Kurup Kalender Jawa

Dalam sistem kalender jawa yang berbasis bulan, dapat kita temui istilah Kurup. Secara harfiah, kurup berarti sebanding atau layak dan sesuai. Pada prakteknya, kurup merupakan sejenis era yang berlaku selama 15 windu atau 120 tahun. Masing-masing dari kurup, dinamai sesuai dengan hari pertama kurup tersebut berlaku. Yaitu: Jamngiyah, Kamsiyah, Arbangiyah, Salasiyah, Isananiyah, Akdiyah, Sabtiyah.

Kurup pertama dimulai pada tanggal 8 Juli 1633 M yang juga bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1043. Pada hari itu, Sultan Agung memadukan konsep perhitungan kalender saka dan islam menjadi kalender Jawa yang dimulai pada hari Jumat Legi 1 Suro 1655. Maka resmi, pada tanggal itulah kurup Jamngiyah dengan aturan A’ahgi dimulai. A’ahgi sendiri merupakan singkatan dari Alif Jumungah Legi, yang berarti tahun alif jatuh pada hari Jumat Legi.

Secara sequential, setelah kurup Jamngiyah yang merupakan A’ahgi selesai, akan dilanjutkan dengan kurup Kamsiyah yang mempunyai rumus Amiswon atau tahun Alif Kamis Kliwon. Kemudian setelah Kurup Kamsiyah selesai, akan dilanjutkan dengan kurup Arbangiyah dengan pola Aboge atau Alif Rabu Wage, dan seterusnya.

Istilah tahun Alif merupakan salah satu dari 8 buah nama-nama tahun yang membentuk dalam siklus windu. Windu ini akan selalu berulang-ulang mulai dari tahun Alif sampai dengan tahun Jimakir, kembali ke Alif lagi. Nama-nama tahun dalam satu windu terdiri atas: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir.

Pada siklus 8 tahun (sawindu), tahun wuntu (semacam kabisat) dapat jatuh di tahun ke-2, ke-4 atau ke 8. Atau pada tahun Ehe, Je dan Jimakir. Menurut perhitungan tahun Jawa, terdapat 3 buah tahun yang masuk dalam kategori “wuntu” (buntu) dalam siklus 8 tahunan sebagaimana disebut di atas. Jadi artinya, dalam siklus satu kurup (120 tahun) terdapat 45 buah tahun wuntu.

Catatan:
Tahun wuntu = Tahun panjang, terdiri atas 355 hari.
Tahun wastu = Tahun umum, terdiri atas 354 hari.

Berbeda dengan perhitungan Hijraiyah, dalam masa 30 tahun terdapat 11 buah tahun wuntu. Maka, dari 120 tahun, akan terdapat 44 buah tahun wuntu. Jadi jumlah hari di tahun Jawa akan lebih banyak dari tahun Hijraiyah.

Agar tahun Jawa konsisten dengan tahun Hijraiyah, setiap 15 windu atau 120 tahun, dilakukan pencocokan (kalibrasi) dengan mengubah salah satu taun wuntu, dijadikan sebagai tahun wastu.

Perubahan tahun wuntu itu menyebabkan berkurangnya (bergesernya hari) kurup (siklus 15 windu), yang ditandai dengan hari pertama pada sebuah akan maju sehari. Jadi, kurup akan selalu berubah setiap 120 tahun (15 windu).

Akan tetapi, sistem kalibrasi tahun Jawa dengan tahun Hijraiyah setiap 120 tahun, ini terkadang diabaikan. Contohnya pada tahun 1674J (1748M-1749M), tahun Jawa dicocokkan dengan tahun Hijraiyah dengan mengubah salah satu hari di tahun wuntu, yaitu tahun Jimakir yang merupakan tahun wuntu dirubah menjadi tahun wastu. Hal ini menjadikan kurup pertama berubah dari tahun Alif yang jatuh di hari Jumat Legi, menjadi tahun Alif jatuh pada hari Kamis Kliwon.

Tahun 1748J (1820M-1821M) kembali dilakukan rekonsiliasi sebelum mencapai 120 tahun (hanya 74 tahun). Tahun Ehe yang merupakan tahun wuntu, dijadikan tahun wastu (Atas perintah Pakubuwono V). Menjadikan tahun 1748J sebagai tahun terakhir dari kurup kedua. Yang efeknya, menjadikan awal tahun alif dari kurup ketiga berubah menjadi hari Rabu Wage. Hal ini sebenarnya terlambat 2 tahun, seharusnya dilakukan di awal windu yaitu di tahun Jimakir 1746J.

Begitu juga pada tahun 1866J, Tahun Jimakir dijadikan tahun wastu (atas perintah Sri Sultan Hamengkubuwana VI?). Karenanya, kurup aboge selesai ditahun 1866J atau 1935M dan resmi digantikan kurup keempat yaitu ASAPON (Alif Selasa Pon).

Setiap kali tahun Jawa dikalibrasi dengan tahun Hijraiyah, kurup juga ikut berganti, Seperti pada tahun 1674J penggantian kurup Jamngiyah menjadi kurup Kamsiyah. Pada 1748J kursi Kamsiyah (Amiswon) digantikan oleh kurup Arbangiyah (Aboge). Pada tahun 1866J kurup Arbangiyah digantikan oleh Salasiyah (Asapon). Kurup Asapon ini seharusnya akan selesai pada tahun 1986J (2051M), dan berganti dengan kurup yang dimulai dengan tahun Alif jatuh pada hari Senin Pahing.

Sampai 1671J, tahun Dal selalu menjadi tahun wuntu. Bersamaan dengan bergantinya kurup, yaitu kurup Jamngiyah menjadi kurup Kamsiyah. Di tahun Alip 1675J dan di tahun Dal 1679J menjadi tahun wastu. Usia rata-rata bulan adalah 30-29, jika diurutkan dari Sura ke Besar: 30, 30, 29, 29, 29, 29, 30, 29, 30, 29, 30, 30. Dari tahun 1678J hingga 1790J, tahun Je dijadikan sebagai tahun wuntu, tetapi masih belum menemukan kecocogan, sehingga hari tiap bulannya dirubah seperti umur hari di tahun Dal. Sebagaimana dinyatakan dalam: pawarsakan, pratela II terbitan Bale Pustaka. Langkah ini bertujuan untuk membuat Grebeg Mulud (12 Mulud) di tahun Dal selalu jatuh di hari Senin Pon.

Sejak 1793J dan seterusnya, tahun Ehe, Je dan Jimakir dijadikan sebagai tahun wuntu. Tahun Dal didefinisikan sebagai tahun normal (wastu) di mana usia tidak berubah menjadi 30.