Pesan dalam lakon Ciptaning

Dalam pewayangan, janturan yang biasa diucapkan Dalang saat menceritakan tokoh Arjuna akan terkesan sangat hiperbola. Segala kelokan, kesaktian, kelebihan dan kebaikan Janaka di gambarkan dalam bahasa indah yang tersusun sangat rapi. Bahkan sudah umum pula wayang Arjuna atau Janaka yang konon beristri hingga 4000 ini (yang terdaftar KUA hanya 15) ditempel di ruang tamu dan dijadikan ikon. Tetapi benarkah demikian yang terjadi? Benarkah Arjuna memang seorang tokoh istimewa yang tanpa cacat?

Kisah mengenai Arjuna memang sangat panjang, beragam dan terbilang cukup dominan dalam epos Mahabharata. Bahkan di dunia pewayangan, tokoh arjuna termasuk wayang yang mempunyai wanda atau bentuk yang terbilang banyak. Wanda sendiri berfungsi untuk mewakili watak dan karakter penokohan secara khusus dan spesifik dalam sebuah cerita. Diantaranya adalah wanda Jimat, Malatsih, Kanyut, Renteng, Mangu, Muntap, Kedu dan Kinanti. Dari tokoh Janaka muda atau Permadi terdapat wanda Temanten, Pengawe, Pengasih, Kinanti dan Kadung.

Read More
Sengkelat

Sengkelat/Sêngkêlat/Sangkelat, jv: ꦱꦼꦁꦏꦼꦭꦠ꧀, merupakan keris Luk 13 dengan ricikan Lis, Gusèn, Kembang Kacang, sogokan. Terdapat beberapa jenis varian dari dhapur ini, yaitu Sengkelat a, Sêngkêlat Bimakurda

Menurut Centhini

Dhapur Sêngkêlat ginita |
maknanira yèku urubing ati |
murade patrap linuhung |
dene ta rahsanira |
ing sarina kalawan sawênginipun |
tangi lungguh mlaku nendra |
duga-duga aywa kari |

Centhini III/236:7

Arti

Dhapur sengkelat diceritakan |
maknanya yaitu berkobarnya hati |
maksudnya adalah kelakuan yang terpuji |
terhadap nurani |
di siang dan malamnya |
berdiri duduk berjalan dan tidur |
perliaku baik jangan ketinggalan |

Read More
Katuranggan Perkutut Menurut Serat Ngalamating Kutut

Serat Ngalamating Kutut berisi mitos tentang perkutut, burung yang sering menjadi kelangenan bagi masyarakat Jawa.Teks itu tersebar di masyarakat yang memiliki paham kejawen. Teks tersebut mengandung  larangan  dan anjuran bagi orang yang mencintai perkutut. Berdasarkan isinya, masyarakat diharapkan percaya tentang sifat-sifat burung perkutut yang baik dan buruk.

Teks tersebut menguraikan lima belas macam burung perkutut. Dari kelima belas macam tersebut dapat dibagi menjadi dua. Sembilan macam adalah burung perkutut yang baik dan sebaiknya dipelihara. Sementara itu, enam macam yang lain merupakan burung yang buruk dan dilarang untuk dipelihara.

Read More
Taman Wisata Wendit, Persinggahan Hayam Wuruk

Wendit merupakan tempat wisata dibawah pengelolaan badan usaha milik daerah kabupaten Malang. Sebagai penunjang area wisata, di Wendit juga dilengkapi dengan area bermain, kolam renang alamai dan buatan serta pusat jajanan. Hingga saat ini, area di sekitar Wendit masih banyak ditemukan pohon-pohon besar yang dihuni kera berekor panjang.

Selain pemanfaatan sebagai wana wisata, air yang bersumber dari area wendit juga dimanfaatkan oleh perusahaan air minum setempat. Selain itu secara arkais, wendit mempunyai sejarah panjang yang sempat juga tertulis pada prasasti dan kitab Negarakrtagama.

Read More
Dalang Ki Piet Asmoro

Rep sirep sirep saking kersaningsun Sekar gawa ginawa kinaryo ramining kidung Binarung swaraning gendhing gandakusuma

Mewariskan Gagrak Trowulan

Trowulan bukan hanya terkenal sebagai wilayah yang menyimpan sisa-sisa kebesaran Kerajaan Majapahit. Di Trowulan juga pernah hidup seorang dalang wayang kulit yang kondang. Cara mendalang dan karawitan yang dikembangkannya kemudian dikenal sebagai gagrak atau cengkok Trowulanan.

Read More
Nilai Pendidikan Karakter Dalam Kisah Tantri Kamandaka

Dunia pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter siswa. Pendidikan karakter telah menjadi permasalahan di berbagai negara. Sekolah memiliki tanggung jawab yang besar dalam membentuk karakter siswa, yang secara langsung melibatkan seluruh komponen sekolah baik kurikulum, proses pembelajaran, dan  materi yang akan diajarkan. 

Sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun melihat fenomena kenakalan remaja seperti tawuran, pergaulan bebas,  dan  adanya  geng-geng  motor  di  jalan yang kerap kali melakukan pengrusakan fasilitas umum merupakan gambaran karakter individu yang kurang baik.

Read More
Belajar Nonton Wayang (1)

Sebagai produk budaya, wayang sangat dekat dihati masyarakat Nusantara. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya toponimi-toponimi daerah yang menggunakan kosakata dari dunia pewayangan. Bahkan para orang tua banyak sekali yang menggunakan nama tokoh atau istilah dalam dunia pewayangan untuk menjadi nama anaknya.

Dalam keberadaannya di sela hiruk pikuk teknologi dan serangan budaya non-lokal. Pertunjukan wayangpun masih memiliki magnet bagi masyarakat Jawa. Apalagi jika pagelarannya dilaksanakan dalam rangka hajat resmi, religi, terlebih jika gelaran wayang dihaturkan oleh para Dalang Kondang.

Modifikasi Sajian

Tapi saat ini, kebanyakan penonton wayang hanya dapat menikmati sisi hiburannya saja. Hal ini terjadi dikarenakan kondisi dan perkembangan minat serta tingkat pemahaman penonton sudah tidak lagi relevan untuk Pak Dalang menghaturkan wayang dalam bentuk yang pakem dan super baku. Walaupun sebenarnya, dalam bentuk pakem dan baku inilah nilai, tutur, filsafat, ajaran dan semua keindahan yang sering di label-i Adiluhung dapat dipersembahkan dan kita nikmati secara lengkap.

Read More
Dhapur Megantara

Megantara, jv: ꦩꦺꦒꦤ꧀ꦠꦫ, secara bahasa berarti awan yang rata, merupakan keris Luk 7 dengan ricikan ada-ada di sebagian bilah dan sebuah greneng. Hingga saat ini, serat Centhin merupakan satu-satunya serat yang bisa menjadi referensi. Di buku Dhapur dari yayasan Damarjati juga tidak tercantum dhapur ini. Begitu juga di Serat Kawruh Empu tidak menyebutkan pula. Di serat tersebut ada dua nama dhapur yang mirip yaitu dhapur Megatara, tetapi berjenis Luk 13.

Menurut Centhini

Têlu dhapur Bima-kurdha | kang anggarap aran Êmpu Yamadi | angka taun wolung atus | pitulikur luwihnya | sang aprabu Citrasoma kang ngadhatun | ing Pêngging uga iyasa | dhapur amung kalih warni ||

Siji ran Rara-siduwa | kalih dhapur Megantara kang kardi | Empu Gadawisesèku | marêngi taun angka | sangang atus patang-puluh siji iku | kala panjênêngan nata | Mahapunggung Sri bupati||

Centhini II/109:33-34
Read More
Pasar di Jawa Kuno

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasar pada masa Mataram Kuna mempunyai peranan penting dalam aktivitas masyarakat, baik di dalam aktivitas ekonomi maupun dalam aktivitas sosial. Pada masa itu, pasar tampak sebagai suatu sistem yang merupakan suatu kesatuan dari komponen-komponen yang mempunyai fungsi untuk mendukung fungsi secara keseluruhan. Adapun komponen pasar antara lain lokasi, bentuk fisik, komoditi, produksi, distribusi, transportasi, transaksi serta rotasi.

Lokasi dan Bentuk Pasar

Lokasi pasar biasanya dipilih di tempat strategis, yaitu di tepi sungai, seperti yang disebutkan dalam prasasti Turyyan dan prasasti Muñcang atau berlokasi di tepi jalan besar. Pemilihan lokasi yang strategis itu, baik sengaja ataupun tidak memudahkan orang-orang untuk datanag ke pasar melalui jalur darat maupun jalur sungai.

Read More
Perkembangan Dan Masa Depan Seni Pedhalangan Gagrag Jawa Timuran

“Niyatingsun andhalang wayangingsun bang-bang paesan ………………………………… Ingsun dhalang purbawasesa …………………………………”

Pelungan Jawa Timuran

Kalimat (syair) diatas adalah cuplikan dari lagu ” Pelungan “ yang disenandungkan bersamaan Gendhing Gondokusumo saat berlangsungnya jejer I. Dan inilah salah satu ciri Seni pedhalangan gagrag Jawa Timuran disaat penyajian.

Kalimat-kalimat Pekungan itu mempunyai makna do’a atau mantera, yaitu permohonan kepada Tuhan agar yang terucap mendapatkan berkat sehingga semua gangguan tak ada yang bisa mendekat. Dengan demikian penyajian wayang akan selesai dalam waktu semalam suntuk tanpa gangguan suatu apa.

Sedangkan Gendhing Gondokusumo yang pathet sepuluh itu merupakan satu- satunya gendhing pengiring jejer I bagi seni pertunjukan wayang Jawa Timuran pada saat ini.

Read More