Kritik dalam tradisi Jawa

Kenapa budaya rasan-rasan sangat umum dan menjadi kaprah dikalangan masyarakat kita. Terlepas dari memang hobi atau terlalu nganggur, mungkin jawabannya adalah untuk menghindari rasa tidak enak yang timbul jika harus melakukan kritik secara langsung. Anggapan bahwa mengkritik adalah suatu yang tabu masih dipegang teguh. Hingga pemikiran-pemikiran kritis dan saran yang membangun tidak tersalurkan melalui kanal yang tepat.

Pada kenyataannya, tradisi berpikir kritis ini sudah mendarah daging sejak dahulu. Banyak sekali kritik-kritik yang disampaikan secara halus hingga cara paling vulgar disampaikan para filsuf dan pemikir Jawa. Pada umumnya, kritik ini akan disampaikan melalui bahasa sastra yang terhimpun dalam serat-serat pendek atau cuplikan babad.

Melalui karya sastra, masyarakat umum akan dengan mudah memahami dan menerima kritik itu sebagai ajaran dan pedoman hidup. Karena terdapat pemahaman bahwa hanya orang-orang terpelajar yang mempunyai kebijakan cukup dan kedalaman spiritual saja yang dapat membingkai kritik dalam karya-karya sastra.

Dalam pemahaman masyarakat Jawa, terdapat tiga istilah tingkatan spiritualitas yaitu, Manungsa, Wong dan Janma. Dapat diartikan bahwa kata Manungsa adalah manusia jawa secara umum. Berbeda dengan kata Wong yang memiliki makna manusia yang mempunyai kemampuan, ilmu dan dapat bermanfaat bagi orang lain. Kata janma bermakna lebih dalam dan spesifik. Manusia-manusia yang disebut janma, adalah manusia yang telah melampaui kebutuhan-kebutuhan duniawi. Kehidupannya yang waskita lebih terfokus kepada manunggaling Kawula lan Gusti.

Jalan Kebijaksanaan

Epistemologi Masyarakat Jawa

Tidak berbeda dengan masyarakat dari kebudayaan yang lain, dimana pencarian esensi ilmu pengetahuan juga dilakukan oleh orang-orang Jawa. Mulai dari tahapan pendidikan formal di sekolah ataupun di luar sekolah. Hanya saja, di Jawa penggunaan rasa lebih dominan dan telah diajarkan mulai awal.

Epistemology Barat

Dalam filsafat Barat, cara yang dikembangkan untuk memperoleh pengetahuan dilakukan melalui penalaran, akal, rasio, abstraksi ataupun intuisi. Rasional logis menjadi titik dasar praktek dan pemahaman ilmu pengetahuan. Karena itu, ilmu-ilmu barat lebih didasarkan pada bukti kasat untuk mempelajari sebuah fenomena.

Epistemologi Jawa

Pada filsafat Jawa pun menggunakan cara-cara serupa untuk memperoleh pengetahuan. Hanya saja bedanya dalam filsafat Jawa sebagaimana dikemukakan Ciptoprawiro (2000), proses tersebut berupa tahap-tahap penggunaan cipta, rasa dan karsa melalui tingkat-tingkat kesadaran yang terbagi atas : kesadaran inderawi atau Aku, kesadaran hening (manunggal dalam cipta-rasa-karsa), kesadaran pribadi (Ingsun, Suksma Sejati) dan kesadaran Ilahi (manunggalnya Aku Suksma Sejati – Suksma Kawekas).

Hierarchy of Knowledge

Epistemologi Jawa didasarkan pada ngelmu titen yang merupakan refleksi dari pengalaman batin Jawa dan prinsip cocog atau prinsip bener juga pener (benar dan baik adanya), yang sering menghasilkan sebuah konsep Othak-Athik Mathuk pada Kerata Basa. Sebagai sebuah pengalaman batin ngelmu titen ini kadang kala harus dibayar dengan laku atau ngelakoni yang dapat berupa semedi, bertapa, mencegah hawa nafsu dan tidur atau cegah dhahar lan guling dan masih banyak lagi laku-laku yang lainnya.

Laku dan Pramana

Laku sebagaimana yang disebutkan di depan, sering diaplikasikan dalam bentuk prilaku batin seperti tirakat atau thariqai, semedi, melek dan sebagainya yang kesemuanya itu merupakan metode intuitif dalam epistemologi Jawa.

Kalau dibandingkan dengan Pramana dalam epistemologi filsafat Hindu, laku itu sepadan dengan pratyaksa pramana (pengamatan langsung secara intuitif atau melalui proses pengalaman batin). Sehingga pengetahuan yang didapatkan nantinya adalah pengetahuan yang sempurna sebagaimana tujuan dalam pemikiran sebelumnya tentang ngudi kasampurnan.

Dari sini dapat dipahami, bahwa perjalanan orang jawa untuk layak menyampaikan kritik sangat panjang dan berliku. Tidak sekedar orang dapat dan diperkenankan menyampaikan kritik kepada orang lain semena-mena. Pada dasarnya siapa saja diperbolehkan, tetapi hanya orang-orang yang mumpuni dan mempunyai rasa sumeleh yang dapat melakukannya. Keribetan proses ini dimaksudkan untuk menjamin fairness, kualitas dan ketajaman kritik.

Penyampaian Kritik

Prinsip dasar

Secara esensi, kritik dapat dilakukan oleh siapa saja kepada siapapun. Tetapi dengan tetap memperhatikan serta mempertimbangkan beberapa prinsip-prinsip dasar, misal:

  • Kêna iwaké, ora buthêk banyuné, asas Rukun & Hormat (Suseno & Franz Magnis, Etika Jawa, 2001:38)
  • Anggon Sêmu, Kepantasan, dilakukan secara semu, tidak langsung (Chandra, Notions of Critical Thingking in Javanese, Batak Toba and Minangkabau, 2009)
  • Sinanggit ing sastra, Penggunaan simbol: paribasan, pasemon, panyandra, sanepa, pepindhan, isbat, paribasan, piwulang dan sesanti. (B. Hadisutrisno, Islam Kejawen, 2009:73-74)

Walaupun pada prakteknya, sisi rasa dan pangrasalah yang sangat dominan mendasari bagaimana cara kritik itu disampaikan serta diterima untuk dipahami.

Rasa & Pangrasa

Makna yang terkandung dalam kata Rasa adalah suatu emosi yang spontan timbul secara logis karena hal-hal tertentu. Seperti sedih, marah, bahagia, jengkel, malu dan lain sebagainya. Sedangkan pangrasa timbul dari penalaran logis yang didasari intuisi. Sifatnya menjadi sangat subyektif serta tidak nampak secara fisik yang sering terwakili oleh gesture dan mimik. Pangrasa lebih digunakan sebagai cermin pribadi dan koreksi untuk keputusan atau tindakan-tindakan selanjutnya.

Tingkatan kedua hal tersebut sangat dipengaruhi oleh pendidikan, kecerdasan emosional, intelektual, status sosial, pengalaman, pergaulan dan parameter-paramater lain. Masing-masing parameter akan mempengaruhi sejauh mana ketajaman rasa dan pangrasanya dalam menyampaikan dan menangkap sebuah pesan yang terkandung dalam kritik.

Metode dan Tingkatan Kritik

Dalam penyampaian kritik haruslah tetap mengindahkan prinsip-prinsip dasar sebagaimana dijelaskan di atas.

Karena itulah di kenal tiga jenis tingkatan kritik.

  1. Dupak Bujang,
  2. Esem Mantri, dan
  3. Semu Bupati.

Dupak Bujang adalah kritik yang ditujukan secara langsung, gamblang dan tanpa tedheng aling-aling. Umumnya ditujukan kepada orang-orang yang memahami sesuatu secara lugas dan tidak terbiasa menggunakan rasa dan pangrasa dalam menerima informasi. Dalam pergaulan sehari-hari, kritik ini juga biasa disampaikan antar sahabat atau kerabat dekat yang sudah saling memahami satu dengan yang lain. Dengan demikian efek negatif dari kelugasan kalimat dapat dinetralisir. Penjabaran mengenai Dupak Bujang ini ternarasikan secara mendalam oleh Dika SP dalam artikel Maido cara Jawa.

Kritik menggunakan metode esem mantri lebih bersifat satir dan halus. Kalimat yang dipergunakan cenderung lebih halus dan tidak langsung. Bisa disampaikan dalam bentuk candaan, pengandaian atau penyampaian kondisi ideal. Semisal untuk mengkritik minuman yang terlalu manis disampaikan dengan kalimat “wah, nyang kene cedhak pabrik gula ya”, atau dalam contoh lain mengenai kondisi ideal “Jane jogedmu wis apik, nanging bakal saya wangun yen luwih mendhak”.

Bisa juga disampaikan melalui gerakan atau sikap. Contohnya pada saat tamu kehabisan rokok, sedangkan si tuan rumah merokok sendiri tanpa mempersilahkan si tamu. Hal yang dapat dilakukan oleh tamu adalah mengeluarkan korek (kalau bawa dan belum diambil teman. Sebut saja bunga). Seharusnya sikap tersebut cukup untuk menjadi kode kepada tuan rumah bahwa si tamu minta ditawari rokok.

Salah satu bentuk dan tingkatan kritik yang tidak nampak adalah Semu Bupati. Dalam penyampaian kritik ini sering kali hanya dipahami oleh pengkritik dan orang yang dikritik saja. Salah satu contoh yang baru beberapa waktu lalu terjadi adalah pada saat kedua calon presiden bertemu, dan sama-sama menggunakan kemeja batik. Motif dari batik yang digunakan dapat diartikan sebagai sebuah bahasa kritik tajam antara satu dengan yang lainnya.

Contoh yang lain adalah penggunaan gendhing Logondhang Bedhayan laras Pelog pada saat acara pembukaan gedung pemerintahan. Gendhing ini memang terkesan agung dan ngleremake ati. Jika dicermati, lirik gerongannya bercerita mengenai keagungan kerajaan Hastina. Dapat ditangkap pesan bahwa seorang seniman sedang mengkritik kebijakan pemerintah yang terkesan menara gading dan tidak mengindahkan kesejahteraan rakyat. Tetapi sayangnya, tidak banyak lagi dari nayaka praja yang mempunyai kecermatan dalam menangkap kritik-kritik seperti itu. Sekarang akan lebih mudah dan kaprah jika kebijakan pemerintah tidak dikritik menggunakan Semu Bupati, tetapi menggunakan cara Dhupak Bujang alias didemo.

Implementasi Kritik

Terdapat istilah Sababag-satandhing yang menggambarkan bahwa kondisi dari pengkritik dan yang dikritik harus pada level rasa-pangrasa yang sepadan. Jadi keduanya dapat memahami serta dapat memilih menggunakan metode kritik mana yang paling sesuai.

Selain itu, harus tetap menjaga kehormatan atau njaga praja-ne yang dikritik. Jadi kritikan tidak boleh bersifat menjatuhkan atau me-bully. Juga sebaiknya dilakukan secara langsung dan terbuka. Tidak melalui perantara, atau malah dengan bisik-bisik atau rasan-rasan.

Contoh Kritik yang terdapat pada Susastra Jawa

  • Babad Mangkubumi, Kritik HB II kepada PB IV mengenai pengangkatan para guru dalem.
  • Babad Giyanti, Yasadipura I. pembelaan terhadap pemberontakan Pangeran Mangkubumi
  • Serat Wicara Keras, Yasadipura II. Kritikan terhadap tokoh-tokoh pemerintahan di Jogjakarta dan Surakarta.
  • Babad Pakepung, Yasadipura II. Kritik kepada P. Purbaya. Kutipan IX:32 “….., nyilib Pangeran Purbaya, tinaria sayekti angrurubedi, piker sok kurang lapang.”
  • Serat Sasanasunu, Yasadipura II. Kritik terhadap kemerosotan moral kaum atas.
  • Serat Jayengbaya, Ranggawarsita II. Kritik social terhadap profesi, terutama tukang gadai dan ulama.

Kritik Pendidikan

Kêkêrane ngèlmu karang, kêkarangan saking bangsaning gaib, iku borèh paminipun, tan rumasuk ing jasad, amung anèng sajabaning daging kulup, yèn kapêngkok pôncabaya, ubayane balenjani.

Marma ing sabisa-bisa, bêbasane muriha tyas basuki, puruitaa kang patut, lan traping angganira, ana uga anggêr ugêring kaprabun, abon-aboning panêmbah, kang kambah ing siyang ratri.

Iku kaki takokêna, marang para sarjana kang martapi, mring tapaking têpa tulus, kawawa nahên hawa, wruhanira mungguh sanyataning ngèlmu, tan pasthi nèng janma wrêda, tuwin mudha sudra kaki.

Wedhatama 1:9-11

Angèl têmên ing jaman samangkin, ingkang pantês kêna ginuronan, akèh wong jaja ngèlmune, lan arang ingkang manut, yèn wong ngèlmu ingkang nêtêpi, ing panggawening sarak, dèn arani luput, nanging ta asasênêngan, nora kêna dèn wor kêkarêpannèki, pêpancène priyôngga.

Ingkang lumrah ing môngsa puniki, mapan guru ingkang golèk sabat, tuhu kuwalik karêpe, kang wis lumrah karuhun, jaman kuna mapan ki murid, ingkang padha ngupaya, kudu anggêguru, ing mêngko iki ta nora, kyai guru naruthuk ngupaya murid, dadia kanthinira.

Wulangreh 1:7-8

Kritik Sosial

jinêjêr nèng Wedhatama, mrih tan kêmba kêmbênganing pambudi, môngka nadyan tuwa pikun, yèn tan mikani rasa, yêkti sêpi asêpa lir sêpah samun, samangsane pakumpulan, gonyak-ganyuk nglêlingsêmi.

Wedhatama 1:1

si pêngung nora nglêgewa, sang sayarda dènira cêcariwis, ngandhar-andhar angêndhukur, kandhane nora kaprah, saya elok alongka longkanganipun, si wasis waskitha ngalah, ngalingi marang si pinging.

Wedhatama 1:4

Amênangi jaman edan, ewuh-aya ing pambudi, milu edan nora tahan, yèn tan milu anglakoni, boya kaduman melik, kalirên wêkasanipun, dilalah karsa Allah, bêgja-bêgjane kang lali, luwih bêgja kang eling lawan waspada.

Kalatidha 1:8

Lan wruha jaman samangkin, urip iku rup-urupan, yen tan kurup panggawene, yekti tan antuk kadarman, cinacad karyanira, wus mangkono bangsa luhur, tinggal talitining kuna.

Duk ing jaman kitrah yekti, gusti asih paramarta, pan kadya banyu iline, siyang ratri datan kendhat, tinuman tumanema, sumungkem sih tresna labuh, mangkono trah ing awirya.

Kawula madhep ing gusti, gusti asih ing kawula, santosa luhur kratone, ing jaman mengko pan ora, kalingan sih donyarta, sirna talering aluhur, wit gusti tinggal kawula.

Batal karsane tan dadi, satemahan siya-siya, iya mring kaluhurane, mung tumrap badan sapata, pribadi tan tumular, wahyaning trah tekeng besuk, labet wus nir santosanya

Jakalodhang 4:1-4

Kritik Keagamaan

Durung pêcus kasusu kasêlak bêsus, amaknani rapal, kaya sayid wêton Mêsir, pêndhak-pêndhak angêndhak gunaning janma.

Kang kadyèku kalêbu wong ngaku-aku, akale alôngka, elok jawane dèn mohi, paksa langkah ngangkah mèt kawruh ing Mêkah.

Wedhatama 3:6-7

Wong alim-alim pulasan, njaba putih njero kuning, ngulama mangsah maksiyat, madat madon minum main, kaji-kaji ambanting, dulban kethu putih mumprung, wadon nir wadonira, prabawa salaka rukmi, kabeh-kabeh mung marono tingalira.

Jakalodhang 2:2

Kritik KeTuhanan

Sungging brangta duh sang wiku, eling rumuhun sayekti, carita datan kawedhar, mung sagebyar pindha thathit, tinilar sang madubrangta, sumendhe kersane gusti. •

Nanging boya nganti rangu, ora sipat mbalenjani, rowang kang pindha trenggana, nadyan singep mendung yekti, datan kengguh nora cidra, ngendi papan yen nggoleki.

Nyupurusa