Taman Wisata Wendit, Persinggahan Hayam Wuruk

Wendit merupakan tempat wisata dibawah pengelolaan badan usaha milik daerah kabupaten Malang. Sebagai penunjang area wisata, di Wendit juga dilengkapi dengan area bermain, kolam renang alamai dan buatan serta pusat jajanan. Hingga saat ini, area di sekitar Wendit masih banyak ditemukan pohon-pohon besar yang dihuni kera berekor panjang.

Selain pemanfaatan sebagai wana wisata, air yang bersumber dari area wendit juga dimanfaatkan oleh perusahaan air minum setempat. Selain itu secara arkais, wendit mempunyai sejarah panjang yang sempat juga tertulis pada prasasti dan kitab Negarakrtagama.

Letak dan Geografis Taman Wisata Wendit

Secara administratif Taman Wisata Wendit terletak di Desa Mangliawan Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Berada sebelah kanan jalan raya dari Kota Malang menuju ke Tumpang. Secara geografis keberadaan Taman Wisata Wendit ini berada di lereng pegunungan Tengger sebelah barat, posisinya berada dekat dengan sungai Kalisari yang nanti terhubung ke sungai Bangau dan Amprong.

Sumber mata air di Taman Wisata Wendit sangar besar hingga di sebut juga sebagai telaga karena ukurannya sangat besar dan luas. Hal itu memungkinkan karena Taman Wisata Wendit berada pada mangkuk pegunungan antara Pegunungan Tengger, Buring dan yang berada di Timur Kota Malang.

Kesejarahan Taman Wisata Wendit

Prasasti Balingawan

Wendit yang masuk Desa Mangliawan merupakan desa kuno, Mangliawan sendiri berasal dari nama Balingawan yang termuat dalam prasasti Balingawan. Prasasti Balingawan berisi mengenai penetapan sebidang tanah sima (perdikan) di wanua (desa) Balingawan pada tegal Gurubhakti sebagai anugrah dari Rakryān Kanuruhan pu Huntu.

Penetapan tanah sima tersebut di karenakan, masyarakat wanua Balingawan merasa ketakutan serta merasa keberatan dengan membayar pajak yang tinggi yang disebabkan oleh membayar denda atas rāḥ kasawur (darah yang berceceran) dan waŋkay kābunan (mayat terkena embun). Maka masyarakat mengajukan tanah sima tersebut agar pada tegal Gurubhakti bisa aman kembali, dan masyarakat tidak lagi ketakutan. Prasasti Balingawan di simpan di Museum Nasional dengan nomer inventaris D 109, prasasti tersebut berangka tahun 813 Saka 891 Masehi.

Negarakrtagama

Sebutan sumber mata air Wendit pada masa Majapahit, kemungkinan adalah telaga Bureng. Penyebutan bureng kemungkinan berasal dari nama ikan yang berwarna kehitaman atau orang local menyebutnya ikan bureng. Di dalam kitab Negarakrtagama menyebutkan:

karaṇaningasru mȃngkati huwus nirȃ mpu masegeh bhawȋṣyȃlaris, maluyi kasẽwakan dhatengi singhasȃri matutur manangkil marek, nṛpati huwus mamuṣpa ri dalem sudharmma sakatuṣṭaning twas ginöng, hanani kedhung birū ri kasurȃnggaṇȃn mwangi bureng langönyẽnitung.

Negarakrtagama

Artinya:

setelah dijamu oleh penunggu asrama bergegas berangkat berjalan dengan seger, kembali ketempat penghadapan di Singhasari karena ingat bahwasannya akan menghadap, Baginda Raja telah usai nyekar di dalam sudharma (candi) lalu bersenang-senang sepuas hati, tak terbilang keindahan di Kedung Biru di Kasurangganan dan di Bureng

Penempatan Wendit sebagai Bureng dalam Negarakrtagama sangat memungkinkan karena keberadaan penginapan Raja Hayam Wuruk dengan Singhasari tidak jauh. Saat itu Hayam Wuruk sedang singgah di candi Kidal dan sedang menuju Singhasari. Maka logis jika perjalanan dari Kidal menuju Singasari akan melewati area wendit atau bureng.

Punden Mbah Kabul

Tidak hanya itu, bukti penunjang lainnya terdapati beberapa arca di dalam Taman Wisata Wendit yang keberadaannya di dalam “Pundhen Mbah Kabul“. Di dalam pundhen tersebut arcanya berupa arca Wisnu, Dwarapala serta Jaladwara (pancuran air). Maka tidak heran area tersebut sebagai patirtaan kuno karena terdapat Jaladwara.

Letak dari punden ini tidak jauh dari lokasi penempatan arca-arca kuno. Posisinya berada persis dibelakang sebuah sendang (danau kecil) yang disebut sebagai sendang widodaren. Punden ini berbentuk makam dengan arah hadap sebagaimana layaknya penganut agama Islam.

Pundhen Mbah Kabul sendiri menurut penuturan warga sekitar diyakini jika kita berdo’a di pundhen tersebut do’a kita terkabul. Uniknya lagi dalam area Taman Wisata Wendit ini adalah monyet ekor panjang, tidak tau sejak kapan monyet ekor panjang tersebut berada disana. Mitos yang berkembang, monyet ekor panjang yang berada di sana merupakan perwujudan dari pengawal setia dari Eyang Soro yang mana rumah serta peninggalannya tidak jauh dari Taman Wisata Wendit tersebut. Jumlah dari monyet tersebut dari dulu hingga sekarang katanya tidak pernah berkurang dan lebih.