscara kliwon, dagdig karana,
nuju weton lanang/istri, pati pata, pati paten

Carun Dewasa

Carun dewasa adalah pamarisudha (penetralisir pengaruh dewasa yang buruk). Kadang tidak semua padewasan mengandung unsur ayu(positif) saja. Tetapi kadang pula disertai oleh unsur ala(negatif). Karena tak ada dewasa (hari/waktu) yang nulus(sempurna). Untuk itulah diperlukanpemarisudha dewasa. Di bawah ini akan diuraikan sedikit tentang carun dewasa.

Yang dimaksud Alaning Dewasa bila:

  • Penanggal Ping, 12, itu Kala Dangastra namanya.
  • Penanggal dan Panglong Ping, 10, itu namanya Dagdigkrana namanya.
    • Pada saat Wuku Gumreg, Langkir, itu namanya Kala Sula.
    • Pada saat Wuku Wayang, itu namanya Kala Mretyu.
    • Pada saat Wuku Tolu, Dukut, itu namanya Kaleburawu.
    • Pada saat Wuku Sinta, Wariga, Titi Buwuk, namanya.
    • Pada saat Wuku Tolu, Madangsya, Pahang, Mnahil, Banyu Urung namanya.
  • Pada saat Tilem, Penanggal, Panglong Ping 10, Pamacekan namanya.
  • Pada saat Penanggal atau Panglong Ping 7 ini namanya Dagdigkrana.
    • Pada saat Wuku Dungulan, Kuningan, Karna Sula namanya.
    • Pada saat Wuku Sinta, Mnail, Dukut, Kaleburawu namanya.
    • Pada saat Wuku Landep, Tolu, Sungsang, Pujut, Tambir, Bala, Titibuwuk namanya.
    • Pada saat Wuku Sungsang, Sinta, Tambir, Kulawu, Banyu Urung namanya.
    • Pada saat Tunggal Sasih, dengan Penanggal dan Pangglong, Naga Nawut namanya.

Urip Wewaran

  1. Urip Panca wara; Umanis (5), Pahing (9),  Pon (7),  Wage (4),  Kliwon (8).
  2. Urip Sapta wara; Dina Redite/Minggu (5), Soma/Senin (4),  Anggara/Selasa (3),  Budha/Rabu (7),  Wraspati/Kamis (8),  Sukra/Jumat (6),  Saniscara/Sabtu (9).
  3. Urip Wuku; Sita (7), landep (1),  ukir (4),  kilantir (6),  taulu (5),  gumbreg (8),  wariga (9),  warigadean (3),  julungwangi (7),  sungsang (1),  dunggulan (4),  kuningan (6),  langkir (5),  medangsia (8),  pujut (9),  Pahang (3),  krulut (7),  merakih (1),  tambir (4),  medangkungan (6),  matal (5),  uye (8),  menial (9),  prangbakat (3),  bala (7),  ugu (1),  wayang (4),  klawu (6),  dukut (5) dan watugunung (8).

Rumus Perhitungan Wariga

Ingkel (pantangan) mulai dari Redite/Minggu dan berakhir pada Saniscara/Sabtu (7 hari) dan bilangan wuku dibagi 6, sisa:

  1. Wong / yang berhubungan dengan Manusia.
  2. Sato / yang berhubungan dengan Hewan.
  3. Mina / yang berhubungan dengan Ikan.
  4. Manuk / yang berhubungan dengan Burung/Unggas.
  5. Taru / yang berhubungan dengan Tumbuhan Berkayu.
  6. Buku / yang berhubungan dengan Tumbuhan Berbuku.

Perhitungan Wewaran

Eka Wara ; Urip Pancawara + Urip Saptawara = Ganjil = Luang (tunggal/padat) -> urip 1

Dwi Wara ; Urip Pancawara + Urip Saptawara = Ganjil = menga (terbuka) -> urip 5 ; Genap = pepet (tertutup) -> urip 4

Tri Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 3 = sisa

1 => Pasah (ditujukan kepada Dewa) -> urip 9

2 => Beteng (ditujukan kepada Dewa) -> urip 4

3 => Kajeng (ditujukan kepada Bhuta) -> urip 7

Catur Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 4 = sisa

1 => Sri (makmur) -> urip

2 => Laba (pemberian/imbalan) -> urip 5

3 => Jaya (unggul) -> urip 1

4 => Menala (sekitar daerah) -> urip 8

Dari Redite Sinta sampai dengan Redite Dunggulan + 2,  Soma Dunggulan + 1,  sebelum dibagi.  ini disebabkan adanya Jaya Tiga pada Wuku Dunggulan berturut – turut dari redite,  selanjutnya rumus berlaku seperti biasa.

Panca Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 5 = sisa

1 => Umanis (penggerak) -> urip 5

2 => Paing (pencipta) -> urip 9

3 => Pon (penguasa) -> urip 7

4 => Wage (pemelihara) -> urip 4

5 => Kliwon (pemusnah/pelebur) -> urip 8

Sad Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 6 = sisa

1 => Tungleh (tak kekal) -> urip 7

2 => Ariang (kurus) -> urip 6

3 => Urukung (punah) -> urip 5

4 => Paniron (gemuk) -> urip 8

5 => Was (kuat) -> urip 9

6 => Maulu (membiak) -> urip 3

Jejepan ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 6 = sisa

1 => Mina (ikan)

2 => Taru (kayu)

3 => Sato (hewan)

4 => Patra (tumbuhan merambat/menjalar)

5 => Wong (manusia)

6=> Paksi (burung/unggas

Astha Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 8 = sisa

1 => Sri (makmur) -> urip 6

2 => Indra (indah) -> urip 5

3 => Guru (tuntunan) -> urip 8

4 => Yama (adil) -> urip 9

5 => Ludra (peleburan) -> urip 3

6 => Brahma (pencipta) -> urip 7

7 => Kala (nilai) -> urip 1

8 => Uma (pemelihara) -> urip 4

Dari Redite Sinta sampai Redite Dunggulan + 2,  Soma Dunggulan +1,  sebelum dibagi.  selanjutnya rumus berlaku sebagai biasa.

Sanga Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 9 = sisa

1 => Dangu (antara terang dan gelap) -> urip 5

2 => Jangur (antara jadi dan batal) -> urip 8

3 => Gigis (sederhana) -> urip 9

4 => Nohan (gembira) -> urip 3

5 => Ogan (bingung) -> urip 7

6 => Erangan (dendam) -> urip 1

7 => Urungan (batal) -> urip 4

8 => Tulus (langsung) -> urip 6

9 => Dadi (jadi) -> urip 8

Dari Redite Sinta sampai Redite Dunggulan + 2,  Soma Dunggulan +1,  sebelum dibagi.  selanjutnya rumus berlaku sebagai biasa.

Dasa Wara ; (urip Pancawara + Urip Saptawara yang dicari + 1) : 10 = sisa

1 => Pandita (bijaksana) -> urip 5

2 => Pati (dinamis) -> urip 7

3 => Suka (periang) -> urip 10

4 => Duka (jiwa seni / mudah tersinggung) -> urip 4

5 => Sri (kewanitaan) -> urip 6

6 => Manuh (taat / menurut) -> urip 2

7 => Manusa (sosial) -> urip 3

8 => Eraja (kepemimpinan) -> urip 8

9 => Dewa (berbudi luhur) -> urip 9

10 => Raksasa (asura keras) -> urip 1

Dasawara berarti watak agung (karakter).

Watek Madya

(urip Pancawara + Urip Saptawara yang dicari) : 5 = sisa

1 => Gajah (besar) – hewan

2 => Watu (kebal) – keras

3 => Bhuta (tak nampak) – jerat

4 => Suku (berkaki) – meja

5 => Wong (orang) – pembantu

Watek Alit

(urip Pancawara + Urip Saptawara yang dicari) : 4 = sisa

1 => Uler (beranak banyak)

2 => Gajah (besar)

3 => Lembu (kuat)

4 => Lintah (kurus)

Tanpa Guru ; dalam satu WUKU tidak terdapat GURU (Astha Wara),  yang artinya tidak baik untuk memulai suatu usaha terutama mulai belajar.

Was Penganten ; dalam satu WUKU terdapat dua WAS (Sad Wara),  baik untuk membuat benda tajam (seperti keris,  tombak dll),  tembok,  pagar dan membuat pertemuan.

Semut Sadulur ; Urip Pancawara + Urip Sapthawara = 13 dan berturut – turut tiga kali,  pantangan untuk atiwa – tiwa (menguburkan mayat / ngaben).  tetapi sangat baik untuk membentuk organisasi.

Kala Gotongan ; Urip Pancawara + Urip Sapthawara = 14 dan berturut – turut tiga kali,  pantangan untuk atiwa – tiwa (menguburkan mayat / ngaben).  tetapi sangat baik untuk memulai suatu usaha.

Mitra Satruning Dina (segala usaha/acara penting)

(Urip Saptawara + Pancawara Kelahiran) + (Urip Saptawara + Pancawara memulai Usaha/acara) = sisa

  1. => Guru (tertuntun)
  2. => Ratu (dikuasai)
  3. => Lara (terhalang)
  4. => Pati (batal)