Pabrik Es Betek I Dan II Pada Abad XX

Keterkaitan Pabrik Es Betek I Dan II Dengan Das Brantas Pada Abad XX

ABSTRAK

Penempatan pabrik Es Betek I dan II pada area DAS Brantas sangat strategis, selain pembuangan limbah yang sudah dikelola terlebih dahulu, juga sebagai bahan utama air pembuatan es balok (Jw: godor). Pada masa Kolonial pendirian pabrik es memiliki peranan, salah satunya sebagai suplai kepada restaurant, hotel serta kebutuhan rumah tangga yang lain karena pada waktu itu belum ada lemari pendingin dan meskipun ada tidak banyak yang memiliki. Hal tersebut terjadi hingga kisaran tahun 1980-an dan akhir masa kejayaan pabrik es mulai surut, salah satu faktor penyebabnya adalah mulai banyak beredar lemari pendingin.

Kata kunci: Penempatan Pabrik Es, DAS Brantas, Kebutuhan Es, Masa Surut

Lokasi dan Ekologi Pabrik Es Betek

Pabrik Es Betek I secara administratif berada di Kampung Betek, Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang sedangkan pabrik Es Betek II berada di Kampung Jenggrik, Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Akses menuju pabrik Es Betek I jika dari arah barat melewati Jl. Mayjen Panjaitan kemudian sebelah utara jalan ada Jl. Bogor Terusan masuk ke utara kurang lebih 200 meter dari jalan raya Mayjen Panjaitan, sedangkan pabrik Es Betek II berada persis di sebelah jembatan Soekarno Hatta yang di depan Universitas Brawijaya Jl. Mayjen Panjaitan.

Peta Pabrik Es Betek I dan II (Google Maps, 2020)

Keberedaan pabrik Es Betek I dan II tepat di DAS Brantas. Sungai Brantas dari arah barat melewati jembatan Soekarno Hatta dan pabrik Es Betek II kemudian mengarah ke timur dan berkelok ke selatan, tepat di kelokan itulah pabrik Es Betek I berada.

Secara topografi lingkungan sosial dulu pada masa awal pembangunan pabrik, daerah tersebut masih belum padat rumah penduduk meskipun ada itupun tidak banyak. Berbeda dengan kondisi sekarang yang mulai padat penduduk dan bahkan dihimpit oleh rumah-rumah.

Penempatan pabrik Es Betek I dan II sangat strategis yang berada di DAS Brantas. Pabrik Es Betek I bahan utama air selain dari sumur bor juga menggunakkan air dari sungai brantas yang di naikkan, kemudian air yang yang di naikkan akan melalui bak penampung dan di olah hingga mencapai kejernihan air. Berbeda dengan pabrik Es Betek II yang bahan utama airnya berasal dari sumur bor saja.

Riwayat Pabrik Es di Sub-Area Malang Barat

Riwayat pabrik es di Nusantara

Pada pertengahan abad ke-19, kapal-kapal yang datang dari Amerika Utara membawa berblok-blok es ke beberapa pelabuhan besar di Nusantara. Tahun 1854, di Singapura dekat dengan Colemun Bridge di pasar induk lama atau “rumah es tua” sebagai tempat untuk menyimpan berbagai bahan yang di impor salah satunya adalah es. Rumah es tersebut didirikan oleh Gilbert Angus dan Hoo Ah Kay (Lombard, 2005: 323).

Sekitar tahun 1869, keluarga-keluarga kaya di Batavia hanya meminum air yang berasal dari es yang mencair di datangkan dari Boston (Lombard, 2005: 322-323). Di tahun 1880, temuan orang Eropa terkait dengan prosedur pembuatan amoniak di impor ke Jawa. Sepuluh tahun kemudian pabrik es mulai berkembang di beberapa daerah terutama kota-kota besar.

Musafir asal Prancis yaitu Delmas sebelum tahun 1895 singgah ke Batavia dan mencicipi “un immense verre de cidre-champagne, boisson exquise, fabriquee avec des fruits du pays, dela glace et de l’eau gazeuse” yang artinya “segelas besar sidre-syampanye, minuman lezat yang dibuat dengan buah-buahan negeri itu, es dan soda” (Lombard, 2005: 323).

Pabrik es pada tahun 1800-an (Surabayastory.com, 2020)

Ketertarikan bangsa Cina terhadap perdagangan es sangat besar, hingga salah satu ttokoh perdagangan es ialah Kwa Wan Hong. Kwa Wang Hong lahir di Semarang pada tahun 1861, ayahnya berasal dari Cina dan sempat menjadi sekertaris Walikota (Lombard, 2005: 323). Sepertinya Kwa Wan Hong sangat pandai terutama di bidang perdagangan.

Potret Kwa Wan Hong (Geni.com, 2015)

Tahun 1895, Kwa Wan Hong mendirikan pabrik es yang bernama N.V. Ijs Fabriek Hoo Hien di Semarang. Dari pabrik es tersebut, Kwa Wan Hong mencoba membuka pabrik limun[1]dan percetakan. Namun, pada tahun 1910, Kwa Wan Hong kembali ke usaha awalnya yaitu pabrik es dan membangun pabrik es lagi di Semarang, Tegal dan Pekalongan.

Dari ketekutan tersebut, Kwa Wan Hong kemudian mendirikan pabrik di Surabaya dan tidak hanya satu tapi dua sekaligus di tahun 1924 dan 1926. Pada tahun 1928, Kwa Wan Hong atau sering di juluki “raja es” menetap dan membangun pabrik di Batavia pada wilayah Rawa Bangke. Kwa Wan Hong memberi nama pabrik tersebut yaitu N.V. Ijs Fabriek Rawa Bening untuk menghilangkan image pada wilayah Rawa Bangke (Lombard, 2005: 323).

Riwayat pabrik Es Betek I dan II

Sungai Brantas melewati beberapa kota dan kabupaten di wilayah Jawa Timur. Pada area Malang Raya Sungai Brantas melewati tiga daerah yaitu Kota Batu, Kota Malang dan Kabupaten Malang. Hulu (Jw: Tuk) Sungai Brantas berada di Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Riwayat sejarah Sungai Brantas mulai masa prasejarah di buktikan dengan banyaknya temuan arkeologi masa prasejarah, masa Hindu-Buddha banyak juga peninggalan arkeologi yang berada pada DAS Brantas, masa kolonial juga demikian memanfaatkan Sungai Brantas salah satunya untuk pengairan dan tata kelola air.

Dalam rancangan pengembangan Kota Malang (Bouwplan), Sungai Brantas menjadi ikon penting terutama pada Bouwplan I pada tahun 1916. Pasalnya Sungai Brantas masuk dalam lanskap penataan Kota (Gemeente) Malang.

Pada sub-area Malang Kota barat yang meliputi Dinoyo, Ketawanggede dan Penanggungan terdapati beberapa pabrik es yang posisinya berada pada DAS Brantas.

Pabrik Es yang pertama kita sebut pabrik Es Betek I yang berada di Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Pembangunan pabrik es ini pada kisaran tahun 1900-an awal. Kendati beberapa kali tidak produksi, sekarang masih di jumpai pembuatan es di pabrik Es Betek I. Pabrik es yang kedua kita sebut pabrik Es Betek II berada di Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Menurut penuturan Syamsul Subakri dalam wawancara mengatakan pembangunan pabrik es tersebut kisaran tahun 1970-an dan mulai tahun 2014 pabrik es ini tidak produksi lagi. Sayang sekali informasi data mengenai pabrik es ini tidak dapat terlalu banyak dikarenakan dari pihak pabrik tidak mau memberikan informasi meskipun peneliti menyerahkan surat tugas.

Pabrik Es Betek I (Dokumen Pribadi, 2020)

Pemberian nama pabrik Es Betek I yang berada di Kelurahan Penanggungan karena lebih tua masa pendiriannya dari pada pabrik Es Betek II. Hal ini nantinya mempermudah dalam penelitian selanjutnya.

Deskripsi Pabrik Es Betek

Pabrik Es Betek I memilki bangunan yang masih berfungsi, kantor dan pabriknya sendiri. Untuk menuju area pabrik es ini, dapat dilalui dari Jl. Mayjen Panjaitan sebelah utara jalan ada jalan ke utara yaitu Jl. Bogor Terusan.

Kantor Pabrik Es Betek I (Dokumen Pribadi, 2020)

Dari jalan raya, kurang lebih 200 meter ada bangunan khas kolonial. Bangunan tersebut adalah kantor pengelolaan pabrik Es Betek I atau pabrik Es Wira Jatim. Dengan model pintu dan jendela tinggi menambah kekhasan akan riwayat pabrik Es Betek. Tidak jauh dari kantor pengelolaan, kurang lebih 40 meter, bangunan memanjang berada pada DAS Brantas. Bangunan tersebut adalah pabrik Es Betek I.

Sketsa Peta Pabrik Es Betek I dan II (Dokumen Pribadi, 2020)

Pabrik Es Betek I ini sekarang milik Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jawa Timur yang bernama “Pabrik Es Wira Jatim”. Kepemilikan pabrik es ini tidak lepas dari peran nasionalisasi perusahaan asing setelah Indonesia Merdeka. Salah satu nasionalisasi perusahaan asing di Jawa Timur oleh BAPPIT adalah pabrik Es Betek I (Darini, Miftahuddin, 2018: 8).

Denah Pabrik Es Betek I (Dokumen Pribadi, 2020)

Pengelolaan pabrik es dimulai dengan dari air Sungai Brantas di tampung dalam sumur kemudian di pompa menuju penampungan amoniak melalui pipa-pipa. Dari pipa-pipa itu kemudian air masuk ke dalam bak penampung sebelum masuk ke tahap penggaraman dengan suhu rendah. Proses pembuatan es tersebut kurang lebih 24 jam.

Mesin Pompa Air dari Sungai Brantas (Dokumen Pribadi, 2020)

Kontribusi Es dalam Kehidupan Sosial

Dalam bukunya Nusa Jawa Jilid 2, Denis Lombard menuliskan bawa es merupakan lambing “kenyamanan” di enegri tropis serta alat pengawet yang canggih untuk makanan yang mudah rusak dan membusuk. Pada awal kedatangannya di Nusantara, es merupakan barang berharga bagi bangsa Eropa dan hanya keluarga kaya saja yang dapat meminum es. Artinya es memiliki strata sosial di Nusantara pada waktu itu.

Pendirian pabrik es memiliki peranan, salah satunya di distribusikan ke restaurant, hotel serta kebutuhan rumah tangga lainnya.

Di wilayah Malang terutama pabrik Es Betek I dan II ikut andil juga dalam peran tersebut. Pendistribusian pada waktu itu untuk pengawetan makanan yang mudah membusuk seperti daging, ikan dan banyak lagi. Tidak hanya di distribusikan pada area Malang saja, tetapi sampai wilayah Sidoarjo dan sekitarnya.

Pendistribusiannya tidak hanya menggunakan mobil truk, tetapi menggunakan gerobak untuk wilayah terdekat. Biasanya es akan di baluti dengan sekam padi dan di tutupi karung goni untuk melindungi dari terik matahari.

Di tahun 1963 ketika Indonesia menjadi tuan rumah GANEFO (Games of New Emerging Forces), seorang produsen es di Jakarta mempopulerkan es Ganefo atau sering pula disebut es lilin Ganefo. Es Ganefo adalah es bertangkai batang lidi dan dibuat sedemikian menarik dengan warna yang mencolok untuk menarik minat pembeli (Setiawan, 2019: 1).

Es Lilin GANEFO (Steemit.com, 2018)

Era Degradasi Pabrik Es Betek

Riwayat degradasi surutnya pabrik es di mulai sejak kisaran tahun 1970-an dengan munculnya lemari pendingin dan listrik mulai meluas di beberapa daerah. Meskipun mulai maraknya lemari pendingin di tahun 1970-an, masih ada beberapa orang yang membeli setiap hari (Lombard, 2005: 323).

Surutnya minat es itupun terjadi di juga di Malang terutama pada sub-area Malang Kota Barat. Pabrik Es Betek I yang mengalami naik turun produksinya sekarang masih kita jumpai pembuatan es. Berbeda dengan pabrik Es Betek II yang mulai tahun 2014 sudah tidak produksi lagi.

Selain maraknya lemari pendingin, suhu dingin udara Malang menjadi faktor juga. Jika penempatan pabrik es di wilayah Surabaya ataupun Pasuruan masih dapat dimaklumi dengan kondisi suhu udara yang relative panas. Berbeda dengan Malang, suhu dingin menjadi faktor juga.

Saran Pemikiran

Akhir-akhir ini di wilayah Malang Raya khususnya Kota Malang ramai dengan kampong tematik. Salah satu langkah revitalisasi pabrik Es Betek I adalah menjadikan “Kampung Wisata Edukasi Pabrik Es” yang mungkin itu belum ada. Kerja sama antara BUMD Jawa Timur, Pemda Kota Malang, serta masyarakat pada area pabrik Es Betek I. Tidak hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga menerapkan ekonomi kerakyatan masyarakat sekitar yang menunjang perekonomiannya.

Kesimpulan

Mulai pertengahan abad ke-19 sampai awal abad ke-20 dimana masa kedatangan es dan berkembang menjadi pabrik-pabrik es di Nusantara. Pertengahan abad ke-20 sekitar tahun 1924, pabrik es berkembang pesat di berbagai daerah. Salah satu tokoh bangsa Cina dalam perdagangan es adalah Kwa Wan Hong.

Di tahun 1900-an, kemungkinan pabrik-pabrik es di wilayah Malang mulai berdiri, salah satunya adalah pabrik Es Betek I atau Pabrik Es Wira Jatim. Sekitar tahun 1970-an, pabrik Es Betek II mulai di bangun.

Peranan Sungai Brantas bagi pabrik Es Betek I maupun II sangat menguntungkan, selain sebagai pembuangan limbah amoniak yang sudah di olah, juga sebagai bahan utama air.

Pabrik Es Betek I sekarang menjadi milik BUMD Jawa Timur dengan nama “Pabrik Es Wira Jatim”.Merupakan hasil nasionalisasi perusahaan asing.

Pabrik es memiliki kontribusi di abad ke-20 sebagai pelepas dahaga juga sebagai mengawetkan makanan yang mudah rusak dan membusuk. Uniknya lagi, untuk wilayah Malang pendistribusian terdekat menggunakan gerobak dimana es di balut dengan sekam padi dan di tutupi kain goni.

Di tahun 1963, produsen es di Jakarta mencoba memperkenalkan produk es GANEFO. Dimana pada waktu itu, Indonesia menjadi tuan rumah GANEFO (Games of New Emerging Forces).

Kemrosotan pabrik es pada kisaran tahun 1970-an, dimana lemari pendingin mulai marak dan listrik mulai banyak tersebar di beberapa wilayah. Khususnya di wilayah Malang, suhu udara dingin menjadi faktor dari degradasi surutnya pabrik Es Betek I dan II.


  • Betek merupakan julukan sebuah wilayah yang sekarang menjadi Jl. Mayjen Panjaitan Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang.
  • DAS Brantas adalah singkatan dari Daerah Aliran Sungai Brantas
  • Limun adalah minuman bersoda, di beberapa daerah ada yang menyebutnya sari temu atau temulawak

Daftar Rujukan

Lombard, Denys. 2005. Nusa Jawa: Silang Budaya, Jaringan Asia 2. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Ririn Darini, Miftahuddin. 2018. Nasionalisasi Perusahaan Asing di Jawa Timur 1950-1966. 19408-48231-1-SM

Surabayastory.com. 2020. Menengok Jejak Pabrik Es Balok. https://surabayastory.com/2020/04/14/menengok-jejak-pabrik-es-balok/, 23

Syamsul Subakri, warga Ketawanggede, 23 Agustus 2020

Teguh Setiawan. 2019.  Bung Karno, Ganefo: Kisah Es Lilin Berlidi Hingga Pasar. https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/pwnumy385, 23