Kesenian Pada Masa Kerajaan Mataram Kuna

Latar Belakang

Kata “Kebudayaan” berasal dari kata sansekerta buddhayab, yaitu bentuk jamak dari buddhi tang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian ke-budayaan dapat diartikan: “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Ada sarjana lain yang mengupas kata budaya sebagai suatu perkembangan dari kata majemukBudi-daya, yang berarti “daya dan budi “. Karena itu mereka membedakan “budaya” dan ”kebudayaan”. Demikianlah “budaya” adalah daya dan budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa itu. Dalam istilah “antropologi-budaya” perbedaan itu ditiadakan. Kata “budaya” disini hanya dipakai sebagai suatu singkatan saja dari kebudayaan dengan arti yang sama. (Koentjaraningrat,2009:146)

Kerajaan Mataram kuno adalah kerajaan zaman hindu yang banyak meninggalkan sejarah melalui prasasti yang ditemukan. Sejak abad 10 kerajaan Mataram kuno di Jawa Timur dimulaidaripemerintahan mpu sindok yang kemudian digantikan oleh sri lokapala. Selanjutnya adalah Makhuthawangsa Wardhana, terakhir adalah Dharma wangsateguh sebagai penutup kerajaan mataram kuno atau medang.

Dalam makalah ini, karena pada masa kerajaan Mataram kuno terdapat kesenian yaitu seni sastra dan seni pertunjukan. Dimana seni sastra diketahui hanyalah Ramayana Kakawin yang sudah dikenal oleh nenek moyang kita dalam bentuk gubahan dalam Bahasa Jawa Kuno dan seni pertunjukan dalam kehidupan sehari-hari rakyat tidak terlepas dari kebutuhan akan hiburan hal ini terbukti dalam prasasti dan relief candi-candi,terutama candi Borobudur dan Prambanan, banyak memberi data tentang bermacam-macam seni pertunjukan.

Seni Sastra dalam Mataram Kuna

Dari zaman kuno telah sampai kepada kita sejumlah hasil besar kesusastraan, yang dapat memberi gambaran betapa tingginya seni sastra pada waktu itu. Tidak termasuk kesusastraan prasasti-prasasti, baik dari batu maupun logam, meskipun di antaranya ada juga yang digubah dalam bahasa yang sangat indah dan dalam bentuk yang betul-betul berupa susastra.(Soekmono,1973:104)

Menurut waktu perkembangannya, kesusastraan jaman purba itu dapat dibagi menjadi kesusastraan: zaman Mataram (sekitar abad ke 9 dan 10),zaman Kadiri (sekitar abad ke 11-12), zaman Majapahit I (sekitar abad ke 14) dan zaman Majapahit II (sekitar abad ke 15-16). (Soekmono,1973:105)

Ditinjau dari susudt isinya,maka kesusastraan zaman kuno itu terdiri atas: tutur (kitab keagamaan,seperti SangHyang Kamahayanikan), castra(kitab hukum), wiracarita (cerita kepahlawanan, seperti Mahabarata), kitab-kitab lainnya yang isinya mengenai keagamaan dan kesusilaan, dan kitab-kitab sebagai uraian sejarah.

Tentang wiracarita perlu diketahui, bahwa yang menjadi sumber dan bahan adalah kitab–kitab India, yang di Indonesia sudah sama sekali tidak dirasakan asing lagi, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua kitab ini  menimbulkan berbagai cerita lainnya, yang berdiri sendiri sebagai cerita bulat. Ini sebenarnya tidaklah lain dari gubahan baru yang berdasarkan suatu peristiwa yang terdapat dalam kitab induknya.

Dalam prasasti Wukajana jelas kiranya bahwa cerita Mahabarata dan Ramayana, dua wiracarita yang amat terkenal di India dalam permulaan abad X M , dan mungkin juga dalam pertengahan abad IX M sudah di kenal oleh nenek moyang kita dalam bentuk gubahan dalam bahasa Jawa Kuno. Akan tetapi,  naskah susastra pada masa itu hanya Ramayana Kakawin. (Poesponegoro, 2010: 270)

Dapat diketahui bahwasannya Ramayana Kakawin sebagian besar bersumber dari naskah Ravanavadha karangan pujangga Bhatti yang berasal dari kira-kira tahun 500-650 M. Perbandingan yang amat terperinci antara Ramayana Kakawin, Ravanavadha dan Ramayana karangan Valmiki yang telah dilakukan oleh Hooykas mengungkapkan bahwa sampai dengan sargga XVI penggubah Ramayana Kakawin  mengikuti Ravanavadha,dengan menyisipkan hal-hal yang dianggapnya perlu dan menurut seleranya sendiri. (Poesponegoro, 2010 : 271)

Sudah di sebutkan bahwa Ramayana Kakawin berasal dari pertengahan aba IX atau permulaan abad X M. Hal itu kita ketahui berkat penelitian Poerbatjaraka, yang mendasarkan pendapatnya atas kosakata, tata bahasa- terutama adanya bentuk-bentuk yang dikonjugasikan, dan terdapatnya nama-nama jabatan pemerintahan yang sama dengan jabatan-jabatan yang ada dalam prasasti-prasasti sebelum Pu Sindok. Poerbatjaraka kemudian menegaskan kembali pendapatnya dengan mengatakan bahwa Ramayana Kakawin digubah pada masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung. Karena sekarang berdasarka prasasti Siwagrha di ketahui bahwa candi Loro Jonggrang ditahbiskan pada tahun 856 M, kini cenderung setuju pada pendapat Poerbatjaraka itu.

Kitab Ramayana yang di karang oleh Walmiki terdiri atas 7 jilid (kanda) dan digubah dalam bentik syair sebanyak 24.000 cloka. Ke 7 dari kanda tersebut ialah:

  1. Bela-kanda
  2. Ayodhya-kanda
  3. Aranya-kanda
  4. Kiskindha-kanda
  5. Yundara-kanda
  6. Yuddha-kanda
  7. Uttara-kanda

Sedangkan kitab Mahabarata terdiri 18 jilid (parwan), yang masing-masing terdiri lagi atas berbagai bagian dan di gubah dalam bentuk syair sebanyak 100.000 cloka. Isinya bermacam-macam sekali disisipkan dalam cerita pokoknya. Ke 18 parwan itu adalah:

  1. Adi Parwan
  2. Sabha Parwan
  3. Wana Parwan
  4. Wirata Parwan
  5. Udyoga Parwan
  6. Bhisma Parwan
  7. Drona parwan
  8. Karna Parwan
  9. Calya Parwan
  10. Sauptika Parwan
  11. Stri Parwan
  12. Canti parwan
  13. Anucasana Parwan
  14. Acwamedika Parwan
  15. Acramawasika Parwan
  16. Mausala Parwan
  17. Mahaprastanika Parwan
  18. Swargarohana Parwan

Seni pertunjukan pada masa Mataram Kuna

Dalam kehidupan sehari-hari rakyat tidak terlepas akan kebutuhan akan hiburan. Prasasti-prasasti dan relief candi-candi terutama candi Borobudur dan Prambanan, banyak memberi data tentang bermacam-macam seni pertunjukan. Pertama-tama dijumpai keterangan mengenai pertunjukan wayang dalam prasasti Wukajana dari masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung. Dikatakan dalam prasasti bahwa pada penempatan desa-desa di Wukajana, Tumpang, dan Wuru Telu menjadi sima bagi sebuah biara di Dalinan telah diadakan  beberapamacam pertunjukan, antara lain wayang dengan dalangnya Si Galigi  yang memainkan lakon Bhima Kumara. Cerita ini di ambil dari Wirataparwa. Dalam waktu itu juga dan dalam lakon yang sama dinyanyikan oleh seorang penari  yang memerankan Kicaka.

Dalam hal di atas mungkin diperoleh keterangan mengenai dua wayang yaitu wayang kulit dengan dalang Si Galigi dan wayang orang dengan petilan cerita Kicaka. Yang sedang mabuk asmaradengan Drupadi.

Selain wayang kulit dan wayang orang, ada lagi pertunjukan lawak (mamirus dan mabanol). Seni lawakan ini hampir di jumpai pada prasasti yang menyebut upacara sima secara terperinci. Dalam relief candi juga banyak yang menggambarkan mabanol (lawak). Mungkin prototipe tokoh-tokoh punakawan pada relief candi.

Tarian-tarian juga sering dipertunjukan dalam penetapan tanah sima. Tarian-tarian yang di tarikan oleh laki-laki perempuan, orang tua, pemuda-pemudi.ada juga tarian khusus seperti tuwung, bungkuk, ganding, dan rawanahasta. Akan tetapi tarian tersebut belum dapat diketahui jenis tariannya. Ada juga tarian topeng (matapukan). Pada relief candi Roro Jonggrang terdapat sejumlah penari yang berjalan berurut, sedangkan masing-masing membawa dan memukul gendang.  Tari semacam ini mengingatkan pada reog Sunda sekarang.(Soekmono, 1973:122)

Mengenai gamelan itu menarik perhatian, pada prasasti dan relief candi menampilkan alat musik jenis gamelan yang terbatas seperti, gendang (padahi), kecer atau simbal (regang), semacam gambang, saron, kenong, beberapa jenis kecapi(wina), seruling dan gong. Tangga nada yang digunakan pada waktu itu kemungkinan yang kita kenal sekarang yaitu (slendro) dalam bahasa Jawa.

Berbagai macam tontonan itu tentunya tidak hanya dipertunjukkan dalam waktu upacara penetapan tanah sima. Ada dalang, penabuh gamelan, penari dan pelawak profesional yang memperoleh sumber penghasilan dari profesinya itu.

Daftar Rujukan

Poesponegoro, Marwati Djoened. Notosusanto. Nugroho. 2010. Sejarah Nasional Indonesia (jilid II). Jakarta: Balai Pustaka.

Koentjuaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Soekmono. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indoneias. Yogyakarta: Kanisius