Kelas Sosial Jawa

Semua orang tentunya tidak asing dengan penggolongan kelas sosial seperti satria, brahmana, waisya dan sudra. Hal ini seakan menjadi sebuah kerangka dasar dalam bermasyarakat dan inter-relasi yang mempengaruhi bagaimana tata cara berbicara, berperilaku bahkan berpandangan terhadap orang-orang yang menyandang atau berasal dari kelas tertentu ke kelas yang lain.

Di sisi lain, benar adanya bahwa kehidupan dalam bermasyarakat tidak dapat dipisahkan dari jenjang status kehidupan yang bertingkat-tingkat. Status tersebut diakibatkan oleh banyak faktor seperti karena keturunan, pendidikan, ekonomi dan spiritual.

Meskipun realitanya manusia memang diciptakan untuk berbeda-beda, tetapi manusia kadang terdikotomi dengan status tersebut sehingga mengganggu keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Satu bentuk variasi kehidupan dari hasil perbedaan adalah fenomena stratifikasi (tingkatan-tingkatan) sosial yang terjadi melalui proses suatu bentuk kehidupan baik berupa gagasan, nilai, norma, aktifitas sosial, maupun benda-benda.

Karena itu, fenomena dari stratifikasi sosial akan selalu ada dalam kehidupan manusia, sesederhana apapun kehidupan, berbeda satu sama lain, tergantung bagaimana cara kita menempatkannya.

Konsep

Stratifikasi sosial merupakan suatu konsep dalam sosiologi yang melihat bagaimana anggota masyarakat dibedakan berdasarkan status yang dimilikinya. Status yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat terbagi menjadi:

  • yang didapat tanpa suatu usaha (ascribed status)
  • yang didapat dengan suatu usaha (achievement status)
  • yang diberikan kepada seseorang karena jasanya bagi masyarakat (Assigned status)

Stratifikasi berasal dari kata stratum yang berarti strata atau lapisan dalam bentuk jamak.

Teori Stratifikasi Sosial

Sosiolog mempelajari stratifikasi sosial yang terfokus pada hubungan antara kategori sosial orang yang menempati dan peluang hidup mereka, termasuk kesempatan untuk tetap hidup melewati tahun pertama kehidupan, kesempatan untuk tinggal di luar usia 75 tahun, dan kesempatan untuk mengalami peristiwa yang mungkin sekali dengan jumlah tak terbatas di antara titik-titik tersebut. Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Media Utama, 1999), h. 227.

Seseorang sosiolog terkemuka yaitu Pitirim A. Sorokin (1957) mengatakan bahwa sistem lapisan sosial merupakan ciri tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur. Hal ini berarti sistem lapisan akan selalu ada pada masyarakat yang ada di suatu wilayah kemudian bersosialisasi. Perbedaan kedudukan manusia dalam masyarakatnya secara langsung menunjuk pada perbedaan pembagian hak-hak dan kewajiban-kewajiban, tanggung jawab nilai-nilai sosial, dan perbedaan pengaruh di antara anggota-anggota masyarakat.

Kompleksitas Strata

Secara sederhana, tatananan strata sosial terdiri atas tiga unsur ukuran. Dapat kita ambil contoh dari sisi ekonomi, yaitu mereka yang super kaya, yang melarat, dan yang berada di antara keduanya.

Sedangkan pada masyarakat yang relatif kompleks dan maju tingkat kehidupannya, maka semakin kompleks pula sistem lapisan-lapisan dalam masyarakat itu, keadaan ini mudah untuk dimengerti karena jumlah manusia yang semakin banyak, maka kedudukan (pembagian tugas kerja), hak-hak, kewajiban, serta tanggung jawab sosial menjadi semakin kompleks pula. (Aristoteles)

Social Mobility

Sebuah perubahan posisi antara tingkat sosial. Pekerja pabrik yang menjadi pengusaha kaya mengalami mobilitas vertikal yang signifikan, bergerak ke atas melalui jajaran hierarki sosial. Meskipun ia mulai sebagai bagian dari kelas pekerja, ia berakhir sebagai bagian dari kelas atas. Pada kenyataannya, jarang seseorang melompat sejauh itu ke tangga sosial.

Perubahan posisi pada tingkat sosial yang sama. Hal ini hampir selalu merupakan hasil dari perubahan pekerjaan dalam kelas sosial yang sama. Meskipun mereka telah berubah pekerjaan, mereka tetap pada tingkat yang sama dalam hirarki sosial.

Bagaimana dengan Jawa?

Koentjaraningrat (1963) telah menggambarkan stratifikasi Jawa dengan mencoba menganalisa dan membuat perbedaan yang jelas antara pembagian-pembagian masyarakat Jawa yang horisontal dan vertikal. Menurutnya orang jawa sendiri membedakan empat tingkat sosial sebagai stratifikasi status, yaitu :

  1. dhara (bangsawan),
  2. priyayi (birokrat),
  3. wong dagang atau saudagar (pedagang), dan
  4. wong cilik (orang kecil, rakyat kecil).

Trikotomi Clifford Geertz

  • Abangan, diterapkan pada kebudayaan orang desa, yaitu para petani yang kurang terpengaruh oleh pihak luar dibandingkan dengan golongan-golongan lain di antara penduduk.
  • Santri, diterapkan pada kebudayaan muslimin yang memegang peraturan dengan keras dan biasanya tinggal bersama di kota dalam perkampungan dekat sebuah masjid yang terdiri dari para pedagang di daerah-daerah yang lebih bersifat kota.
  • Priyayi, diterapkannya pada kebudayaan kelas-kelas tertinggi yang pada umumnya merupakan golongan bangsawan berpangkat tinggi atau rendah.

Agama dan Budaya

Pada masyarakat Jawa, aliran ideologi berbasis pada keyakinan keagamaan.

  • Abangan adalah mewakili tipe masyarakat pertanian perdesaan dengan segala atribut keyakinan ritual dan interaksi-interaksi tradisional yang dibangun diatas pola bagi tindakannya. Salah satu yang mengedepan dari konsepsi Geertz adalah pandangannya tentang dinamika hubungan antara Islam dan masyarakat Jawa yang sinkretik.
  • Sinkretisitas tersebut nampak dalam pola dari tindakan orang Jawa yang cenderung tidak hanya percaya terhadap, hal-hal gaib dengan seperangkat ritual-ritualnya, akan tetapi juga pandangannya bahwa alam diatur sesuai dengan hukum-hukumnya dengan manusia selalu terlibat di dalamnya. Penggunaan numerologi yang khas Jawa itu menyebabkan adanya asumsi bahwa orang jawa tidak dengan segenap fisik dan batinnya ketika memeluk Islam sebagai agamanya. Di sinilah awal mula “perselingkuhan” antara dua keyakinan: Islam dan budaya Jawa.

Kritik Trikotomi

Pembagian tersebut kurang tepat, karena klasifikasi abangan dan santri selalu dikaitkan dengan perilaku keagamaan masyarakat. Seorang santri lebih taat kepada agama dibandingkan  dengan seorang abangan, sedangkan ukuran ketaatan itu tergantung kepada nilai-nilai pribadi orang-orang yang menggunakan istilah-istilah itu.

Demikian juga istilah priyayi tidak bisa dianggap sebagai kategori dari klasifikasi yang sama, karena ada orang-orang priyayi yang taat kepada agama, dan karenanya ia disebut santri, dan ada orang-orang priyayi yang tidak taat atau tidak seberapa memperhatikan soal-soal agama, dan karenanya ia disebut abangan.

Istilah priyayi biasanya diperuntukan kepada orang-orang yang memiliki status sosial tertentu yang berbeda dari rakyat biasa yang disebut wong cilik, wong widah atau kaum mayoritas, dan wong tani.

Priyayi sendiri berasal dari kata Para-Yayi yang berarti para adik, dalam hal ini adik-adik dari raja yang berkuasa atau pernah berkuasa beserta keturunannya. (Harsja W. Bachtiar)

Sistem Masyarakat pada Masa kerajaan Mataram (Islam)

Konsep kekuasaan di kerajaan Mataram, adalah ajaran ke-agungbinatara-an. Bahwa raja Mataram adalah pembuat undang-undang, pelaksana undang-undang dan sekaligus menjadi hakim. Kekuasaan raja Mataram begitu besar (Hangabehi), dihadapan rakyat raja adalah sebagai pemilik harta maupun manusia, sehingga dikatakan sebagai wenang wisesa ing sanagari (memiliki kewanangan tertinggi di sekuruh negeri).

Raja Mataram (Islam) yang pertama, adalah Panembahan Senopati, dengan gelar: Kalifatullah, abdul rachman, senopati ing alaga, sayidin patagama. Masyarakat diatur berdarakan cara pandang agraris, yang kemudian melahirkan masyaraka feodal. Masyarakat disusun atas penguasaan tanah yang terpusat pada raja. Untuk mendukung kekuasaannya raja membagikan tanah kepada pembantunya dengan memberikan lungguh (bengkok) yang luasnya diukur berdasarkan tinggi rendahnya kedudukan dan hitungan karya atau cacah. Dengan sarana tanah inilah masyarakat dibentuk menjadi masyaratkat agraris dan feodal. Pelapisan sosial masyarakat pada masa kerajaan Mataram kurang lebih terdiri atas tiga (3) lapisan, yakni:

  1. Golongan atas, yakni raja beserta keluarganya
  2. Golongan menengah, yakni ulama kraton dan para abdi dalem kraton termasuk para pegawai kraton yang ditempatkan di wilayah sekitar kerajaan atau yang ditempatkan di wilayah kekusaan raja, tetapi tempatnya jauh dari kerajaan, misal sebagai adipati di daerh tertentu.
  3. Golongan rakyat jelata sebagai kawula alit yang umumnya berprofesi sebagai buruh/buruh tani (pengolah tanah dan petani.

Pada waktu Belanda datang ke wilayah Indonesia (nusantara), struktur masyarakat Indonesia pada umumnya dan Jawa pada khususnya bercorak/bersifat: hierarkis, patronage dan feodal ini tetap dipertahankan. Hanya bedanya golongan/lapisan atas bukan lagi kasta teringgi (brahmana) atau raja, tetapi digantikan oleh pemerintahan Hindia Belanda, yang tercermin dalam prilaku orang-orang Belanda, bahkan lebih feodal dari sebelumnya.

Masa Kolonial

Istilah Inlanders selanjutnya dimasukkan ke dalam undang-undang Hindia Belanda, yakni Regerings Reglement (RR) tahun 1854, pemerintahan kolonial membagi pendududuk Hindia Belanda menjadi tiga (3) golongan, yakni:

  1. Europeanen (Golongan orang-orang Eropa),
  2. Vreemde Oosterlingen (Golongan Timur Jauh, yakni: Arab, India, Tionghoa, kecuali Jepang)
  3. Inlanders (Golongan Penduduk Asli).

Menurut Mr. Schrieke pembagian ini berdasarkan perbedaan nationalieit bukan berdasarakan ras criterium.

Perjalanan Kewarganegaraan Indonesia

Kemudian tahun 1892 kolonial Belanda mengeluarkan undang-undang Wet de Nederlanderschap, yang isinya bahwa mereka yang berada di wilayah Nederland Indie (Indonesia) termasuk Inladers dan yang disamakan dengan Inlanders tidak akan diberi status Nederlander. Sedangkan keturunan Tionghoa, Arab dan India yang dilahirkan di Suriname dengan undang-undang tersebut akan memeperoleh status Nederlander.

Pemerintahan Belanda tetap memberlakukan sistem pemisahan penduduk berdasarkan kategori rasial saat Indische Staatsinricting (IS) menggantikan Regerings Reglement (RR), yakniUndang-Undang DasarPemerintahan Jajahan Belanda (Djamali. 2005, p. 21). Di dalam Pasal 163 IS mengkategorikan penduduk menjadi: golongan Nederlanders/Eropeanen(termasuk Jepang), Uitheemsen (Vreemde Oosterlingen/Timur Asing (Arab dan Tionghoa) serta Inheemsen (pengganti istilah Inlander). Indische Staatregeling (IS) tahun 1927 membagi penduduk Hindia belanda menjadi tiga (3) golongan, yakni:

  1. Golongan Eropa (Nederlanders/Europeanen, terdiri atas:
    1. Bangsa Belanda
    2. Bukan bangsa belanda tetapi dari Eropa
    3. Orang bangsa lain yang hukum keluarganya sama dengan golongan Eropa.
  2. Golongan Timur Asing (Uitheemsen/Vreemde Oosterlingen), terdiri atas:
    1. Golongan Tionghoa
    2. Gongan Timur Asing bukan China
  3. Golongan Bumiputra/Pribumi (Inheemsen pengganti istilah Inlander), terbagi atas:
    1. Orang Indonesia Asli dan keturunannya
    2. Orang lain yang menyesuaikan diri dengan yang pertama.

Bagaimana sih seharusnya?

Di tatanan masyarakat klasik, terdapat istilah yang disebut sebagai warna. Sering dipahami bahwa pemahaman Warna dicampur adukkan dengan pemahaman kasta. Yang akhirnya diartikan di masyarakat sebagai tingkatan-tingkatan kelas secara vertikal dengan batas dan aturan yang kaku.

Merujuk pada asal ajaran mengenai warna pada Kakawin Bhagawadgita 4:13:

“Caturvarnanyam maya srstam, Gunakarma vibhagasah, Tasya kartaram api mam, Viddy akartaram avyayam” ~

Bhagawadgita 4:13

Catur warna Aku diciptakan, menurut pembagian dari guna dan karma (sifat dan pekerjaan). Meskipun Aku sebagai penciptanya, ketahuilah Aku mengatasi gerak dan perbuatan.

Jenis Warna

Brahmana Warna adalah individu atau golongan masyarakat yang berkecimpung dalam bidang kerohanian. Keberadaan golongan tidak berdasarkan atas keturunan, melainkan karena ia mendapatkan kepercayaan dan memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas. Seseorang disebut brahmana karena ia memiliki kelebihan dalam bidang kerohanian.

Ksatrya Warna ialah individu atau golongan masyarakat yang memiliki keahlian dalam memimpin bangsa dan Negara. Keberadaan golongan ini tidak berdasarkan atas keturunan, melainkan karena menjalankan tugas. Seseorang disebut Ksatriya karena ia memiliki kelebihan dalam bidang kepemimpinan.

Waisya Warna ialah individu atau golongan masyarakat yang memiliki keahlian di bidang pertanian dan perdagangan. Keberadaan golongan ini tidak berdasarkan keturunan, melainkan karena ia mendapatkan kepercayaan dan memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas-tugas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seseorang disebut waisya karena ia memiliki kelebihan dalam bidang pertanian dan perdagangan.

Sudra warna ialah individu atau golongan masyarakat yang memiliki keahlian di bidang pelayanan atau membantu. Keberadaan golongan ini tidak berdasarkan atas keturunan, melainkan karena ia memiliki kemampuan tenaga yang kuat dan mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan tugas-tugasnya untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Seseorang disebut sudra karena ia memiliki kelebihan dalam bidang pelayanan.

Warna & Wangsa

Manu Smerti I:157 dan X:65 menyebutkan:

“Yatha kastamayo hasti, Yatha carmamayo mrigah, Yasca wipro nadiyanas, Trayaste nama dharakah”

Bhagawadgita 4:13

Bagaikan gajah terbuat dari kayu, Bagaikan rusa terbuat dari kulit, Demikianlah seorang brahmana yang tidak terpelajar, Ketiga-tiganya hanya membawa nama saja.

“Sudro brahmanatam eti, Brahmana caiwa sudratam, Ksatriya jatam ewantu, Widyad waisyat tatha i waca”

Seorang sudra menjadi Brahmana, Brahmana menjadi sudra, ketahuilah Bahwa sama halnya dengan keturunan ksatriya, waisya maupun sudra

Candala

Karena status seseorang tidak didapat semenjak lahir, maka statusnya dapat diubah. Hal tersebut terjadi jika seseorang tidak dapat melaksanakan kewajiban sebagaimana status yang disandangnya. Seseorang yang lahir dalam keluarga Brāhmana dapat menjadi seorang Sudra jika orang tersebut tidak memiliki wawasan rohani yang luas, dan juga tidak layak sebagai seorang pendeta. Begitu pula seseorang yang lahir dalam golongan Sudra dapat menjadi seorang Brāhmana karena memiliki pengetahuan luas di bidang kerohanian dan layak untuk menjadi seorang pendeta.

Jenis orang yang tidak layak untuk masuk ke dalam salah satu warna disebut sebaga Candala.

Warna Kelima (Mulyana, 2006)

Candala, adalah anak dari hasil campuran antara laki-laki (kasta sudra) dengan wanita (kasta yang ada di atasnya)

Mleccha, adalah semua bangsa di luar Arya tanpa memandang bahasa dan warna kulit, yakni para pedagang asing (China, India, Champa, Siam dan lain-lain), yang tak menganut agama Hindu.

Tuccha, adalah golongan yang merugikan masyarakat, salah satu contohnya adalah penjahat. Ketika mereka melakukan tatayi (membakar rumah, meracuni sesama, mananung, merusak, mengamuk dan mefitnah kehormatan perempuan).

Kewajiban menurut Sarasmuscaya

Uraian kewajiban warna pada Sarascamuscaya sloka 63:

Arjavam canrcamsyam ca damaccen driyanigrahah, esasadharano dharmascatur puarnyebravinmanuh. Nyang ulah pasadharanan sang catur varna, arjawa, si duga-duga bener, anrsansya, tan nrsansya, nrcansya ngaraning atmasukapara, tan arimbawa rilaraning len, yawat mamuhara sukha ryawaknya, indriyanigraha, humrta indriya, nahan tang prawtti pat, pasadharanan sang catur varna, ling bhatara manu.

Sarascamuscaya

Inilah perilaku keempat golongan yang patut dilaksanakan,

  • arjawa, jujur, dan terus terang.
  • Anrcangsya, artinya tidak nrcangsya. Nrcangsya maksudnya mementingka diri sendiri tidak menghiraukan kesusahan orang lain, hanya mementingkan segala yang menimbulkan kesenangan bagi dirinya. Itulah disebut nrcangsya, tingkah laku yang tidak demikian anrcangsya,
  • doma artinya dapat menasehati diri sendiri,
  • indriyanigraha mengekang hawa nafsu,

keempat prilaku itulah yang harus dibiasakan oleh sang Catur Warna, demikian sabda Bhatara manu.

Kewajiban menurut Serat Mahabharata

Dalam kitab Mahabarata, Rsi Bhisma telah member penjelasan tentang sifat-sifat umum yang harus diikuti oleh setiap warna: •

  • Akredha, atau tidak pernah marah
  • Satyam, atau berbicara benar dan jujur
  • Sambibhaga, atau adil dan jujur
  • Memperoleh anak dari hasil perkawinan
  • Berbudi bahasa yang baik
  • Menghindari semua macam pertengkaran
  • Srjawam, atau berpendirian teguh
  • Membantu semua orang yang tergantung atas dirinya seorang.

Kontrak antar Warna

Keempat golongan tersebut (Brahmana, Ksatriya, Waisya, Sudra) saling membantu dan saling memenuhi jika mereka mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik.

Dalam sistem Catur Warna, ketentuan mengenai hak tidak diuraikan karena hak diperoleh secara otomatis.

Hak tidak akan dapat diperoleh apabila keempat golongan tidak dapat bekerja sama. Keempat golongan sangat dianjurkan untuk saling membantu agar mereka dapat memperoleh hak.

Dalam sistem Catur Warna terjadi suatu siklus “memberi dan diberi” jika keempat golongan saling memenuhi kewajibannya.

Secara sederhana gambaran dari siklus kewajiban adalah sebagai berikut:

  • Brahmana bertugas dan berkewajiban untuk memberikan pengajaran dan pendidikan kepada semua orang. Sebagai gantinya, brahmana mendapatkan jaminan keamanan dari Kstrya. Dalam proses pengajaran dan pendidikan yang dilakukan, brahmana akan dibantu oleh sudra untuk mempersiapkan memperlancar proses ini. Sedangkan semua beban operasional yang muncul dari kegiatan ini, akan ditanggung oleh Waisya.
  • Sudra yang berkewajiban untuk mendukung dan memastikan semua peralatan, perlengkapan dan proses berjalan dengan lancar. Akan mendapatkan jaminan keamanan dari warna Kstyra. Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan pendidikan hingga sipiritual juga akan dibina oleh kaum brahmana. Sebagaimana juga mengenai biaya-biaya yang timbul dari karya yang dihasilkan untuk mendukung semua proses kemasyarakatan itu akan dipasok oleh kaum Waisya.

Demikianlah contoh sistem kontrak sosial ideal yang berlaku dalam sebuah sistem kemasyarakatan. Semua berlangsung berdasarkan kewajiban yang seimbang dan setara.

Gambaran Strata Saat Ini

Bagaimana dengan saat ini?