Belajar Nonton Wayang (1)

Sebagai produk budaya, wayang sangat dekat dihati masyarakat Nusantara. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya toponimi-toponimi daerah yang menggunakan kosakata dari dunia pewayangan. Bahkan para orang tua banyak sekali yang menggunakan nama tokoh atau istilah dalam dunia pewayangan untuk menjadi nama anaknya.

Dalam keberadaannya di sela hiruk pikuk teknologi dan serangan budaya non-lokal. Pertunjukan wayangpun masih memiliki magnet bagi masyarakat Jawa. Apalagi jika pagelarannya dilaksanakan dalam rangka hajat resmi, religi, terlebih jika gelaran wayang dihaturkan oleh para Dalang Kondang.

Modifikasi Sajian

Tapi saat ini, kebanyakan penonton wayang hanya dapat menikmati sisi hiburannya saja. Hal ini terjadi dikarenakan kondisi dan perkembangan minat serta tingkat pemahaman penonton sudah tidak lagi relevan untuk Pak Dalang menghaturkan wayang dalam bentuk yang pakem dan super baku. Walaupun sebenarnya, dalam bentuk pakem dan baku inilah nilai, tutur, filsafat, ajaran dan semua keindahan yang sering di label-i Adiluhung dapat dipersembahkan dan kita nikmati secara lengkap.

Read More
Materi Workshop : Praktek Dasar Sidhikara

Sidhikara adalah rangkaian prosesi yang dilakukan untuk menyematkan doa dan harapan kepada pusaka. Awalnya, prosesi ini dilakukan oleh seorang empu pusaka saat setelah sebuah pusaka selesai tahapan nyangkring. Tetapi pada tahapan selanjutnya bisa mandiri atau kelompok.

Terdapat tahapan dimana sebuah pusaka dapat di-sdhikara secara berkelmpok. Tetapi, pada tahapan-tahapan lanjut, sebuah pusaka harus disdhikara secara pribadi dan satu-persatu. Tahapan-tahapan ini akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian lain artikel ini.

Mantram & Trap

Mantram atau doa sangatlah bersifat subyektif. Dan tidak selayaknya menjadi suatu bahan perdebatan. Hal ini dikarenakan khasanah mantram, tata, aturan dan trap yang sangat beragam antara daerah satu dengan yang lain, antara guru dan aliran terdapat keragaman.

Negara mawa tata, desa mawa cara

Read More
Kumpulan doa dan pujian

KH. Idris Marzuqie Lirboyo pernah berkata :

Kowe ki nek nompo dungo-dungo Jowo seko kiai sing mantep. Kae kiai-kiai ora ngarang dewe. Kiai-kiai kae nompo dungo-dungo Jowo seko wali-wali jaman mbiyen. Wali ora ngarang dewe kok. Wali nompo ijazah dungo Jowo seko Nabi Khidlir. Nabi Khidlir yen ketemu wali Jowo ngijazaji dungo nganggo boso Jowo. Ketemu wali Meduro nganggo boso Meduro.

KH. A. Mahin Thoha, Lirboyo yang diterima dari KH. A. Chalwani Nawawi, Berjan Purworejo yang diterima dari Mbah Yai Dalhar bin Abdurrahman, Watucongol. mempunyai doa agar tekun bekerja dan diberi kelapangan rizki.

Allahumma ubat-ubet, biso nyandang biso ngliwet. Allahumma ubat-ubet, mugo-mugo pinaringan slamet. Allahumma kitra-kitri, sugih bebek sugih meri. Allahumma kitra-kitri, sugih sapi sugih pari.

Read More
Sêrat Kidungan

Buku ini adalah serat kuno yang melambangkan pengetahuan Islam yang benar, dan merupakan ungkapan puji-pujian umat kepada Tuhan. Dirakit oleh Kangjeng Susuhunan Kalijaga: waliyullah, dihimpun oleh Kiyai Rănggasutrasna: pujăngga, buku asli milik Gusti Kangjeng Ratu Pambayun, putri keluarga kerajaan.

Terdiri atas 7 pupuh, yaitu:

  1. Dhandanggula (46 Padha), berisi doa-doa keselamatan, doa untuk orang sakit, dan pengingat Tuhan.
  2. Sinom (24 Padha), berisi mengenai nama-nama penguasa alam gaib di pulau Jawa.
  3. Asmaradana (10 Padha), berisi mengenai nama-nama penjaga di wilayah keraton Surakarta.
  4. Kinanthi (30 Padha), berisi doa untuk ana agar mendapat kemulyaan dan menghilangkan kejang (sawan)
  5. Pangkur (12 Padha), berisi doa untuk bayi agar selamat di kehidupannya kelak.
  6. Dhandanggula (7 Padha), berisi doa pujian kepada Tuhan.
  7. Durma (22 Padha), berisi doa-doa keselamatan.
Read More
Ujub Niat Slametan

Tembung ingkang kangge niat ujub menika kedah lugas nanging nengsemaken. Lugas, kersanipun sedaya kemawon saged mangertosi sarining karep miwah ingkang dipun andharkaen. Endah, supados ingkang mirengaken saged sengsem lan bingah. Awit saking punika, saged ngginakaken tata cara kados makaten.

Read More
Ujub Piranti Slametan

Bentuk ujub dalam Siklus Hidup Slametan Menurut Utomo (2007: 478), ujub adalah maksud atau niat melakukan selamatan. Setiap upacara selamatan harus menggunakan ujub untuk mengungkapkan maksud selamatan kajat tersebut. Karena itu, setiap kali Anda melakukan selamatan, itu harus menjadi prasyarat penting. Selamatan dalam siklus hidup terbagi menjadi tiga hal utama, yaitu selamatan lahir, kehidupan, dan kematian. Dalam selamatan-selamatan siklus kehidupan juga membutuhkan ujub untuk pelaksanaannya.

Read More