Catatan sejarah aksara jawa

Huruf jawa atau yang dikenal sebagai hanacaraka, pada mulanya lebih dikenal sebagai carakan. Hal ini terbukti jika membuka serat-serat atau naskah abad 18-19, kata yang banyak digunakan untuk menyebutkan huruf-huruf jawa adalah carakan.

Sebenarnya, huruf jawa ini mempunyai nama resmi sendiri, tetapi hampir tidak pernah terdengar lagi bahkan sudah seperti hilang tertelan jaman. Yaitu dêntawyanjana (Paramasastra Jawa, Dwijasewaya, 1910), yang berati aksara gigi (Poerwadarminta, 1939).

Huruf jawa terdiri atas :

  1. Huruf legena 20 buah, huruf-huruf dasar yang berupa aksara hidup.
  2. Pasangan 20 buah, merupakan bentuk lain dari aksara jawa yang fungsinya adalah untuk merubah huruf legena dari huruf hidup menjadi huruf mati.
  3. Sandhangan 12 buah, huruf-huruf vokal terdiri atas wulu = i, suku = u, taling = e, tarung = o, pepet = ê, wignyan = akhiran -h, layar = akhiran -r, cecek = akhiran -ng, cakra = sisipan -r-, keret = sisipan -re-, pengkal = sisipan -y-, pangkon = merubah aksara legana menjadi huruf mati diakhir kalimat atau di sela aksara rekan.
  4. Aksara murda 9 buah, Huruf besar
  5. Aksara swara 5+2, merupakan bentuk lain dari aksara vokal a, i, u, e, o ditambah aksara khusus untuk menuliskan rê dan lê
  6. Aksara rekan 5 buah
  7. Angka 10 buah
  8. Pada 9 buah

Legenda

Di komunitas masyarakat jawa, mengenal sosok Ajisaka seorang raja dari Medangkamulan sebagai pencipta aksara jawa. Kisahnya menceritakan mengenai utusan dari Ajisaka yang bernama Dora, diperintahkan untuk mengambil sebilah keris yang dititipkan kepada seseorang yang bernama Sembada. Lakon berikutnya tentu sudah sering kita dengar, bahwa kedua orang tersebut akhirnya meninggal dunia bertempur membela amanat yang dipegannya.

Untuk menghormati dan untuk menjadi pengingat, maka prabu Ajisaka menuliskan kisah ini dalam tulisan pendek yang terdiri atas 4 baris, 20 huruf.

Ha Na Ca Ra Ka | Da Ta Sa Wa La | Pa Dha Ja Ya Nya | Ma Ga Ba Tha Nga

Yang dapat diartikan

Ada utusan | Saling berbantah | Sama unggulnya | Dan menjadi bangkai

Bait-bait syair di atas sebenarnya merupakan cuplikan dari serat Ajisaka pupuh 7. Pada pada (bait) 22-24 disebutkan mengenai kronologi kejadian. Yang kemudian diulang lagi dengan menyebutkan sang pengarang di pada 26-27, berikut cuplikannya:

Dora goroh ature mring mami | Sêmbada têmên tuhu parentah | ngong bêndu dening ature | cidra Si Dora iku | nulya Ajisaka anganggit- | anggit pinănca warna | sastra kalih puluh | ginawe warga nglêlima | wit ha na ca ra ka sawarganirèki | pindho da ta sa wa la ||

pa dha ja ya nya warga ping katri | warga kaping pat ma ga ba tha nga | yèku sawarga-wargane | rinimbag dadya catur | anglêlima rimbagannèki | ingaran sastra dênta | minăngka wit iku | wêwinihing sastra Jawa | wus sinungan sandhangan sawiji-wiji | wêneh-wênèhungêlnya ||

Dapat diartikan:

Bait 1. Dora berbohong perkataannya saat bicara kepada saya, Sembada teguh dan mematuhi perintah, Aku hukum atas dasar ucapan, kebongan dari si Dora itu, kemudian Ajisaka mengarang, karangan berprosa bebas, sastra berhuruf duapuluh, dibuat dalam kelompok lima, mulai ha na ca ra ka asalnya, kedua da ta sa wa la.

Bait 2. pa dha ja ya nya kelompok ketiga, kelompok keempat ma ga ba tha nga, itulah kelompok-kelompoknya, disebut sebagai sastra-denta (aksara gigi), mulai saat itu, bibit dari sastra Jawa, sudah mendapatkan sandhangan (baju) sendiri-sendiri, macam-macam bunyinya.

Catan sejarah

Menurut hipotesis, aksara jawa merupakan keturunan dari Abjad Proto-Sinai yang berkembang di pertengahan jaman perunggu di daerah semenanjung Sinai. Secara turun-temurun, silsilah dari aksara adalah sebagai berikut:
Abjad Proto-Sinai → Abjad Fenisia → Abjad Aramea → Aksara Brahmi → Aksara Pallawa → Aksara Kawi → Aksara Jawa.

Aksara jawa sendiri masih berkerabat dekat dengan beberapa aksara di nusantara, seperti halnya: Bali, Batak, Baybayin, Buhid, Hanunó’o, Kulitan, Lampung, Lontara (Bugis), Makassar, Rejang, Rencong, Sunda Kuno dan Tagbanwa (Tagalog).

Menurut Radyapustaka, pemasaan aksara jawa dimulai dari sekitar tahun 900 – 1500 dengan mengadopsi aksara jawa kuno. Di beberapa serat, pengarang awal aksara jawa hanya disebut sebagai Prabu Widayaka. Kata Widayaka sendiri berarti pujangga. Dapat diartikan bahwa pengarangnya pun sebenarnya anonim atau boleh dibilang kumpulan dari para pujangga. Sampai saat ini belum ditemukan catatan pasti mengenai lokasi dan identifikasi detail dari pujangga ini.

Pada perkembangannya, aksara Jawa tetap mempertahankan model abugida dan dilakukan tanpa spasi (scriptio continua). Setelah tahun 1600 berkembang dan bermetamorfosis hingga di paruh 1700 menjadi seperti yang kita pergunakan saat ini. Bahasa yang mempunyai kedekatan penggunaan aksara jawa selain bahasa Jawa adalah bahasa Madura dan bahasa Bali.

Di awal perkembanganya, aksara Jawa belum mempunyai standar yang disepakati bersama dari para penggunanya. Masing-masing pengguna mengacu pada aturan-aturan lokal yang dikembangkan di empat kerajaan utama di Jawa. Masing-masing kerajaan mempunyai ciri khas dan aturan sendiri dalam penulisan. Sedemikian khasnya, unikum penulisan aksara Jawa itu sampai bisa menjadi pengidentifikasi tarikh dan/atau tempat asal naskah atau manuskrip anonim kuno.

Dengan berkembangnya semangatdan tumbuhnya gagasan pemajuan persatuan dan nasionalisme bangsa, baru di bulan Oktober dan Desember tahun 1922, sistem penulisannya mulai disepakati dalam sebuah kongres di Surakarta. Dengan catatan, sebagian kecil isu masih menjadi pertimbangan. Standarisasi penulisan dicapai oleh sebuah komisi bentukan kongres tersebut di tahun 1924.

Kemudian di bulan Juni 1925, seorang anggota Komisi Besar, Mas Sastrawirya (PGB), mengangkat isu mengenai pedoman penulisan aksara Jawa. Sastrawirya mengeluhkan belum kunjung diumumkannya kerja kolaboratif yang melibatkan pemerintah, keraton-keraton, dan sekian perkumpulan itu. “Biarpun toh masih seadanya, hasil kongres harus segera diumumkan karena itu akan menjadi sempurna dengan adanya perubahan,” demikian tulis Sastrawirya di majalah Pusaka Jawi pada Juni 1925.

Disusul pada bulan Mei 1926, di majalah Pusaka Jawi, memublikasikan pedoman penulisan aksara Jawa, lengkap dengan 17 keputusan (pasal)-nya: Karampungan Pangrêmbagipun Wêwaton Panyêratipun Têmbung Jawi Mawi Sastra Jawi, miturut Putusan Parêpatan Kumisi Kasusastran Marêngi kaping 29 Oktobêr 1922 sarta 31 Dhesèmbêr 1922 (Hasil Keputusan Pembahasan Pedoman Penulisan Kata Jawa Menggunakan Aksara Jawa, menurut Keputusan Rapat Komisi Kesusasteraan pada 29 Oktober dan 31 Desember 1922. Kemudian Yasri menyajikan salinan lengkap (alih-aksara dan alih-bahasa) dari edisi pedoman penulisan aksara Jawa yang terbit di Pusaka Jawi.

Standarisasi Modern

Aturan-aturan dan panduan peulisan aksara Jawa kemudian diterbitkan, diantaranya adalah Patokan Panoelise Temboeng Djawa oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada 1946, dan sejumlah panduan yang dibuat oleh Kongres Bahasa Jawa (KBJ) antara 1991 sampai 2006. Selain itu, beberapa daerah baik itu kota/kabupaten dan provinsi juga mengeluarkan aturan resmi mengenai penulisan aksara Jawa.

Saat ini, aksara Jawa tercatat diakui secara internasional dan distandarisasi dibawah aturan ISO 15924 Java, 361, dengan nama unicode Javanese. Hal ini memungkinkan penggunaan huruf jawa secara internasional baik secara manual maupun elektronis. Bahkan beberapa website di internet juga menyediakan konversi dari tulisan latin menjadi aksara jawa. Dapat anda cek di Konversi Latin – Jawa.

Pada bulan Februari 2020, PANDI sebagai pengelola nama domain (alamat internet) di Indonesia, bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mengajukan proposal kepada ICANN untuk membuat nama domain dengan aksara Jawa. Menurut PANDI, domain ini diperkirakan dapat digunakan pada pertengahan tahun 2020.