Drona: Sang Guru Visioner

Ekalaya atau yang disebut juga sebagai Bambang Palgunadi adalah seorang satria dari bangsa Nisadha. Bangsa ini terkenal sebagai bangsa pemburu yang ahli di hutan, serta menggunakan panah sebagai senjata utamanya. Karena itu, Ekalaya muda berniat memperdalam ilmu memanahnya dengan berguru kepada Resi Drona.

Tentunya bagi para penikmat cerita Wayang mengetahui bahwa pada akhirnya Ekalaya memotong ibu jarinya atas perintah Drona. Hal ini didasari atas permintaan Drona yang meminta tanda bakti (daksina) dari Ekalaya sebagai murid, berupa cincin Mustika Ampal yang terletak dan menyatu dengan ibu jari Ekalaya. Umumnya disepakati bahwa motifasi Drona melakukan ini karena rasa kasih dan sayangnya terhadap Arjuna, dan menggadang-gadang Arjuna sebagai Pemanah tanpa tanding dan tidak tersaingi oleh siapapun.

Benarkah Drona melakukan itu atas dasar rasa sayang yang berlebih kepada Arjuna? ataukah Drona sebagai guru telah kehilangan rasa adil terhadap murid-muridnya? Atau, sebenarnya Drona sebagai seorang resi yang juga keturunan brahmana-raja memiliki pertimbangan khusus, yang bilamana dijelaskanpun, tak mudah untuk dipahami civitas akademikanya pada saat itu.

Ekalaya Dari Nisadha

Umumnya, cerita Ekalaya memberikan pesan kepada kita mengenai ketaatan seorang murid dan dedikasinya dalam belajar. Tetapi kali ini, mari kita menggunakan prespektif Drona sebagai bahan refleksi. Mari kita sedikit mengulik tentang latar belakang dari Ekalaya.

Sebagaimana disebutkan di depan bahwa Ekalaya berasal dari bangsa Nisadha, yang terletak di selatan daerah Kuru dan berdekatan dengan wilayah Chedi. Nama kerajaan dari Ekalaya dalam dunia pewayangan sering disebut sebagai Kerajaan Paranggelung. Karena berbatasan langsung dengan kerajaan Chedi yang dipimpin oleh Sisupala, maka tidak aneh jika dalam percaturan politik saat itu antara Nisadha dan Cedhi juga membentuk sebuah aliansi hingga ke tataran militer.

Hal ini tertulis pula pada serat Srimad Bhagawatam bahwa setelah kematian Jarasandha, Ekalaya menuntut balas dengan mengepung Dwaraka dan berperang melawan bangsa Yadawa. Dimana, bangsa Yadawa adalah asal dari keluarga besar Mandura dan Dwarawati. Pada saat perang ini terjadi, pihak Pandawa (dari Bangsa Kuru) beraliansi dengan bangsa Yadawa.

War Campaign yang dilakukan oleh Ekalaya terhadap bangsa Yadawa sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Drona. Tetapi jika kita lebih mendalami lagi pada serat yang sama, disebutkan bahwa hal ini dilakukan semata karena Jarasandha merupakan guru ideologi dari Sisupala. Jadi, kedekatan antara Ekalaya dan Sisupala merupakan sebuah tradisi yang sudah turun-temurun dan mendarah-daging antara bangsa Nisadha dan Cedhi. Sebagaimana kata mutiara di Jawa yang sering kita dengar, Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan.

Guru Calon Jendral

Setelah diangkat sebagai guru para pangeran bangsa Kuru, tentunya Drona juga menggunakan berbagai macam pertimbangan dalam menyusun kurikulum pengajarannya. Baik itu dalam hal olah kaprajuritan ataupun strategi pengembangan seni militer (dewāstra). Tentunya sebagai seorang guru para calon jendral, Drona juga mempertimbangkan ancaman dari aliansi tiga negara Nisadha – Cedhi – Magadha, yang secara historis memang selalu berseberangan secara ideologi.

Tentunya materi pengajaran Drona tidak lepas dari pembahasan mengenai kelemahan lawan, cara memanfatkan kelemahan dan berisi rahasia-rahasia strategi militer. Yang tentunya tidak boleh bocor apalagi jika sampai dipelajari pihak yang berpotensi menjadi lawan.

Dari sini terlihat bahwa kemungkinan besar pada saat akan menerima murid, Drona juga berpikir mengenai perkembangan geo-politik dan rahasia serta keamanan negara. Karena itu tidak semena-mena semua orang diperkenankan untuk bergabung di kampusnya.

Walaupun sudah mencoba untuk menutup rapat kesempatan bangsa lain untuk mendaftar ke bagian PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru), ternyata beberapa materi kuliah masih bocor. Malah yang terjadi adalah justru pihak lawan dapat mempelajari keilmuan Drona dengan lebih mendalam serta sempurna dibanding siswa-siswa yang langsung dibawah asuhannya.

Kemungkinan besar, dengan pertimbangan yang samalah Drona meminta Ekalaya untuk memotong ibu jarinya. Hal ini dilakukan untuk membuat handicap kepada Ekalaya yang akhirnya akan mengurangi kesempurnaan dia pada saat mempergunakan ilmu memanahnya.

Kualitas Drona

Kalau memang hal ini yang dahulu terjadi, maka Drona dapat kita golongkan sebagai seorang guru yang sangat visioner dan bertanggung jawab terhadap keselamatan negaranya. Drona dapat dengan cermat melihat perkembangan jaman dan beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Seorang Drona rela menjadi martir terhadap negaranya dengan mengorbankan nama baik dan kredibilitasnya sebagai pengajar yang “seharusnya” adil.

Toh pada akhirnya kekhawatiran Drona bahwa suatu saat bangsa Kuru (termasuk Pandawa) akan berhadapan di medan perang dengan bangsa Nisadha benar-benar terjadi.

Jadi, alasan mengenai Drona lebih menyayangi Arjuna dan tidak ingin Arjuna mempunyai saingan dalam memanah, terlihat terlalu klise dan bercita-rasa telenovela. Serta terlalu naif jika Drona sang Resi putra dari seorang Brahmana besar, membuat keputusan hanya berdasar atas urusan receh.

Apakah itu yang terjadi? Itulah Sanggit.