Sang Nuswantara

Kanthi ngunjukaken panuwun dhumateng Gusti Ingkang Akarya Jagad. Nawala punika kawedalaken dening BAWARASA katur dhumateng Michael Anjang Ponco Kurniawan. Katitimasan kaping 23 Sura Jimakir 1954 Jumat Kliwon wuku Sungsang | 11 September 2020. Mapan ing dalem Megantaran,  Ngijo, Malang. Minangka kekancingan ponang tosan aji awujud keris ingkang kaparingan tetenger Kyai Nuswantara.
Sinidhakara pinuja puji mring Hyang Maha Suci ingajab kasembadan ingkang ginayuh.

Read More
Pabrik Es Betek I Dan II Pada Abad XX

Keterkaitan Pabrik Es Betek I Dan II Dengan Das Brantas Pada Abad XX

ABSTRAK

Penempatan pabrik Es Betek I dan II pada area DAS Brantas sangat strategis, selain pembuangan limbah yang sudah dikelola terlebih dahulu, juga sebagai bahan utama air pembuatan es balok (Jw: godor). Pada masa Kolonial pendirian pabrik es memiliki peranan, salah satunya sebagai suplai kepada restaurant, hotel serta kebutuhan rumah tangga yang lain karena pada waktu itu belum ada lemari pendingin dan meskipun ada tidak banyak yang memiliki. Hal tersebut terjadi hingga kisaran tahun 1980-an dan akhir masa kejayaan pabrik es mulai surut, salah satu faktor penyebabnya adalah mulai banyak beredar lemari pendingin.

Kata kunci: Penempatan Pabrik Es, DAS Brantas, Kebutuhan Es, Masa Surut

Lokasi dan Ekologi Pabrik Es Betek

Pabrik Es Betek I secara administratif berada di Kampung Betek, Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang sedangkan pabrik Es Betek II berada di Kampung Jenggrik, Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Akses menuju pabrik Es Betek I jika dari arah barat melewati Jl. Mayjen Panjaitan kemudian sebelah utara jalan ada Jl. Bogor Terusan masuk ke utara kurang lebih 200 meter dari jalan raya Mayjen Panjaitan, sedangkan pabrik Es Betek II berada persis di sebelah jembatan Soekarno Hatta yang di depan Universitas Brawijaya Jl. Mayjen Panjaitan.

Peta Pabrik Es Betek I dan II (Google Maps, 2020)

Keberedaan pabrik Es Betek I dan II tepat di DAS Brantas. Sungai Brantas dari arah barat melewati jembatan Soekarno Hatta dan pabrik Es Betek II kemudian mengarah ke timur dan berkelok ke selatan, tepat di kelokan itulah pabrik Es Betek I berada.

Secara topografi lingkungan sosial dulu pada masa awal pembangunan pabrik, daerah tersebut masih belum padat rumah penduduk meskipun ada itupun tidak banyak. Berbeda dengan kondisi sekarang yang mulai padat penduduk dan bahkan dihimpit oleh rumah-rumah.

Penempatan pabrik Es Betek I dan II sangat strategis yang berada di DAS Brantas. Pabrik Es Betek I bahan utama air selain dari sumur bor juga menggunakkan air dari sungai brantas yang di naikkan, kemudian air yang yang di naikkan akan melalui bak penampung dan di olah hingga mencapai kejernihan air. Berbeda dengan pabrik Es Betek II yang bahan utama airnya berasal dari sumur bor saja.

Riwayat Pabrik Es di Sub-Area Malang Barat

Riwayat pabrik es di Nusantara

Pada pertengahan abad ke-19, kapal-kapal yang datang dari Amerika Utara membawa berblok-blok es ke beberapa pelabuhan besar di Nusantara. Tahun 1854, di Singapura dekat dengan Colemun Bridge di pasar induk lama atau “rumah es tua” sebagai tempat untuk menyimpan berbagai bahan yang di impor salah satunya adalah es. Rumah es tersebut didirikan oleh Gilbert Angus dan Hoo Ah Kay (Lombard, 2005: 323).

Sekitar tahun 1869, keluarga-keluarga kaya di Batavia hanya meminum air yang berasal dari es yang mencair di datangkan dari Boston (Lombard, 2005: 322-323). Di tahun 1880, temuan orang Eropa terkait dengan prosedur pembuatan amoniak di impor ke Jawa. Sepuluh tahun kemudian pabrik es mulai berkembang di beberapa daerah terutama kota-kota besar.

Musafir asal Prancis yaitu Delmas sebelum tahun 1895 singgah ke Batavia dan mencicipi “un immense verre de cidre-champagne, boisson exquise, fabriquee avec des fruits du pays, dela glace et de l’eau gazeuse” yang artinya “segelas besar sidre-syampanye, minuman lezat yang dibuat dengan buah-buahan negeri itu, es dan soda” (Lombard, 2005: 323).

Pabrik es pada tahun 1800-an (Surabayastory.com, 2020)

Ketertarikan bangsa Cina terhadap perdagangan es sangat besar, hingga salah satu ttokoh perdagangan es ialah Kwa Wan Hong. Kwa Wang Hong lahir di Semarang pada tahun 1861, ayahnya berasal dari Cina dan sempat menjadi sekertaris Walikota (Lombard, 2005: 323). Sepertinya Kwa Wan Hong sangat pandai terutama di bidang perdagangan.

Potret Kwa Wan Hong (Geni.com, 2015)

Tahun 1895, Kwa Wan Hong mendirikan pabrik es yang bernama N.V. Ijs Fabriek Hoo Hien di Semarang. Dari pabrik es tersebut, Kwa Wan Hong mencoba membuka pabrik limun[1]dan percetakan. Namun, pada tahun 1910, Kwa Wan Hong kembali ke usaha awalnya yaitu pabrik es dan membangun pabrik es lagi di Semarang, Tegal dan Pekalongan.

Dari ketekutan tersebut, Kwa Wan Hong kemudian mendirikan pabrik di Surabaya dan tidak hanya satu tapi dua sekaligus di tahun 1924 dan 1926. Pada tahun 1928, Kwa Wan Hong atau sering di juluki “raja es” menetap dan membangun pabrik di Batavia pada wilayah Rawa Bangke. Kwa Wan Hong memberi nama pabrik tersebut yaitu N.V. Ijs Fabriek Rawa Bening untuk menghilangkan image pada wilayah Rawa Bangke (Lombard, 2005: 323).

Riwayat pabrik Es Betek I dan II

Sungai Brantas melewati beberapa kota dan kabupaten di wilayah Jawa Timur. Pada area Malang Raya Sungai Brantas melewati tiga daerah yaitu Kota Batu, Kota Malang dan Kabupaten Malang. Hulu (Jw: Tuk) Sungai Brantas berada di Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Riwayat sejarah Sungai Brantas mulai masa prasejarah di buktikan dengan banyaknya temuan arkeologi masa prasejarah, masa Hindu-Buddha banyak juga peninggalan arkeologi yang berada pada DAS Brantas, masa kolonial juga demikian memanfaatkan Sungai Brantas salah satunya untuk pengairan dan tata kelola air.

Dalam rancangan pengembangan Kota Malang (Bouwplan), Sungai Brantas menjadi ikon penting terutama pada Bouwplan I pada tahun 1916. Pasalnya Sungai Brantas masuk dalam lanskap penataan Kota (Gemeente) Malang.

Pada sub-area Malang Kota barat yang meliputi Dinoyo, Ketawanggede dan Penanggungan terdapati beberapa pabrik es yang posisinya berada pada DAS Brantas.

Pabrik Es yang pertama kita sebut pabrik Es Betek I yang berada di Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Pembangunan pabrik es ini pada kisaran tahun 1900-an awal. Kendati beberapa kali tidak produksi, sekarang masih di jumpai pembuatan es di pabrik Es Betek I. Pabrik es yang kedua kita sebut pabrik Es Betek II berada di Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Menurut penuturan Syamsul Subakri dalam wawancara mengatakan pembangunan pabrik es tersebut kisaran tahun 1970-an dan mulai tahun 2014 pabrik es ini tidak produksi lagi. Sayang sekali informasi data mengenai pabrik es ini tidak dapat terlalu banyak dikarenakan dari pihak pabrik tidak mau memberikan informasi meskipun peneliti menyerahkan surat tugas.

Pabrik Es Betek I (Dokumen Pribadi, 2020)

Pemberian nama pabrik Es Betek I yang berada di Kelurahan Penanggungan karena lebih tua masa pendiriannya dari pada pabrik Es Betek II. Hal ini nantinya mempermudah dalam penelitian selanjutnya.

Deskripsi Pabrik Es Betek

Pabrik Es Betek I memilki bangunan yang masih berfungsi, kantor dan pabriknya sendiri. Untuk menuju area pabrik es ini, dapat dilalui dari Jl. Mayjen Panjaitan sebelah utara jalan ada jalan ke utara yaitu Jl. Bogor Terusan.

Kantor Pabrik Es Betek I (Dokumen Pribadi, 2020)

Dari jalan raya, kurang lebih 200 meter ada bangunan khas kolonial. Bangunan tersebut adalah kantor pengelolaan pabrik Es Betek I atau pabrik Es Wira Jatim. Dengan model pintu dan jendela tinggi menambah kekhasan akan riwayat pabrik Es Betek. Tidak jauh dari kantor pengelolaan, kurang lebih 40 meter, bangunan memanjang berada pada DAS Brantas. Bangunan tersebut adalah pabrik Es Betek I.

Sketsa Peta Pabrik Es Betek I dan II (Dokumen Pribadi, 2020)

Pabrik Es Betek I ini sekarang milik Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jawa Timur yang bernama “Pabrik Es Wira Jatim”. Kepemilikan pabrik es ini tidak lepas dari peran nasionalisasi perusahaan asing setelah Indonesia Merdeka. Salah satu nasionalisasi perusahaan asing di Jawa Timur oleh BAPPIT adalah pabrik Es Betek I (Darini, Miftahuddin, 2018: 8).

Denah Pabrik Es Betek I (Dokumen Pribadi, 2020)

Pengelolaan pabrik es dimulai dengan dari air Sungai Brantas di tampung dalam sumur kemudian di pompa menuju penampungan amoniak melalui pipa-pipa. Dari pipa-pipa itu kemudian air masuk ke dalam bak penampung sebelum masuk ke tahap penggaraman dengan suhu rendah. Proses pembuatan es tersebut kurang lebih 24 jam.

Mesin Pompa Air dari Sungai Brantas (Dokumen Pribadi, 2020)

Kontribusi Es dalam Kehidupan Sosial

Dalam bukunya Nusa Jawa Jilid 2, Denis Lombard menuliskan bawa es merupakan lambing “kenyamanan” di enegri tropis serta alat pengawet yang canggih untuk makanan yang mudah rusak dan membusuk. Pada awal kedatangannya di Nusantara, es merupakan barang berharga bagi bangsa Eropa dan hanya keluarga kaya saja yang dapat meminum es. Artinya es memiliki strata sosial di Nusantara pada waktu itu.

Pendirian pabrik es memiliki peranan, salah satunya di distribusikan ke restaurant, hotel serta kebutuhan rumah tangga lainnya.

Di wilayah Malang terutama pabrik Es Betek I dan II ikut andil juga dalam peran tersebut. Pendistribusian pada waktu itu untuk pengawetan makanan yang mudah membusuk seperti daging, ikan dan banyak lagi. Tidak hanya di distribusikan pada area Malang saja, tetapi sampai wilayah Sidoarjo dan sekitarnya.

Pendistribusiannya tidak hanya menggunakan mobil truk, tetapi menggunakan gerobak untuk wilayah terdekat. Biasanya es akan di baluti dengan sekam padi dan di tutupi karung goni untuk melindungi dari terik matahari.

Di tahun 1963 ketika Indonesia menjadi tuan rumah GANEFO (Games of New Emerging Forces), seorang produsen es di Jakarta mempopulerkan es Ganefo atau sering pula disebut es lilin Ganefo. Es Ganefo adalah es bertangkai batang lidi dan dibuat sedemikian menarik dengan warna yang mencolok untuk menarik minat pembeli (Setiawan, 2019: 1).

Es Lilin GANEFO (Steemit.com, 2018)

Era Degradasi Pabrik Es Betek

Riwayat degradasi surutnya pabrik es di mulai sejak kisaran tahun 1970-an dengan munculnya lemari pendingin dan listrik mulai meluas di beberapa daerah. Meskipun mulai maraknya lemari pendingin di tahun 1970-an, masih ada beberapa orang yang membeli setiap hari (Lombard, 2005: 323).

Surutnya minat es itupun terjadi di juga di Malang terutama pada sub-area Malang Kota Barat. Pabrik Es Betek I yang mengalami naik turun produksinya sekarang masih kita jumpai pembuatan es. Berbeda dengan pabrik Es Betek II yang mulai tahun 2014 sudah tidak produksi lagi.

Selain maraknya lemari pendingin, suhu dingin udara Malang menjadi faktor juga. Jika penempatan pabrik es di wilayah Surabaya ataupun Pasuruan masih dapat dimaklumi dengan kondisi suhu udara yang relative panas. Berbeda dengan Malang, suhu dingin menjadi faktor juga.

Saran Pemikiran

Akhir-akhir ini di wilayah Malang Raya khususnya Kota Malang ramai dengan kampong tematik. Salah satu langkah revitalisasi pabrik Es Betek I adalah menjadikan “Kampung Wisata Edukasi Pabrik Es” yang mungkin itu belum ada. Kerja sama antara BUMD Jawa Timur, Pemda Kota Malang, serta masyarakat pada area pabrik Es Betek I. Tidak hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga menerapkan ekonomi kerakyatan masyarakat sekitar yang menunjang perekonomiannya.

Kesimpulan

Mulai pertengahan abad ke-19 sampai awal abad ke-20 dimana masa kedatangan es dan berkembang menjadi pabrik-pabrik es di Nusantara. Pertengahan abad ke-20 sekitar tahun 1924, pabrik es berkembang pesat di berbagai daerah. Salah satu tokoh bangsa Cina dalam perdagangan es adalah Kwa Wan Hong.

Di tahun 1900-an, kemungkinan pabrik-pabrik es di wilayah Malang mulai berdiri, salah satunya adalah pabrik Es Betek I atau Pabrik Es Wira Jatim. Sekitar tahun 1970-an, pabrik Es Betek II mulai di bangun.

Peranan Sungai Brantas bagi pabrik Es Betek I maupun II sangat menguntungkan, selain sebagai pembuangan limbah amoniak yang sudah di olah, juga sebagai bahan utama air.

Pabrik Es Betek I sekarang menjadi milik BUMD Jawa Timur dengan nama “Pabrik Es Wira Jatim”.Merupakan hasil nasionalisasi perusahaan asing.

Pabrik es memiliki kontribusi di abad ke-20 sebagai pelepas dahaga juga sebagai mengawetkan makanan yang mudah rusak dan membusuk. Uniknya lagi, untuk wilayah Malang pendistribusian terdekat menggunakan gerobak dimana es di balut dengan sekam padi dan di tutupi kain goni.

Di tahun 1963, produsen es di Jakarta mencoba memperkenalkan produk es GANEFO. Dimana pada waktu itu, Indonesia menjadi tuan rumah GANEFO (Games of New Emerging Forces).

Kemrosotan pabrik es pada kisaran tahun 1970-an, dimana lemari pendingin mulai marak dan listrik mulai banyak tersebar di beberapa wilayah. Khususnya di wilayah Malang, suhu udara dingin menjadi faktor dari degradasi surutnya pabrik Es Betek I dan II.


  • Betek merupakan julukan sebuah wilayah yang sekarang menjadi Jl. Mayjen Panjaitan Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang.
  • DAS Brantas adalah singkatan dari Daerah Aliran Sungai Brantas
  • Limun adalah minuman bersoda, di beberapa daerah ada yang menyebutnya sari temu atau temulawak

Daftar Rujukan

Lombard, Denys. 2005. Nusa Jawa: Silang Budaya, Jaringan Asia 2. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Ririn Darini, Miftahuddin. 2018. Nasionalisasi Perusahaan Asing di Jawa Timur 1950-1966. 19408-48231-1-SM

Surabayastory.com. 2020. Menengok Jejak Pabrik Es Balok. https://surabayastory.com/2020/04/14/menengok-jejak-pabrik-es-balok/, 23

Syamsul Subakri, warga Ketawanggede, 23 Agustus 2020

Teguh Setiawan. 2019.  Bung Karno, Ganefo: Kisah Es Lilin Berlidi Hingga Pasar. https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/pwnumy385, 23


Jejak kekunoan di Kampung Tegaron Lesanpuro (Malang)

Kecamatan Kedungkandang Kota Malang sangatlah kaya akan kesejarahannya,mulai dari Kutharaja Tumapel sebagai pusat ibu kota kerajaan.Lebih unik dan menariknya lagi untuk di bahas adalah wilayah Madyopuro(termasuk di dalamnya ada kampung Ngadipuro),Lesanpuro,dan desa Sekarpuro.

Asal nama Tegaron

Menurut Zoetmoelder kata pura sendiri berasal dari bahasa Sanskrta yang artinya benteng, kota, istana, ibukota. Tentunya wilayah ini merupakan wilayah penting di masa kuno.Kata Madya,Lesan dan Sekar merupakan bahasa Jawa dalam serapan baru tentunya ada yang lebih kuno lagi dari wilayah ini dan mendeskriptifkan bahwasannya wilayah ini merupakan tempat penting.

Read More
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) – DARING – Kelas V/1

Satuan Pendidikan            :  
Kelas / Semester               :   5 / 1
Tema / materi pokok        :   3. Kerukunan dalam bermasyarakat / 1. Basa Rinengga (tembung camboran)
Pembelajaran ke               :   1 (satu)
Alokasi Waktu                   :   2 x 35 menit

TUJUAN PEMBELAJARAN

  • Melalui kegiatan tanya jawab dan diskusi, peserta didik mampu menjelaskan pengertian tembung camboran dengan benar.
  • Melalui kegiatan tanya jawab dan diskusi, peserta didik mampu menyebutkan  2 jenis tembung camboran dengan benar.
  • Melalui kegiatan tanya jawab dan diskusi, peserta didik mampu menyebutkan 5 contoh tembung camboran dengan benar.

MATERI ESENSI

Basa Rinengga (tembung camboran)

NILAI KARAKTER

  • Percaya diri
  • Mandiri
  • Nasionalisme
  • Inisiatif

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Kegiatan Pendahuluan

  • Guru memberitahukan agenda kegiatan sehari sebelumnya.
  • Guru menyapa orang tua dan siswa di WAG kelas dan memberikan materi hari ini sesuai agenda.
  • Guru membagikan link (google meet) untuk kelas daring.
  • Guru mengucapkan salam dalam bahasa Indonesia dan bahasa jawa.
  • Guru mengajak siswa mengawali pembelajaran dengan berdoa menurut keyakinan masing-masing.
  • Guru menjelaskan tentang materi dan tujuan pembelajaran hari ini yaitu tentang tembung camboran.
  • Guru menjelaskan pentingnya melestarikan warisan kebudayaan berupa bahasa dan sastra jawa.

Kegiatan Inti

  • Guru menjelaskan tema pembelajaran tentang kerukunan dalam bermasyarakat.
  • Guru menjelaskan pengertian tembung camboran.
  • Guru menjelaskan pengertian kata majemuk dalam bahasa Indonesia sebagai pembanding.
  • Guru menjelaskan 2 jenis tembung camboran (wutuh dan tugel).
  • Guru memberikan beberapa contoh tembung camboran.
  • Guru memberikan beberapa contoh penggunaan tembung camboran dalam kalimat.
  • Guru membuka sesi tanya jawab dan diskusi.
  • Guru meminta siswa untuk berlatih mengidentifikasi tembung camboran di lembar aktivitas siswa.
  • Guru meminta siswa untuk mendiskusikan hasil temuannya.
  • Guru memberikan lembar kerja via WAG kepada siswa untuk dikerjakan secara mandiri.
  • Guru mengingatkan kembali pentingnya melestarikan kebudayaan berupa bahasa jawa.  

Kegiatan Penutup

  • Guru memberikan motivasi bahwa mempelajari bahasa jawa itu tidak rumit jika dilakukan secara bertahap.
  • Guru mengajak siswa untuk berdoa menurut kepercayaan masing-masing.
  • Guru mengucapkan salam penutup.

PENILAIAN

Penilaian Sikap

Observasi selama kegiatan berlangsung

Penilaian Pengetahuan

Menjawab secara lisan

Menjawab  worksheets

Penilaian Ketrampilan

Praktek


LAMPIRAN 1: RANGKUMAN MATERI

TEMBUNG CAMBORAN, SAROJA & ENTAR

Tembung Camboran yaiku tembung loro utawa luwih sing dijejerake, nanging mung nduweni teges siji. Tembung camboran bisa diperang dadi loro, yaiku:

  1. Tembung camboran wutuh. camboran wutuh iki isih diperang dadi
  2. tembung loro ngarep mburi sing padha tegese, sing ateges mbangetake. tuladha: ajur ajer, bibit kawit, edi peni, lsp.
  3. tembung loro ngarep mburi sing tegese kosok balen(lawan kata), tuladha: abot enteng, awan bengi, gedhe cilik, lsp.
  4. tembung loro ngarep mburi sing nduweni teges lanang wadon, tuladha: bethara bethari, dewa dewi, raseksa raseksi, lsp.
  5. Tembung camboran wancah, yaiku tembung loro utawa luwih sing dijejerake, nanging panganggone tembung kuwi mung saperang(sebagian).

Tuladha:

  1. Jiro, saka tembung siji loro
  2. Bangjo, saka tembung abang ijo
  3. Bulik, saka tembung ibu cilik
  4. Kosik, saka tembung mengko disik
  5. lsp.

Tembung Saroja, yaiku tembung kang rinakit saka rong (2) tembung kang (mèh) padha tegesé lan bisa nuwuhaké makna kang luwih teges. Bisa maknané perkara kang ana sesambungané, bisa uga kahanan kang mbangetaké.

Tuladha:

  • sato kéwan = perkara kéwan
  • ayem tentrem = tentrem tenan
  • tepa tuladha = tuladha
  • tresna asih = asih tenan
  • colong jupuk = perkara nyolong utawa kagiatan nyolong.

Tembung Entar yaiku tembung silihan sing tegese dudu teges salugune utawa sabenere. Yen ing Bahasa Indonesia diarani arti kiasan.

Tuladha:

  • adus kringet, tegese nyambut gawe mempeng
  • adus luh, tegese nangis
  • dawa ususe, tegese sabar
  • abang raine, tegese isin
  • lsp

LAMPIRAN 2 : LEMBAR  AKTIVITAS SISWA

WAYAH SORE

Srengenge wis meh angslup. Langite isih katon padhang sumilak. Bocah-bocah kang dolan ing plataran jembar bawera isih padha suka parisuka. Bima sakancane isih playon. Kanca liyane ana sing gedrig, gobag sodor, gatheng, dhamparan, uga ana sing mung ngetutake wedhuse ing suketan.

Ora padha karo kanca-kancane kang katon sumyah gumbira, Sodin wiwit mau mung lungguh ijen. Praupane peteng kaya ana bab sing didhelikake. Karepe Surti arep takon, nanging sedhela maneh mendhung peteng ing praupane Sodin banjur owah dadi udan brebel-brebel, mbrebes mili.

Bareng didhedhes, Sodin kandha yen dolanane didhelikake Parmin. Parmin pancen dawa tangane. Dituturi ibune bola-bali nanging ora nggugu. Parmin uga pancen kandel kupinge. Yen dielingake kanca-kancane, Parmin malah kandha yen kanca-kancane kuwi pancen tipis lambene. Tenan, omongane Parmin pancen ngabangake kuping.

Surti banjur nggoleki Parmin, saperlu nakokake dolanane Sodin. Dhasar Parmin bocah entheng tangane, ditakoni ngono wae langsung njambak rambute Surti. Surti tiba glangsaran. Weruh kancane kelaran sing padha dolanan semburat nulungi sing kelaran.

Sore kuwi langit kang maune padhang sumilak sangsaya mbleret. Srengenge wis angslup. Sing padha dolanan ngringkesi dolanane, banjur

bali nyang omahe dhewe-dhewe. Sing angon wedhus, padha nggiring wedhuse bali menyang kandhange.

Coba tindakna pakaryan ing ngisor iki kanthi becik !

  1. Coba wacanen teks crita ing nduwur kuwi kanthi cetha!
  2. Coba golekana tembung-tembung sing kalebu:
  3. Tembung camboran wutuh: ……………………………
  4. Tembung camboran tugel: ……………………………

Saka tembung sing koktemokake kuwi coba gawea ukaramu dhewe!

LAMPIRAN 3: KISI-KISI

NoMateri PokokLevel KognisiBentuk SoalIndikator SoalNo. Soal
1Basa Rinengga (tembung camboran)2IsianDisajikan sebuah kalimat rumpang,  siswa mampu melengkapi dengan ragam bahasa rinengga (tembung camboran) dengan benar.1-10

LAMPIRAN 4: EVALUASI

Basa rinengga (tembung camboran)

I. Ceceg-ceceg ing ngisor iki isenana nganggo tembung camboran sing trep!

  1. ………………………… Parto kuwi adhike ibuku.
  2. Kurawa kuwi minangka pralambang angkara …………………………..            
  3. Budi tuku jajan naga ……………………….. ing warung.
  4. Bocah-bocah kelas 5 lanang …………………….. padha kerja bhakti.
  5. Yen arep nyabrang dalan, entenana lampu ………………………. murup abang.
  6. Dadi murid kudu guyub ………………………… karo kancane.
  7. Bocah sekolah kuwi kudu nduwe tata ………………………….. sing apik.
  8. Yen mangsa rendheng ngene awan ……………………… mesti udan.
  9. Yen ngomong karo wong tuwa kudu nganggo unggah ……………………… basa sing trep.
  10. Jajan randha ……………………… kuwi digawe saka tape sing digoreng.

Kunci Jawaban

  1. Paklik
  2. Murka
  3. Sari
  4. Wadon
  5. Bangjo
  6. Rukun
  7. Krama
  8. Bengi
  9. Ungguh
  10. Royal

LAMPIRAN 5 : LEMBAR PENILAIAN

KI 1 – Anecdotal Record ”Religius Aspect”

No.NameSpiritual Aspects
Devout WorshipBeing GratefulPraying before & after doing activitiesToleranceRating
ExVGGSExVGGSExVGGSExVGGS
 1.Ayesha                 
 2.Jimny                 
3.Reva                 

KI 2 – Anecdotal Record ”Social Aspect”

No.NameSocial Aspects
NationalismConfidenceIndependenceInitiativeRating
ExVGGSExVGGSExVGGSExVGGS
 1.Ayesha                 
 2.Jimny                 
3.Reva                 

KI 3 – Pengetahuan

1. Materi         :  tembung camboran

    Kisi – kisi   :  definisi, jenis, dan contoh tembung camboran

No.NamaKriteriaTotal Nilai
definisijenisContoh 1Contoh 2
 1.Ayesha     
 2.Jimny     
3.Reva     
KriteriaExcellent (98 – 100)Very Good (85 – 97)Good (75 – 84)Fair (50 – 74)
KriteriaMampu mendefiniskan tembung camboran, menyebutkan 2 jenis tembung camboran, dan menyebutkan contoh masing-masing jenis tembung camboran.Mampu mendefiniskan tembung camboran, menyebutkan 2 jenis tembung camboran, dan menyebutkan  tembung camboran.Mampu mendefiniskan tembung camboran, menyebutkan 2 jenis tembung camboran.Mampu mendefiniskan tembung camboran.

Keterangan:

  1. Fair = Butuh bimbingan
  2. Good = Cukup baik
  3. Very Good = Baik
  4. Excellent = Sangat baik

LAMPIRAN 6: Remedial dan Pengayaan

  • Remedial  :  Guru menjelaskan kembali materi dan membimbing dalam mengerjakan tugas.
  • Pengayaan : Guru memberikan latihan tambahan untuk tracing.

Refleksi Guru :

  1. Hal-hal apa saja yang perlu menjadi perhatian Bapak/Ibu selama pembelajaran?
  2. Siswa mana saja yang perlu mendapatkan perhatian khusus?
  3. Hal-hal apa saja menjadi catatan keberhasilan pembelajaran yang telah Bapak/Ibu lakukan?
  4. Hal-hal apa saja yang harus diperbaiki dan ditingkatkan agar pembelajaran yang Bapak/Ibu lakukan menjadi lebih efektif?
Muatan Nilai Nasionalisme Etnis Dalam Tembang Dolanan Anak Jawa (1861-1939)

Ringkasan

Tembang dolanan sebagai salah satu bagian dari tradisi lisan masyarakat Jawa, semakin menguat fungsi dan perannya pada awal abad ke XX sebagai media pembelajaran sekaligus sebagai media kritik terhadap realitas sosial yang terjadi. Oleh sebab itu, maka yang menjadi fokus bahasan dalam artikel ini adalah bagaimana kondisi sosial masyarakat Jawa pada masa Pakubuwana IX hingga Pakubuwana X serta bagaimana muatan yang terkandung dalam tembang dolanan anak Jawa pada awal abad ke XX. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan ilmu dukung semiotik yang menghasilkan hasil penelitian berupa analisis mengenai kehidupan sosial masyarakat Jawa pada masa Pakubuwana IX hingga Pakubuwana X ditengah penetrasi politik pemerintah kolonial dan analisis terhadap bentuk dan fungsi dari tembang dolanan anak Jawa beserta nilai nasionalisme yang terkandung di dalamnya.

Kata Kunci: Nasionalisme, Tembang Dolanan, Awal Abad XX

Keterikatan dan asosiasi manusia beserta lingkungan alam tempat tinggalnya akan membentuk suatu budaya yang akan menjadi ciri khas apabila dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di wilayah lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke V (KBBI V:2016) budaya merupakan hasil pikiran ataupun akal budi manusia yang tertuang dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangka kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta Budhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang berarti budi atau akal. Budaya terdiri dari unsur-unsur rumit yang menyangkut pola tindakan manusia dan dapat diwariskan dari generasi satu ke generasi selanjutnya. Budaya juga dapat mencerminkan ciri khas dari suatu kelompok manusia yang menghuni atau menempati suatu daerah .

Read More
“Maido” cara Jawa

Dhupak bujang  merupakan salah satu cara dari tiga jalan yang dapat dilakukan oleh orang Jawa untuk mengutarakan pesan kritis. Mengapa terdapat tiga jalan? Hal ini dikarenakan orang Jawa memiliki strata sosial. Tiga cara ini dilakukan berdasarkan kesesuaian posisi sosial seseorang yang akan mengkritik kepada pihak yang akan dikritisi. Istilah dhupak bujang sendiri secara harafiah dapat diartikan sebagai tendangan lelaki dewasa. Dhupak dapat diartikan sebagai tendangan keras di wajah dan bujang dapat dimaknai sebagai laki-laki muda atau dewasa. 

Pengertian

Dalam pengertian harafiahnya, yang dimaksud sebagai dhupak adalah suatu hal yang menyebabkan rasa sakit, utamanya ungkapan pesan yang nyelekit atau menyakitkan. Sementara itu bujang diartikan sebagai orang yang memiliki kemampuan kuat seperti aktivitas menendang. Apabila seorang pemuda menendang, atau dalam konteks ini seseorang yang tengah mengkritik, maka tendangan (atau kritik) tersampaikan dengan keras. Tujuan cara kritik dhupak bujang adalah agar pihak yang sedang dikritisi dapat menangkap pesan secara langsung, serta dapat menanggapi dan menyadari bahwa tindakannya masih memiliki beberapa kekurangan. Cara kritik seperti ini biasa dilakukan dengan cara yang lugas. Kesan yang akan disampaikan dalam metode kritik ini merupakan kritik yang pedas dan terbuka.

Read More