Toleransi Pada Masa Jawa Kuno

Indonesia terdiri dari banyak pulau, ada berbagai ras dan suku bangsa di dalamnya. Inilah yang membuat Indonesia kaya akan keberagamannya. Mulai masa klasik atau kuno di era kerajaan-kerajaan di nusantara sudah mengenal akan adanya perbedaan. Entah itu antar suku ataupun agama.

Para founding father membuat negara ini tidak lepas dari peninggalan leluhur, contohnya seperti lambang negara kita yaitu Burung Garuda. Burung Garuda sendiri merupakan hewan mitologi dalam agama Hindu yang tertulis di dalam kitab parwa. Kisah sang Garuda atau Garudeya intinya menyelamatkan sang ibu dari perbudakan. Inilah yang mungkin menjadi inspirasi Soekarno, Moh. Hatta, Moh. Yamin dan Sutan Syahrir menjadikan Burung Garuda sebagai lambang Negara kita. Karena bangsa Indonesia di ibaratkan sebagai burung Garuda dan ibunya sebagai rakyat Indonesia yang diperbudak oleh bangsa asing.

Bhinneka Tunggal Ika

Pita yang dicengkram oleh burung garuda bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Kalimat tersebut di ambil dalam Kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular pada masa Majapahit. Sejak masa kerajaan-kerajaan kuno di Jawa Tengah sekitar abad ke-8 sampai ke-10, agama Hindu Siwa dan Buddha Mahayana telah hidup berdampingan. Perbedaan candi-candi dari kedua agama tersebut menunjukan bahwa keduannya terpisah satu sama lain, tetapi pada masa itu kedua agama ini saling hidup berdampingan (Edy Sedyawati dalam Dwi Woro Retno dan Hastho Bramantyo, 1993).

Baru pada masa Majapahit ada seorang pujangga yang bernama Mpu Tantular yang memunculkan gagasan untuk menjembatani berbagai aliran agama yang ada di Majapahit pada saat itu. Apa yang dilakukan oleh pemerintahan Majapahit terutama dalam usaha bina negara nampaknya telah memberikan nilai-nilai inspiratif pada sistem pemerintahan masa kemerdekaan Indonesia.

Demi menumbuhkan rasa dan semangat persatuan dan kesatuan serta kebersamaan maka pemerintah Republik Indonesia menggunakan semboyan dalam lambang negara kita yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Di bawah ini kutipan dari Kakawin Sutasoma yang menjelaskan Bhinneka Tunggal Ika:

”Rwaneka dhatu winuwus wara Buddha Wiswa,”
“bhinneka rakwa ring apan kena parwanosen”
“mangkang Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal”
“bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”

Sutasoma 139:5

 Terjemahan bebas:

Konon dikatakan bahwa wujud Buddha dan Siwa itu berbeda. Mereka memang berbeda namun, bagaimana kita bisa mengenali perbedaannya dalam selintas memandang. Karena kebenaran yang diajarkan Buddha dan Siwa itu sesungguhnya satu jua. Mereka memang berbeda-beda namun, hakikatnya sama. Karna tidak ada kebenaran yang mendua.

Bhinneka Tunggal Ika dalam Sutasoma

Akan tetapi dalam kakawin Sutasoma pengertian bhinneka tunggal ika lebih ditekankan pada perbedaan dalam agama. Berbeda halnya dalam semboyan kita pada lambang Garuda Pancasila yang pengertiannya diperluas tidak hanya perbedaan agama saja melainkan juga perbedaan suku, bahasa, adat, budaya dan kepulauan. Dari perbedaan-perbedaan tersebut hakekatnya sama yaitu bangsa dan Negara Indonesia.

Tidak hanya karya sastra masa klasik saja yang ditransformasi ke dalam Negara Indonesia ini tetapi bangunan masa klasik pun bahkan masa islam berkembang di nusantara pada saat itu sudah mencirikan tentang toleransi.

Toleransi Dalam Karya Struktur

Toleransi beragama juga terdapat pada Candi Jawi di Jawa Timur. Atap candi yang berbentuk stupa menandakan bangunan suci agama Buddha. Sementara di halaman candi pernah ditemukan sejumlah arca seperti Durga, Siwa, Ganesa, Mahakala, dan Nandiswara yang mewakili agama Hindu.

Kitab Negarakertagama menyebutkan salah satu bangunan bernama Jajawa (kemungkinan candi Jawi) sebagai pendharmaan raja Singhasari yaitu Kertanegara dalam perwujudannya sebagai Siwa-Buddha. Di telisik dari ilmu arkeologi candi Jawi ini sangat unik karna mewakili dari dua agama yaitu Siwa-Buddha.

Di Jawa Timur, adanya toleransi beragama diperlihatkan oleh makam kuno Tralaya di Trowulan. Sejumlah batu nisan pada kompleks makam Islam itu bertuliskan huruf Jawa Kuno dan Arab pada tiap sisi, berupa tahun Saka dan gambar sinar matahari yang biasa dijumpai pada hasil seni Majapahit. Huruf Jawa Kuno dan tahun Saka merupakan pengaruh India yang sering diidentikkan dengan agama Hindu dan Buddha.