Dalang Ki Piet Asmoro

Rep sirep sirep saking kersaningsun Sekar gawa ginawa kinaryo ramining kidung Binarung swaraning gendhing gandakusuma

Mewariskan Gagrak Trowulan

Trowulan bukan hanya terkenal sebagai wilayah yang menyimpan sisa-sisa kebesaran Kerajaan Majapahit. Di Trowulan juga pernah hidup seorang dalang wayang kulit yang kondang. Cara mendalang dan karawitan yang dikembangkannya kemudian dikenal sebagai gagrak atau cengkok Trowulanan.

Dalang Piet Asmoro adalah seorang seniman Pedalangan yang hidup di desa Bejijong Kecamatan Trowulan. Menurut penuturan keluarganya, Piet Asmoro lahir sekitar tahun 1914 di Peterongan Jombang. Bakatnya sebagai dalang mulai terasah saat belajar seni di pasinaonan yang didirikan oleh RAA. Kromo Adinegoro, bupati Mojokerto kisaran tahun 1930-an. Tempat belajar seni karawitan dan wayang itu diasuh oleh seorang abdi dalem Bupati yang bernama Ki Tjondrowisastro.

Selain itu Piet Asmoro juga belajar atau nyantrik pada Dalang Ki Goenarso di Waru Sidoarjo. Proses belajar dengan menjadi cantrik adalah salah satu cara untuk mewarisi gaya mendalang dari seorang guru yang bakal dianut oleh seorang cantrik, calon dalang. Ilmu yang didapat dari Ki Tjondrowisastro dan Ki Goenarso itulah yang mewarnai gaya mendalang Piet Asmoro dikemudian hari.

Pada usia sekitar dua puluh tahunan Piet Asmoro mulai mendalang. Lambat laun namanya mulai tenar sebagai seorang dalang yang piawai menceritakan kisah wayang yang bersumber dari kitab Ramayana dan Mahabharata. Masyarakat di sekitar Karesidenan Surabaya dan juga Malang banyak yang nanggap dalang Piet Asmoro dalam berbagai kegiatan. Pada tahun 1960-an dia sudah menjadi dalang kondang. Pertunjukan wayang Piet Asmoro kemudian direkam sehingga bisa didengar oleh penggemarnya yang tidak sempat melihat langsung. Selain itu juga sering diputar di radio-radio, terutama RRI Surabaya.

Cengkok Trowulanan merupakan salah satu cabang dari Wayang Jawa Timuran yang sebelumnya dinamakan wayang cek dong. Istailah yang bermula dari bunyi cek-cek-cek dihasilkan dari kecrek yang dipukul oleh dalang dan dong-dong-dong merupakan bunyi gendang. Gendang Jawa Timur berbeda dengan gendang Jawa Tengah karena bentuknya lebih besar dan bunyi membran yang lebih nyaring. Demikian pula dengan bentuk wayang Jawa Timuran yang lebih kecil sehingga dalang lebih lincah memainkannya. Ciri lain dari wayang Jawa Timuran adalah ditampilkannya tari Remo sebelum cerita wayang dimulai.

Selain dikenal dengan ketrampilannya memainkan wayang, Piet Asmoro juga dikenal sebagai pengembang dan membakukan karawitan wayang. Salah satunya adalah pakem memainkan Gending Gondokusumo pada jejeran awal. Untuk mengembangkan karawitan gagrak Trowulanan, Piet Asmoro dibantu oleh Panjak Kendang bernama Diat Sariredjo. Diat pula yang membantu Piet Asmoro untuk bisa tampil di RR Surabaya ketika Diat Sariredjo ditunjuk sebagai kepala seksi kesenian di radio milik pemerintah tersebut.

Tahun 1971, Piet Asmoro menulis buku berjudul “Tuntunan Karawitan Jawa Timur”. Buku itu diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Mojokerto. Dengan buku tersebut maka namanya terpatri abadi sebab banyak dikaji dan diajarkan di sekolah-sekolah seni.Karena namanya yang terkenal kemudian banyak orang yang datang berguru atau nyantrik pada Piet Asmoro. Para cantrik itu nantinya yang meneruskan gagrak Trowulanan yang dirintis dan dikembangkannya. Hingga saat ini wayang Trowulanan masih dianggap sebagai kiblat dari pedalangan Jawa Timuran. Beberapa dalang di sekitar Mojokerto menyebut dirinya sebagai muridnya.

Perjalanannya sebagai seniman pada akhirnya diakui oleh negara saat Piet Asmoro dipanggil ke Istana Negara oleh Presiden Soeharto pada tahun 1972. Dia mendapatkan Anugerah Seni yang diserahkan langsung oleh presiden.Pada masa jayanya banyak orang menempatkan Piet Asmoro sejajar dengan Ki Narto Sabdo. Kedua nama itu yang kerap menjadi rujukan para penggemar wayang sebagai masterpiece seni di Jawa. Di tangan mereka itulah wayang yang mulai dirintis pada masa kerajaan Majapahit terus mengalami pengembangan sesuai dengan kondisi jaman.

Ki Piet Asmoro, sang maestro seni pedalangan Jawa Timur meninggal pada 14 Juni 1987. Dia wafat pada sekitar pukul 15.50 WIB pada hari Minggu Paing di usia 73 tahun. Meskipun telah meninggal Piet Asmoro telah mewariskan pakem seni pedalangan yang mengangkat nama Trowulan dan juga Mojokerto.