Eksistensi Kulub Dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

Kulub merupakan salah satu makanan masa Jawa Kuna yang terus mengalami dinamika dari masa ke masa. Makanan ini berasal dari bermacam sayuran yang direbus bersama hingga matang. Bahan bakunya berasal dari tumbuh-tumbuhan lokal yang sering ditemui seperti daun papaya, singkong, ubi, dsb. Meskipun nampak sederhana namun kulub memiliki nilai filosofis tersembunyi yang patut untuk dijadikan pegangan hidup manusia.

Kata Kunci: kulub, sayur rebus, nilai filosofi.

Pendahuluan

Kehidupan manusia tak dapat dipisahkan dari keberadaan makanan. Oleh
karenanaya, dapat dikatakan pula bahwa makanan merupakan salah satu penanda peradaban manusia di bumi ini. Makanan dan manusia ibarat kepingan uang logam yang tak dapat dipisahkan sisi satu dengan lainnya, tak ada manusia tak kan ada makanan demikian pula sebaliknya, sehingga makanan menjadi hal utama yang harus diperjuangkan manusia sebagai sarana penyambung hidup. Lewat makanan pula, kelak manusia akan menjadi makhluk yang tamak dan rakus sehingga mengubah image makanan sebagai sarana hidup menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan
mati-matian di dalam hidup.

Pada awalnya, manusia merupakan makhluk pengumpul makanan. Makanan diperoleh dari alam baik dengan cara berburu maupun mengumpulkan buah dan umbi-umbian. Lambat laun, kehidupan manusia semakin berubah dari yang awalnya nomaden menjadi bermukim dikarenakan sumber daya alam yang kian menipis dan terbatas. Pada tahapan ini, manusia mulai melakukan budidaya tanaman dan penjinakkan hewan liar sebagai sarana pemenuhan kehidupan mereka.

Tahapan ini merupakan awal dari revolusi kehidupan manusia, beternak dan bercocok tanam membuat manusia terikat oleh tempat dan waktu sehingga sendi-sendi kehidupan(termasuk IPTEK) berkembang cukup pesat.
Seiring berkembangnya tingkat kebudayaan manusia yang lebih tinggi, cara manusia mengekspresikan kemampuan pribadinya juga semakin tinggi, termasuk cara manusia mengolah makanan juga semakin bervariasi.

Makanan tidak melulu dimakan mentah, namun seiring dengan bertambahnya rasa penasaran manusia, makanan mulai diolah dengan cara dibakar, dipanggang, direbus, diasap, dsb. Maka dapat pula
dikatakan bahwa semakin maju tingkat peradaban manusia, semakin bervariasi pula cara mereka mengolah makanan.

Ketika manusia telah melakukan revolusi besar dalam hal makanan, maka
timbul masalah baru. Makanan yang dibiarkan dalam waktu tertentu akan berubah bentuk maupun rasanya, sehingga kejadian ini juga menginspirasi manusia untuk melakukan inovasi dalam mengawetkan makanan. Inovasi ini tentunya lahir karena adanya desakan kebutuhan hidup yang tak dapat dihindari lagi, sehingga lahirlah beragam inovasi terkait makanan yang tak pelak akan menjadi warisan luar biasa bagi manusia yang hidup di masa modern ini.

Tak terkecuali dengan masyarakat yang hidup di Pulau Jawa. Kondisi geografis yang mendukung tumbuhnya beragam jenis olahan nabati seakan menjadi berkah dan nikmat tersendiri bagi masyarakat Jawa. Warisan peradaban beserta segala jenis makanannya terabadikan dengan apik dari masa ke masa. Dari beragam sumber sejarah yang sampai pada saat ini, makanan merupakan salah satu hal utama dalam kehidupan manusia Jawa yang tak hanya berfungsi sebagai penyambung hidup, namun lebih dari itu makanan juga merupakan simbolisme terkait dengan kehidupan religi manusia Jawa.

Namun sayang, di tengah gempuran arus modernisasi dewasa ini, beragam
kuliner lokal yang menjadi warisan leluhur Jawa terdahulu semakin tersisih keberadaannya. Hilangnya kesaadaran dan kemampuan filterisasi pada bangsa ini seakan menjadi titik balik peradaban yang telah dibangun leluhur kita ribuan tahun lalu. Beragam makanan sederhana yang menjadi ikon dan primadona dari masa ke masa kini terpaksa harus mengalah dengan makanan pendatang yang dikemas dalam tabung-tabung alumunium yang tentu kualitas dan pengaruhnya terhadap kesehatan
tubuh perlu kita tanyakan ulang. Tetapi, meskipun diterjang dan dihempas berbagai makanan dari luar, makanan tradisional Jawa tetap mendapat tempat di hati para penikmat setianya. Salah satu makanan yang menjadi primadona dan dasar dari berbagai olahan vegetarian adalah kuluban.

Kulub merupakan hasil dari olahan sayur mayur yang cukup sederhana.
Berbagai jenis sayuran yang telah dipetik kemudian dicuci dan dipotong lalu direbus. Meskipun nampak sederhana, namun kulub telah memiliki akar sejarah yang panjang. Sejak masa Jawa Kuna, kulub merupakan hidangan wajib yang disandingkan dalam upacara penetapan sima. Hidangan ini lambat laun juga mengalami transformasi dan modifikasi seiring berkembangnya masyarakat Jawa sebagai pengusungnya.

Meskipun hampir semua bangsa di dunia mengenal olahan sayur rebus semacam ini, namun tentunya sentuhan budaya Jawa yang khas membuatnya berbeda terutama dari setiap masa yang memiliki jiwa zaman dan cita rasa tersendiri.

Kulub Pada Masa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan

Kondisi bentang alam suatu wilayah sangat menentukan arah peradaban dan hasil kebudayaan masyarakat sebagai pengusungnya. Kondisi geografis Pulau Jawa yang kompleks mulai dari wilayah pantai di dataran rendah hingga jajaran pegunungan di dataran tinggi, tak ayal menjadi salah satu faktor penyebab lahirnya beribu budaya yang memiliki ciri khas tersendiri. Jika menilik wilayah di Jawa Timur saja, tak kurang 6 sub budaya Jawa telah tumbuh dan berkembang saling berdampingan antara satu dengan lainnya. Kebudayaan yang tumbuh dan berkembang saat ini, tentu memiliki korelasi yang tak dapat kita pisahkan dari kebudayaan yang diusung leluhur kita di masa lalu.

Beragam sumber data seperti prasasti dan naskah-naskah yang sampai pada kita, merupakan warisan terbesar leluhur bangsa ini kepada generasi penerusnya.

Lewatnya, kita bisa bercermin tentang beragam aspek kehidupan di masa lalu, termasuk berbagai olahan makanan yang menjadi primadona mapa masa itu. Banyak hidangan yang terabadikan dalam tiap-tiap baris pahatan prasasti, salah satu yang menjadi fokus kajian penulis adalah hidangan kulub yang hingga kini masih lestari adanya.

Seperti dijelaskan pada bagian sebelumnya, kulub/kukuluban adalah hidangan sederhana yang diolah dari beragam jenis sayuran yang direbus hingga matang (Wojowasito, 1977: 145). Namun, jika dilacak dari berbagai sumber prasasti, kulub memiliki posisi tersendiri. Kulub hadir sebagai hidangan yang mampu menembus berbagai strata sosial, mulai dari rakyat kecil hingga pejabat tinggi kerajaan tak segan untuk menikmatinya. Sehingga, tak mengherankan pula jika kulub merupakan salah satu makanan yang wajib ada dalam tiap jamuan makan, terutama dalam jamuan upacara terkait dengan penetapan wilayah sima. Bahkan kulub juga menjadi bagian dari sesaji yang dipersembahkan kepada para Dewa.
Di dalam Prasasti Panggumulan 824 S/902 M disebutkan bahwa ;

“… ning tinadah skul matiman matumpuk asin-asindaing kakap, daing kadiwas, rumahan.

layar-layar hurang hala-hala hantiga samangkana pinanakagangan
hadangan prana 2 wdus 1 dinadyakan klakla samenaka amwilamwil kasyan kwelanpiningka ginanganan.

hana rumwarumah, kuluban, dudutan, tetis. Mangkanang madya ininung hanatwak siddhu hana jati rasa. Duh ni nyung …”

Prasasti Panggumulan

Dapat diartikan:

“… jenis-jenis makanan yang dihidangkan ialah nasi matiman (nasi tim)
dengan bermacam-macam ikan asin (seperti) kakap, kadiwas, rumahan,
layar-layar, udang, hala-hala, dan telur.

adapun yang dijadikan sayur disediaakan dua ekor lembu dan seekor
kambing(yang) dijadikan masakan sama enaknya dengan amwil-amwil (?), kesyan (?), piningka (?), dan sayurnya ialah

rumwahrumwah, kuluban, dudutan (?), tetis. Adapun minuman keres yang diminum ada tuak .. siddhu ada jatirasa, dan air kelapa…”

(Nastiti dalam Haryono, 1997: 4-5)

Penggalan kalimat dalam prasasti Panggumulan diatas merupakan bagian
yang menyebutkan secara spesifik aneka macam hidangan yang disuguhkan dalam acara penganugerahan tanah sima. Dapat kita ketahui pula bahwa berbagai macam makanan yang kita temui saat ini seperti ikan asin, kuluban dan olahan udang ternyata telah populer dan menjadi makanan kegemaran sejak zaman Jawa Kuna. Banyak pula prasasti yang menyebut kuluban sebagai hidangan utama yang digemari masyarakat
seperti pada prasasti Rukam (829 S/907 M), dan prasasti Watu Kura I bertarikh 824 S/902 M. Namun sayang, dari berbagai sumber data prasasti tersebut kita belum mampu menjawab pertanyaan spesifik tentang jenis sayur yang digunakan dalam olahan kulub tersebut. Kemungkinan besar, sayur yang digunakan dalam olahan tersebut merupakan hasil bumi yang diolah dari kekayaan daerah sekitar, bisa jadi seperti daun singkong, daun ubi, dan berbagai jenis tanaman tropis lainnya.

Lebih lanjut, karya sastra pada masa tengahan menawarkan intepretasi
serta pemanfaatan berkelanjutan yang berbeda dari olahan sayur rebus/kulub dari masa Jawa Kuna. Masyarakat mulai melakukan inovasi dan kreasi akan olahan kulub yang pada masa Jawa Kuna mungkin pemanfaatannya hanya sebatas sebagai sayuran rebus pendamping makanan utama. Namun karya sastra pada masa Tengahan, menawarkan intepretasi yang berbeda dari penyajian kulub. Hal ini tergambarkan dan terabadikan dalam penggalan Kidung Sri Tanjung, bagian 1:34 ;

“jangan kulub sinambelan jahe, pindang dimpa lawan jangan kulub”

Kidung Sri Tanjung, bagian 1:34 ;

Yang diartikan, “Sayuran kuluban diberi sambel jahe, pindang dimpa serta sayuran kuluban” (Haryono, 1997: 11).

Dari penggalan singkat Gancaran Sri Tanjung di atas, jelas tergambarkan
bahwa setidak-tidaknya pada masa Jawa Tengahan (Abad XV-XVII), masyarakat Jawa telah mengenal dan akrab dengan olahan sambal. Hal ini tercipta seiring dengan berkembangnya zaman, yang mana masyarakat mencoba untuk berinovasi agar rasa kulub tak selalu hambar. Oleh karenanya, olahan kulub pada masa ini sudah semakin berkembang dengan adanya inovasi semisal sambal. Rupa-rupanya, pada masa ini pula kulub seakan “naik tingkat” menjadi hidangan utama. Hal ini semakin diperkuat oleh penggalan kalimat diatas yang menyebutkan bahwa (ikan) pindang dimasak bersama kulub sehingga menjadi suatu olahan sayur (jw : jangan).

Kulub Pada Masa Jawa Baru

Beragam olahan penganan Jawa yang lahir dari masa-masa sebelumnya tidak serta merta ditinggalkan oleh masyarakat Jawa. Kulub yang pada masa Jawa Kuna hanya sebagai pendamping makanan pokok, pada masa Jawa Tengahan kemudian diolah lagi sehingga munculah inovasi mengonsumsi kuluban menjadi sayur (jangan) bersama pula dengan lahirnya inovasi sambal sebagai “teman” menyantap kuluban ataupun lalap.

Pada masa Jawa Baru (merujuk pada periodesasi sastra), olahan yang berasal dari bahan dasar sayur rebus (kulub) menjadi kian beragam. Bukan berarti bahwa pada masa Kuna ataupun Madya dahulu olahan sayur hanya terdiri dari satu ragam saja, namun yang perlu kita perhatikan adalah ketersediaan sumber data yang sampai kepada kita. Kurangnya sumber beserta data yang rinci membuat kita hanya bisa menerka dan menebak tanpa bisa memastikan olahan sayur pada masa Jawa Kuna dan Madya dengan jelas.

Hal inilah yang nampaknya tidak terjadi pada masa Jawa Baru. Disamping pemilihan diksi sastra yang tidak terlalu jauh dari kita (masih dapat dimengerti), karya sastra pada masa Jawa Baru lebih mampu menyampaikan secara rinci, jelas dan lugas. Ditambah lagi dengan hadirnya karya besar pujangga keraton yang menggambarkan seluk beluk kehidupan manusia (mulai dari makanan hingga hubungan batiniah dengan Tuhan), kita akan semakin dimanjakan untuk menganalisis kehidupan masa lalu dikarenakan sumber data yang melimpah dan terjaga.

Di dalam Serat Centhini jilid 3 disebutkan pula beragam olahan makanan
yang umum dikonsumsi masyarakat pada masa itu. Kuluban pun juga tak luput dari perhatian para pujangga yang menyusunnya. Hidangan kulub nampaknya juga tetap eksis dalam masyarakat, terbukti pada penggalan pupuh tembang Dhandhanggula, pada 43-44 di bawah ini (Serat Centhini: Jilid III) ;

Pêcêl-kacang iso kêmbang-turi | dewa-daru lêmbayung thokolan |
ingkung jlegor rèn cangkringe | gudhang-têmu poh gêndruk | ronning kêncur tarantang ririh | boros gundha-wèwèhan | nyemok gudhang-êbung | pêncok-suru diyèng mudha | cabuk gêmbrot bêbothokira sêmayi | gadhonne kendho urang||

Bongko pelas garangasêm-pitik | asêm-asêm êntun kapri brambang |
sundêl-lemên sêkar-tungkèng | bêbubus ayung-ayung | gêcok sêtup tomis mawarni | kuluban ceme mudha | acar pondhoh timun | lombok jêmprit brambang bawang | lêlalaban kêkêcambah gudhe kêmangi | myang ulam warna-warna||

Serat Centhini: Jilid III/234:43-44

Penggalan tembang Dhandhanggula diatas jelas menyebutkan bermacam-
macam makanan yang disuguhkan oleh Pangeran Tembayat kepada Mas Cebolang bersama santri-santrinya setelah lewat waktu dhuhur sowan di rumah Pangeran Tembayat. Yang menarik perhatian disini adalah, beragam bahan masakan disebutkan secara gamblang seperti kuluban ceme/gambas/oyong, lalapan cambah/toge beserta gudhe (sejenis kacang-kacangan), kemangi, dsb. Pada penggalan tembang diatas dapat pula kita simpulkan bahwa setidaknya, pada masa penulisan Serat Centhini ini (± Abad 18 M) makanan pecel telah lahir dan berkembang di dalam masyarakat.

Bahkan disebutkan pula bahwa kuluban kacang, bunga turi, dan lembayung (daun kacang) telah umum digunakan sebagai bahan dasar pelengkap pecel. Hal ini juga menunjukkan bahwa pada masa Jawa Baru, penganan kuluban telah bertransformasi kembali dengan ditambahkannya saus/bumbu kacang sehingga lahirlah jenis makanan baru yang merupakan turunan kulub dari masa Jawa Kuna.

Selain beragam olahan yang berhasil terabadikan dalam karya sastra, kulub juga mengalami perkembangan tersendiri dalam masyarakat. Di dalam masyarakat, kulub dipadukan dengan kelapa parut yang disangrai bersama ulegan bumbu halus yang kita sebut sebagai urap-urap, urapan atau krawu (dalam istilah Malang-an). Di Bali, olahan kulub juga berkembang tak hanya sebagai media pemenuhan kebutuhan hidup, namun lebih dari itu urap-urap (Bali: lawar) juga diperlukan sebagai bagian dari persembahan dalam upacara di pura (Wiryadi, 2013:61).

Fungsi dan peran urap-urap sebagai sarana permohona kepada Tuhan ternyata juga ada di Jawa. Krawu atau urap-urap selalu hadir dalam setiap
wilujengan/selamatan masyarakat Jawa yang berhubungan dengan siklus hidup manusia. Kuluban yang diracik sedemikian rupa menjadi menu baru bernama krawu/urap-urap, sedangkan kuluban versi mentahnya (timun, lamtoro, kemangi, dsb.) jika diracik akan menjadi menu baru bernama trancam/terancam. Wajib hadirnya menu-menu tersebut dalam tiap slametan yang berkaitan dengan siklus hidup manusia bukan tanpa alasan.

Dalam tradisinya atau tindakan hidupnya, orang Jawa selalu berpegang pada dua hal. Yang pertama yaitu pada filsafat hidupnya yang religius dan mistis, dan kedua pada sikap hidupnya yang etis dan menjunjung tinggi moral/derajat hidupnya (Herusatoto, 1984:87), sehingga segala bentuk tingkah dan perilakunya selalu dilakukan dan dikaitkan dengan nilai-nilai Ketuhanan.

Penggunaan urap-urap dalam setiap selamatan juga bekaitan dengan simbol masyarakat Jawa dalam menghadapi kehidupan. Menu urap-urap yang berbahan dasar kulub bermakna urip, urup, dan urap. Urip sendiri bermakna hidup, dalam artian seseorang yang hidup di dunia harus sadar akan tanggung jawab yang dititipkan Tuhan lewat raga dan panca indra yang dimilikinya. Manusia harus mampu mengendalikan pribadinya sendiri, yang mana pada keyakinan orang Jawa semuanya nanti akan dikembalikan dan dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Urup
bermakna menghidupi. Seseorang yang telah diberi tanggungjawab oleh Tuhan, maka ia harus mampu menggunakan tanggung jawabnya untuk kemaslahatan semua makhluk. Hal ini senada dengan tugas manusia di bumi sebagai seorang khalifah, oleh karenanya urup merupakan simbolisme manusia Jawa untuk menggambarkan tanggung jawab seseorang kepada semua makhluk yang ada di bumi ini.

Yang terakhir yaitu urap, urap sendiri bermakna membaur. Seseorang yang
hidup di bumi ini tak cukup memiliki kesadaran/tanggung jawab terhadap dirinya sendiri ataupun tanggung jawab pada lingkungan sekitar. Tanggung jawab terhadap pergaulan juga perlu adanya. Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara manusia bersosialisasi dengan mereka yang memilki pandangan serta keyakinan yang berbeda dengan kita, jangan sampai kita menyinggung ataupun menyakiti perasaan mereka.

Sehingga, apabila tanggung jawab kepada pergaulan ini berhasil kita lakukan maka tidak akan ada lagi konflik yang mengatasnamakan SARA terjadi di bumi ini. Hal inilah yang coba disampaikan leluhur Jawa lewat hidangan sederhana berupa urap-urap. Ada juga versi di daerah lain yang menyebutkan bahwa kuluban yang akan digunakan sepagai urap harus terdiri dari tujuh jenis sayuran yang berbeda. Unsur tujuh (jw: pitu) dalam perspektif Jawa memiliki makna yang luar biasa. Tujuh/pitu bermakna pitulungan/pertolongan, yang mana manusia berharap agar selalu mendapat limpahan rahmat dan pertolongan Tuhan dimana dan kapanpun dia berada.

Penutup

Makanan yang seyogyanya hanya berfungsi sebagai pengisi kekosongan perut disaat kita merasa lapar, ternyata dibalik semua itu menyimpan satu nilai filosofis yang patut untuk kita jadikan sebagai panutan hidup. Meskipun hanya terdiri dari kumpulan sayur yang direbus, namun kulub telah memiliki akar historis yang panjang dan telah mengalami dinamika pada tiap masanya. Kulub merupakan simbolisme kekayaan bumi pertiwi kita yang mampu menghasilkan beragam tanaman layak konsumsi. Sudah sepatutnya pula bagi kita untuk terus melestarikan budaya yang ditinggalkan oleh leluhur pendahulu bangsa, terutama dalam hal makanan yang dapat kita ambil nilai filosofisnya sebagai pegangan hidup.

Daftar Rujukan

  • Haryono, Timbul.1997.Makanan Tradisional Dari Kajian Pustaka Jawa (dalam acara Sarasehan Makanan Tradisional dalam Pandangan Budaya dan Keamanannya).Yogyakarta: Pusat Kajian Makanan Tradisional UGM
  • Herusatoto, Budiono.1984.Simbolisme Dalam Budaya Jawa.Yogyakarta: PT.
    Hanindita SISKS Pakubuwana V.1985.Serat Centhini: Jilid III.online: YAYASAN CENTHINI, diakses Selasa, 25 Agustus 2015
  • Wiryadi, Ruslan.2013.Lawar, Makanan & Peradaban.dalam Majalah Kultur: Edisi 05 November 2013
  • Wojowasito, S..1977.Kamus Kawi-Indonesia.Yogyakarta: C.V. Pengarang