Konsep Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara dalam Kakawin Nagara Krtagama

PENDAHULUAN

Latar Belakang


Sudah sering kita ketahui memang, jika aspek-aspek dasar dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara kita lahir dari pemikiran para pendahulu kita sejak jaman Kerajaan Hindu dan Budha berkembang di Indonesia. Konsep-konsep dasar bernegara tersebut tertuang pada banyak karya sastra yang masih lestari hingga saat ini. Salah satu diantaranya adalah konsep dasar bernegara yang terdapat di dalam Kakawin Nagara Krtagama karya Mpu Prapanca yang ditulis ketika Kerajaan Majapahit mencapai puncak kegemilangannya.

Jika kita kaji lebih cermat lagi, selain warisan istilah Pancasila yang kita gunakan sebagai dasar negara kita saat ini, dalam Kakawin Nagara Krtagama juga terdapat konsep-konsep Nasionalisme yang sangat patut kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Oleh karenanya, penulis memilih tema bahasan “Konsep Dasar Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara Menurut Kakawin Nagara Krtagama” dengan maksud untuk menggali lagi nilai-nilai filosofis yang terdapat dalam karya sastra Nagara Krtagama supaya dapat dipahami serta diamalkan pembaca dalam kehidupan sehari-hari.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana nilai-nilai filosofis yang termaktub dalam Nagara Krtagama ?
  2. Bagaimana korelasi antara nilai-nilai yang termaktub dalam Kakawin
    Nagara Krtagama dengan kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini ?

Tujuan

  1. Mengetahui nilai-nilai filosofis yang termaktub dalam Nagara Krtagama
  2. Mengetahui korelasi antara nilai-nilai yang termaktub dalam Kakawin
    Nagara Krtagama dengan kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini

PEMBAHASAN

{25a} Ksamakena patakwaning huluni sang mregendra dhipa, gati nrpati nangrarah gahana toh naya ndyang gegen, hangantya juga matya ring pangadegan malaywa kuneng, mwanganglagana denya tulya hayuyun dinoh tan murud.

“Maafkanlah pertanyaaan saya Tuan Sang Raja Binatang, Tentang perjalanan seorang raja menjelajah hutan upaya mana diperbuat ?, Apakah menunggu mati di tempat ataukah kita lari ?, Atau serempak menyerang agar seperti kepiting dikurung tak bergerak.”

Awarnna kadi mangka nojaranikang sregalo marek, ikang harina kresna sara ruru cihna mojar wawang, yani bwati patikta tan hana muwah nayanung gegon, kalena saka ring malaywa malarolihangungsiren.

Seolah-olah demikianlah kata serigala kala menghadap, kijang menjagan yang kuat menjadi pucat dan segera berkata, “Menurut hematku tidak ada lagi upaya yang diyakini, kecuali melarikan diri saja sedapat mungkin memperoleh tempat yang dituju.”

Ikang gawaya serabha wresabha len taraksa muwus, hadha wipatha kong kenas tuhutuhun mregalpa dhama, nda tar lekasaning sudhira ngalayu mangantya kunang, si manglawana dharmma gegwana malar tumemwang hayu,

Sapi liar, kerbau, lembu, serta serigla berucap, “Hai celaka kamu kijang benar-benar binatang lemah dan hina, bukan perilaku perwira bila lari atau menunggu mati, melawan musuh dalah kewajiban agar memperoleh keselamatan.”

Mregendra sumahur kalih padha wuwus ta yuktin gegon, nda yan wruha mabhedaken sujana durjananung delon, yaning kujana wahya solaha malaywa mangswa kunang, apan wiphalangangga patyana tekapnya tatan padon.

Harimau menjawab “Ujarmu berdua memang pantas diturut,
namun harus paham membedakan yang dihadapi baik atau buruk,
jika itu penjahat jelas kita bertindak melarikan diri atau menghadapi,
krena sia-sia diri kita terbunuh olehnya dan tak ada gunanya.

Tuhun pwa yani sang tri paksa rsi saiwa boddha tuwi, malaywa juga ngenaka-/- ngiringane siran pandhita, {25b} kunang pwa kita yat kapanggiha tekap narendra buru, hangantya pati kewala wwata huripta haywa gigu.

Adalah benar terhadap Sang Tri Paksa Resi Siwa Budha, sebaiknya kita melarikan diri atau mengikuti menjadi pendeta, tetapi kalian bila dijumpai oleh raja yang berburu, hanya menunggu mati serahkan nyawamu jangan ragu-ragu.

Apan nrpati yogya panghanutane huripning dadi, bhatara giri patyurtti ri siran wisesa prabhu, hawas hilanga papaning pejaha de niramatyana, lewih saka ri kottamaningalabuh ri sang hyang ranu.

Sebab raja berkuasa menghilangkan nyawa semua makhluk, Bhatara Siwa menjelma sebagai raja yang berkuasa, pasti hilang segala dosa yang mati terbunuh olehnya, lebih utama daripada menerjunkan diri ke dalam danau.

Syapeka musuha kwa ring bhuwana yan padhe medhani, tathapi ri sira tri paksa mariris ngwangandoh wawang, pitowi haji yan ta katemwa niyataku kawwat hurip, ndatan muwaha satwa jati phalaning pejah de nira.

Siapakah musuhku di dunia yang menyamai kecerdasanku, tetapi pada Sang Tri Paksa aku takut dan segera menjauh, bila berjumpa pada raja jelas aku menyerahkan nyawaku, tak akan lahir kembali sebagai binatang merupakan hasil terbunuh oleh Beliau.

(Kakawin Nagara Krtagama : Wirama 51, Prthiwitala)

Nilai-Nilai Filosofis yang Termaktub dalam Nagara Krtagama

Berdasarkan penggalan pupuh Nagara Krtagama diatas, jelas tergambarkan situasi disaat para binatang sedang berdebat dan berdiskusi tentang tindakan yang akan mereka lakukan menghadapi Sang Raja Hayam Wuruk yang datang berburu ke hutan Nandaka. Mereka berdebat dan berdiskusi tentang tindakan yang akan mereka lakukan, apakah harus lari menghindari musuh yang datang berburu dan merusak hutan ataukah mereka akan menghadapi setiap musuh yang datang meskipun nyawa yang jadi taruhannya.

Akan tetapi, harimau sang raja hutan menjawab dan menasihati para binatang hutan dengan bijak. Harimau menegaskan bahwa para binatang tak perlu ragu akan nyawa mereka jika yang datang berburu adalah Sang Raja Hayam Wuruk. Harimau juga menasihati para binatang hutan jika mereka harus setia dan taat kepada raja sabagai pemegang kekuasaan tertinggi dan juga raja merupakan titisan dari Dewa Siwa yang berkuasa, jadi akan sangat mulia bagi siapa yang terbunuh oleh tangan raja maka ia akan terbebas dari segala dosanya.

Harimau juga menjelaskan bahwa sangat patut untuk lari atau menyerang kepada siapa saja yang berbuat jahat atau penjahat karena takut dan pengecut adalah sifat dari orang yang tidak memiliki jiwa dan sifat ksatria/perwira.

Meskipun nyawa yang jadi taruhannya, tetapi demi mempertahankan hutan dan keselamatan para anggotanya, para binatang yang hidup di hutan juga harus ikut untuk menyerang dan mempertahankan wilayah hutan agar tetap lestari dan tidak dirusak serta dijarah oleh musuh.

Berdasarkan uraian diatas, jelas bahwa cerita tersebut adalah kiasan yang digunakan oleh Mpu Prapanca untuk menyampaikan nilai-nilai bela negara kepada para pembaca karyanya, terlepas dari kisah yang dituliskan itu benar-benar terjadi atau tidak. Yang perlu kita cermati pada bagian ini bukan pada dialog antar penghuni hutan yang menurut kita cenderung khayal, akan tetapi yang perlu kita cermati pada penggalan Kakawin Nagara Krtagama tersebut adalah nilai-nilai filosofis yang coba digambarkan dan diuraikan oleh Mpu Prapanca kepada orang-orang yang membaca karyanya.

Nilai-nilai filosofis yang ingin disampaikan oleh Mpu Prapanca dalam karyanya tersebut adalah kecintaan kita terhadap tanah tempat tinggal kita dan tanah tempat kelahiran/tumpah darah kita. Jangan sampai sejengkal tanah yang kita miliki direngkuh oleh orang lain apalagi oleh para penjahat yang ingin merampas segala sesuatu yang kita miliki. Kita harus berani bertarung, mempertahankan segala yang kita miliki apalagi hal tersebut menyangkut masalah kedaulatan dan harga diri kita. Kita harus mempertahankan kesatuan seperti yang dilakukan harimau dan para binatang lainnya sebagai penghuni di hutan Nandaka.

Akan tetapi, kita juga harus patuh dan taat pada setiap perkataan yang diucapkan para pemimpin kita sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, seperti kisah para binatang yang patuh dan rela jika nyawa mereka dipertaruhkan kepada sang raja. Kita tak perlu risau dan khawatir karena segala yang dilakukan oleh pemimpin kita pastinya akan membawa kebaikan bagi kita semua, asalkan kita patuh, setia, dan taat dengan segala yang disampaikan oleh pemimpin kita, seperti yang dilakukan oleh para binatang yang tinggal di hutan Nandaka ketika Raja Hayam Wuruk dan pasukannya datang untuk memburu binatang yang hidup disana.

Korelasi Antara Nilai yang Termaktub dalam Kakawin Nagara

Krtagama Dengan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Saat Ini Nilai-nilai filosofis yang termaktub dalam Kakawin Nagara Krtagama seperti yang diuraikan pada pembahasan di atas memang sangat perlu kita gali dan kita kaji lebih dalam lagi untuk kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia dewasa ini. Kajian tentang kearifan budaya dan warisan leluhur kita sudah sepatutnya kita terapkan pada tiap aspek kehidupan kita, mengingat semakin maraknya perselisihan antar ras, etnis, dan agama di Indonesia serta menurunnya semangat kebangsaan dan nasionalisme kita saat ini. Bercermin pada kearifan lokal yang terdapat dalam Kakawin Nagara Krtagama, setidaknya ada tiga point penting yang dapat kita ambil sebagai dasar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita (Riana, 2009: 465), yaitu :

Musyawarah untuk mencapai mufakat.

Hal ini tergambarkan jelas ketika para binatang datang menghadap dan berkumpul di depan harimau sebagai raja hutan untuk mengambil keputusan yang akan mereka perbuat. Agaknya, bagian ini merupakan nasihat sekaligus sindiran yang disampaikan Mpu Prapanca bagi kita semua. Para binatang hutan yang beragam dan berbeda pendapat dapat bersatu dan menyatukan pikiran mereka, tanpa ada yang menonjolkan ke-egoisan mereka dan dapat menerima putusan yang diberikan harimau sebagai raja hutan dengan lapang dada.

Inilah yang seharusnya kita contoh dan kita tiru dalam kehidupan kita. Bagaimana mungkin sebagai manusia yang berakal dan menganggap diri kita lebih cerdas dan mempunyai akal yang lebih tinggi dibandingkan dengan binatang, kita malah tak mampu menyelesaikan masalah secara musyawarah maupun dengan cara kekeluargaan. Kita cenderung menyelesaikan masalah dengan mengandalkan keangkuhan dan ke-egoisan, sehingga kita tak kan mampu menemukan suatu jalan keluar apalagi mencapai kata mufakat.

Hal ini sangat berbeda jika melihat kembali cerita yang dipaparkan Mpu Prapanca dalam karyanya. Sungguh hal yang berbeda jauh jika kita bandingkan dengan kehidupan yang kita jalani saat ini. Memang, dibutuhkan suatu pengorbanan dan pengertian serta toleransi yang tinggi untuk melaksanakan sesuatu, apalagi menyangkut hal yang menentukan suatu keputusan sehingga untuk mencari jalan keluar diperlukan satu kata mufakat dari adanya suatu musyawarah.

Binatang mengakui bahwa mati di tangan raja amatlah mulia, karena raja adalah penjelmaan Dewa Siwa.

Hal ini bermaksud agar kita senantiasa menghormati, menghargai dan mematuhi sagala perintah raja yang dapat kita asumsikan di era global ini sebagai seorang kepala negara/Presiden. Kita sebagai manusia yang beradab harus mampu untuk menjaga kewibawaan dan kedaulatan negara minimal dengan cara yang sangat sederhana seperti menghormati foto presiden sebagaimana mestinya bukan malah membakar dan menginjak-injaknya.

Kita juga harus tunduk terhadap segala perintah kepala negara, karena setiap keputusan dan kebijakan yang dilakukannya pasti telah melewati pertimbangan dan pemikiran yang matang. Kita juga harus mendukung segala kebijakan yang dibuatnya, sehingga akan tercipta suatu persatuan dan integritas nasional.

Namun juga perlu ditinjau kembali, tidak selalu keputusan yang diambil oleh kepala negara akan selalu sesuai dengan kebutuhan dan keinginan kita, oleh karenanya sebagai negara yang demokratis, kita juga diberi hak untuk menyampaikan aspirasi yang membangun. Tetapi juga perlu diingat bahwa dalam menyampaikan aspirasi, kita juga harus memperhatikan aturan dan norma yang berlaku, sehingga dalam menyampaikan suatu aspirasi kita tidak semena-mena dan cenderung melampaui batas.

Kerajaan atau Negara Kesatuan Republik Indonesia bagai binatang dan hutan.

Hutan yang dibabat terus menerus tentunya akan berakibat pada rusaknya habitat tempat tinggal binatang yang hidup di dalamnya. Jika hutan rusak, maka binatang akan kehilangan makanannya dan tentunya binatang akan mati kelaparan. Negara bagaikan hutan yang digambarkan oleh Mpu Prapanca dalam karyanya, sedangkan rakyat digambarkan sebagai binatang yang hidup di dalamnya. Hutan dan binatang harus saling menjaga dan melangkapi sebagai suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

Demikian pula dengan negara ini, diperlukan suatu sinergi antar komponen bangsa agar kita mampu menjadi raja hutan yang ganas sehingga ditakuti pihak-pihak asing yang akan masuk dan berniat merusak ataupun menjarah kekayaan negara kita. Kita harus mau mencintai bangsa kita sendiri, melestarikan segala warisan dan kebudayaan yang ada dan melindungi setiap jengkal wilayah negara demi tegak dan berdaulatnya negara.

Warisan nasionalisme inilah yang sangat jarang kita temui saat ini, disaat IPTEK berkembang pesat, kita malah banyak lupa akan akar budaya bangsa kita sendiri. Secara tidak langsung kita juga berperan untuk merobohkan tiang-tiang negara kita sendiri jika kita tetap enggan untuk belajar dan mengamalkan budaya yang ditinggalkan oleh para leluhur kita. Tentunya, hal ini jangan sampai terjadi mengingat bangsa kita yang besar, bangsa yang kaya akan berbagai macam warisan budaya yang adiluhung dan tentunya beragam budaya bangsa akan menjadi identitas kita di mata internasional.

PENUTUP

Kesimpulan

Dasar-dasar bagi penyelenggaraan serta prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia telah muncul dalam Kakawin Nagara Krtagama Karya Mpu Prapanca yang ditulis ketika Majapahit mencapai puncak kejayaannya.

Nagara Krtagama mengajarkan tata aturan/sikap mengenai pola perilaku dan tingkah laku yang semestinya kita lakukan terhadap pemimpin negara, kebulatan pendapat dalam menyelesaikan segala permasalahan, dan juga konsep-konsep nasionalisme terhadap kedaulatan dan keamanan negara. Memang, dalam karyanya, Mpu Prapanca menggunakan binatang dan hutan sebagai perumpamaannya, sehingga menuntut kita untuk berpikir lebih kritis dan cerdas untuk menganalisis segala permasalahan yang ada.

Saran

Sebagai bangsa yang besar dan kaya akan peninggalan sejarah, sudah sepatutnya bagi kita untuk mengkaji dan mengamalkan segala yang ditinggalkan leluhur kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Konsep-konsep dasar mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara memang sangat perlu untuk kita amalkan mengingat semakin tipisnya rasa kebangsaan kita dan rasa cinta kita terhadap tanah air ini.

Oleh karenanya jangan sampai kita melupakan sejarah terutama nasihat dari pendahulu kita dalam membangun dan menentukan arah pembangunan bangsa di masa depan.