PROSESI “HADEG RAJAPRASASTI SANGGURAN” DI BHUMI NGANDAT

Perwujudan Kecintaan pada Sejarah

A. Replikasi “Tetenger Sejarah Daerah”

Mutiara kata bilang “tidak ada rotan, akar pun jadi”. Tersirat arti bahwa kendatipun hal utama yang sesungguhnya tidaklah memungkinkan untuk bisa dihadirkan, apa yang dapat dijadikan sebagai “pengganti serupa”nya telah cukuplah berarti. Siratan makna mutiara kata tersebut menyemangati sejumlah pemeduli sejarah dan budaya di Malang Raya untuk berbuat sesuatu bagi petanda (tetenger) sejarah daerahnya, yakni Sejarah Daerah Batu.

Tetenger itu berupa prasasti, yakni linggoprasasti (prasasti batu) Sangguran (928 Masehi). Sejak awal tahun 1800-an hingga kini, prasasti Sangguran berada nun jauh di sebrang sana, di negara Schotlandia. Mengapa prasasti yang mulanya berada di daerah Batu itu bisa “melanglang lintas benua” dari Kota Batu pada benua Asia ke negara Schotlandia pada benua Eropa dengan terlebih dahulu untuk beberapa lama sempat singgah di Kolkata (sebelumnya bernama “Calcutta” atau “Kalkuta”), yakni kota pelabuhan Bengal (Benggala Barat)?

Read More