Dhapur Megantara

Megantara, jv: ꦩꦺꦒꦤ꧀ꦠꦫ, secara bahasa berarti awan yang rata, merupakan keris Luk 7 dengan ricikan ada-ada di sebagian bilah dan sebuah greneng. Hingga saat ini, serat Centhin merupakan satu-satunya serat yang bisa menjadi referensi. Di buku Dhapur dari yayasan Damarjati juga tidak tercantum dhapur ini. Begitu juga di Serat Kawruh Empu tidak menyebutkan pula. Di serat tersebut ada dua nama dhapur yang mirip yaitu dhapur Megatara, tetapi berjenis Luk 13.

Menurut Centhini

Têlu dhapur Bima-kurdha | kang anggarap aran Êmpu Yamadi | angka taun wolung atus | pitulikur luwihnya | sang aprabu Citrasoma kang ngadhatun | ing Pêngging uga iyasa | dhapur amung kalih warni ||

Siji ran Rara-siduwa | kalih dhapur Megantara kang kardi | Empu Gadawisesèku | marêngi taun angka | sangang atus patang-puluh siji iku | kala panjênêngan nata | Mahapunggung Sri bupati||

Centhini II/109:33-34

Arti

Ketiga dhapur Bima Kurda | yang mengerjakan Empu Yamadi | angka tahun delapan ratus | duapuluh satu lebihya | sang raja Citrasoma yang bertahta | di Pengging juga membuat | dhapur hanya dua jenis ||

satu dinamakan Rara siduwa | dua, dhapur Megantara yang dikerjakan | adalah Empu Gadawiseka | bersamaan angka tahun | sembilan ratus empat puluh satu itu | saat Beliaunya raja | Mahapunggung yang menjadi pimpinannya ||

Filosofi

Dari keterangan Mpu Djeno Harumbrodjo sebagai berikut. Keunikan keris ini adalah luk hanya ada di bagian bawah dan luk yang ke 7 terlihat lurus sehingga terkesan keris ini terdiri dari dua bagian yaitu berluk dan lurus.

Dalam khasanah bahasa Jawa Megantoro berasal dari dua kata yaitu Mego (Mega) yang berarti awan / angkasa raya dan Antoro bermakna luas tidak terbatas. Nilai falsafah dari Megantoro adalah agar si pemilik keris Megantoro dapat memiliki hati yang lapang selapang / seluas angkasa raya.

Disisi lain masyarakat Jawa juga mengenal falsafah numerologi yaitu angka 7 dalam bahasa Jawa disebut PITU, yang kemudian dalam khasanah otak-atik gatok, jarwo dosok, dikenal pitu sebagai kependekan daripada kata Pitulungan yang berarti pertolongan bermaksud empu mengharapkan agar si pemilik keris selalu mendapatkan pertolongan daripada Yang Maha Kuasa dari sesama serta selalu menolong sesama dan selamat sentosa.

Kisah Pembuatan

Pembuatan dhapur Megantara pertama dilakukan oleh Empu Gadawisesa di tahun 941 pada saat Raja yang berkuasa adalah Sri Mahapunggung di kerajaan Pengging.

Ciri Khusus

sor-soran

Dhapur ini, adalah salah satu dhapur yang sangat mudah untuk diidentifikasi. Ciri-ciri ricikannya yang paling mencolok adalah posisi luk yang berada di pangkal sampai tengah. Sedangkan bagian tengah bilah hingga ujung tidak terdapat luk. Selain itu bentuk kembang kacang yang terletak pada bagian sor-soran dari dhapur megantara menyerupai kepala burung.