Khasanah Udheng di Jawa

“That an object is useful, that it required virtuoso skill to make – neither of these precludes it from also thought beautiful. Some craft generate from within their own tradition a feeling for beauty and with it appropriate aesthetic standards and common of taste”

– Howard S. Becker

Nadyan ikêt bêbêd lawan kêris,
Lamun ora bênêr panganggonya,
Dadya cêlaning awake,
Karane ing tumuwuh,
Ewuh têmên angangkah budi,
Nganggea sawêtara,
Poma wêkasingsun,
Sabarang ingkang prakara,
Aja lali wiwiting ala lan bêcik,
Rêrêsikên wardaya

Sêrat Wêwulang

Tiyang ikêt ikêtan botên tata, botên pênêr kuncungipun, langkung malih wangun ugal ugalan, punika digsura. Tiyang katamuan inggil-inggilanipun, botên ikêt-ikêtan punika digsura, sanadyan namung katamuan sêsami-sami, inggih prayogi ikêt-ikêtan. Mara tamu awit saking dangu utawi sumuk, cucul ikêt punika inggih digsura.

– SȆRAT SOEBASITA

Bentuk Meretan,

jenis udheng maretan ini ada 5 macam, yaitu :

  1. Udheng Meretan Prabawan, yaitu Udheng Meretan dengan sunglon runcing letaknya di tengah satu dan wiron dibuat menurut kesenangan pemakai.
  2. Udheng Meretan Tumpangsari, yaitu udheng meretan dengan ujung wiron atas kiri menumpang pada ujung wiron atas kanan, lebarnya 2 cm.
  3. Udheng Meretan Adu Mancung, yaitu udheng meretan yang ujung wiron atas kiri dan kanan bertemu.
  4. Udheng Meretan Pletrekan, yaitu udheng meretan yang pertemuan wironnya sampai tutup samping dan tidak masuk ke sunglon.
  5. Udheng Meretan Chatheman, udheng meretan yang pertemuan wironnya agak menurun ke bawah dekat dengan alis mata.

Bentuk  Jeplakan,

Yaitu  udheng  yang menyerupai udheng meretan, tetapi kuncungnya    ditarik    ke    belakang sampai  di  atas  gelung,  lalu  ditata diberi    isen-isen    dari    rotan    dan pojoknya diurai.

Bentuk Tanipen

Yaitu udheng yang-bagian  depannya  seperti  meretan, dengan   kuncung   ditarik   ke   belakang,   dilempit   ujungnya   di   atas menumpang  mondholan,  kemudian ditalikan dengan sisa ujung udheng.

Bentuk    Kodhok    Bineset,

seperti bentuk   meretan   tapi   kuncungnya ditarik  sampai  ke  mondholan  dan ujungnya jatuh di belakang.

Bentuk  Cakraman,

udheng  dilipat separo     terbelah     miring,     dilipat membujur,   lebarnya   separo.   Cara memakainya     mulai     dari     depan kepala melingkar kebelakang kepala. Lalu ujungnya sampai depan ditalikan,    sisanya    dibuka    seperti jebehan kecil.

Sedangkan udheng yang dikenakan di dalam busana pasowanan Karaton mempunyai dua bentuk yaitu Udheng Jebehan dan Udheng Cekok Mondhol. Aturan pemakaian Udheng ini disesuaikan dengan kedudukan dan pangkat dari pemakainya, sebagai berikut :

Udheng Jebehan, udheng ini khusus dipakai untuk para putra dan Sentana dalem saja, mulai yang berpangkat Pangeran Putra yang bergelar KGPH sampai dengan kerabat yang belum mempunyai kepangkatan atau yang masih Raden Mas (RM).

Udheng Cekok Mondhol, udheng ini nama lengkapnya disebut “cekok mondhol mawi kuncung”, diperuntukkan para abdidalem dari yang berpangkat Bupati Riya Nginggil yang bergelar KRHT ke bawah.

Tatanan penggunaan udheng ini mulai diberlakukan pada saat Surakarta dalam pemerintahan Pakoe Boewono IV pada tahun Je 1734 Jawa atau 1807 Masehi.

Perpaduan Warna

PenamaanWarna PrimerWarna Sekunder
Gula KlapaMerahPutih
Kepodang Nyesep SariMerahKuning
ParianomPutihKuning
Pandan BinetotHijauKuning
Kembang KangkungPutihUngu
Moyang MekarHijauGaris-garis putih
Alas KobarHitamMerah
Baris PendemHijauHitam
Bangun TulakHitam/Biru TuaPutih
Klabang NgantupMerahHijau
Gadhung MlathiHijauPutih

Penggunaan Warna

  • Raja: Merah-Kuning
  • Merah: Pemerintahan
  • Kuning – Hijau : Putra Mahkota
  • Keagamaan : Putih
  • Kematian: Putih
  • Hitam: Kepala Adat, mPu*
  • Umum : Merah*, Hijau, Kuning •

* Stutterheim

Penggunaan khusus

  • Iket dengan tritik warna kuning, hanya untuk anak yang akan khitan
  • Iket dengan ragam huruf arab, hanya dipakai di atau oleh orang pesantren
  • Iket Jeplakan, hanya untuk prajurit kraton
  • Iket tempen, untuk pangkat lurah
  • Motif Modang, menggambarkan pengharapan tinggi
  • Umpak Sinom, untuk para pemuda
  • Umpak Pangkur, untuk sesepuh
  • Jumlah wiron, menyesuaikan neptu pemakaian atau pembuatan