Materi Workshop : Praktek Dasar Jamasan

PROSES PERAWATAN TOSAN AJI

  1. Mutih (besinya kembali diputihkan)
  2. Mewarangi
  3. Jamasan
  4. Memberi wewangian dan meminyaki pusaka

URUTAN PELAKSANAAN

  1. Lolosan
    • Dengan acara inti penyerahan/pengambilan pusaka dari tempat penyimpanan atau pemilik.
    • Melepas pusaka dan memisahkan antara warangka dan bilah
    • Tantingan pusaka, sembari nanting (menanyai) pusaka satu – satu, sebaiknya dilakukan oleh empunya sendiri, dibantu dengan pencatat, jadi penanting boleh lebih dari satu, sebisa mungkin ada tim tersendiri karena masing – masing pusaka punya karakter yang berbeda-beda.
  2. Jamasan
    • Diawali dengan selamatan
    • Pelaksanaan acara inti
  3. Ngrangkani
    • Setelah sidhikara, dilanjutkan dengan mengembalikan pusaka ke warangka
    • Dilanjutkan dengan meminyaki pusaka
    • Proses pengembalian pusaka ke tempat penyimpanan.

 URUTAN JAMASAN

urutan-jamasan
  1. Lolosan

Untuk melepaskan besi dari ukiran, putar ukiran ke arah yang lebih ringan putarannya sambil ditarik atau dicabut.

  1. Pendiaman

Rendam keris dengan air kelapa hijau semalaman lalu bilas dengan air sampai bersih. Saat merendam keris pastikan seluruh bagiannya terendam air kelapa. Air Kelapa Hijau bersifat asam lemah dan bermanfaat untuk melepaskan kotoran, kerak, dan mempermudah lepasnya karat yang terbentuk dipermukaan keris. Karena sifat asamnya yang lemah, diperlukan perendaman semalaman agar betul-betul meresap dan dapat melepaskan kotoran terutama yang terdapat di pori-pori logam. Sifat itu pula yang membuatnya relatif aman untuk keris.

  1. Pembersihan

Gosok permukaan keris dengan irisan jeruk nipis sampai bersih atau putih mengkilap. Menggosoknya jangan terlalu keras atau kasar. Dapat pula digosok menggunakan sikat gigi yang halus dengan arah gosokan searah, bila ada kerak atau karat yang membandel. Boleh juga ditambah air perasan buah mengkudu yang sudah matang. Lalu bilas dengan air bersih yang mengalir. Jeruk Nipis sifat asamnya agak kuat, persentuhan dengan logam keris dalam jangka waktu yang lama dapat merusak logam keris. Digunakan untuk membersihkan keris dari karat, buah jeruk nipis diiris 4-6 bagian dan digosok-gosok pada permukaan keris. Hasilnya kotoran dan karat akan terlepas dan permukaan keris akan kelihatan putih mengkilap. Proses ini disebut ‘Mutihke’. Air perasan buah pace alias mengkudu fungsinya hampir sama seperti air perasan jeruk nipis, namun karena airnya lebih banyak, membuat pengerjaan lebih mudah. Teksturnya yang lunak membuatnya mudah hancur bila digosokkan ke permukaan logam sehingga fungsi jeruk nipis tak tergantikan sepenuhnya.

  1. Pembersihan kedua

Cuci keris sampai bersih dengan buah lerak atau sabun lerak. Saat mencuci, gosok keris perlahan dan searah dengan sikat gigi yang halus. Bila ada kotoran di celah-celahnya, congkel dengan tusuk gigi. Bilas dengan air bersih sampai kotoran (ampas jeruk dan pace) hilang. Bila kotoran yang bersifat asam itu sampai tertinggal, maka dapat merusak keris karena bersifat korosif. Buah Lerak berfungsi sebagai sabun alami yang lembut dan tidak merusak besi. Tidak seperti detergen yang bersifat keras. Saat ini banyak dijual sabun lerak cair siap pakai sebagai sabun pencuci batik tulis, namun bila ingin menggunakannya, pilih yang tidak diberi campuran zat kimia tambahan.

  1. Pembersihan lanjut

Setelah pengangin-anginan dianggap cukup, bilas lagi keris dengan air mengalir.  Namun dalam membilas, jangan disemprot dengan tekanan air yang tinggi atau digosok-gosok, disentuh tangan telanjang. Pembilasan dimaksudkan untuk menghentikan reaksi kimia antara besi dan warangan sehingga keris tidak terlalu hitam atau gosong.

  1. Pengeringan

Keringkan sampai betul-betul kering dengan menekan-nekan bilah keris dengan kain bersih. Boleh diusap lembut dengan kain bersih yang menyerap air. Dalam proses mengeringkan, keris jangan sampai terkena tangan telanjang lagi. Karena minyak dan lemak yang ada di tangan dapat menempel di bilah keris yang sudah bersih dan menimbulkan karat. Pengeringan gagangnya di atas, sehingga jangan sampai airnya masuk ke dalam deder dan akan tetap neyeng. Sebaiknya deder juga dilepas saat pelolosan. Kalau tidak air masuk kedalam deder dan menyebabkan karat.

  1. Laminasi, termasuk didalamnya mewarangi

Olesi keris dengan cairan warangan menggunakan kuas secara tipis dan merata. Dalam mempersiapkan cairan warangan, pilihlah serbuk atau gumpalan kristal warangan alami yang berwarna ungu tua kemerahan. Tumbuk sampai halus sekali, lalu larutkan dalam air perasan jeruk nipis murni yang sudah disaring bersih. Larutan tersebut sebaiknya disimpan dahulu selama 6 bulan sebelum dipakai. Ciri-ciri larutan yang sudah jadi adalah warnanya menjadi kecoklatan atau kehitaman. Tidak dianjurkan menggunakan arsenikum kimiawi dari apotik atau toko kimia karena kadarnya terlalu tinggi sehingga terlalu keras efeknya. Bilah keris akan mudah kebrangas (terlalu hitam atau gosong) pada saat diwarangi sehingga jelek dilihat. Selain itu bila penanganan zat beracun tersebut tidak hati-hati dapat menimbulkan bahaya.  Marangi sebaiknya dilakukan di atas sebuah wadah untuk menampung tetesan cairan warangan. Masukkan kembali tetesan tersebut ke dalam botol penyimpan cairan warangan, jangan sembarangan dibuang. Cucilah wadah penampung dengan air yang mengalir. Waktu laminasi tidak boleh terpegang langsung oleh tangan.

  1. Pengeringan kedua

Angin-anginkan keris dengan posisi berdiri, gunakanlah rak agar pembentukan lapisan senyawa oksida besi-arsenik bisa sempurna. Pada proses mengangin-anginkan, keris jangan terkena sinar matahari langsung, namun pilihlah kondisi saat matahari cerah, sekitar pukul 9-11 pagi atau jam 2-4 sore. Perhatikan kontras warna yang terbentuk pada permukaan bilah keris. Bila tingkat kontras yang diinginkan sudah tercapai, lanjutkan ke proses selanjutnya.

  1. Pengeringan ketiga

Keringkan lagi sampai betul-betul kering dengan menekan-nekan bilah dengan kain bersih secara lembut lalu diangin-anginkan. Ingat! Jangan sampai tersentuh tangan telanjang lagi.

  1. Meminyaki

Sebelum diminyaki, tosan aji terlebih dahulu diubupi di atas prapen kecil menggunakan arang kayu jati dengan taburan garu dan rasamala. Jarak aman ngubupi adalah 15-20cm antara prapen dan ubupan dengan waktu selama 15-30 detik. Perhatikan tingkat panas dari ubupan, jarak antara besi dengan perapen dan waktu yang diperlukan. Jika tidak tepat maka akan merusak bilah. Olesi keris dengan minyak secara tipis dan merata menggunakan kuas. Dalam meminyaki, jangan sampai keris terlalu basah. Serap kelebihan minyak dengan kain bersih yang ditekan-tekan di permukaan keris. Setelah itu keris diangin-anginkan semalaman dengan posisi berdiri agar bila ada kelebihan minyak dapat menetes turun.

  1. Finishing

Masukkan kembali pusaka ke warangkanya. Simpanlah di tempat yang kering dan tidak lembab.

  1. Pengembalian

Penjamas menginjak jempol pemilik pusaka, jempol kanan ke jempol kaki kanan dari pemilik, mengucapkan akan “kulo balekno, ya rangkane, ya kerise, ya yonine ya isine”, tangan kanan penjamas salaman, yang kiri memegang pusaka. Karena jamasan itu membersihkan , jangan lupa nama dari pusaka tersebut sebelum serah terima kepada penjamas.

alur-jamasan

TRAFIK

Bagian trafik, melakukan pemilahan pusaka untuk pembagian rerendeman yg disediakan dalam lima baki tadi. Jangan sampai numpuk. Hati – hati melepas deder, jangan sampai deder putus, terkadang pada pusaka – pusaka yang menjadi jimat yang telah rentan, misalnya karena keluarga yang tidak pernah disentuh dalam waktu yang lama, dapat merusak pusaka apabila tidak hati – hati.

Ketika deder diminyaki, sebaiknya pakai tangan bukan kuas, arahnya keatas terus dalam satu tarika nafas, sebisa mungkin tidak berbicara, agar CO2 tidak bereaksi dengan bilah, seperti meliriti bayi, setelahnya dibubuki oleh bubuk cendana atau gaharu. Jamasan biasanya sekitar 3 hari karena berkaitan dengan perendaman pusaka.

PERAWATAN

Berbeda dengan tahap sebelumnya, tahap ini merupakan tahap yang kerap diulang-ulang hingga sebulan sekali, terutama bagian meminyaki keris. Tahap ini disebut pula tahap pemeliharaan yang menjaga agar keris tidak berkarat. Setelah keris diberi warangan, ada baiknya jika keris diberikan wewangian dupa terlebih dahulu. Caranya :

  1. Pertama-tama olesi keris dengan minyak pusaka tipis saja. Ambil campuran bubuk gaharu, ratus dan ramasala – taburkan pada bilah keris hingga lengket – biarkan beberapa menit.
  2. Setelah itu nyalakan lilin – taruhlah di atas lilin dengan jarak lima jari – gerakkan ke kiri ke kanan. Biarkan hingga beberapa saat (tidak perlu sampai terbakar!)
  3. Bersihkan dengan sikat halus.
  4. Gosok lagi dengan minyak pusaka tipis saja seperti di atas.
  5. Taburi dengan bubuk kayu cendana dan taruh di atas lilin seperti tadi.
  6. Setelah itu bersihkan lagi dengan sikat halus – diamkan beberapa saat.

Olesi dengan minyak pusaka. Angin-anginkan dan jangan tergesa dimasukkan dalam warangka. Jangan menimpan keris di tempat yang tertutup rapat tanpa sirkulasi udara.

MEMBUAT MINYAK PUSAKA

Cara membuat minyak pusaka adalah :

  • Minyak paraffin 60 cc
  • Bibit cendana (sandalwood) 25 cc
  • Bibit Melati Keraton 5 cc
  • Bibit Kenanga 10 cc

Bisa juga ditambah atau diganti dengan bibit minyak lainnya (gaharu, dsb) sesuai selera karena bersifat sangat subjektif dan terkadang aroma / bau keris juga menunjukkan identitas pemiliknya. Sangat dilarang mencampurkan bahan parfum atau jenis yang beralkohol – pasti keris menjadi merah berkarat.

PEMBERSIHAN WARANGKA

Warangka mempunyai peran penting dalam kelestarian dan keutuhan tosan aji. Terdapat beberapa parameter yang harus diperhatikan dalam perawatan Warangka :

  1. Bahan,
  2. Kebersihan,
  3. Jamur,
  4. Residu,

Pada saat jamasan diperlukan juga maintenance terhadap warangka agar kelestarian bilah lebih terjaga.

LAKU DAN RITUAL

  • Melakukan puasa dengan selama 3 (tiga) hari sebelum pelaksanaan jamasan hingga jamasan selesai. Puasa dilakukan dengan cara makan dan minum secukupnya satu kali saat matahari sudah tenggelam.
  • Melakukan sesuci jasmani dan rohani
  • Tidak melakukan hubungan badan.
  • Tiga hari sebelum lolosan sudah mulai berpuasa. Teknik berpuasa dapat mengacu pada ajaran dan keyakinan masing-masing. Total puasa adalah 6 hari (3 hari sebelum pelaksaan dan 3 hari saat pelaksanaan ). Ketika puasa harus semakin produktif, bicara seperlunya dan mengurangi tidur.

Saat Pelaksanaan

  • Pertama-tama, menjadi diri sendiri. Dengan cara, berpakaianlah milik Anda sendiri, pakaian yang bersih dan rapi.
  • Kemudian jaga sikap sopan dan santun. Tak boleh slengekan atau sambil bercanda.
  • Menggunakan pakaian adat budaya anda sendiri, supaya lebih matching, lebih hikmat, dan lebih sakral karena menyatu dalam penghayatan lahir batin antara nilai yang terkandung di dalam benda pusaka dengan nilai kearifan lokal adat istiadat budaya Anda sendiri.
  • Libatkan perasaan batin Anda. Untuk mencapainya, lakukan dengan ketulusan, dan dengan pemahaman yang tepat akan arti dan tujuan penjamasan benda-benda pusaka.
  • Untuk mendukung pelibatan perasaan batin ini, pertama-tama lakukan dahulu penyelarasan atau attunement antara kesadaran batin Anda dengan nilai benda pusaka. Caranya, lakukan penghormatan, seperti prajurit menghormat kepada komandan. Atau anak menghormat kepada orang tua.
  • Melakukan tapa bisu. Setidaknya mengurangi berbicara dan hanya berbicara seperlunya saja.