PESAN NATAL 2020

Kepada yang terkasih, semua makhluk di Nusantara.

Intro

Ada ungkapan bahwa kehadiran Yesus di dunia ini adalah untuk menjadi Juru Selamat. Demi keselamatan bumi dan seisinyalah Dia sebagai manusia di antara kita, menjalani segala pengalaman perasaan hidup apa adanya. Demikianlah pesan natal ini disadari sebagai pesan bersama dari umat manusia dan bagi segala bentuk dan makhluk ciptaan Tuhan dalam segala pengalaman dan perasaan hidup yang sekarang sedang dijalaninya.

Kalau ada orang datang hendak menyelamatkan kita, apakah kita akan bertanya apa agamanya terlebih dahulu? Juga kalau kita hendak melakukan tindakan penyelamatan terhadap seseorang, masakan kita hanya akan bersedia jika orang tersebut sealiran dengan kita?

Memang perlu diakui bahwa Yesus sang Juru Selamat itu khan menjadi dikenal hingga seantero jagad karena bertumbuh-kembang didalam dan bersama dengan evolusi peradaban kekristenan. Namun semua orang tahu bahwa Yesus bukanlah orang yang beragama kristen; yang tunduk dan mengikuti tradisi sistem komunitas kristen seperti yang dipaksakan menjadi aturan pemerintah di sini. Lebih tepatlah kalau dia disebut orang Yahudi. Itupun masih perlu ditanyakan, Dia yahudi golongan dan aliran apa. Dia dekat dengan kelompoknya Yohanes pembabtis dengan semangat revolusionernya. Dia juga menghormati kelompok Samaria yang oleh orang Yahudi arus utama dianggap sudah tidak Yahudi lagi malahan Dia sering bersitegang dengan dua mazhab utama Yahudi resmi saat itu. Bahkan Yesus membuat kelompok sendiri yang melibatkan 12 bahkan lebih orang-orang yang mengagumiNya, menjadikanNya guru, yang berharap imbalan besar posisi terbaik di surga, juga yang lantas menyangkali dan mengkhianatiNya.

Pendek kata, panjangnya sejarah peradaban yang meletakkan Yesus hanya sebagai bagian dari komunitas kekristenan, tidaklah sepenuhnya tepat, malahan bisa dikatakan bertentangan dengan semangat kehadiran Yesus di dunia sebagai Juru Selamat umat manusia.

Salam

Salam kehadiran dari sang Juru Selamat umat manusia tentu tertuju pada siapa saja. Pada segenap pejabat negara dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi di puncak sana. Mereka yang dengan berbagai alasan selalu melihat dan merasakan kegundahan, kebingungan, kegalauan, bahkan keragu-raguan untuk bersikap dengan bijak hanya untuk sekedar berbahagia, apalagi mengucap selamat bahagia pada tetangganya. Pada semua usahawan, para penguasa modal dan kapital, yang dengan berbinar mampu menangkap moment bahagia ini sepenuhnya demi keuntungan dan berlipatganda bertumpuknya modal dan kapital itu yang lantas disyukurinya sebagai berkah keberuntungan dan keberhasilan. Pada para penggembira dan penggiat kekristenan yang bersibuk ria dengan upacara-upacara dan tradisi ritualnya masing-masing sembari mengatur jadwal liburan dan pesta. Bahkan pada para pembenci yang dengan alasan apa saja berusaha memberi pesan bahwa kebahagiaan tidak boleh dan tidak perlu diperingati apalagi dirayakan dengan khusuk. Semua mendapatkan salam yang sama, salam damai dari sang juru selamat.

Salam juga bagi para bijak pandai yang mampu membaca tanda-tanda paling rahasia di alam semesta, seperti memahami cahaya bintang dan arah perjalanannya, mengerti kegelisahan dan kegembiraan binatang-binatang di tempat liar, dan menjelaskan tingkat kedewasaan pertumbuhan manusia, sebagai pesan utama betapa berharganya manusia, yang paling lemah tak berdaya dan berada di tempat yang hina sekalipun. Salam, bagi orang-orang tulus pemberdaya budaya yang selalu menghadirkan makna pada tiap peristiwa hidup manusia, peristiwa-peristiwa yang biasa-biasa saja sekalipun. Bagi para seniman, yang selalu menghadirkan kebahagiaan sebagai peristiwa yang perlu dihayati dengan kemurnian hati. Bagi segala profesi orang yang dalam jerih payahnya memungkinkan peradaban kemanusiaan berlangsung dalam dinamikanya.

Pendek kata, salam natal dipersembahkan kepada siapapun juga, apapun agamanya, apapun bangsa, suku, tradisi, tingkat sosial, pilihan hidup, dan segala jenis manusia yang nampak ada, pura-pura ada, dan tak nampak ada. Siapapun juga. Baik yang menerimanya dengan sukacita, dengan biasa-biasa saja, dengan maksud tertentu, atau juga kepada yang behkan mendengarnya saja sudah ketakutan, antipati, dan menutup diri. Pokoknya, salam natal lah.

Natal Pandemi

Ini natal pertama dalam sejarah manusia yang berlangsung ditengah pandemi global yang mensyaratkan orang untuk melakukan pembatasan-pembatasan perjumpaan. Kerumunan yang menjadi kebanggaan perayaan natal mau tidak mau harus dihindari, apalagi jabat tangan dan peluk cium tanda keakraban persaudaraan setahun sekali itu. Konsekuensinya, kebaktian-kebaktian akbar yang biasanya akan memadati gereja-gereja, gedung-gedung pertemuan, bahkan lapangan-lapangan, tentu tidak perlu ada. Karena kalaupun dipaksakan ada, dengan protokol yang ketat sekalipun, hanya malah memperlihatkan betapa egoisnya natalan yang merepotkan banyak pihak seperti itu. Petugas kesehatan perlu disiagakan memastikan protokol sesuai standart kesehatan, satpol juga perlu bertugas ganda memastikan kedisiplinan warga yang hendak datang dan juga meneliti penyusup pengancam keamanan ketertiban. Jadi, untuk tahun ini biarlah gedung-gedung gereja itu sepi dan damai tanpa beban menjadi ajang pertunjukan gengsi. Natal pandemi memberi arti bahwa menaham diri untuk tidak berkerumun adalah tindakan paling alim dan terpuji yang bisa dilakukan.

Natal kali ini juga tak banyak membutuhkan aktivis gereja. Latihan-latihan paduan suara, drama natal, arak-arakan, pengadaan seragam, dan juga penghiasan gedung gereja dengan berbagai macam ornamennya tak penting lagi. Memastikan waktu dan media yang tepat untuk bisa bernyanyi bersama secara daring jauh lebih penting. Memasang layar hijau sebagai background bisa menggantikan segala macam ornamen dan bahkan seragam yang dikehendaki. Menemukan link website yang sesuai selera jauh bermanfaat dalam merasakan drama natal dengan segala bentuk pesan dan pemaknaannya. Wifi gratis jauh lebih berguna daripada pelayanan aktifis gereja segiat dan setulus apapun.

Bahkan pelanggengan struktural feodal dalam bentuk sowan dan pertemuan-pertemuan dari rumah ke rumah tentu juga sebaiknya ditiadakan. Orang tidak perlu lagi menyiapkan rumahnya menjadi istana yang bisa dikunjungi penuh kekaguman dari para tamu. Tidak perlu lagi hidangan-hidangan di meja tamu apalagi amplop dan kado di bawah pohon natal untuk sangu anak-anak. Sepenuhnya perayaan akan hanya menjadi milik orang-orang yang tinggal dirumah saja. Natal kali ini harus dipersempit kemashuran akbarnya menjadi peristiwa-peristiwa kecil dalam diri tiap tiap orang. Menjadi peristiwa-peristiwa harian yang terjadi di dalam unit kecil seisi rumah, baik yang tinggal di kemewahan maupun yang tinggal di kesederhanaan. Karena pandemi ini mensyaratkan pesan bahwa menahan dan menjaga diri itu besar artinya bagi orang lain, sebesar urusan hidup sehat dan sakit bahkan mati.

Merayakan Pandemi

Maka natal tahun ini memang sebuah masa natal yang paling menggelisahkan dan penuh pergumulan. Nyaris seperti peristiwa ketika Yesus hadir di dunia ini dulu sekali. Banyak orang kala itu juga was-was gelisah, ketakutan, bersedih hati, terhempas dari rutinitas yang dianggap oleh kebanyakan orang sebagai kenormalan. Peristiwa ketika kenormalan itu harus segera dibongkar, agar ada peluang baru bagi segenap ciptaan manata diri dan hati memasuki terang pagi. Kala itupun peristiwa natal yang dialami oleh Yesus juga adalah kisah keterasingan dari orang lain dan bahkan keluarga besarnya sendiri, keterhempasan dari hiruk pikuk gelegar kegembiraan pesta pora komunitasnya, tersembunyi dari kekuasaan dunia yang mengontrol dan mengendalikan seluruh hidup alam semesta dan isinya.

Ini peristiwa natal sebagaimana biasanya dialami oleh orang-orang yang dikucilkan dari komunitas basisnya, orang-orang yang bahkan tidak diterima dengan layak di tempat dimana seharusnya dia bisa merasa aman, tempat yang disebutnya sebagai rumah. Peristiwa natal ini menjadi khabar baik bagi orang yang terus mempertanyakan ketulusan dan kejujuran dalam membangun relasi manusiawi, karena perayaan pandemi ini orang dipertemukan dengan dirinya sendiri dan makna kehadirannya bagi orang lain. Peristiwa natal saat ini adalah juga khabar baik bagi orang-orang yang selama ini mudah dianggap anti-sosial dan kurang pergaulan karena menghindar dari pertemuan-pertemuan yang kebanyakan intinya adalah sekedar formalitas berada secara bersama-sama di tempat dan waktu yang sama.

Demikianlah peristiwa natal saat ini tak lain adalah perayaan pandemi. Perayaan bagi orang-orang miskin papa terasing terhina yang berbahagia karena tak perlu lagi kecil hati untuk tidak membeli baju baru, tak perlu lagi gundah harus memasang wajah ramah berjumpa kerumunan kegembiraan di gereja, tak perlu bingung sungkan terpaksa harus memberikan persembahan istimewa dan iuran-iuran untuk pelaksanaan perayaan natal. Perayaan pandemi ini juga menjadi khabar gembira bagi orang-orang yang karena kondisi perjuangan hidup personalnya, orientasi seksualnya, pilihan tradisi budayanya dianggap tidak bersesuaian dengan kenormalan yang ada di komunitas kristen dan masyarakat. Pandemi natal ini sungguh sebuah peristiwa pembongkaran kenormalan, sebuah pintu terbuka, sebuah harapan baru, agar setiap makhluk menemukan cara yang lebih baik dalam bersikap terhadap diri, sesama dan alam semesta.

Doa

Semoga peristiwa natal ini menjadi khabar baik bagi semua makhluk ciptaan untuk kembali, benar-benar kembali, tidak sekedar wacana simbolis, tapi sungguh berupa tindakan kembali ke desa kecil terpencil komunitas nyata tiap pribadi dimana manusia bisa berdialog akrab dengan alam dan bintang-bintang, dengan para binatang, bahkan dengan para malaikat. Dan kemarilah tengoklah sejenak ke tempat Yesus sang juru selamat hadir sederhana ditengah-tengah siapa saja, tak peduli agama dan status sosialnya, di tengah semesta ini, hanya untuk menegaskan satu sederhana penuh makna, yaitu Tuhan beserta kita.


Chrismas blessing in the mids of a pandemic

Beloved, all creatures great and small

Intro

There is a saying that Jesus came to this world to save mankind; to be the Savior. For the sake of the earth and all it contains, He lived among us, He experienced life and felt what it meant to be human. Thus, this particular Christmas message is a very human reflection dedicated to all creation.

If someone comes to save us, will we ask their religion first? Also, if we want to take action and save someone, are we only willing if that person is the same as us?

It is necessary to admit that Jesus the Savior has become known throughout the universe because He grew up during the evolution of Christian civilization. But everyone knows that Jesus was not a Christian man who submitted to and followed the tradition of the Christian community system as forced into the rules of the government, as here in the present time. It is more accurate that He is called a Jew. Even then, it still needs to be asked, to what group and what sect was He a Jew? He was close to the revolutionary group of John the Baptist, of wild and faithful zeal. He also respected the Samaritan group, which mainstream Jews no longer considered Jewish. In fact, He often clashed with the two main Jewish schools of that time. Even Jesus made His own group comprised of 12 or more people who admired Him, made Him a teacher, and hoped for great rewards for the best position in heaven, only to deny and betray Him. In short, the long history of civilization that only places Jesus as part of the Christian community, is not entirely correct, it can even be said to be contrary to the spirit of Jesus’ presence in the world as the Savior of mankind.

Peace Be With You

The peace of the Savior of mankind is freely given to anyone. To all state officials from the lowest to the highest. Those who, for various reasons, always see and feel anxiety, confusion, depression, and even hesitate to act wisely just to be happy, let alone wish happiness to their neighbors. To all entrepreneurs, the rulers of wealth and capital, who are brilliantly able to fully capture this happy moment for the sake of profit and multiplying their accumulation of wealth and capital, which they then offer thanks for the gift of good luck and success. Active church leaders and members are busy with their respective ceremonies and ritual traditions while arranging holiday party schedules. Even the haters who, for whatever reason, try to give the message that we should not joyfully celebrate happiness as if to say, “Don’t you know the pious are always solemn?” All receive the same greetings, peace from the Savior.

Greetings also to the clever sages who are able to read the most secret signs in the universe, such as understanding the starlight and the direction of a journey, understanding the restlessness and joy of animals in the wild, and can explain the mysteries of human growth, the main message being how precious we are in God’s eyes, even the weakest who are helpless and in a despicable place. Peace, to sincere people who embrace and empower local cultures, those who bring significance and meaning to every special event in our lives, even ordinary events. For artists, who always present happiness as a condition that needs to be lived with purity of heart. For all people in every position and profession who work hard to move our communities forward with dynamic energy.

In short, Christmas greetings are offered to anyone, regardless of religion, nationality, ethnicity, tradition, social level, life choices, and all kinds of people who appear to exist, pretend to exist, and those who don’t want anyone to know they exist. Anyone. For those who receive this peace joyfully, casually, with a specific purpose, or even those who listen and are already afraid, apathetic, and shut down. For everyone, the peace of Christmas to all.

Pandemic Christmas 

This is a tragic circumstance for Christmas to take place amidst a global pandemic that requires people to limit and even forego encounters. The crowds that are the pride of Christmas celebrations inevitably have to be avoided, especially the handshakes and hugs and kisses of the once-a-year sign of brotherly love. As a consequence, there is no need for the large assemblies that would normally fill churches, meetinghouses, and even fields. Because even if these gatherings happen, even with strict protocols, it would only show the selfishness of those who willingly endanger other parties. Health workers would need to be alerted to ensure the protocol is in accordance with health standards, the police would also serve double duty to ensure the discipline of residents who want to come while also examining intruders who potentially threaten security and order. So, for this year, let the church buildings be quiet and peaceful without the burden of prestigious performances. The Christmas pandemic means that understanding ‘no crowds’ is the most pious and laudable thing to do.

This Christmas also doesn’t need the usual spectacle of harried church members. Choir rehearsals, Christmas plays, processions, costume procurement, and also decorating the church building with its various ornaments are no longer necessary. Securing the right time and medium to sing along online is much more important. Installing a green screen as a background can replace all kinds of decorations and even the required costumes. Finding a link to a website that suits your taste makes it possible to experience the Christmas drama with all its messages and meanings. Free wifi is a much more useful and sincere ministry than in-person church services are at this time.

Even perpetuating the feudal form of visiting the most important community member to the least and house-to-house meetings should, of course, be eliminated. One no longer needs to prepare their house to become a palace that can be visited with full admiration and awe from the guests. There is no need for dishes at the guest table, let alone envelopes and gifts under the Christmas tree for the kids. The celebration will entirely belong to the people who live in the house. This Christmas should be a reminder that less grand celebrations are not less grand in significance; in fact, the opportunity to receive the gift of Christmas is open for all, in the daily events that take place in the small spaces of the household, whether living in luxury or living in simplicity. Because this pandemic brings the message that holding back and taking care of oneself is a gift to others, it is, indeed, a matter of life and death.

Pandemic Gathering

So this year’s Christmas is indeed an uncomfortable season of struggle for many people. Perhaps it’s similar to the situation when Jesus arrived in this world long ago. Many people at that time were also anxious, scared, sad, knocked out of their normal routines. What they had considered as normal had to be torn down, making way for new opportunities for all creation to collect themselves with open hearts to face the light of a new dawn. Even then, the atmosphere surrounding the birth of Jesus was also a story of alienation from other people and even from his own extended family, swept away from the joyous hustle and bustle of his community’s revelry, hidden from the world’s powerful seeking absolute control over all.

This is a Christmas season as usually experienced by people who are excluded from their base community, people who are not even welcome in a place where they should feel safe, a place which they call home. This Christmas season is good news for people who continue to question their sincerity and honesty in building human relationships, because this pandemic celebration brings people together with themselves and the meaning of their presence for others. The current Christmas season is also good news for people who have, so far, been easily considered anti-social and less sociable because they avoid gatherings, most of which are simply a formality of physically being together at the same time and place.

Thus the current Christmas season is none other than a pandemic celebration. A celebration for the poor, isolated, cast out, and abused who are content because there is no need for new clothes, no need to be upset, who don’t have to put on a friendly face to meet joyous crowds at church, no need to be confused when pressured to give special offerings and contributions to reimburse Christmas celebration expenses. Celebrations during this pandemic are also good news for people with unique struggles in their personal lives, for people who cannot find acceptance because of their sexual orientation, for people that embrace traditional expressions of culture that are considered incompatible with the Christian norms that exist in the community and society. This Christmas pandemic is truly an event for dismantling the norm, to open a door, a new hope, that every creature will find a better way to behave towards themselves, each other, and in the universe.

Prayer

May this Christmas season be good news for all creatures to come back, really come back, not just a symbolic discourse, but a real act of returning to a small, remote village, a real community of each person where humans can have a close dialogue with nature and the stars and the beasts, even with the angels. And come here, take a look at the simple place where Jesus the Savior is present in the midst of everyone, regardless of religion or social status, in the midst of this swirling universe, just to emphasize one miraculous thing, God with us.

Kristanto Budiprabowo