Perjalanan Religi Gunung Arjuno (Bagian 1)

Gunung Arjuna atau sering juga ditulis Arjuno, berada di Jawa Timur ini memiliki ketinggian 3.339 m dpl. Merupakan gunung berapi dengan tipe kerucut dibawah pengelolaan TAHURA Raden Soerjo. Identifikasi nama Arjuna sebagai sebuah gunung terdapat pada kidung Tantu Pagelaran dengan kolofon yang berangka tahun 1557 Çaka atau 1635 M. Disebutkan pada kidung tersebut :

Col andap kulwan, maluhur wetan ikang nusa Jawa; yata pinupak sang hyang Mahameru, pinalih mangetan. Tunggak-nira hana kari kulwan ; matangnyan hana argga Kelaga ngaranya mangke, tunggak sang hyang Mahameru nguni kacaritanya. Pucak-nira pinalih mangetan, pinuter kinembulan dening dewata kabeh ; runtuh teka sang hyang Mahameru. Kunang tambe ning lemah runtuh matmahan gunung Katong; kaping rwaning lmah runtuh matmahan gunung Wilis; kaping tiganing lmah runtuh matmahan gunung Kampud; kaping pat ing lmah runtuh matmahan gunung Kawi; kaping limaning lmah runtuh matmahan gunung Arjjuna; kaping nem ing lmah runtuh matmahan gunung Kumukus.

Tantu Pagelaran

Pada terjemahan bahasa Indonesia :

Diletakkan di sebelah barat, tapi sisi sebelah timur Pulau Jawa menjadi miring, karena dipatahkan oleh Sang Mahameru, terbelah sebelah timur. Tunggul sisanya hanya ada di sisi barat, oleh karena itu nanti akan ada gunung Kelasa, tunggulnya Sang Hyang Mahameru, demikianlah bunyi ceritanya. Puncaknya (Mahameru) dipindahkan ke sebelah timur, diangkat bersama-sama oleh para dewata. Sang Hyang Mahameru runtuh (tercecer). Reruntuhan pertama menjadi Gunung Kantong, reruntuhan kedua menjadi Gunung Wilis, reruntuhan ketiga menjadi Gunung Kampud, reruntuhan keempat menjadi Gunung Kawi, reruntuhan kelima menjadi Gunung Arjuna, reruntuhan keenam menjadi Gunung Kemukus.

Nama gunung Arjuna juga teridentifikasi pada serat serat centhini (1814) jilid 7, terutama pada pupuh Pocung yang disebutkan bersama jajaran gunung-gunung lain di sekitarnya. Antara lain :

ajaripun ardi Arjuna lit patut | praptèng suku arga | lalu umanjat manginggil | tan rêkasa kakaywan wana sarwana ||

Centhini 390:21

Sedang pada bait yang lain disebutkan:

Ngandhas trêjung jurang pêpèrèng prang parung | lan lengkong timpahan | aluran sukuning ardi | ardi Cêpaka lawan ardi Arjuna ||

Centhini 390:26

Perjalan di lereng timur

Sebagaimana telah diketahui bahwa nama Arjuna adalah nama tokoh dalam epos Mahabarata. Yang merupakan saudara ketiga dari lima tokoh Pandawa. Sangat memungkinkan juga bahwa penamaan gunung Arjuna juga disitir dari nama tokoh Pandawa tersebut. Karena itu, banyak situs-situs di sekeliling gunung Arjuna yang juga menggunakan atau mengambil dari nama-nama dalam epos Mahabarata.

Area yang paling sering digunakan sebagai lokasi laku adalah lereng bagian timur dan utara. Tetapi di area barat dan selatan pun terdapat beberapa situs religi, walupun jumlahnya tidak terlalu banyak seperti di lereng timur dan utara.

Mulai perjalanan

Untuk menuju ke lereng sisi timur, perjalanan dimulai dari dusun terakhir yaitu Tambakwatu dibawah desa Tambaksari yang merupakan wilayah kecamatan Purwodadi. Untuk mencapai Tambakwatu, kita bisa menyewa ojek dari sebelah pegadaian kecamatan Purwosari (7°46’35.0″LS 112°44’35.5″BT). Jika menggunakan kendaraan pribadi, dari pegadaian hingga pos perijinan (7°46’50.4″LS 112°39’28.2″BT) akan memakan waktu sekitar 30 menit. Kondisi saat ini, jalan sudah aspal hingga titik terakhir.

Di dusun tambakwatu ini banyak sekali masyarakat yang memperkenankan pengunjung untuk menitipkan kendaraan pribadinya. Tidak ada standar harga penitipan kendaraan, cukup sewajarnya sesuai durasi dan jenis kendaraan anda. Kami sendiri mempunyai langganan menitipkan kendaraan di rumah Pak’e Wondo. Biasanya, kami memberikan uang sekitar Rp. 5.000 (2020) untuk satu motor, atau sebesar Rp. 20.000 untuk satu mobil per harinya. Rumah pak’e Wondo berada persis di selatan gapura masuk jalur pendakian. Andapun dapat membeli tambahan kelengkapan pendakian atau perjalanan di sini. Di sebelah rumah Pak’e Wondo juga terdapat kamar mandi yang bisa digunakan oleh siapa saja.

Halaman depan rumah Pak’e Wondo

Dari sini, kita dapat memilih dua pilihan jalur. Sebelah kiri jalannya lebih bagus, lebar dan langsam. Juga melewati beberapa situs pundhenan atau petren. Bahkan mulai akhir 2020, jalannya sudah dibangun oleh Divif II Kostrad, memungkinkan untuk mobil dengan ground clearence tinggi untuk mencapai pos 1 di goa Ontoboga dengan mudah. Jika anda memilih jalur sebelah kanan, tracknya lebih curam dan masih berupa campuran jalan ladang dan hutan. Tetapi keuntungannya adalah jarak tempuh yang lebih pendek. Kedua jalur ini akan bertemu di sebelah barat bak pelepas tekanan di sekitar pos penjagaan perhutani.

Jika anda adalah pendaki atau berniat untuk wisata tracking, jangan lupa mendaftar di pos pendaftaran yang tempatnya tidak jauh dari rumah Pak’e Wondo. Laporkan jumlah peserta, beserta data dan durasi akan berwisata ke area gunung Arjuno. Sedikit berbeda jika anda adalah peziarah yan akan melakukan laku atau tirakat dan sejenisnya. Walaupun seharusnya juga diwajibkan untuk melakukan registrasi, tetapi hal ini jarang sekali dilakukan. Masyarakat desa dan petugas lebih nyantai dengan orang-orang yang naik ke Arjuna karena niatan tirakat atau laku.

Catatan yang perlu diperhatikan

Dalam perjalan ke area yang biasa digunakan untuk nepi, anda akan melewati sejumlah pos dan situs, yaitu:

  1. Pos 1: Goa Antaboga, jarak 2km, 1 jam perjalanan
  2. Pos 2: Tampuono, jarak 1,5 km, 1 jam perjalanan
  3. Pos 3: Eyang Sakri, jarak 150m, 15 menit perjalanan
  4. Pos 4: Eyang Semar, jarak 1km, 1,5 jam perjalanan
  5. Pos 5: Makuthoromo, jarak 500 m, 20 menit perjalanan
  6. Pos 6: Candi Sepilar, jarak 100 meter, 15 menit perjalanan
  7. Pos 7: Jawadwipa, jarak 3 km, 3 jam perjalanan

Anda harus menghitung waktu perjalanan menuju area yang dituju, ditambah dengan waktu beristirahat dan suguh. Kami juga menganjurkan bahwa jangan sampai pada waktu perpindahan siang ke malam atau sebaliknya, anda masih berada di jalan. Selain itu, di sebelum eyang Semar, curah hujan masih tinggi. Sedangkan area di atas Eyang Semar sudah jarang terjadi hujan lebat. Sebagai catatan untuk diperhatikan bahwa jangan berjalan jika kondisi berkabut tebal. Hal itu akan sangat berbahaya dilakukan. Beberapa alasannya adalah:

  1. Paru-paru anda akan beresiko untuk kemasukan air dari kabut yang terkondensasi.
  2. Kondisi jalan tanah yang berhumus akan menjadi licin.
  3. Track tidak terlihat.
  4. Tidak dapat melihat hewan-hewan berbahaya yang mungkin berada di jalur.

Jalur religi gunung Arjuna

Bagi banyak penduduk Jawa utamanya yang tinggal di area sekitar Gunung Arjuna, merupakan gunung suci yang disakralkan. Kami tidak pernah mendengar secara langsung batasan mengenai baju atau hari tertentu yang tidak diperkenankan. Akan tetapi, lebih baik tetap mematuhi norma-norma umum pendakian, menjaga perilaku dan ucapan. Jangan lupa, untuk membuang sampah di tempat yang disediakan, atau membawa turun untuk di buang setelah selesai pendakian.

Watu Payung (7°46’53.6″LS 112°39’14.3″BT)

Situs ini merupakan formasi batu yang terletak tidak jauh dari gerbang pintu masuk gunung Arjuna. Kita hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit untuk mencapainya. Watu payung berada persis di pingggir jalan. Secara fisik watu payung merupakan formasi batu-batu vulkanik. Persis di atas watu payung, terdapat tatanan batu yang rencananya akan digunakan sebagai pondasi dari bangunan ritual. Tetapi hal ini tidak mendapatkan persetujuan oleh perhutani, jadi saat ini pembangunanna tidak dilanjutkan.

Watu Payung

Tidak ada fasilitas apapun yang tersedia di sini. Satu-satunya bangunan adalah berbentuk patung semar berwarna pink.

Secara tradisi, para peziarah akan membakar dupa atau melakukan suguh di depan watu kursi. Titik suguh dapat melihat bekas potongan dupa yang banyak tertinggal di situ. Di sini, doa yang dipanjatkan adalah memohon perlindungan Tuhan dan para sesepuh di area gunung Arjuna, semoga selalu memayungi perjalanan agar selamat hingga saat kembali.

Dari watu payung, track menuju pos 1, lebih ringan dengan track yang cenderung datar dengan tanjakan yang tidak berarti.

Perkembangan kondisi track sebelah barat watu payung dalam kurun 6 tahun

Watu Plawangan (7°46’50.2″LS 112°39’03.0″BT)

Hingga beberapa tahun lalu, area watu plawangan masih berupa jalan setapak yang dihimpit oleh rangkaian batu-batu besar. Kondisi terkini, rangkaian batu-batu sudah hilang menyisakan dua buah batu yang dikeramatkan saja dengan jalur setapak lama yang masih utuh dan dikelilingi oleh jalur kendaraan.

Watu Plawangan dilihat dari barat

Menurut keyakinan beberapa peziarah, situs ini termasuk dikeramatkan karena merupakan pintu masuk ke area gunung Arjuna. Karena itu, banyak sekali peziarah yang juga melakukan suguh di sini untuk sekedar uluk salam mohon ijin masuk ke wilayah gunung Arjuna.

Jarak antara wau payung dan plawangan hanya memakan waktu sekitar 20menit dengan track landai. Untuk dicermati bahwa dari arah watu payung (timur) sebelum plawangan terdapat pertigaan, pilihlah track lurus atau sebelah kanan untuk menuju ke plawangan.

Jika anda berjalan sekitar 5 menit ke arah barat, terdapat pos jagawana. Di pos ini sebenarnya terdapat listrik yang berasal dari genset yang dapat dipergunakan. Tetapi saat terakhir kami melewati pos ini, sudah tidak ada personil penjaga yang selalu standby. Di pos ini juga terdapat parkir sepeda motor. Tetapi dengan tidak adanya petugas dari perhutani, maka resiko kehilangan juga akan lebih tinggi. Sebuah landmark yang menjadi tengeran bagi para pengunjung, adalah terdapatnya tandon air (Bak pelepasan) di area ini. Air yang mengalir di sini juga berasal dari sumber-sumber yang terdapat di atas.

Tidak jauh ke arah barat laut dari pos, terdapat sebuah situs dhanyangan kuno dan gardu pandang dengan view ke arah timur laut. Dari sini bisa memandang area lembah Gunung Arjuna hingga pasuruan tanpa terhalang.

Goa Antaboga (7°46’40.7″LS 112°38’32.7″BT)

Tugu Kostrad

Dari pos perhutani menuju ke Goa Antaboga menghabiskan waktu sekitar 20 menit menuju ke arah barat. Di perjalanan, anda akan menemukan dua buah persimpangan. Pada persimpangan pertama, jika menggunakan kendaraan, pilihlah jalur yang sebelah kiri, tapi jika anda berjalan kaki, dapat memilih jalur sebelah kanan. Jika anda memutuskan untuk memilih jalur sebelah kanan, maka pada persimpangan kedua, pilihlah jalur sebelah kiri. Anda dapat memilih jalur sebelah kanan jika memutuskan untuk langsung menuju ke putuk lesung tanpa melewati Pos 1 dan Pos 2.

Setelah 20 menit berjalan, maka anda akan sampai pada sebuah lapangan dan tugu kostrad di sebelah utara jalan. Jika anda naik ke gunung arjuna bersamaan dengan proses Divif 2 kostrad singosari melakukan tradisi, maka area ini akan dipenuhi ratusan personil kostrad. Area goa Antaboga ini setiap tahun mendapatkan facelift yang cukup banyak. Di tahun 2020, sudah terdapat dua buah warung (tapi jarang buka), mushola, MCK, dan pondokan yang sering dipergunakan peziarah jika ingin bermalam. Jalannya pun saat ini sudah berupa paving yang rapi. Di area depan goa juga sudah terdapat atap galvalum.

Goa Antaboga atau sering juga ditulis Ontobogo juga merupakan pos 1 pendakian ke puncak Arjuna. Umumnya para pendaki yang bukan merupakan peziarah, hanya mampir sebentar untuk sekedar meluruskan kaki, dan segera melanjutkan kembali menuju ke pos 2 di Tampuono. Tapi bagi para peziarah, Goa Antoboga ini mempunyai makna khusus, dimana dipercayai bahwa di sini merupakan pos penjagaan gunung Arjuna. Ada tiga lokasi pundenan yang berada di wilayah Goa Antaboga, yaitu:

  1. Goa Antaboga, di gerbang ditulis dengan Ontoboego. Saat ini kedalaman goa hanya tinggal sekitar 2 meter. Hal in iterjadi setelah atap goa bagian dalam runtuh.
  2. Plawangan Segara Kidul, Merupakan bangunan baru berbentuk segi empat.
  3. Eyang Nagagini, bertempat di bagian paling barat area situs. Berbentuk batu yang jika dilihat secara seksama, bentuknya mirip dengan puncak gunung Arjuna.

Dhanyangan utama yang berada di punden ini sering disebut sebagai Eyang Antaboga. Dipercayai berwujud ular besar dengan menggunakan jamang tanpa mahkota. Sebagaimana pos penjagaan, biasanya para peziarah akan meminta palilah (ijin) untuk meneruskan perjalan ke area yang dituju. Sebagaimana banyak dikisahkan oleh peziarah, biasanya jika tidak dirasa tidak diperkenankan atau diperbolehkan, maka peziarah tidak jadi meneruskan perjalanan, dan hanya bermalam di area ini. Tetapi dengan pertimbangan dan resiko yang sudah ditakar, terkadang peziarah tetap meneruskan perjalanan dengan meningkatkan kewaspadaan.

Di akhir pekan, pos ini cukup ramai dikunjungi oleh pelancong yang sekedar ingin berjalan-jalan menikmati alam. Dikarenakan lokasinya yang terjangkau dan fasilitas yang cukup memadai. Bagi beberap orang yang juga masih belajar laku, tempat ini juga sangat memadai untuk melakukan semedi dan metri diri.

Total perjalanan yang ditempuh dari Dusun Tambakwatu ke Pos 1 di Goa Antaboga antara 45 menit – 1,5 jam dengan jarak tempuh sejauh sekitar 2km dengan track naik landai. Beberapa titik pengambilan bekal air dapat dilakukan di Pos Perhutani atau Goa Antaboga. walaupun sebenarnya di sepanjang jalan terdapat pipa milik hipam yang bocor, sehingga airnya juga dapat kita manfaatkan. Vegetasi hingga Pos 1 didominasi oleh hutan produktif pinus dan kebun kopi. Terdapat beberapa rumpun bambu liar dan tanaman khas hutan walaupun jumlahnya sangat minim.

Watu Kursi (7°46’32.5″LS 112°38’14.2″BT)

Dari Goa Antaboga target perjalanan berikutnya adalah menuju pos 2 yang biasa disebut sebagai Tampuono. Waktu tempuh dari Goa Antaboga adalah sekitar 30 menit. Setelah Goa Antaboga, track menjadi sedikit berbeda. Saat ini track dibuat dari tatanan batu. Saat ini sepeda motor dapat melaluinya sampai dengan Tampuono. Tetapi harus berhati hati dikarenakan terdapat beberapa area yang langsung berbatasan dengan jurang.

Penulis bersama keluarga di track menuju watu kursi

Hingga sekitar tahun 2018 track ini dipenuhi dengan tumbuhan khas hutan. Terdapat banyak sekali pohon Kaliandra dan Gandapura. Tetapi setelah kejadian kebakaran besar di Gunung Arjuna, banyak pohon endemik yang hilang dan berganti menjadi perkebunan kopi.

Setelah melewati track lurus yang cukup mendaki, kemudian jalur akan mengarah ke selatan dan zig-zag hingga mencapai Watu Kursi. Sebenarnya setelah tikung pertama terdapat jalur potong kompas ke arah barat yang langsung menuju watu kursi. Tetapi lebih curam dan harus melewati pecahan-pecahan batu alam. Setelah melalui beberapa kelokan, pada tikungan terakhir, anda dapat menemukan situs Watu Kursi. Lokasinya sendiri di sebelah timur jalur agak ke bawah. Di depannya terdapat sebuah bak air yang sudah tidak dipergunakan. Landmark yang dapat menjadi tanda adalah sebuah batu besar yang terletak di pinggir jalan.

Watu Kursi

Dari sini, anda tinggal separuh jalan lagi menuju Pos 2 Tampuono. Jalurnya lurus mengarah ke barat dan hanya terdapat satu percabangan yang menuju ke situs Batik Madrim.

Eyang Madrim (7°46’19.6″S 112°38’01.8″E)

Batik Madrim
Punden Batik Madrim

Sekitar 15 menit perjalanan menuju tampuono dari watu kursi, maka kita akan bertemu dengan persimpangan ke arah kanan dengan jalur agak menurun. Biasanya, para peziarah tidak melakukan suguh di lokasi Madrim, dan hanya membakar dupa atau cawis sajen di bawah sebuah batu di dekat persimpangan (7°46’23.4″LS 112°38’01.2″BT). Tetapi jika anda memutuskan untuk menuju ke lokasi madrim, anda cukup mengikuti jalur tadi sejauh kurang lebih 200m melintasi kali mati dan punggung bukit.

Terdapat dua pendapat mengenai penamaan nama Madrim. Beberapa pendapat meyatakan nama Madrim diambil dari nama istri Prabu Pandu yang kedua, yaitu Dewi Madrim. Sedangkan pendapat yang lain, lebih condong bahwa penamaan situs ini berasal dari nama patih legendaris dari Prabu Anglingdarmo dari kerajaan Malawapati.

Situs ini berbentuk sebuah punden berundak dengan struktur atap baru di atasnya yang dikelilingi oleh penutup kain. Di dalamnya terdapat beberapa pecahan batu yang dikeramatkan. Di depannya terdapat sebuah pemondokan atau shelter yang kurang terawat tanpa fasilitas pendukung lainnya. Hal ini terjadi karena situs ini jarang digunakan sebagai tempat bermalam oleh peziarah. Salah satu sebabnya karena akses terhadap air bersih yang jauh dan tidak berada pada jalur pendakian.

Untuk meneruskan perjalanan ke Tampuono, maka satu-satunya jalur yang dapat dipergunakan adalah melewati jalan yang sama. Tidak ada jalan lain untuk menuju dan keluar dari situs ini kecuali memotong kompas melalui perkebunan dan lereng yang menuju putuk lesung.

Madrim
Bagian dalam situs madrim

Punden Desa (7°46’20.6″LS 112°37’53.3″BT)

Pintu masuk area punden

Lokasi ini diyakini merupakan makam dari dua tokoh pendiri desa yang biasa dipanggil dengan gelar Kek. Salah satunya disebut sebagai Kek Rat. Walupun sangat jarang dikunjungi oleh para peziarah, tetapi lokasi ini selalu bersih dan tertata rapi. Dikarenakan merupakan pundenan desa.

Untuk menuju ke lokasi ini, terdapat dua jalur yang bisa anda tempuh. Jalur pertama berada tidak jauh di sebelah barat persimpangan menuju ke Madrim. Anda tinggal mengikuti jalur ke selatan yang akan mengantarkan anda ke punden desa. Jalur kedua dapat anda lalui dari track kecil persis di sebelah timur warung Cak Karnadi di Tampuono. Jarak jika melalui kedua jalur relatif sama, sekitar 100m.

Di punden ini dapat menjadi pilihan jika ingin beristirahat dengan lebih sepi dan tanpa gangguan peziarah lain. Selain itu, jika pondokan di area Tampuono sudah penuh, lokasi ini juga bisa menjadi pilihan anda. Tetapi untuk MCK dan air harus tetap mengambil di Tampuono.

Satu hal yang menjadi catatan jika ingin berkunjung dan bermalam di punden ini. Akan lebih baik jika anda meminta ijin terlebih daulu kepada sesepuh desa, dikarenakan punden ini sebenarnya bukan merupakan tujuan umum dari Peziarah gunung Arjuno dan sangat disakralkan oleh penduduk desa Tambaksari terutama dusun Tambakwatu.

Beberapa hewan endemik yang sering ditemui di area ini adalah landak. Anda dapat berburu landak menggunakan batang pisang jika sudah kehabisan bekal. Tetapi tetap batasi perburuan anda.

Terdapat kisah dari salah seorang peziarah yang sempat laku di area ini beberapa lama. Pada suatu malam saat semedi tiba-tiba terdapat suara ramai dari atas yang kemudian disusul kemunculan sebuah kelabang berukuran sebesar kereta api mengarah turun ke timur.

Gunung Arjuna memang gunung yang disakralkan oleh banyak masyarakat Jawa dari berbagai macam kepercayaan dan keyakinan. Hampir setiap orang yang pernah naik ke Arjuno pasti memiliki kisah spiritual yang terkadang sangat susah untuk dilogika. Tetapi kembali kepada pemahaman dan bagaimana masing-masing orang menyikapi dan mengambil makna dari pengalamannya.

Tampuono

Cukup 30 menit perjalanan dari watu kursi untuk mencapai Pos 2 pendakian yang disebut Tampuono. Terletak di koordinat 7°46’16.0″LS 112°37’48.6″BT dengan luasan sekitar 8.070,4 m² di ketinggian rata-rata 1.400 dpl, area ini merupakan pos favorit para pendaki Gunung Arjuna, baik yang hanya bertujuan wisata ataupun para peziarah. Di Tampuono terdapat fasilitas yang cukup memadai, terdapat dua buah warung, MCK, dua sumber mata air, dan beberapa shelter. Serta, di tempat ini terdapat tiga buah lokasi ritual utama dan beberapa titik ritual minor. Selaint itu juga merupakan jalur persimpangan yang mengarah ke situs-situs di atas dan yang ke arah putuk lesung dan sumber Gemandar. Jika anda pengguna HP dari provider besar, juga masih bisa mendapatkan coverage sinyal dan data yang cukup untuk melakukan telekomunikasi text dan audio. Mulai pertengahan 2020, di dekat pintu masuk, tepatnya di depan warung Cak Karnadi telah disediakan tempat parkir sepeda motor.

Jika anda baru pertama datang ke Tampuono, jangan heran jika kemudian disambut oleh para anjing. Anjing-anjing ini merupakan peliharaan dari Cak Karnadi beserta emak. Anjing yang paling senior bernama Siro/Zero/Sero merupakan anjing pertama Cak Karnadi dan telah menjadi sahabat para peziarah. Anda bisa meminta tolong kepada Sero untuk di antar kemana saja di area Gunung Arjuna, dengan ganti upah sebuah mie instan.

Sedikit berjalan ke arah selatan, anda akan sampai pada kompleks utama dari situs Tampuono. Beberapa peziarah sepuh sering menyebut Tampuono dengan julukan Retawu, yang merupakan gunung yang menjadi patapaan atau pertapaan para leluhur Pandawa. Dari sini berjajar beberapa shelter yang bisa anda pergunakan tanpa perlu ijin khusus. Pada hari-hari ramai misal jumat legi atau bulan sura, biasanya kita akan sulit mendapatkan shelter yang kosong. Karena itu, siaplah jika harus tidur di tempat yang kurang nyaman, seperti di tanah atau di halaman punden.

Mak Kasri

Untuk sekedar mengisi perut, warung milik Cak Karnadi ataupun Mak Kasri dapat menjadi andalan saat akhir pekan atau hari-hari yang umumnya ramai pengunjung. Di kedua warung ini hampir selalu menyediakan soto, bakso, ayam, rendang dan lain sebagainya dalam bentuk mie instan. Jika sedang beruntung, tahu, tempe, telor, ikan asin ditambah jamur hutan akan menjadi lauk tambahan spesial. Selain itu, kedua warung ini juga dapat melayani kebutuhan wilujengan atay selamatan di situs manapun di Arjuna, terutama di Tampuono. Kami sendiri beberapa kali memesan tumpeng beserta kelengkapannya untuk selamatan di Tampuono dengan harga yang sangat wajar, termasuk persiapan dan pengantaran tumpeng di lokasi.

Eyang Sekutrem (7°46’14.7″LS 112°37’50.4″BT)

Pundenan pertama yang dapat anda datangi adalah Eyang Sekutrem. Berbentuk rumah kecil dari batu bata dengan kumpulan batu-batu yang disakralkan tersimpan di dalamnya. Beberapa bantu berbentuk seperti pecahan candi, sedangkan lainnya sudah tidak dapat diidentifikasi lagi asalnya. Letaknya persis di ujung jalur pendakiandi sebelah sebuah sumber yang saat ini sudah ditutup dan hanya menampakkan saluran pipanya saja.

Secara genealogi, Sekutrem termasuk leluhur dari para Pandawa. Yaitu putra dari Begawan Manumayasa, ayah dari Begawan Sakri yang menurunkan Begawan Parasara. Dari Begawan Parasara berputra sang Abiyasa yang merupakan kakek dari Pandawa. Jika mencari alasan kenapa lokasi ini disebut sebagai Eyang Sekutrem, tidak lebih dikarenakan rasa bangga dan penghormatan rakyat jawa kepada tokoh tersebut. Jadi bukan merupakan makam atau petilasan dari tokoh itu sendiri. Begitu juga kebanyakan situs-situs yang lain di area Arjuna.

Eyang Abiyasa (7°46’15.9″LS 112°37’48.5″BT)

Merupakan punden utama di Tampuono, letaknya berada di area teratas mendominasi sekelilingnya. Lokasinya berupa bangunan dengan dua ruang. Ruang pendukung sering digunakan sebagai buffer area atau ruang tunggu bagi para peziarah untuk beristirahat sementara menunggu giliran masuk ke ruang utama. Sedangkan ruang utama seluas sekitar 2 x 2 m yang dihiasi beberapa hiasan wayang dan terdapat struktur mirip makam di tengahnya.

Area pendukung yang berupa ruangan seluas 3 x 3 m dan beralaskan karpet sanat nyaman untuk digunakan untuk beristirahat. Tetapi para peziarah tidak diperkenankan untuk menginap di lokasi ini. Untuk menginap, lebih baik memanfaatkan shelter-shelter yang banyak terdapat di Tampuono.

Area inti merupakan tempat utama yang digunakan untuk melakukan laku. Biasanya setelah mandi di sendang Kunti, para peziarah akan membawa air dari sendang Kunti untuk ditaruh di sini dengan niatan mendapatkan berkah dan mandhi-nya para eyang di Arjuna.

Selain itu, tempat ini juga sering dimanfaatkan para peziarah untuk nyetren atau sidhikara pusaka. Umumnya, pusaka ditempatkan di lokasi utama kemudian didoai dan ditinggal untuk beberapa saat. Sering pula kami jumpai bahwa para pemilik pusaka melanjutkan perjalanan ke area lain di gunung Arjuna, baru kemudian mengambil kembali pusaka mereka di sini.

Sebagaimana keterangan Mak Ni yang merupakan putri dari juru kunci pertama, di situs eyang abiyoso ini tidak terdapat makam. Pembangunan struktur mirip makam hanya digunakan sebagai tetenger lokasi. Walaupun banyak juga yang meyakini bahwa makam itu adalah makam dari eyang Abiyoso kakek para Pandawa. Tentu tidak.

Sendang Kunti (7°46’20.0″LS 112°37’48.4″BT)

Sendang Kunti sebenarnya merupakan sumber yang keluar dari struktur batuan di lereng Arjuna. Saat ini sudah dibangun secara khusus sehingga memudahkan para peziarah atau pendaki untuk menggunakannya sebagai fasilitas umum.

Di sini terdapat sebuah kolaman yang bisa digunakan untuk tapa kungkum dan struktur shelter serta MCK. Untuk mengakses sumber asli, peziarah harus membuka bak penampungan yang saat ini ditutup semacam beton cor yang bisa dibuka.

Sudah menjadi tradisi bahwa sebelum suguh di eyang Abiyasa, para peziarah akan melakukan ritual pembersihan diri atau sesuci terlebih dahulu di sumber Kunti. Setelah itu membawa air dari sumber ini untuk dibawa ke Eyang Abiyoso. Hal ini sejalan dengan keterangan para sesepuh dusun Tampuono yang menyarankan hal serupa.

Air dari sumber ini diyakini ampuh digunakan sebagai obat dan penyembuh segala penyakit. Beberapa orang juga memanfaatkan daya air dari sumber ini untuk digunakan sebagai syarat. Karena itu, selain air dari sendang Drajat dan Widodaren, air di sini juga menjadi langganan untuk dimanfaatkan oleh para peziarah. Salah satu keistimewaan sumber ini adalah tidak pernah habis atau berhenti walaupun disaat kemarau panjang.

Untuk lokasi-lokasi ziarah atau situs lain akan kami sambung pada bagian lain. Lokasi dan jalur pendakian dapat anda cek di halaman ini.