Pelacuran Masa Jawa Kuno

Pelacuran merupakan bisnis tertua yang dikenal manusia sejak zaman dulu. Praktik prostitusi seakan sudah melekat dalam sejarah peradaban manusia, baik peradaban kuno maupun modern. Jurnalis masyur asal Chicago, AS, Anne Keegan, dalam artikel bertajuk “World’s Oldest Profession Has The Night Off” bahkan menggambarkan pelacuran sebagai profesi paling tua di dunia.

Bahkan hingga kini, bisnis haram ini kian mengalami kemajuan seiring dengan berkembangnya teknologi, terutama di era industri 4.0 ini. Salah satunya dengan media internet yang saat ini makin digandrungi berbagai kalangan, membuat pelacuran menjadi makin mudah didapatkan.

Kronik Cina

Di Indonesia Pelacuran dianggap merupakan salah satu “PENYAKIT MASYARAKAT” yang banyak menimbulkan keresahan. Pelacuran sendiri di Indonesia juga sudah ada sejak jaman kerajaan dahulu, bahkan terdapat pula profesi khusus untuk sebuah jabatan dari kerajaan yang mengurusi bisnis syahwat nan nikmat ini.

Keberadaan pelacuran juga disebut dalam berita Tiongkok. Kronik Dinasti Tang, Ch’iu-T’ang shu dan Hsin T’ang shu, menyebut di Kerajaan Kalingga (Holing) banyak “perempuan berbisa“. Jika seseorang berhubungan kelamin dengannya, dia akan luka-luka bernanah dan mati, tetapi mayatnya tak membusuk.

Jika wanita mengiringkan seorang gadis dan mengantarkannya ke rumah seorang pemuda, atau jika ada wanita memberi tempat untuk pertemuan yang tidak senonoh antara seorang pemuda dan seorang gadis, karena mendapat upah dari pemuda dan gadis itu, kedua wanita baik yang mengantarkan gadis maupun yang menyediakan tempat itu dikenakan denda 4000 oleh raja yang berkuasa sebagai penghapus kesalahannya.

Begitulah bunyi salah satu pasal dalam undang-undang Agama tentang Paradara atau perbuatan mesum. Ada 17 pasal dalam bab Paradara. Isinya secara umum mengatur hubungan laki-laki dan perempuan, terutama larangan mengganggu perempuan bersuami. Dengan peraturan yang begitu ketat, nyatanya keberadaan pekerja tunasusila tetap diakui oleh penguasa pada masa Jawa Kuno.

Era Jawa Kuno

Juru jalir merupakan petugas resmi pemerintah. Menurut arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Perdaban Jawa, berdasarkan data prasasti, juru jalir masuk dalam kelompok petugas kerajaan yang disebut mangila drawya haji artinya memungut milik raja.

Nah, sekarang apakah kali ini kita bahas tentang bisnis lendir di era jawa kuno. Di era jawa kuno tentu saja sudah mengenal bisnis pemuas syahwat ini, bahkan pada masa itu sudah terdapat petugas dari kerajaan yang mengurusi wilayah perlendiran yang disebut dengan Juru Jalir (Pengawas Pelacuran).

Belum jelas tentang tugas Juru Jalir ini apakah hanya mengawasi atau nyambi alias menjadi Germo atau Mucikari. Mungkin perlu penelitian lebih lanjut tentang sepesifik pekerjaan seorang Juru Jalir ini. Namun di dalam beberapa prasasti Juru Jalir dikatakan merupakan salah satu “Petugas Penting” milik kerajaan yang mengurusi tentang bisnis pemuas syahwat dan dilarang memasuki daerah sima (perdikan).

Sayang sungguh sayang, penyebutan Juru Jalir tidak disebutkan secara rinci dan kadang disebutkan bersama petugas-petugas kerajaan yang lebih berperan dalam masyarakat, seperti petugas pajak dan petugas pengadilan, sehingga kita tidak mengetahui pasti apa peran lebih spesifik dari Juru Jalir ketika itu.

Banyak yang mengartikan juru jalir sebagai muncikari, akan tetapi ada pendapat lain tentang juru jalir ini. Juru jalir adalah orang yang bertugas memungut pajak dari para muncikari sekaligus mengatur dan mengawasi pelacuran. Muncikari mestinya ada istilahnya sendiri. Penarikan pajak itu terhadap muncikari bukan kepada pekerja tunasusilanya.

Sebagian dari mereka berkedudukan sebagai abdi dalem kerajaan. Hidupnya pun tergantung dari gaji yang diambil melalui bendahara kerajaan. Mangilala Drawya Haji adalah sekelompok pejabat rendahan yang sering dianggap sebagai pejabat-pejabat pemungut pajak.

Jejak Prasasti

Sedangkan sumber-sumber kuno yang mengatakan penyebutan tentang Juru Jalir di era klasik antara lain adalah Prasasti Kuti (840 M), Kancana (860 M), Waharu I (873 M), Barsahan (908 M), Kaladi (909 M), Sugih Manek (915 M), Sangguran (928 M). Seperti pada prasasti waharu I disebutkan:

tuha hunjaman juru jalir pabisar pawung kuwung pulung padi misra hino wli tambang … tpung

Waharu I, 795 Saka

Secara lengkap pada prasasti itu disebutkan pejabat kerajaan atau ‘watak i jro‘ (golongan dalam – abdi dalem) yang tidak boleh ‘masuk’ di daerah ‘sima’ (tan katamana ikanang sīma), salah satunya adalah Juru Jalir.

Pelacuran merupakan fenomena sosial yang senantiasa hadir dan berkembang di setiap putaran roda zaman dan keadaan. Keberadaan pelacuran tidak pernah selesai dikupas, apalagi dihapuskan. Walaupun demikian, dunia pelacuran setidaknya bisa mengungkapkan banyak hal tentang sisi gelap kehidupan manusia, tidak hanya menyangkut hubungan kelamin dan mereka yang terlibat di dalamnya, tetapi juga pihak-pihak yang secara sembunyi-sembunyi ikut menikmati dan mengambil keutungan dari keberadaan pelacuran.

Sumber :

  • Hull, T. H, Sulistyaningsih, E, & Jones, G.W. Op., Cit., hal. 65 Ibid., hal. 60
  • Oud Javaansche Oorkonden – Brandes
  • Sejarah Nasional Indonesia – Zaman Kuno
  • de Casparis , J. G. Indonesian palaeography.