Materi Workshop : Praktek Dasar Sidhikara

Sidhikara adalah rangkaian prosesi yang dilakukan untuk menyematkan doa dan harapan kepada pusaka. Awalnya, prosesi ini dilakukan oleh seorang empu pusaka saat setelah sebuah pusaka selesai tahapan nyangkring. Tetapi pada tahapan selanjutnya bisa mandiri atau kelompok.

Terdapat tahapan dimana sebuah pusaka dapat di-sdhikara secara berkelmpok. Tetapi, pada tahapan-tahapan lanjut, sebuah pusaka harus disdhikara secara pribadi dan satu-persatu. Tahapan-tahapan ini akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian lain artikel ini.

Mantram & Trap

Mantram atau doa sangatlah bersifat subyektif. Dan tidak selayaknya menjadi suatu bahan perdebatan. Hal ini dikarenakan khasanah mantram, tata, aturan dan trap yang sangat beragam antara daerah satu dengan yang lain, antara guru dan aliran terdapat keragaman.

Negara mawa tata, desa mawa cara

Tagline di atas harus menjadi dasar pertimbangan dalam proses yang menyangkut ritual. Sangat bijak jika anda mengenali berbagai macam aturan yang berlaku di masyarakat atau tempat prosesi akan dilakukan. Hal ini sangat diperlukan untuk suksesnya prosesi sidhikara dan menghindari gesekan horisontal.

Tahapan Sidhikara

Secara umum, sidhikara yang dapat kita lakukan adalah untuk mengembalikan kembali kembali angsar dan daya dari sebuah pusaka sebagaimana pada saat pertama pusaka itu dibabar dan didoakan oleh pembuat dan pemilik terdahulu. Karena itu, pada tahapan sebelum sidhikara, diperlukan masukan dari beberapa ahli tayuh yang kompeten mengenai fungsi asal dari sebuah pusaka. Informasi ini sangat berharga dan mempengaruhi hasil dari sebuah sidhikara.

Tahap 1: Pembersihan

Pada tahapan ini niat yang diutamakan adalah membersihkan pusaka dari residu energi negatif yang sama dengan tujuan awal pusaka. Serta semua hal yang menempel atau bertempat pada pusaka yang tidak lahir bersamaan, serta tidak berasal dari doa dan mantra para empu, resi, pembuat atau pemilik pertama.

Dalam perjalanan waktu, pusaka banyak yang ditempati makhluk-makhluk “ngontrak”. Hal ini terjadi karena faktor kesengajaan ataupun tidak disengaja. Tetapi, di masyarakat masih banyak pula ditemukan praktek seperti “mengisi” pusaka dengan khodam, asmaan, makhluk gaib, atau apapun yang sebenarnya hal itu kurang pas.

Tahapan ini jika dilakukan dengan tepat dan benar, maka sebuah pusaka akan kembali bersih seperti dahulu kala. Maka tidak mengherankan jika sebuah pusaka yang penuh dengan tempelan dan sebelumnya dianggap sakti, setelah proses ini menjadi seperti tidak sakti. Dikarenakan energi-energi negatif beserta residunya telah dibersihkan.

Tahap 2: Penyiapan

Setelah pusaka melalui tahapan sidhikara pertama, maka siap untuk ditata dan diatur ulang. Doa yang dipergunakan adalah yang berfungsi atau memiliki efek perapian dan penataan kembali.

Tahap 3: Pengembalian

Setelah pusaka dirasa sudah siap dan tertata, maka dipanjatkanlah doa yang mengharapkan untuk kembalinya daya dari pusaka tersebut, sebagaimana dulu pertama kali pusaka dibabar.

Tahap 4: Pengharapan

Tentunya, saat pusaka pertama kali dibabar oleh seorang empu. Daya dari sebuah pusaka yang terdiri atas komposit besi, ricikan dan pamor akan disesuaikan dengan karakter dan harapan dari pemilik. Akhirnya, banyak pusaka yang dinilai atau dirasakan kurang sesuai dengan pemilik saat ini. Hal ini tidak bisa dipaksakan, tetapi juga tidak perlu kecewa. Dikarenakan, pusaka tersebut dapat tetap disimpan sebagai sara ngleluri budaya. Kami tidak menyarankan untuk melarung atau membuang pusaka tersebut. Dikarenakan, sejatinya tidak ada yang bermasalah pada pusaka itu, hanya kurang cocok saja. Rekomendasi kami anda dapat mehadiahkan kepada orang lain yang dirasa tepat, atau melebur ulang menjadi pusaka baru.

Tahap 5: Penutup

Pada tahap ini, doa yang dipanjatkan adalah untuk memohon kepada Tuhan, bahwa semua doa dan harapan yang sudah dipanjatkan untuk pusaka, akan tetap langgeng dan abadi. Tidak akan berkurang, hilang atau berubah kecuali memang diingankan oleh pemilik atau turunnya.

Urutan Sidhikara

Dimulai dari mempersiapkan kelengkapan sesajen dan mumul yang kemudian disambung dengan selamatan bersama. Sesajen yang dibutuhkan dapat beragam menyesuaikan tingkat kompleksitas dari sidhikara. Pada tingkat sidhikara pribadi, sajen dan mumul akan menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pemilik pusaka. Tetapi pada sidhikara menggunakan gelaran wayang kulit, perlu pula disiapkan sesaji ageng seperti layaknya acara ruwatan. Untuk tuntunan dan kelengkapan sesaji dapat dilihat pada halaman materi Praktek Dasar Jamasan.

Setelah semua perlengkapan, peralatan, sesaji dan mumul telah siap, maka dapat dimulai dengan membacakan mantram sebagai berikut:

Pangurip Sarana

Untuk semua peralatan dan dan sarana yang akan digunakan didoai menggunakan mantram :

Om bayu sabda idep, urip bayu, urip sabda, urip sarana, uriping urip, ya nama swaha.
Urip, urip, urip

Tirta Jamasan & Sidhikara

Untuk sarana yang berupa air, didoai dengan mantram:

ong sameton tasira matemahan ongkara, Malecat ring angkasa tumiba ring pertiwi, Matemahan sarwe maletik, Mabayu, masabda, maidep, Bayunta pinake sabdan I ngulun, Pejah kita ring brahma, Urip kita ring wisnu, Begawan ciwakrama mengawas-ngawasi sarwa waletik

Harap diperhatian untuk jumlah dari sumber air yang akan dipergunakan memerlukan air dari 7 buah sumber yang berbeda. Sumber air yang disyaratkan adalah sumber air yang digunakan untuk makan dan minum. Bukan sumber yang hanya untuk persawahan atau cuci dan mandi saja. Akan lebih baik jika mengambil air langsung pada sumbernya, tidak mengambil dari rembesan, aliran sungai atau dari pipa saluran.

Disarankan mengambil sumber dari wilayah dhanyangan atau desa yang sama. Beberapa masukan dan pengalaman dari para sesepuh, menganjurkan untuk menggunakan air dari patirtan yang sejaman atau sewilayah dengan pusaka yang akan dijamas dan sidhikara. Misal, Patirtan Jolotundo, Patirtan Pamenang, Sendang Kilisuci, Pablengan, Sumber Pengging, Sumber Candi Songgoriti, Tirta empul dan lain sebagainya.

Slemetan

Selanjutnya, rangkaian sidhikara dibuka dengan selamatan bersama. Tumpeng yang digunakan adalah jenis tumpeng megana yang ditambahi dengan golong sejumlah neptu dari hari pelaksanaan sidhikara. Untuk doa untuk tumpeng dapat menggunakan yang sesuai dengan keyakinan masing-masing. Sebagai contoh adalah doa sebagaimana tata cara keyakinan Islam:

Slametan sebelum sidhikara

Allahumma inna nas-aluka salamatan fi al-ddin, wa ‘afiyatan fi al-jasad, wa ziyadatan fi al-‘ilm, wa barakatan fi al-rizq, wa tawbatan qabla al-mawt, wa rahmatan ‘inda al-mawt, wa maghfiratan ba’da al-mawt, wannajata min al-nar wa al-‘afwa ‘inda al-hisab. Allahumma hawwin ‘alayna sakarati al-mawt, rabbana la tuzigh qulubana ba’da idh hadaytana wa hablana min ladunka rahmatan innaka anta al-wahhab. Rabbana atina fi al-dun-ya hasanah wa fi al-akhirati hasanah waqina ‘adhab al-nnar

Atau dapat pula menggunakan doa-doa sesuai dengan tradisi dan khasanah yang dipahami serta berkembang di masyarakat. Beberapa contoh bentuk ujub tumpeng dapat diperiksa pada halaman Niat Ujub Slametan.

Setelah itu, kepada tosan aji yang akan dijamasi, dipanjatkan salam sebagai berikut:

Punten dalem sewu sembah sungkem kyai/nyai ……..(nama-nama pusaka) kepareng kula badhe njamasi/nyidikara pusaka. Suci lair kalawan suci batin, manunggal jagad alit kalawan jagad ageng, saking kersaning Gusti.

Sidhikara 1 – 3

Pusaka yang disidhikara ditaruh didepan orang yang bertugas atau ditunjuk untuk memimpin sidhikara. Jika sidhikara menggunakan wayang, dapat ditempatkan di sebelah kanan dalang, di area yang biasa ditempati oleh pesinden. Pada sidhikara tahap kesatu hingga tahap ketiga masih dapat dilakukan bersama-sama, karena sifatnya umum. Tetapi untuk sidhikara tahap selanjutnya hingga penutup, hanya bisa dilakukan secara pribadi sendiri-sendiri. Dikarenakan maksud dan tujuan masing-masing pusaka pastilah berbeda. Berikut adalah tuntunan mantram dari sidhikara tahap 1 hingga 3.

Doa pembuka,

dapat menggunakan doa sesuai ajaran dan keyakinannya masing-masing sesuai dengan keyakinannya. Misal, Al-fatihah, doa bapa kami, atau yang lain.

Mantram Otaka,

untuk salam kepada para naga yang menjaga hari, jatingarang, bulan dan tahun.

Heh, nagaraja Taksaka, ingsun sang Otaka amatek ajiku si kundalamulya, pangleburing para naga. Ingsun mitrane naga Basuki. Ingsun arep manjing ing karasmu, aja sira ngganggu gawe, lamun sira nggangu gawe, sun pantek cangkemu ngganggo wesi purosani. Hayu Hayu Hayu Hayu Hayu Hayu, Hayu

Pasrah,

Aum awignamastu.  Duh gusti mugi mboten wonten alangan satunggal punapa dumateng kawula saha kaluwarga kula. Pusaka ingkang keramat punika inggih pusaka kula, mugi paringna wangsit sasmita saha sih kanugrahan dumateng kula.

S1

Kalacakra Jawa

Yamaraja-Jaramaya; Yamarani-Niramaya; Yasilapa-Palasiya; Yamidosa-Sadomiya; Yadayuda-Dayudaya; Yasiyaca- Cayasiya; Yasihama- Mahasiya.Yamaraja-Jaramaya; Yamarani-Niramaya; Yasilapa-Palasiya; Yamidosa-Sadomiya; Yadayuda-Dayudaya; Yasiyaca- Cayasiya; Yasihama- Mahasiya.Yamaraja-Jaramaya; Yamarani-Niramaya; Yasilapa-Palasiya; Yamidosa-Sadomiya; Yadayuda-Dayudaya; Yasiyaca- Cayasiya; Yasihama- Mahasiya.


Kalacakra Budha

Om Ah Hung, YA MA RA JA, SA DO ME YA, YA ME DO RU, Ya YO DA YA, YA DA YO NI, RA YA KSHI YA, YAk SHI YA CA, NI RA MA YA, Hum Hum Phat Phat Svaha


Caraka Balik

Hanacaraka, datasawala, padajayanya, magabathanga.Ngathabagama, nyayajadhapa, lawasatada, karacanaha.
Hanacaraka, datasawala, padajayanya, magabathanga.Ngathabagama, nyayajadhapa, lawasatada, karacanaha.
Hanacaraka, datasawala, padajayanya, magabathanga.Ngathabagama, nyayajadhapa, lawasatada, karacanaha.

S2

Pasupati

Om ang ung pasupatibadjrayuda agni raksa rupaya purwa muka desa tanaya pasupatnya ong pat
Om ang ung pasupatipasayuda agni raksa rupaya pascine muka desa tanaya pasupatnya ong pat
Om ang ung pasupaticakrayuda agni raksa rupaya utara muka desa tanaya pasupatnya ong pat
Om ang ung pasupatipadmayuda agni raksa rupaya madya muka desa tanaya pasupatnya ong pat
Om ang ung pasupati para mantra pasupatnya ong pat
Om ang brahma urip
Om ung wisnu urip
Om mang iswara urip
Urip (3x) Tang rerajahan
Om dewa urip, manusia urip, sing teka pada urip
Om kedep sidhi mandi mantra sakti

Sepuh Hindu

ong ang ung mang, Ang betara brahma pangurip bayu, Ung betara wisnu pangurip sabda, Teke urip (3x) ang ung mang ong, Mang betara iswara pangurip idep, Ong sanghyang wisesa pengurip saluiring rerajahan

S3


Gumbalageni

Hong ilaheng pra yoganira.Ana geni tekane saka wetan, putih rupane geni, apa pakaryaning geni, angleburna lara ageng lara wigegna, saliring lara trimala, tujuh teluh taregnyana, budhug edan ayan buyan, wus lebur dening si geni, geni teka aneng wetan.
Hong ilaheng pra yoganira.Ana geni teka saka kidul, abang rupane geni, apa pakaryaning geni, angleburna lara ageng lara wigegna, saliring lara trimala, tujuh teluh taregnyana, budhug edan ayan buyan, wus lebur dening si geni, geni teka ana kidul.
Hong ilaheng pra yoganira.Ana geni teka saka kulon, kuning rupane geni, apa pakaryaning geni, angleburna lara ageng lara wigegna, saliring lara trimala, tujuh teluh taregnyana, budhug edan ayan buyan, wus lebur dening si geni, geni teka ana kulon.
Hong ilaheng pra yoganira.Ana geni teka saka elor, ireng rupane geni, apa pakaryaning geni, angleburna lara ageng lara wigegna, saliring lara trimala, tujuh teluh taregnyana, budhug edan ayan buyan, wus lebur dening si geni, geni teka ana elor.
Hong ilaheng pra yoganira.Ana geni teka saka tengah, lelima rupane geni, apa pakaryaning geni, angleburna lara ageng lara wigegna, saliring lara trimala, tujuh teluh taregnyana, budhug edan ayan buyan, wus lebur dening si geni, geni teka ana tengah


Puji Bayu

Sang  Hyang  sekti  naga  nila  warna,  dadaku  sang  naga  peksa  telaleku pembebet jagad, asabung kulinting liman, abebed kuliting singa,  acawet  angga  genitri,  liyanan  catur  wisa,  rinejegan  rejeg  wesi,  pinayungan  kala c akra,  kinemiting  panca  resi,  sinongsongan  asih-asih, premanaku ing sulasih

Sepuh Jawa

Salam ngalaikum salam tuk pitu sumur pitu, gumilir ilining warih saking kulon saking wetan saking ngandap, saking nginggil saking lor saking kidul saking kiwo saking tengen kabeh-kabeh dadi sambatan aweh daya urun jaya saka keparenge Guru Alip raja ing ngalam pitu daya jaya kumpul manjing karomah saka kersaning ALLAH.

Sastra Panulak

Tolak tunggul ing dhadhaku, macan putih ing raiku, singa barong ing gigirku, baya nyasar ing cangkemku, sarpa naga ing tanganku, raja tuwa ing sikilku, surya candhra ing paningalku, swaraku lir gelap sewu, nulak sakabehing bilahi, setan balio padha adoh, wong saleksa padha lunga, wong sakethi padha mati, rep sirep sajagad kabeh.

Sidhikara Pribadi

Sebagaimana kami sampaikan di atas, bahwa hanya sidhikara pertama hingga ketiga saja yang dapat dilakukan secara bersama-sama. Pada sidhikara lanjutan, hanya dapat dilakukan secara pribadi dan satu-persatu sejumlah pusaka yang akan di-sdhikara. Hal ini dikarenakan, desain dari pusaka sangat bervariasi, begitu juga doa dan harapan yang akan disematkan juga sangatlah subyektif dan personal.

Karena itu, doa, mantra, cara dan lokasi yang dipilih juga sesuai dengan keinginan dari pemilik pusaka. Sebagai contoh, jika menginginkan untuk sidhikara pusaka dengan mantram gayatri di puncak gunung Mahameru, hal itu diperkenankan. Sesuai keinginan dan maksud dari pemilik pusaka masing-masing.


Sidhikara Penutup

Pada tahapan ini, rangkaian sidhikara kesatu hingga ketiga telah selesai. Pada sidhikara penutup atau terakhir, dapat menggunakan mantram berikut.

Serat Kekancingan

Kunci nira kunci putih, angruwata metuwa sang, mentu sampir lare  kresna, kakrasa kama dindi, langkir tambir pakoninjog, untuing-untuing matu tingting, tunggaking kayu aren, miwah temu pami pisan, tumunem pega pagase, miwah kerubuhan lumbung dandang tanen, kudu lumaku  rinuwat, anata sanjataning wang, arane panji kumala, pinaputrak akengunung arane, Mandalagiri, Sang Hyang Ngamarta arannya, wus ruwat padha samengko

Pepujan dalam metrum Sinom

hong hyang hyangning kang amarta | 
martani sarwa umèki | 
iya umaningsun nyata | 
iya umaning sajati | 
wisesa wisesani | 
wisesanira  Hyang Luhung | 
iya wisesaningwang | 
ngong sidhikara sayêkti | 
sun pêpuja sampurna dadya manusa ||

Menggunakan Wayang

Jika sidhikara menggunakan wayang, ditutup dengan mantram berikut:

Sastra Ruwat Panggung

Hong ilaheng prayogganatara.
Sang Hyang Galinggang kalawan sira Sang Hyang Damarjati, kelire Hyang Tinjomaya, Peluntur alimun, kekuping Sang Hyng Kuwera, peracik Sang Retna Adi, deboge Sang Hyang Gebohan, Cangkoke Bethara Gana, alinggih pang kayu Tera Sumbu.Awune Bethara Brama, arenge Bethara Wisnu, kewala anonton wayang, Sang Hyang Eyang Guru kang amayang, widadari kang nggameli, anyangang iyang ayine. Sun tegang ora wangewang, sehamana maya, katon kang anonton nora katon. kabruk-kabruk katung, pralambe yang ana maya katon, kang tinonton nora katon, kang anonton nora katon

Sastra Banyak Dalang

Yo aku dalang sejati ya aku sang (nama dalang), yo aku sing menang miseso ing siro, sukerto wis lebur ilang dadi banyu. Mung gari rahayune.

Doa Penutup

Allohuma Sir Dat Pangeran, Jenenge Alloh, Manjing sukmo Gesang Tetep Iman, Manjing Roso Langgeng, Jejere Murco wali tekad, Karebatin Rukune Niat, Gede teste Abang Panggonane, Putih Rupane Wujute Gesang, Pambudi Dasare Alloh, Murup muncar Sukmane, Gumebyar nyawane, Panjango Umure, Cepakno Rejekine, Dohno Bilahine, Kiwakno Balak’e, Sampurnakno Nurcahyane, Uger-uger Ardo Poncodriyane, Sir datulloh Robilallamin. 

Allahumma inna nas-aluka salamatan fi al-ddin, wa ‘afiyatan fi al-jasad, wa ziyadatan fi al-‘ilm, wa barakatan fi al-rizq, wa tawbatan qabla al-mawt, wa rahmatan ‘inda al-mawt, wa maghfiratan ba’da al-mawt, wannajata min al-nar wa al-‘afwa ‘inda al-hisab. Allahumma hawwin ‘alayna sakarati al-mawt, rabbana la tuzigh qulubana ba’da idh hadaytana wa hablana min ladunka rahmatan innaka anta al-wahhab. Rabbana atina fi al-dun-ya hasanah wa fi al-akhirati hasanah waqina ‘adhab al-nnar.

Meminyaki

Ong Ang Ung Mang
Ang betara brahma pangurip bayu
Ung betara wisnu pangurip sabda
Teke urip, Teke urip, Teke urip.
Ang Ung Mang Ong.
Mang betara iswara pangurip idep.
Ong sanghyang wisesa pengurip saluiring rerajahan

Penutup

Wayangan pada acara sidhikara

Tatacara, urutan, dan narasi di atas adalah sebagaimana yang telah kami praktekan dan laksanakan secara rutin mulai awal tahun 90an hingga saat ini, atas dasar tuntunan dan ajaran dari para guru kami dan guru-guru sebelumnya. Sebagaimana upacara-upacara tradisi yang lain, kami sangat menganjurkan kepada yang akan melaksanakan, sebaiknya mendapatkan tuntunan mengenai trap, pernapasan dan laku terlebih dahulu dari orang-orang yang telah memahami tatacara di atas.