Pesan dalam lakon Ciptaning

Dalam pewayangan, janturan yang biasa diucapkan Dalang saat menceritakan tokoh Arjuna akan terkesan sangat hiperbola. Segala kelokan, kesaktian, kelebihan dan kebaikan Janaka di gambarkan dalam bahasa indah yang tersusun sangat rapi. Bahkan sudah umum pula wayang Arjuna atau Janaka yang konon beristri hingga 4000 ini (yang terdaftar KUA hanya 15) ditempel di ruang tamu dan dijadikan ikon. Tetapi benarkah demikian yang terjadi? Benarkah Arjuna memang seorang tokoh istimewa yang tanpa cacat?

Kisah mengenai Arjuna memang sangat panjang, beragam dan terbilang cukup dominan dalam epos Mahabharata. Bahkan di dunia pewayangan, tokoh arjuna termasuk wayang yang mempunyai wanda atau bentuk yang terbilang banyak. Wanda sendiri berfungsi untuk mewakili watak dan karakter penokohan secara khusus dan spesifik dalam sebuah cerita. Diantaranya adalah wanda Jimat, Malatsih, Kanyut, Renteng, Mangu, Muntap, Kedu dan Kinanti. Dari tokoh Janaka muda atau Permadi terdapat wanda Temanten, Pengawe, Pengasih, Kinanti dan Kadung.

Selain itu masih ada lagi satu wayang khusus yang diciptakan berbeda, yaitu tokoh Ciptaning. Tokoh ini secara khusus hanya dipergunakan saat lakon Arjuna bertapa di gua Mintaraga yang terletak di puncak gunung Indrakila. Menyambung pembahasan di atas, mari kita mengupas sedikit lebih dalam mengenai beberapa pesan yang sering kita lewatkan saat menonton lakon Ciptaning atau Mintaraga.

Lakon Ciptaning sebagai Pivot Point

Kisah Ciptaning ini sebenarnya terdapat juga dalam serat Mahabharata versi India. Terdapat kesamaan plot dan alur cerita antara Ciptaning versi Jawa dan versi India. Di dalam versi India dikisahkan bahwa, setelah Pandawa kalah dalam permainan dadu dan harus menjalani hidup di dalam hutan selama 12 tahun. Kresna menyuruh Arjuna untuk bertapa di atas bukit Indrakeeladri. Tujuannya adalah untuk meminta sebuah senjata dari para dewa untuk dipergunakan dalam perang Bharatayuda. Hanya saja, dalam versi India, yang memberikan panah adalah dewa Siwa dan yang menjadi babi hutan adalah dewa Indra.

Berbeda dengan dengan cerita di jawa dimana, yang memberikan Pasupati adalah dewa Indra dan yang menjadi Celeng atau babi hutan adalah malihan dari Patih Mamangmurka.

Sembada kuwi abot

Mari kembali ke cerita versi Indonesia, spesifiknya Jawa. Setelah mendapatkan hadiah senjata Pasopati, Dewa Indra bertanya mengenai harapan atau doa lain yang ingin disampaikan oleh Arjuna. Dengan syarat hanya diperbolehkan meminta tiga hal saja.

Setelah menimbang dan memikirkannya, Arjuna mengatakan bahwa keinginannya dalam bertapa selain untuk mendapatkan senjata pamungkas adalah:

  1. Pandawa akan menang dalam perang Bharatayudha.
  2. Pandawa akan tetap utuh berjumlah lima, mulai hari itu hingga akhir Bharatayudha.
  3. Semua senjata dari Pandawa tidak akan ada yang malfungsi dalam peperangan. Atau dalam bahasa jawa disebut busung, seperti petasan kecelup air.

Setelah mendengarkan pernyataan Arjuna, dewa Indra bertanya kepada Arjuna mengenai ketetapan hatinya, hingga diulang sebanyak tiga kali. Dalam bahasa atau catur pedalangan, digambarkan bahwa Dewa Indra berkata :

Indra: Apa mung kuwi sing mbok suwun, ngger?
Arjuna: Nuwun inggih pukulun. Amung menika ingkang kula suwun.
Indra: Jajal pikiren maneh luwih dhisik kanthi weninge ati lan kawicaksanan, apa mung kuwi?
Arjuna: Sampun Pikulun, namung menika.
Indra: Bener, mung kuwi?
Arjuna: Kasinggihan dhawuh pikulun.

Sontak Semar yang pada saat itu mendengarkan dari jauh, berlari mendekat dan segera mengingatkan Arjuna. Semar sangat menyesali keputusan Arjuna yang dinilai hanya memikirkan mengenai kemenangan dan keselamatan Pandawa dalam Bharatayuda. Tanpa mengindahkan nasib dan keselamatan dari anak-anak Pandawa, para istri, keluarga besar serta teman dan handai taulan yang sudah banyak membantu perjuangan Pandawa selama ini.

Setelah mencoba untuk meminta tambahan kanugrahan kepada Dewa Indra, Hal ini ditolak oleh Dewa Indra. Dikarenakan sebelumnya sudah mengingatkan Arjuna hingga tiga kali, dan mengatakan kepada Arjuna bahwa sebagai lelaki harus sembada dengan segala tindakan dan ucapannya.

Gawe Anak-Bojo

Pada sebuah sanggit pedalangan yang disampaikan mbah Nartosabdo, Semar sangat menyesalkan kegrusa-grusuan Arjuna dengan kalimat:

…. Wonten unen-unen, lelayaran tengahing samudra tapa jeroning guwa niku kamulyan kang den upaya. Nanging yen kamulyan niku mung kagem sarira pribadi niku mboten wonten ginane……

Dari sinilah muasal frasa “……gawe anak – bojo….” yang sering kita dengar. Kalimat pendek ini sering mengiringi semua bentuk ikhtiar yang dilaksanakan oleh seorang pria. Misal, kerja gawe anak-bojo, tirakat ya gawe anak-bojo, pasa ya gawe anak-bojo, ngene iki ya kanggo anak-bojo, mangga ditambah sendiri.

Di sini para sesepuh ingin mengajarkan dan mengingatkan kepada kita bahwa jangan sampai lagi mengulangi kegoblokan seorang Arjuna. Apapun yang seorang pria lakukan adalah demi keturunan, keluarga serta semua kerabat. Bukan sebaliknya. Janaka telah menelan pil pahit dan banger akibat kecerobohannya yang menyebabkan semua anak, istri dan kerabatnya meninggal di perang Bharatayuda.

Kuat kere tapi ora kuat sugih

Selain itu, Jika kita amati lebih teliti rangkaian cerita ini. Penyebab kecerobohan Arjuna adalah, doa dan permintaannya tidak dilandasi oleh hati yang bijaksana dan pemikiran yang jernih. Dendam peristiwa kasukan dadu masih dibawa serta dalam perjalanan religinya.

Seakan-akan yang terjadi adalah, saat mendapatkan peluang, maka yang terbersit dalam benak Arjuna hanya urusan menang perang dan berhasil membasmi Kurawa. Hal ini sangat bertentangan dengan watak atau pambegan yang seharusnya dimiliki oleh pertapa dan wong-laku.

Arjuna yang pengalaman bertapanya sudah level sabuk hitam itu seharusnya memiliki ketenangan jiwa dan tidak membiarkan nafsunya menguasai keputusan dan pemikirannya. Tetapi yang terjadi sangatlah paradox. Hal juga ini mengingatkan kita kepada sebuah kalimat bijak, “jangan pernah berjanji saat bahagia, dan jangan mengambil keputusan saat kamu marah”. Atau mungkin ini memang salah satu contoh dari Simpson’s paradox model Jawa (…….mulai ngawut).

Terdapat guyonan lain yang menyebutkan, “kuat kere, tapi ra kuat sugih” dan kata “aji mumpung”. Arjuna yang sangat kuat dan teguh dalam menempuh berbagai cobaan dan penderitaan. Tetapi menjadi ceroboh dan tidak waskita lagi saat didatangai oleh dewa Indra untuk diberi hadiah dan dikabulkan semua doanya. Hal ini sejalan dengan kalimat Ils doivent envisager qu’une grande responsabilité est la suite inséparable d’un grand pouvoir (French National Convention, 1793) yang kemudian ditenarkan lagi oleh Ben Parker pakdenya Spiderman.

In Spiderman (2002), Uncle Ben says, "with great power comes great  responsibility." This is because the writer knew Peter Parker was Spiderman  and didn't take into account that Ben didn't and it

Contoh lain, kepala daerah kerajaan ngalengka yang sangat santun dan utun saat pilkada. Tetapi setelah terpilih, janjinya mbleset semua, dan malah ditutup dengan pesiar berkepanjangan ke KPK.

Janji Bharatayudha

Dari beberapa sumber disebutkan bahwa setelah kejadian ini, Semar beserta anak-anaknya tidak lagi pernah mengikuti Janaka. Semar merasa sangat terpukul dengan pilihan dan keteledoran Arjuna. Dalam sanggit pewayangan diceritakan Ki Lurah Semar sebagai jiwa minulya lebih memilih untuk mengikuti dan mendidik para generasi penerus yang mempunyai potensi. Semar baru kembali mengikuti Pandawa khususnya Arjuna, setelah dibujuk oleh Kresna pada saat akan dimulainya perang Bharatayudha.

Dalam berbagai kitab disebutkan, bahwa Bharayudha adalah sebuah perang besar yang melibatkan hingga sejumlah 3.936.600 personel dari kedua belah pihak. Sama seperti perang-perang yang pernah terjadi di muka bumi ini, alasan klasik dari perang ini adalah sebagai sarana untuk sirnaning durjana diti, kisasing angkara murka ilanging budhi candala.

Tetapi menurut serat Bharatayudha, ada dua hal lain yang justru mewarnai jalannya pertempuran, yaitu:

  1. Telenging kaul,
  2. Telenging tagih-tinagih antara potang pinotang rasa lan budi pekerti.

Dapat diartikan bahwa perang Bharatayudha adalah waktu dimana semua janji harus ditepati, hutang harus dilunasi serta merupakan jawaban dan bukti dari semua doa yang sudah dipanjatkan. Salah satunya adalah doa dari Arjuna yang berdampak pada kematian semua anak, istri serta Pandawa.

So, Jadilah Arjuna pas baik dan hati-hati kalau berdoa.