Materi Workshop : Praktek Dasar Jamasan

Sebagai pembuka, bahwa tata-aturan yang disajikan di sini bersifat normatif dan hanya meliputi garis besar saja. Untuk mengurangi kesalahan dan resiko, serta mengetahui lebih detail dan lengkap, sangat disarankan untuk mendapatkan bimbingan langsung dari para ahli yang sudah berpengalaman melaksanakannya, atau dengan berperan serta langsung secara aktif pada pelaksanaan upacaranya.

Ruang Lingkup Pembahasan

  1. Sarana & Prasarana
  2. Peralatan & Perlangkapan
  3. Prosesi Jamasan
  4. Identifikasi Kondisi
  5. Praktek Jamasan
  6. Laku & Ritual
  7. Mantram dan Doa
  8. Manajemen Jamasan
  9. Perencanaan Jamasan
  10. Uji Kompetensi

Tujuan Pengajaran

Setelah mengikuti workshop ini, siswa dituntun untuk mempunyai kompetensi dalam mempersiapkan, melakukan perawatan dan mengatur pelaksanaan secara teknis dalam perawatan benda-benda pusaka, khususnya tosan aji. Lingkup kegiatan yang dimaksud di atas adalah praktek Jamasan untuk Tosan Aji.

Pengertian Jamasan

Menjamas pusaka adalah proses merawat dan menjaga pusaka hingga tetap bebas dari karat hingga terjaga dari kerusakan. Proses merawat pusaka ini mulai dari proses membersihkan dari karat / mutih, mewarangi, hingga meminyaki dan memberi wewangian pada pusaka. Keseluruhan proses ini disebut proses Jamasan Pusaka. Dan yang terpenting dari seluruh proses ini adalah sikap batin kita yang harus “nderek langkung” alias permisi, menghormati dan tidak meremehkan. Hal tersebut merupakan penghormatan dan penghargaan kita atas karya seni, kerja sang empu dan berkah Tuhan atas pusaka tersebut.

Secara umum, jamasan dibagi menjadi 3 jenis. Yang pertama adalah jamasan fisik dari pusaka. Dimana pada pekerjaan ini, seluruh bagian dari pusaka baik bilah maupun warangka dibersihkan dari debu, minyak, karat dan kotoran-kotoran lain yang bersifat fisik. Pada jamasan ini, diperlukan air kelapa, mengkudu, jeruk nipis, lerak, atau sabun. Bisa saja dengan cukup menghilangkan lapisan minyak atau karat ringan. Jika kotoran sudah terlalu banyak, dapat dilakukan hingga proses mutih dan di-warangi kembali.

Jenis jamasan yang lain adalah membersihkan pusaka dari residu-residu energi yang tidak sejalan dengan maksud dari pusaka. Pembuatan pusaka selalu diiringi oleh laku dan doa dari pemesan, pembuat dan semua orang yang berpartisipasi dalam prosesnya. Setelah selesai, maka pusaka tersebut akan mempunyai angsar sebagaimana yang diharapkan dan didoakan kepada Tuhan oelh pembuat dan pemiliknya. Tetapi pada perjalanannya, sebuah pusaka bisa saja berubah dikarenakan kesengajaan atau ketidaksengajaan.

Jamasan

Banyak ditemui praktek-praktek “mengisi” atau menempatkan “makhluk gaib” secara sengaja pada sebuah pusaka. Atau pada kondisi lain, karena kurang tepatnya perawatan, penyimpanan atau penggunaan, maka pusaka memiliki energi yang tidak sejalan dengan maksud pembuatan awalnya. Karea itu diperlukanlah jamasan yang bersifat niskala dengan membersihkan energi, residu atau apapun yang tidak semestinya berada pada pusaka. Pada jamasan ini, pusaka akan dibersihkan dengan air bunga seca khidmat diiringi doa-doa pembersih oleh seorang ahli jamas.

Pada tahapan selanjutnya, pusaka akan dikeringkan di atas ububan. Proses ini harus berhati-hati dan teliti. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat proses ini adalah:

Ubub
  1. Suhu ububan.
  2. Kecepatan perubahan suhu pada pusaka.
  3. jarak antara pusaka dan ububan.
  4. Komposisi bahan yang digunakan untuk ubub.

Sarana & Prasarana

  1. Tumpeng
    1. Megana adalah tumpeng dengan bahan dasar nasi putih
    2. Tumpeng harus benar- benar kerucut, tidak berundak
    3. Janganan lengkap namun selain selada air
    4. Urap – urap, bukan gudangan
    5. Lauk dari air, udara dan darat yang rojokoyo (tidak boleh hewan yang hidup di 2 alam, tidak boleh ingkung atau ayam utuh, tidak boleh lele).
  2. Pala Pendem, dengan jumlah ganjil minimal satu jenis, mentah dan tidak di potong. Pala pendem harus yang dipakai untuk pengganti bahan makanan pokok/pengganti nasi, bukan merupakan bumbu, endemik jawa
    1. Larut
    2. Telo
    3. Suwek
    4. Mbothe
    5. Ganyong
    6. Uwi
    7. Gembili
  3. Jenang
    1. Jenang Sengkala 5 macam
    2. Jenang Manca Warna
      1. Jenang putih
      2. Jenang hitam dari arang atau merang
      3. Jenang hijau daari pandan
      4. Jenang kuning dari kunir
      5. Jenang merah dari gula merah
    3. Jenang Sandingan:
      1. Jenang Cakra
      2. Jenang Tapak Jalak
      3. Jenang Hong
      4. Jenang Baro-baro
  4. Item Sesaji
    1. Jajan pasar
    2. Rokok klobot minimal satu buah
    3. Dupa dengan batang merah atau coklat. Dipilih dupa yang digunakan untuk ritual, bukan yang digunakan relaksasi dan bukan batang hijau. Disarankan menggunakan aroma bunga atau kayu. Seperti, Melati, Cempaka, Cendana atau Gaharu.
    4. Kembang Setaman secukupnya, Terserah namun bukan bunga berwarna merah dan bukan daun
      1. Kembang kanthil putih
      2. Kembang kanthil kuning
      3.  Kenanga
      4. Mawar putih
      5. Melati
      6. Kembang soka
    5. Bunga Melati, disebar pada meja yang digunakan menata pusaka
    6. Kembang telon satu paket.
      1. Kenanga
      2. Kanthil kuning
      3. Kantil putih
    7. Gecok bakal, dengan kelengkapan standar dan pisang raja talun
    8. Bumbu nginang satu paket
    9. Koin (uang receh).
    10. Air Putih satu gelas,
    11. Kopi satu gelas (Kopi tanpa gula dan tidak diaduk)

Peralatan dan Perlengkapan Jamasan

  1. Mori putih sebagai penutup tempat peletakan pusaka. Juga bisa memakai : jimat paripih/jarit yang disimpan karena dipakai untuk alas kelahiran seorang.Jarit (jangan parang dan truntum) yang telah terpakai atau Taplak yang sudah terpakai (sebagai tempat pusaka)
  2. Baki atau nampan 5 (lima buah)
  3. Sikat Gigi baru / sabut kelapa
  4. Tusuk Gigi
  5. Mengkudu tua
  6. Jeruk pecel (atau jeruk apapun yang mengandung asam) dengan perbandingan 2 buah untuk 5 bilah (dipotong 2 atau 4 tanpa dikupas)
  7. Air Kelapa Hijau (semakin tua semakin tiinnggi asamnya sehingga sebaiknya pilih yang degan, dengan sabut warna merah.
  8. Sabun Klerak atau mama lemon,

yang paling kuat kadar keasamannya adalah jeruk lalu mengkudu, kelapa hijau (kalem), mama lemon (basa).

  1. Jagrak pusaka
  1. Ububan, diantaranya :
    1. Kayu Cendana
    2. Dupa gunungan
    3. Prapen 1 buah
    4. Bubukan cendana
    5. Arang Jati
    6. Kayu Rasamala
    7. Kayu Gaharu

Ngububi jaraknya sekitar 20 – 30 cm, Suhu dijaga agar hangat suam-suam kuku. Fungsinya untuk menguapkan sisa air, selain itu untuk melaminasi pusaka. Jangan pernah menggunakan menyan atau apapun dari bahan parafin apapun kecuali berdasarkan permintaan pemilik karena dapat menutupi pamor.