Perkembangan Dan Masa Depan Seni Pedhalangan Gagrag Jawa Timuran

“Niyatingsun andhalang wayangingsun bang-bang paesan ………………………………… Ingsun dhalang purbawasesa …………………………………”

Pelungan Jawa Timuran

Kalimat (syair) diatas adalah cuplikan dari lagu ” Pelungan “ yang disenandungkan bersamaan Gendhing Gondokusumo saat berlangsungnya jejer I. Dan inilah salah satu ciri Seni pedhalangan gagrag Jawa Timuran disaat penyajian.

Kalimat-kalimat Pekungan itu mempunyai makna do’a atau mantera, yaitu permohonan kepada Tuhan agar yang terucap mendapatkan berkat sehingga semua gangguan tak ada yang bisa mendekat. Dengan demikian penyajian wayang akan selesai dalam waktu semalam suntuk tanpa gangguan suatu apa.

Sedangkan Gendhing Gondokusumo yang pathet sepuluh itu merupakan satu- satunya gendhing pengiring jejer I bagi seni pertunjukan wayang Jawa Timuran pada saat ini.

Konon, menurut seorang empu gendhing bernama Ki Toro (almarhum) dari Mojokerto bahwa dulu gendhing Jejer I bukan hanya satu, melainkan ada tiga macam gendhing (tidak disebutkan).

Karena sudah tidak ada yang tahu gendhing-gendhing pengiring jejer I itu, maka hanya satu yang bisa dimainkan sampai sekarang ini.

Istilah Jawa Timuran

Kata “Jawatimuran ” yang dipakai untuk menyebut beberapa cabang seni yang ada pada sebagian wilayah Jawa Timur sebenarnya belum lama kemunculannya . Diperkirakan sesudah tahun 1965. Lebih dimungkinkan bersamaan dengan munculnya Pusat Latihan Tari Candra Wilwatikta asuhan almarhum R.Subiono di Jalan Sumatra no.67 Surabaya. Dan dengan didirikannya Lembaga Pendidikan Formal Sekolah Karawitan Konservatori Surabaya, istilah ” Jawatimuran ” itu semakin populer sekitar tahun 1970-an). Nampaknya istilah tersebut memang dikehendaki kemunculannya. Hal ini sangat dimungkinkan, agar cabang-cabang kesenian yang ada pada sebagian wilayah Jawa Timur tadi mudah untuk disebut dan dikenal oleh masyarakat. Dengan kata lain masyarakat akan lebih mudah untuk menyebut :

  • Seni tarinya menjadi seni tari Jawatimuran.
  • Seni karawitannya menjadi karawitan Jawatimuran.
  • Tembang macapatnya menjadi macapat Jawatimuaran.
  • Seni Pedhalangannya menjadi Seni pedhalangan Jawatimuran
  • Seni Pewayangannya menjadi seni pewayangan Jawatimuran.

Meskipun munculnya istilah Jawatimuran ini pernah menghadirkan pro-kontra dikalangan senimannya, namun kenyataannya istilah tersebut kini menjadi lebih gampang dikenal sehingga semakin erat dikalangan masyarakat banyak se Jawa Timur. Bahkan secara nasional istilah Jawa Timuran ” ini sudah mulai dikenal. Seni Pedhalangan Jawatimuran.

Sebelum dimunculkan istilah Jawatimuran sebenarnya cabang Seni Pedhalangan ini sudah biasa menerima sebutan Seni Pedhalangan Jek-dong. Nama atau sebutan yang diberikan oleh para penontonnya itu sering juga di ucapkan dengan nama Wayang Jek-dong. Nama Jek-dong diambilkan dari hasil perpaduan suara antara kepyak, kendhang dibarengi dengan suara gong bersama alat gamelan yang lain.

Pemberian nama itu meskipun hanya sederhana, namun sebenarnya amat sangat tepat, indah , unik dan menarik. Tepat, sebab dalam tata-gelar saat pertunjukan berlangsung, suara Jek-dong itu pasti akan terdengar khususnya pada adegan yang bersuasanakan konflik. Suara itu terdengar sangat menonjol keras sehingga mampu merangsang penonton didalam menghayati cerita.

  • Indah, Hasil perpaduan suara itu juga dapat menimbulkan Suara-Indah yang mampu membawa larut (= sengsem) pikiran para penontonya, se hingga suara jek-dong ini menjadi ke- khasan seni Pedhalangannya.
  • Unik, Suara ” Jek-dong ” ini rasanya sangat lucu, menggelitik penonton ,menimbulkan gairah.Memang istilah tersebut sesuai dengan selera masyarakat dan dirasakan sangat pas.

Itulah sebabnya, pada masa lampau suara Jek-Dong ini dipakai sebagai sebutan pada cabang seni pedhalangan di Jawa Ztimur. Namun demikian hanya perkembanganlah yang mampu mengubah nama Seni Pedhalangan Jek-Dong menjadi Seni Pedhalangan Jawatimuran.

Selanjutnya perlu diperjelas, bahwa berdasarkan teri-torialnya Seni Pedalangan Jawatimuran dapat dibagi menjadi 4 versi kecil.

  1. Versi Lamongan meliputi Kabupaten Lamongan dan sekitarnya, sering disebut gaya ” pasisiran “.
  2. Versi Mojokertoan, meliputi Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto dan sekitarnya.
  3. Versi Porongan, meliputi daerah Kabupaten Sidoarjo, Surabaya dan sekitarnya.
  4. Versi Malangan, meliputi Kabupaten Malang dan sekitarnya.

Ke-4 versi tersebut mempunyai ciri-ciri yang berbeda, namun perbedaannya sangat kecil, kecuali versi Malangan yang setiap penyajian tidak bisa melupakan gamelan pelognya.

Kehidupan Seni Pedhalangan Jawatimuran Dimasa Lampau

Seperti dijelaskan pada halaman kata pengantar, bahwa di Jawa Timut tidak begitu kaya referensi tentang seni pedhalangan yang berupa tulisan. Kalau toh ada mungkin hanya berupa peninggalan-peninggalan yang berupa cendhi atau batu-batu bertulis, itupun belum mampu terbaca oleh para seniman dhalang yang sampai sekarang masih besar ketergantungannya akan sifat-sifat tradisional yang alami. Oleh karena itu, setiap kegiatan baik dalam Sarasehan, Seminar maupun pementasan Seni Pedhalangan yang dipakai sebagai dasar hanya berupa lesan. Mereka, para seniman dhalang hampir tidak pernah yang mendasarkan pada buku atau teks (tulisan). Demikian juga, penulisan-penulisan tentang seni pedhalangan pun hanya didasarkan atas keterlibatan si penulis pada hal-hal yang bersifat lesan / praktis dan informatif.

Itulah sebabnya maka tumbuh dan berkembangnya seni pedhalangan Jawatimuran ini mengalami keterlambatan. Dengan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada kehidupan para seniman dhalang sehingga kepekaan terhadap bacaan/buku masih sangat minim. Disinilah mereka memerlukan bimbingan dari para seniman yang intelek. Disamping itu, keterlambatan dalam penngembangan tersebut tentu tidak bisa dipisahkan dengan dana yang ada

Namun demikian, apapun kendalanya, bagaimanapun situasinya dan betapapun beratnya usaha yang harus ditempuh, ternyata seni pedhalangan Jawatimuran ini sampai sekarang kehidupannya masih tetap eksis. Masyarakatnya masih tetap menggemari pada seni pedhalangan ini. Jika demikian halnya, lalu bagaimana cara pengembangannya ?

Dengan kondisi yang masih sederhana itu, maka pengembangan cabang seni yang satu Ini, hanya bisa ditempuh dengan menggunakan satu sistim pengajaran yang disebut “NYANTRIK”. Kata nyantrik (bahasa Jawa) berasal dari akar kata ”CANTRIK” yaitu siswa seorang pendeta dipertapaan. Dalam keseharian setiap siswa (cantrik) harus selalu berada dilikungan rumah (pertapaan/pertapan ) sang pendeta guru. Dengan “laku” para cantrik dibawa dan ditunjukkan pada motivasi KEBENARAN. Oleh karena itu “Cantrik” tidak dibenarkan pulang sebelum tamat belajar (lulus). Untuk mencapai lulus tentu setiap CANTRIK akan menerima uji coba.

Dengan sistim inilah kehidupan seni pedhalangan Jawatimuran mampu tumbuh dan berkembang turun temurun. Meskipun cara ini nampak lamban, namun kenyataannya dari generasi kegenerasi cukup menghasilkan dhalang-dhalang yang sudah menyandang predikat KI atau KIAI dhalang.

Dengan keberhasilan sistim nyantrik ini, dalam hati timbul pertanyaan : Apakah syarat-syarat Nyantrik dan bagaimana cara pelaksanaan proses belajar-mengajar selama nyantrik? Untuk pencapaian terget dalam proses belajar-mengajar pada sistim NYANTRIK diperlukan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh setiap cantrik. Syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:

  1. Ngenger ( mengabdi) – Merupakan perilaku dalam hidup kesaharian bagi setiap cantrik, dimana ia harus senantiasa membantu bagi kesibukan dalam rumah-tangga sang guru-dhalang. Para cantrik bukanlah pesuruh atau abdi, tetapi mereka mengabdi kepada ” LAKU ” yang wajib dijalankan seperti perilaku itu bertujuan untuk membentuk para cantrik agar menjadi manusia seutuhnya.
  2. Pengorbanan. Dengan hati tulus ikhlas serta penuh kesungguhan, segenap pikiran dan Tenaga mereka harus dikonsentrasikan pada ap yang dianjurkan sang guru – Dhalang, tanpa diperintah.
  3. Melaksanakan aturan-aturan yang dibuat oleh guru-dhalang. Sebagai calon dhalang si Cantrik tentu harus mentaati kepada peri-laku yang melanggar hukum Laku-Utama atau yang disebut KAUTAMANING URIP.
  4. Lama pecantrikan kurang lebih 10 tahun. Meskipun mungkin ada yang 10 tahun lebih, bahkan mungkin ada yang kurang dari 10 tahun, namun batasan waktu yang ideal diperkirakan 10 tahun atau mungkin tergantung kepada keberanian si cantrik dan bagaimana menurut evaluasi sang guru. Batasan waktu 10 tahun, apabila diperetungkan dengan cara pendidikan pada masa sekarang ini kurang-lebih sudah mencapai pada tingkat menengah atas, dimana tingkat kedewasaannya sudah cukup dewasa. Demikian para cantrik selama 10 tahun itu diperkirakan sudah mampu mendhalang secara dewasa / pantas ditonton.
  5. Melaksanakan amen ( Pandadaran ). Pelaksanaan amen merupakan “laku” terakhir bagi setiap cantrik yang sudah mencapai pada tingkat paling tinggi.
  6. Nata Laku. ” Nata Laku ” merupakan akhir proses perjalanan bagi setiap cantrik seusai melaksanakan “amen” dan dinyatakan lolos sebagai cantrik yang berhak menempati ” panggung pedhalangan ” dengan menyandang predikat ” Ki atau Kiai dhalang “.

Begitu sulit dan beratnya bagi setiap cantrik untuk bisa meraih kedudukan sebagai dhalang. Justru karena sulit itulah maka setiap cantrik dapat dipastikan berhasil dengan baik dan mampu menduduki ” panggung-dhalang “. Mereka adalah dhalang-dhalang yang laris dan dapat diandalkan dalam karyanya. Demikianlah informasi lesan dari para-dhalang yang pernah “Nyantrik ” dan yang kini sudah menyandang predikat Ki atau Kiai dhalang / guru-dhalang.

KEHIDUPAN SENI PEDHALANGAN JAWATIMURAN PADA MASA KINI.

Dipandang dari tata-gelar Seni pedhalangan Jawatimuran masih tetap hidup dan menghidupi. Penggemarnyapun banyak. Bhakan setiap dhalang mempunyai penggemar sendiri-sendiri. Siapa mereka itu ? Mereka adalah penonton yang terdiri dari masyarakat kecil dari pedesaan, Khususnya orang-orang tani, pecinta pertunjukkan wayang. Setiap “bulan-baik” hampir semua dhalang laku. Dengan kata lain Seni pedhalangan Jawatimuran sampai saat ini masih tetap digunakan sebagai ” pangupa-jiwa” (mata pencaharian ).

Penonton, penggemar, pecinta sering juga memberikan penilaian. Ada yang menilai suara, ada juga yang menilai lakon, carangan atau baku memiliki penggemar sendiri-sendiri. Ada pula yang menilai “sabetnya” wayang, dan sebagai, sebagainya. Mendasar pada penilaian, maka perlu dijelaskan tentang tata-gelar seni pedhalangan ini satu persatu secara singkat.

  • Struktur pakeliran ( jejer dan adegan ).
  • Struktur pathet
  • Iringan
  • Struktur Bahasa
  • Masyarakat penonton

Lima macam unsur-pokok diatas merupakan unsur yang harus mendapat perhatian para dhalangnya sendiri beserta pendukungmya. Struktur dimainkannya Gending Gondokusumo, jejer I mulai diperagakan.

  1. Pelungan (Solo = kombangan ) didengungkan bersama gendhing Gondokusumo yang pathet sepuluh itu.
    1. Suwuk dilanjutkan sendhon “Prabatilarsa ” Sl.Pt. wolu.
    2. ginem, kemudian kedatangan tamu-sendon Purwaseba.
    3. Sendon sengkan atur ( Candrayuswa) Sl.pt.wolu
    4. Budhalan – gapuran.
  2. Paseban. Greget saut / bendengan sl.wolu
  3. Perang sepisan (pertama ). Sulayaning rembug (kontra pendapat ) : ayak kerep Sl.wolu .
  4. Jejer II
    1. Masih tetap lingkung pathet wolu
    2. Disuatu negara-menerima tamu ……… Sendon Robalela SL. Pathet wolu.
  5. Jejer III
    1. Panakawan —— satria bagus.
    2. Disini sudah dimulai pathet Sanga. Didahului dengan sendhon Madyaratri. Sl. pt. Sanga.
    3. Perang Gagal ( ada yang menyebut perang-begal ).
  6. Jejer IV
    1. Kembali pada negara Jejer I.
    2. Gendhing Kutut-manggung Sl.pt.Sanga.
    3. Sendhon Suba-suba Sl.Pt.Sanga.
  7. Jejer V
    1. Jejer di negara musuh. Sudah sampai Pathet Serang.
    2. Kalau dengan gendhing bisa dimainkannya gendhing Rangsang.
    3. Sekarang tidak pernah ada yang menggunakan gendhing. Begitu pathet, langsung ayak serang.
      1. Sendhon Bang-bang wetan.
      2. Perang Brubuh . Mungkasi carios (mengakhiri cerita).
  8. Tancep kayon.

( Informasi Ki Dhalng Piet Asmoro, Truwulan Mojokerto. Kini sudah almarhum).

Struktur Pathet.

Almarhum Ki Dhalang Piet Asmoro dari Trowulan dalam wawancaranya dengan penulis jarang sekali menyebut “pathet”. Baliau lebih sering menyebut ” patut atau patutan”. Misalnya : Gendhing Gondokusumo patut sepuluh. Lagi satu contoh :

Saderengipun dipun wiwiti jejer kedah patutan rumiyin.

Pembagian pathet dalam pertunjukan wayang semalam. Sebelum pertunjukan dimulai pethet yang digunakan agak ada kebebasan. Namun menjelang sang dhalang “manggung” sudah mulai mengatur patut (pathet).

Dimulai semacam “talu” dengan pathet sepuluh jam 22.00 Jejer I masih dalam pathet sepuluh, nada dasar 2. Suwuk gendhing jejer I (Gondokusumo) – pada umumnya masuk pathet Walu. Pengetrapannya pada lagu sendhon I, yang menurut versi Mojokertoan : Sendhon Prabatilarsa.

Pathet selanjutnya, yaitu pathet sanga, nada dhasar 6. Diakhiri dengan pathet Serang, nada dasar 3.

Jadi bagan struktur pathet :

  1. Jam 18.00 s/d 23.00 pathet Sepuluh.
  2. Jam 23.00 s/d 02.00 pathet Wolu.
  3. Jam 02.00 s/d 04.00 pathet sanga .
  4. Jam 04.00 s/d 04.30 pathet serang.

Iringan

Kecuali daearah Malang / versi Malangan iringan pertunjukan wayang kulit Jawa Timuran pasti menggunakan laras slendro. Versi Malangan, iringan wayang Jawa Timuran dominasinya pada gamelan laras pelog. Khusus Ki Dhalang Suleman (Gempol) sudah menggunakan gamelan Slendro dan pelog.

Sendhon

Merupakan lagu vokal dhalang pengiring suasana.

Pelungan

lagon vokal yang pertama kali didengungkan oleh dhalang pada jejer I, bersama permainan gendhing Gondokusumo sebagai pengiring nya. Pelungan sering disebut “Drojogan”. Lagon ini terdiri dari syair-syair yang berisikan tentang matram (doa) mohon kekuatan pada yang Maha Kuat agar didalam karyanya yang semalam suntuk itu dijauhkan dari kekuatan-kekuatan gelap yang mengganggu. Contoh, kita beberapa kalimat :

” Niyatingsun andhalang wayangingsun bang-bang paesan kelire jagad dumadi yana larapaningsun naga papasihan.
…………………. “

Gadhingan .

Pengertian yang dimaksud dalam istilah itu adalah ” ambarengi / mbarengi = menyertai. Setiap penampilan “gadhingan” pasti menyertai “pocapan-dhalang”. Disini terdapat satu suasana yang kontradiktif. Suasana yang biasa di “gadhing”I adalah sebagian besar adegan-adegan yang bernuansa ketegangan. Sedangkan sebagai “gadhingannya” bernuansa = mardiko, tenang, damai. Jadi fungsi “gadhingan” disini sebagai pengiring, dimana dhalang sedang mengucapkan “pacopan”. Iringan ini berwujud lagu/gendhing yang di “gadhing” kan secara instrumentalia. Alat gamelan yang ditabuh adalah : Gender lanang = sebagai pem”buko”nya. Gender babok, gambang, siter slentem.

Struktur Bahasa.

Menurut seorang dhalang sepuh Ki Utomo, 80-an tahun dari Waru Surabaya, bahwa bahasa pedhalangan Jawatimuran masih mendasar pada parama sastra Jawa dan unggah-ungguh basa. Kalau sekarang ini “basa-jawa” dikatakan merosot, maka bahasa Jawa dalam pedalanganpun akan mengalami penurunan atau penyusutan. disengaja atau tidak (paling tidak) bahasa pedhalangan pesisiran telah mengalami perubahan /penggeseran. Demikian juga bahasa pedhalangan Jawatimuranpun kecuali mengalami penggeseran telah membentuk, berwujud bahasa yang menyatu-kental dengan dhalang bersama masyarakatnya. Berdasarkan wujud, bahasa pedhalangan Jawatimuran terpetak-petak sebagai berikut.

Bahasa baku

Pengertian bahasa baku adalah bahasa yang sudah membentuk menjadi bahasa pedhalangan jawatimuran . Dari generasi kegenerasi bahasa baku ini menjadi bahasa pedhalangan yang mapan. Namun demikian bahasa mapan ini bisa juga sedikit demi sedikit mengalami penggeseran. Hal ini disebabkan oleh penyebarannya yang hanya berupa lesan ( belum adanya sistim tulis ). Adapun dibentuknya bahasa baku ada;ah bertujuan agar mendapatkan kemudahan didalam pengembangan kegenerasi bawahnya. Contoh :

” Ya anenggih tu mapan mboten “

” Sarining sekar jayapitana …… “

Perlu juga dilontarkan bahwa diadalam bahasa baku ini sering juga dimasukkan : ” kerata-basa” / jarwa-dhosok, parikan, wangsalan, paribasan, dsb. Dan tentu kesemuanya ini berupa bahasa jawa dialek Jawa Timuran. 

Boso Mardiko (Bahasa bebas )

Nampaknya para Dhalang Jawatimuran berusaha mencari kemudahan dalam mengkomunikasikan bahasa kepada penontonnya. Untuk itu mereka menggunakan “Boso Mardiko” secara improvisasi. Bahasa apapun yang mereka mampu untuk berkomunikasi dengan penonton, dengan tanpa ragu-ragu pula mereka memakainya. Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Al’quran mereka gunakan. Namun demikian bahasa Jawa keseharianlah yang tetap mendominasi. Itulah sebabnya dikalangan seni pedhalangan Jawatimuran timbul istilah ” Kula ndika pokok cetha”.

Masyarakat penonton.

Ada dua macam masyarakat penonton, yaitu :

  • Masyarakat penonton umum.

Ialah masyarakat penonton yang memberi dorongan kepada dhalang sehingga pertunjukannya akan terasa semarak. Mereka jugalah yang akan mengevaluir bagi baik-buruk atau disenangi-tidak disenanginya karya si dhalang. Masyarakat penonton yang sebagian besar terdiri dari rakyat golongan kecil ini sering ada yang mau hadir kepada sang dhalang untuk memberikan kritik dan wawasannya.

  • Masyarakat penonton yang menanggap.

Beberapa orang dhalang berpendapat, menurut mereka , bahwa sebenarnya pelestarian budaya wayang itu adalah yang ” nanggap wayang ” Sebab hanya merekalah yang mampu dan mau menggelar dalam pelaksanaan pertunjukan wayang itu.

Demikianlah kondisi wayang jawatimuran yang berlaku sampai-sampai masa sekarang ini.

USAHA-USAHA PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN SENI PEDHALANGAN JAWA TIMURAN

Masalah pertumbuhan seni Pedhalangan jawatimuran sebenarnya sudah sejak lama dilakukan oleh masyarakat seniman. Seperti sistim nyantrik, adalah merupakan cara yang paling utama dalam usaha tumbuh dan berkembangnya seni pedhalangan itu. Termasuk juga masyarakat penonton yang berperan sebagai penanggap pum merupakan pelestarian yang ikut andil dalam usaha ini.

Dengan diadakannya sekolah kesenian merupakan usaha Pemerintah Daerah dalam membantu melestarikan dan mengembangkan cabang seni yang satu ini. Disamping itu, adanya paguyuban-paguyuban, seperti PADHEPOKAN MANGUN DARMO MILIK M. Soleh di Tumpang Malang, PARIPUJA (Paguyuban Ringgit Purwa Jawatimuran ), Organisasi pendengar setia siaran kroncong dan karawitan pedhalangan (BAKORPANGARSI ) adalah merupakan pendukung-pendukung yang ingin membantu dan memberikan daya-dorong agar seni pedhalangan jawatimuran ini jangan sampai mengalami kepunahan.

Kegiatan-kegiatan sarasehan, percobaan-percobaan garap pakeliran, mengundang/penceramah dari STSI Surakarta adalah suatu usaha yang menghendaki peningkatan seri pedhalangan Jawatimuran baik secara kualitatif maupun kuantyitatif. Namun demikian apa yang dikehendaki para seniman pelaku nampak belum adanya ketercapaian bagi tujuan utama mereka.

Dalam suatu sarasehan pernah terlontar satu pertanyaan, (ki dhalang Toyib Gondocarito ): Mengapa seni pedhalangan kita, sampai saat ini belum bisa terangkat ketempat yang lebih atas ? Jawaban yang tersimpul dalam sarasehan tersebut ada 2 (dua) macam, yaitu :

  • Introspeksi mengenai kondisi pribadi dhalang dalam rangka untuk memenuhi tujuan.
  • Memohon kepada Lembaga Pemerintah yang terkait untuk membantunya.

Jawaban diatas menyatakan bahwa dalam menanggapi era jaman seperti ini, mereka mengakui kekurangan-kekurangannya. Dengan keluarganya mereka menyatakan kekurangan-kekurangannya (gak sampe = maksud-nya ora tegel) melakukan hal-hal yang harus disesuaikan dengan kondisi masa sekarang yang serba “lari-cepat”ini. Dalam hal ini, memang tidak bisa dipungkiri. Sebab perasaan tradisi mereka (para dhalang ) masih sangat kuat bercokol dalam lubuk hatinya. Seperti tradisi menghormat guru, merupakan perilaku yang sulit dihilangkan. Apa yang harus dilakukan dalam aturan-aturan selama penyantrikan selalu membayang, tidak mudah untuk ditinggal begitu saja.

Perasaan tradisional demikian itulah, yang nampaknya sangat membelenggu mereka dalam menerima tantangan jaman seperti sekarang ini.

MASA DEPAN SENI PEDHALANGAN JAWA TIMURAN

Harapan masa depan bagi cabang seni yang satu ini masih tetap ada, meskipun sebagian masyarakat yang merasa pesimis menyatakan kekhawatirannya akan kelangsungan kehidupannya. Kemungkinan juga, ada beberapa dhalang yang berprasangka demikian, namun sebagian besar masih berpikir optimis akan masa depan kehidupan seni pedhalangan jawatimuran.

Harapan mereka dan semangat yang dilakukan masih kuat terhadap kelangsungan hidup dari pada seni pedhalangannya. Entah bagaimana wujudnya nanti, keyakinan akan tumbuh dan perkembangan seni pedhalangannya, mereka tanpa ragu lagi. Sebab kecuali dukungan masayarakat yang mengkuatkan, sajian-sajian merekapun menunjukan peningkatan yang berarti dibanding dengan penyajian pada masa lalu. Baik lomba, festival maupun sarasehan adalah merupakan pengaruh daya buka yang akan mendorong kreatifitas dhalang dan para wiyaganya. Dengan demikian harapan untuk mampu berkarya sesuai dengan kondisi jaman akan bisa terwujud. Dengan penampakan garapan-garapan baru oleh beberapa dhalang adalah merupakan pernyataan sikap dalam mengurangi (menghilangkan ) dari belenggu keterikatan yang sebenarnya menghambat.

Meskipun tanpa didampingi oleh rasa emosional, mereka penuh kehati-hatian disertai wawasannya dan dengan kebijaksanaan yang disandarkan pada Tuhan, maka harapan masadepan kelangsungan hidup Seni Pedhalangan Jawatimuran akan terealisir. Hanya masalahnya sekarang, siapa pelaku (seniman dhalang) yang akan sanggup, menempati panggung-dalang di-masa-masa yang akan datang?

Dalam hal, kecuali semua dhalang ikut aktif dalam pengembangan, mereka juga mengajak para seniman lain (pendukung) untuk berkreatifitas bersama dalam menghadapi masa depan. Memang tidak bisa dielakkan, bahwa tantangan yang paling berat adalah menghadapi Era globalisasi yang sekarang ini sudah berada diambang pintu.

Menghadapi Era ini, para seniman harus mau berlogika kearah jauh kedepan. Tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisionalnya seniman dhalang Jawatimuran harus mampu membawa bersama beraktulturasi dengan seni budaya yang dikehendaki nanti. Artinya,seniman dhalang dan para pendukung dalam karyanya harus mampu tersaji sesuai dengan selera yang kehendaki erajaman nanti, tetapi harus menggunakan seni pedhalangan (tradisional) Jawatimuran sebagai filternya.

Dengan denikian harapan akan tumbuh-berkembangnya seni pedhalangan Jawatimuran dalam nmenghadapi masa depan tetap optimis. Dalam hal ini dukungan dan dorongan dari pihak pemerintah terkait tentu menjadi harapan yang tak pernah dilupakan.

KESIMPULAN.

  • Seni pedhalangan Jawatimuran dalam kehidupannya sampai sekarang ini masih dalam kondisi relatif subur dikalangan masyarakat pedesaan (rakyat-kecil).
  • Sambil berusaha peningkatan baik secara kuantitatif maupun kualitatif, mereka berkeinginan untuk mengangakat seni pedhalangan Jawatimuran ini ketempat yang lebih atas. Mereka berharap untuk bisa berkarya mendhalang dikota sebagaimana seni pedhalangan pada umumnya.

Harapan masa depan, bahwa seni pedhalangan Jawatimuran diwaktu yang akan datang masih tetap hidup, mampu tumbuh dan berkembang menyesuaikan keinginan selera jaman dengan tradisi seninya sebagai filter.

DAFTAR BACAAN DAN INFORMAN

  1. Tim ….. , ANGKAWIJAYA KRAMA I, Proyek Rehabilitasi / Pengembangan Sekolah Kejuruan Jawa Timur. Bagian Rehabilitasi / Pengembangan SMKI Surabaya Tahun Anggaran 1979/1980.
  2. Tim ….. , ANGKAWIJAYA KRAMA II, Proyek Rehabilitasi /Pengembangan Sekolah Kejuruan Jawa Timur. Bagian Rehabilitasi /Pengembangan SMKI Surabaya Tahun Anggaran 1980/1981.
  3. Tim ….. , LAGON VOKAL DHALANG JAWA TIMURAN, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawatimur tahun 1995/1996.
  4. Para informan, dhalang jak-dong (jawatimuran) terdiri atas :
    1. Ki Dhalang Piet Asmoro (almarhum) Trowulan Mojokerto, wawancara Tahun 1979.
    2. Ki Dhalang Cung Wartanu, Mojosari, pratek …. 1979.1983.
    3. Ki Dhalang Wasis,Trowulan, penyerapan sistim Nyantrik dan Suwoko, 1982.
    4. Kidhalang Hernowo,Mojosari, penyerapan pratek 1982.
    5. Ki Suleman, Karangbangkal-Gempol-Pasuruhan, penyerapan tata-gelar dan Cerita Wayang Jawatimuran, 1989 s/d. sekarang.
    6. Kidhalang Sumadi, Kadi Sunyoto, Jl.Gunung Kawi, Malang, Perbandingan Pakeliran, Pratek di SMKI Surabaya : 1983.
    7. Ki Dhalang Sumadi, Gelam Candi Sidoarjo, perbandingan Pakeliran dan Lakon Wayang Jawatimuran : 1997-1998.
    8. Para informan yang lain : Ki Dhalang Suratman, Pacet. Ki Dhalang Kartono Pacet Mojokerto, tentang gendhing iringan wayang. Ki Surwedi, kriyan Sidoarjo, Pengajaran Pakeliran 1985-1997.