Khasanah Udheng di Jawa

“That an object is useful, that it required virtuoso skill to make – neither of these precludes it from also thought beautiful. Some craft generate from within their own tradition a feeling for beauty and with it appropriate aesthetic standards and common of taste”

– Howard S. Becker
Read More
PESAN NATAL 2020

Kepada yang terkasih, semua makhluk di Nusantara.

Intro

Ada ungkapan bahwa kehadiran Yesus di dunia ini adalah untuk menjadi Juru Selamat. Demi keselamatan bumi dan seisinyalah Dia sebagai manusia di antara kita, menjalani segala pengalaman perasaan hidup apa adanya. Demikianlah pesan natal ini disadari sebagai pesan bersama dari umat manusia dan bagi segala bentuk dan makhluk ciptaan Tuhan dalam segala pengalaman dan perasaan hidup yang sekarang sedang dijalaninya.

Kalau ada orang datang hendak menyelamatkan kita, apakah kita akan bertanya apa agamanya terlebih dahulu? Juga kalau kita hendak melakukan tindakan penyelamatan terhadap seseorang, masakan kita hanya akan bersedia jika orang tersebut sealiran dengan kita?

Read More
Kejawen: Jalan panjang menuju Agama sipil

Ha – Na – Ca – Ra – Ka [2]

(Ada Sebuah Cerita)

Meskipun masih sangat populer digunakan untuk mengidentifikasi perilaku religius orang Jawa, kejawen[3] masih berada dalam wacana perdebatan untuk diklasifikasikan sebagai agama. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

  • Pertama, kejawen sebagai pola hidup suatu kelompok masyarakat yang sifatnya terbuka lebih mudah dianalisa sebagai jenis/ragam budaya dalam arti umum. Kejawen adalah perwujudan kembali budaya jawa kuno yang melestarikan nilai-nilai jawa dalam memaknai perilaku religius seseorang. Konsep-konsep kejawen yang kosmologis-etis, individualistik-ekstasis dan harmonis-idiologis sangat memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan diri pada perubahan sosial yang terjadi. Oleh karenanya studi tentang kejawen adalah studi tentang budaya jawa.
  • Kedua, penelitian pada kejawen dilakukan dalam perspektif agama tertentu. Dengan pendekatan agama yang memiliki kategori-kategori khusus misalnya Tuhan, Nabi dan kitab suci, kejawen tidak bisa dipahami sebagai agama. Dalam perspektif teistik, kejawen bersifat mistis-sinkretis sehingga mudah dicurigai sebagai bidah/syirik. Dan dengan demikian tidak bisa diperbandingkan dengan suatu agama.
  • Ketiga, kejawen memuat begitu banyak konsep-konsep filosophis-etis. Oleh karena itu kejawen lebih fungsional ditempatkan sebagai sebuah sistem etika-sosial yang memaknai agama dibanding sebagai sebuah agama otonom. Bahkan bagi orang jawa sendiri, kejawen lebih dipahami sebagai konteks yang menguji agama-agama dalam mentransformasikan masyarakat[4]
  • Keempat, karena tidak memiliki sistem jaringan organisasi dan penyeragaman konfesi atau dogma, kejawen lebih mudah dianalisis dengan teori-teori sosial sebagai perlawanan terhadap situasi politik atau usaha reformasi agama atau ketidakpuasan terhadap agama yang ada.
Read More
Drona: Sang Guru Visioner

Ekalaya atau yang disebut juga sebagai Bambang Palgunadi adalah seorang satria dari bangsa Nisadha. Bangsa ini terkenal sebagai bangsa pemburu yang ahli di hutan, serta menggunakan panah sebagai senjata utamanya. Karena itu, Ekalaya muda berniat memperdalam ilmu memanahnya dengan berguru kepada Resi Drona.

Tentunya bagi para penikmat cerita Wayang mengetahui bahwa pada akhirnya Ekalaya memotong ibu jarinya atas perintah Drona. Hal ini didasari atas permintaan Drona yang meminta tanda bakti (daksina) dari Ekalaya sebagai murid, berupa cincin Mustika Ampal yang terletak dan menyatu dengan ibu jari Ekalaya. Umumnya disepakati bahwa motifasi Drona melakukan ini karena rasa kasih dan sayangnya terhadap Arjuna, dan menggadang-gadang Arjuna sebagai Pemanah tanpa tanding dan tidak tersaingi oleh siapapun.

Benarkah Drona melakukan itu atas dasar rasa sayang yang berlebih kepada Arjuna? ataukah Drona sebagai guru telah kehilangan rasa adil terhadap murid-muridnya? Atau, sebenarnya Drona sebagai seorang resi yang juga keturunan brahmana-raja memiliki pertimbangan khusus, yang bilamana dijelaskanpun, tak mudah untuk dipahami civitas akademikanya pada saat itu.

Read More
Kelas Sosial Jawa

Semua orang tentunya tidak asing dengan penggolongan kelas sosial seperti satria, brahmana, waisya dan sudra. Hal ini seakan menjadi sebuah kerangka dasar dalam bermasyarakat dan inter-relasi yang mempengaruhi bagaimana tata cara berbicara, berperilaku bahkan berpandangan terhadap orang-orang yang menyandang atau berasal dari kelas tertentu ke kelas yang lain.

Di sisi lain, benar adanya bahwa kehidupan dalam bermasyarakat tidak dapat dipisahkan dari jenjang status kehidupan yang bertingkat-tingkat. Status tersebut diakibatkan oleh banyak faktor seperti karena keturunan, pendidikan, ekonomi dan spiritual.

Meskipun realitanya manusia memang diciptakan untuk berbeda-beda, tetapi manusia kadang terdikotomi dengan status tersebut sehingga mengganggu keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Satu bentuk variasi kehidupan dari hasil perbedaan adalah fenomena stratifikasi (tingkatan-tingkatan) sosial yang terjadi melalui proses suatu bentuk kehidupan baik berupa gagasan, nilai, norma, aktifitas sosial, maupun benda-benda.

Karena itu, fenomena dari stratifikasi sosial akan selalu ada dalam kehidupan manusia, sesederhana apapun kehidupan, berbeda satu sama lain, tergantung bagaimana cara kita menempatkannya.

Read More
Kritik dalam tradisi Jawa

Kenapa budaya rasan-rasan sangat umum dan menjadi kaprah dikalangan masyarakat kita. Terlepas dari memang hobi atau terlalu nganggur, mungkin jawabannya adalah untuk menghindari rasa tidak enak yang timbul jika harus melakukan kritik secara langsung. Anggapan bahwa mengkritik adalah suatu yang tabu masih dipegang teguh. Hingga pemikiran-pemikiran kritis dan saran yang membangun tidak tersalurkan melalui kanal yang tepat.

Pada kenyataannya, tradisi berpikir kritis ini sudah mendarah daging sejak dahulu. Banyak sekali kritik-kritik yang disampaikan secara halus hingga cara paling vulgar disampaikan para filsuf dan pemikir Jawa. Pada umumnya, kritik ini akan disampaikan melalui bahasa sastra yang terhimpun dalam serat-serat pendek atau cuplikan babad.

Read More
Taman Wisata Wendit, Persinggahan Hayam Wuruk

Wendit merupakan tempat wisata dibawah pengelolaan badan usaha milik daerah kabupaten Malang. Sebagai penunjang area wisata, di Wendit juga dilengkapi dengan area bermain, kolam renang alamai dan buatan serta pusat jajanan. Hingga saat ini, area di sekitar Wendit masih banyak ditemukan pohon-pohon besar yang dihuni kera berekor panjang.

Selain pemanfaatan sebagai wana wisata, air yang bersumber dari area wendit juga dimanfaatkan oleh perusahaan air minum setempat. Selain itu secara arkais, wendit mempunyai sejarah panjang yang sempat juga tertulis pada prasasti dan kitab Negarakrtagama.

Read More
Dalang Ki Piet Asmoro

Rep sirep sirep saking kersaningsun Sekar gawa ginawa kinaryo ramining kidung Binarung swaraning gendhing gandakusuma

Mewariskan Gagrak Trowulan

Trowulan bukan hanya terkenal sebagai wilayah yang menyimpan sisa-sisa kebesaran Kerajaan Majapahit. Di Trowulan juga pernah hidup seorang dalang wayang kulit yang kondang. Cara mendalang dan karawitan yang dikembangkannya kemudian dikenal sebagai gagrak atau cengkok Trowulanan.

Read More
Belajar Nonton Wayang (1)

Sebagai produk budaya, wayang sangat dekat dihati masyarakat Nusantara. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya toponimi-toponimi daerah yang menggunakan kosakata dari dunia pewayangan. Bahkan para orang tua banyak sekali yang menggunakan nama tokoh atau istilah dalam dunia pewayangan untuk menjadi nama anaknya.

Dalam keberadaannya di sela hiruk pikuk teknologi dan serangan budaya non-lokal. Pertunjukan wayangpun masih memiliki magnet bagi masyarakat Jawa. Apalagi jika pagelarannya dilaksanakan dalam rangka hajat resmi, religi, terlebih jika gelaran wayang dihaturkan oleh para Dalang Kondang.

Modifikasi Sajian

Tapi saat ini, kebanyakan penonton wayang hanya dapat menikmati sisi hiburannya saja. Hal ini terjadi dikarenakan kondisi dan perkembangan minat serta tingkat pemahaman penonton sudah tidak lagi relevan untuk Pak Dalang menghaturkan wayang dalam bentuk yang pakem dan super baku. Walaupun sebenarnya, dalam bentuk pakem dan baku inilah nilai, tutur, filsafat, ajaran dan semua keindahan yang sering di label-i Adiluhung dapat dipersembahkan dan kita nikmati secara lengkap.

Read More
Pasar di Jawa Kuno

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasar pada masa Mataram Kuna mempunyai peranan penting dalam aktivitas masyarakat, baik di dalam aktivitas ekonomi maupun dalam aktivitas sosial. Pada masa itu, pasar tampak sebagai suatu sistem yang merupakan suatu kesatuan dari komponen-komponen yang mempunyai fungsi untuk mendukung fungsi secara keseluruhan. Adapun komponen pasar antara lain lokasi, bentuk fisik, komoditi, produksi, distribusi, transportasi, transaksi serta rotasi.

Lokasi dan Bentuk Pasar

Lokasi pasar biasanya dipilih di tempat strategis, yaitu di tepi sungai, seperti yang disebutkan dalam prasasti Turyyan dan prasasti Muñcang atau berlokasi di tepi jalan besar. Pemilihan lokasi yang strategis itu, baik sengaja ataupun tidak memudahkan orang-orang untuk datanag ke pasar melalui jalur darat maupun jalur sungai.

Read More