Nilai Pendidikan Karakter Dalam Kisah Tantri Kamandaka

Dunia pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter siswa. Pendidikan karakter telah menjadi permasalahan di berbagai negara. Sekolah memiliki tanggung jawab yang besar dalam membentuk karakter siswa, yang secara langsung melibatkan seluruh komponen sekolah baik kurikulum, proses pembelajaran, dan  materi yang akan diajarkan. 

Sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun melihat fenomena kenakalan remaja seperti tawuran, pergaulan bebas,  dan  adanya  geng-geng  motor  di  jalan yang kerap kali melakukan pengrusakan fasilitas umum merupakan gambaran karakter individu yang kurang baik.

Pendidikan Karakter

Pendidikan yang berlandaskan karakter bangsa merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengopti- malkan pembentukan karakter individu yang berlandaskan nilai kearifan lokal. Pendidikan karakter  adalah  sebuah  tema  yang  pertama kali diusung kementerian pendidikan dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional pada tahun 2010. Pendidikan sebagai proses pem- berdayaan dan pembudayaan nilai memiliki peran yang sangat penting sebagai pendukung utama dalam pembangunan nilai karakter bangsa (Dantes dalam Wisudariani, 2013:88).

Karakter secara universal dirumuskan sebagai nilai hidup bersama berdasarkan atas pilar: kedamaian, menghargai, kerjasama, ke- bebasan, kebahagiaan, kejujuran, kerendahan hati, kasih sayang, tanggung jawab, kese- derhanaan, toleransi dan persatuan (Zubaedi, 2011:10).

Kesemuanya itu merupakan landasan bagi individu untuk menentukan prinsip hidup, menentukan komitmen dalam berkon- tribusi di masyarakat. Seorang yang berkarak- ter baik merupakan seorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tu- han, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umum-nya. Salah satu naskah yang dapat digunakan sebagai sumber pembentukan karakter individu adalah cerita klasik Bali, yang sering di- sebut satua.

Hilangnya Pendidikan Tutur

Namun, seiring dengan perkembangan zaman kebudayaan mendongeng tidak kita jumpai di dalam keluarga pada masa sekarang, terkadang judul cerita pun mereka tidak tahu, apalagi ceritanya. Cerita-cerita klasik di Bali sangat beragam seperti I Siap Badeng, I Tuung Kuning, Men Tiwas Teken Men Sugih, Pan Balang Tamak, Ni Diah Tantri, Tantri Ka- mandaka.

Pendokumentasian cerita dalam bentuk buku terkadang tidak dibarengi dengan ulasan mengenai manfaat atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, itu yang menyebab- kan banyak cerita yang seharusnya bisa di- gunakan  baik  di  sekolah,  keluarga  maupun di masyarakat untuk memberikan anak-anak di sekitarnya pendidikan karakter sehingga sedikit demi sedikit merubah karakter individu menjadi lebih baik dan terarah ke hal-hal yang lebih positif.

Mengantisipasi kekhawatiran terhadap kelangsungan tatanan hidup masyarakat, serta meminimalisir melunturnya nilai-nilai budaya lokal, maka pembentukan karakter perlu di- berikan kepada anak-anak baik di rumah mau- pun di sekolah.

Bagian Cerita

Cerita atau satua sudah menjadi tradisi sejak lama yang diberikan kepada anak-anak sebelum tidur, untuk menanamkan nilai-nilai moral yang ada dalam cerita tersebut. Salah satu karya sastra klasik yaitu cerita Tantri Kamandaka yang termasuk ke dalam pem- bagian kesusastraan prosa yang ditulis dalam Bahasa Kawi. Di dalam cerita Tantri Kaman- daka terdapat 35 sub cerita berikut judulnya;

  1. Hangsa Kurma Sangsara – Persahabatan kura-kura dengan Angsa (3  sub  cerita),
  2. Tuma mwang Katitinggi – Kutu dengan Kepinding (5 sub cerita),
  3. Sang Sewanggara Tan Pasaksi, Pinatyan de Sang Natha – Sewanggara tanpa saksi dibunuh oleh sang Nata,
  4. Papaka, Mong mwang Wanari – Papaka, Harimau dan Wanari (12 sub cerita),
  5. Mong Malayu denikang Wedus Wadwan – Harimau lari oleh kambing betina (2 sub cerita),
  6. Liman Pejah Kinambulan dening Palatuk, Gagak, laler Wilis mwang Wiyung – Gajah mati oleh burung pelatuk, gagak, lalat hijau dan katak(4 sub cerita),
  7. Taksaka Pejah dening Rama Samudaya – Taksaka mati oleh orang-orang desa (2 sub cerita),
  8. Sarpa Sitara Pejah dening Cidra Buddhinya – Naga Sintara mati lantaran culas budinya,
  9. Iwak Tiga Sanak – ikan tiga bersaudara,
  10. Sang Maharaja Aridharma Wruh Sabda ning Satwa Kabeh, Tan Kapitut ing Wuwus ning Strinya n Dudu – Sri Darma Aridarma tidak ikut kata permaisurinya (3 sub bab cerita),
  11. Matemahan Pareng Pejah Pwa Ya Sang Candapinggala lawan Sang Nandaka – Matinya sang Candapinggala dan sang Nandaka.

Cerita Tantri Kamandaka ini kaya dengan ajaran-ajaran kemanusiaan yang bisa memberikan suatu pengetahuan dan pegangan bagi kita dalam menjalani kehidupan. Untuk mengetahui lebih jelas isi dari cerita Tantri Kamandaka ini, penelitian ini mengambil judul Kajian Nilai Pendidikan Karakter dalam Naskah Tantri Kamandaka.

Cuplikan Cerita

Religius

Cerita: Kera Murdasa yang serakah

Nilai religius terlihat pada saat si kera melakukan tapa brata dan semedi dengan penuh ikhlas. Dia dianugerahi kecantikan dengan cara mandi di telaga selama 7 kali.

Kejujuran

Cerita: Sewanggara tanpa saksi dibunuh oleh sang Nata

Sewanggara pada saat memberitahukan kepada Sang Nata bahwa dia tidak menemukan air dan buah-buahan tetapi melihat seekor kera menari di atas batu hitam di tengah laut. Namun kejujuran itu mengakibatkan   Sewanggara dibunuh oleh Sang Nata karena Sewanggara dikatakan pembohong karena tidak merniliki saksi pada saat melihat seekor kera ter- sebut.

Toleransi

Cerita: Kutu dengan Kepinding

Sikap toleransi yang ditunjukkan oleh Si Asada yaitu pada saat memberi-
tahukan cara mendapatkan kesempatan menghisap darah Sang Raja,
sehingga mereka dapat hidup tanpa kekurangan makanan.

Ajaran budi pekerti dan karakter lain yang terdapat di Tantri

  • Disiplin
  • Kerja Keras
  • Kreatif
  • Mandiri
  • Demokratis
  • Rasa Ingin Tahu
  • Setia Kawan
  • Pantang Menyerah
  • Menghargai Orang Lain
  • Persahabatan
  • Cinta Damai
  • Peduli Lingkungan
  • Peduli Sosial
  • Tanggung Jawab
  • Sopan Santun
  • Tolong Menolong
  • Menghargai Prestasi

Daftar cerita lain dan ajaran yang dikandung

  1. Sang Brahmana dengan Pandai Emas – Religi, Jujur, Demokratis, Rasa ingin tahu, pantang menyerah, menghargai orang lain, persahabatan, cinta damai, tanggung jawab, sopan santun, tolong menolong, menghargai prestasi.
  2. Kera Murdasa yang Serakah – Religi, Disiplin, Kerja Keras.
  3. Persahabatan kura-kura dengan Angsa – Jujur, Disiplin, Kerja Keras, kreatif, setia kawan, menghargai orang lain, persahabatan, tolong menolong.
  4. Kutu dengan Kepinding – Jujur, Toleransi, Disiplin, pantang menyerah.
  5. Sewanggara tanpa saksi dibunuh oleh sang Nata – Jujur, rasa ingin tahu.
  6. Papaka, Harimau dan Wanari – Jujur, persahabatan, cinta damai, peduli sosial, tanggung jawab, tolong menolong, menghargai prestasi.
  7. Bangau mati oleh ketam – Toleransi, Mandiri, setia kawan, pantang menyerah, peduli sosial.
  8. Brahmana mati karena belas kasihnya – Toleransi.
  9. Dewa laut kalah bersengketa dengan burung sikedidi – Toleransi
  10. Mengharapkan Air susu tanpa memerah susunya – Kerja keras.
  11. Harimau lari oleh kambing betina – Kreatif.
  12. Garuda kalah dengan kura-kura – Kreatif, demokratis, persahabatan.
  13. Taksaka mati oleh orang-orang desa – Mandiri, setia kawan, peduli lingkungan, peduli sosial, tolong-menolong.
  14. Sri Darma Aridarma tidak ikut kata permaisurinya – Demokratis, pantang menyerah, menghargai orang lain.
  15. Cerita ikan tiga bersaudara – Pantang menyerah, menghargai orang lain,
  16. Gajah mati oleh burung pelatuk, gagak, lalat hijau dan katak – Cinta damai, peduli lingkungan.
  17. Matinya sang Candapinggala dan sang Nandaka – Cinta Damai.
  18. Hyang Indra dengan burung Bayan kesayangannya – peduli lingkungan.
  19. Naga Sintara mati lantaran culas budinya – Peduli Sosial.
  20. Gagak dan Ular mati oleh ketam – Tanggung jawab, tolong menolong.