Bhairawa Tantra

Oleh: Goenawan A. Sambodo

Sekilas Sejarah Kemunculan Tantrayana

Dasar-dasar paham Tantra sebenarnya telah ada di India sebelum bangsa Arya datang di India, jadi sebelum kitab Weda tercipta. Pada masa itu, di peradaban lembah Sungai Sindu, cikal-bakal paham Tantra telah terbentuk dalam praktik pemujaan oleh bangsa Dravida terhadap Dewi Ibu atau Dewi Kemakmuran. Dalam salah satu seloka lagu pujaan, Dewi ini dilukiskan sebagai penjelmaan kekuatan (sakti) penyokong alam semesta. Timbullah paham Saktiisme, atau disebut juga Kalaisme, Kalamukha, atau Kalikas (Kapalikas), yang dianut oleh penduduk asli India tersebut. Karena pengikut sekte ini kebanyakan penduduk asli India, maka oleh bangsa Arya disebut Sudra Kapalikas.


Aliran ini memusatkan pemujaan terhadap Devi/Dewi sebagai Ibu Bhairawa (Ibu Durga atau Kali). Sebagai sakti (istri) Dewa Siwa, kedudukan Dewi Durga ini lebih ditonjolkan daripada dewa itu sendiri. Peran Dewi Durga dalam menyelamatkan dunia dari ambang kehancuran ini disebut Kalimasada (Kali-Maha-Husada), artinya “Dewi Durga adalah obat yang paling mujarab” dalam zaman kekacauan moral, pikiran, dan perilaku. Pengikut Saktiisme ini tidak mengikuti sistem kasta dan Veda (Weda). Dalam menunaikan ajaran, pengikutnya melaksanakan Panca Ma yang diubah arti dan pemahamannya menjadi pemuasan nafsu; maka dari itu akhirnya aliran ini dikucilkan dari Veda, keluar dari Hindusme.

Syahdan, ketika terjadi peperangan antara bangsa Arya melawan Dravida, lahirlahSadashiva, artinya “dia yang selalu terserap dalam kesadaran”, yang kemudian dikenal sebagai Shiva (Siwa), seorang guru rohani. Sumbangan terbesar Siwa terhadap peradaban adalah pengenalan konsep dharma. Seperti ajaran kuno lain, ajaran Siwa disampaikan dari mulut ke mulut, dan baru kemudian dituliskan ke dalam sebuah kitab. Istri Siwa, Parvati (Parwati), sering bertanya padanya mengenai pengetahuan rohani. Siwa memberikan jawabannya, dan kumpulan tanya-jawab tersebut dikenal sebagai Tantra Shastra. Prinsip-prinsip Tantra terdapat dalam Nigama, sedangkan praktik-praktiknya dalam buku Agama. Sebagian buku-buku kuno itu hilang dan sebagian lagi tak dapat dimengerti karena tertulis dalam tulisan rahasia yang dimaksudkan untuk menjaga kerahasiaan Tantra terhadap mereka yang awam. Kitab-kitab yang memuat ajaran Tantrayana banyak sekali, kurang lebih ada 64 macam, antara lain: Maha Nirwana Tantra,Kularnawa Tantra, Tantra Bidhana, Yoginirdaya Tantra.

Istilah Tantra berasal dari kata tan, artinya “memaparkan kesaktian/kekuatan dewa”. Tantra sendiri bisa diartikan sebagai intisari, esensi, atau asal. Dalam perkembangannya, paham ini begitu memuja sakti Siwa secara ekstrim. Setelah abad ke-5, paham Tantrayana ini muncul di tenggara Benua India di daerah Bengal dan Assam. Dan sejak kematian Siwa, tak ada guru yang sepadan lagi dengannya, dan Tantra pun mengalami kesurutan. Berbagai ajarannya hilang dan sebagian lagi melenceng. Padahal, dalam kitab Wrehaspati Tattwa, rumusan sakti adalah: orang banyak ilmu dan banyak kerjanya. Jadi, orang sakti itu adalah orang yang rajin belajar dan banyak kerja mengamalkan ilmunya. Demikian pula praktik upacara Tantrayana, yakni Maka Kama Pancaka atau lebih terkenal dengan Panca Ma atau Malima, sering disalahartikan.

Tantrayana yang asli. Ritual PANCAMAKARA yang bersumber dari kitab Kali Mantra dan kitab Mahanirvana Tantra jelas disebutkan sebagai berikut :

Kali Mantra:

“Sadayam bhaamsaca miinam ca mudraa naithuna se vaca, Ete Pamca Makaaraa syu Mokshadaah Kaluyuge”
“Mabuk, memakan daging, memakan ikan,melakukan sexualitas dan meditasi, akan menuntun kepada Moksha pada jaman Kaliyuga ini.”

Maha Nirvana Tantra :

“Pautvaa pitvaa punah pitvaa yaavat patati bhuutale, Punarutyaaya dyai potvaa punarjanma ga vidhate.”
“Minum, teruslah minum hingga kamu terjerembab ke tanah. Lantas berdirilah kembali dan minum lagi hingga sesudah itu kamu akan terbebas dari punarjanma (kelahiran kembali) dan mencapai kesempurnaan. (Moksha).”

Maksud dari ayat yang dipaparkan dalam Kitab Kali Mantra adalah, dengan ritual sebagaimana tersebut dibawah ini, maka akan dicapai Moksha pada jaman Kaliyuga yang tengah berlaku sekarang. Ritual tersebut adalah sebagai berikut :

  1. MATSYA (Makan ikan)
  2. MAMSA (Makan Daging)
  3. MADA (Minum arak hingga mabuk berat)
  4. MAITHUNA (Sex bareng-bareng di Ulun Setra/Kuburan)
  5. MUDRA (Baru masuk meditasi. Habis Makan, minum dan sex)

Yang dimaksudkan adalah :

  1. MATSYA (Ikan) artinya = JADILAH SEEKOR IKAN YANG MENYELAMI SUNGAI/LAUTAN KEHIDUPAN. JANGAN MALAH MENOLAK KEHIDUPAN DAN MENINGGALAN DUNIA.
  2. MAMSA (Daging) artinya = WALAU MENYELAM DALAM KEDUNIAWIAN, TETAPLAH MENGAWASI LIARNYA DAGING-MU/EGOMU!
  3. MADA (Mabuk) artinya = MINUM DAN REGUKLAH SPIRITUALITAS, WALAU HIDUP DIALAM MATERI. MINUMLAH SPIRITUALITAS ITU HINGGA KAMU MABUK DENGAN-NYA.
  4. MAITHUNA (Sex) artinya = CAPAILAH ORGASME SPIRITUAL, SATUKAN SAKTI/KUNDALNI DENGAN ATMAMU! USAHAKANLAH BENAR-BENAR AKAN HAL INI!
  5. MUDRA (Sama saja dengan MEDITASI ) artinya = CAPALAH PELEBURAN DENGAN ASAL USULMU. ITULAH KESEMPURNAAN!

Sedangkan pengertian mabuk yang dipaparkan dalam Kitab Maha Nirvana Tantra diatas, sesungguhnya adalah MABUK SPIRITUALITAS.

Inilah sesungguhnya maksud dari ajaran TANTRAYANA. TETAP MENIKMATI KEDUNIAWIAN NAMUN SPIRITUALITAS HARUS DIUTAMAKAN. Namun dalam ajaran Tantra Bhairawa, ritual-ritual yang dipaparkan diatas, benar-benar dijalankan apa adanya.

Selanjutnya, paham Tantrayana pun memengaruhi agama Buddha, terutama aliran Mahayana. Seperti kita ketahui bahwa dalam Buddha terdapat dua aliran: Mahayana dan Hinayana yang muncul pada abad pertama Masehi. Mazhab Mahayana menitikberatkan kepada usaha saling membantu antarpengikutnya dalam mencapai kebebasan jiwa (nirvana), sedangkan Hinayana lebih bersifat individualistis dalam mencapai nirwana. Aliran Hinayana berkembang di Sri Langka, Burma, dan Thailand, namun kemudian tak berkembang dan lebih dulu menghilang. Sementara itu, Mahayana berkembang seiring dengan pesatnya paham Tantrayana yang ikut melebur di dalamnya (disebut Tantra Vajrayana atau Tantra Mahayana).

Akibat pengaruh Siwaisme, dalam Mahayana kemudian dikenal pendewaan atas diri Buddha dan Bodhisatwa, surga dalam artian tempat, bhaktimarga (jalan bakti), dan dewa-dewa lainnya yang patut disembah. Penyelewengan ajaran ini tentunya makin menjauhkan Buddhisme dari semangat Buddha Siddharta, karena ajaran Buddha asli tak mengenal adanya Tuhan, tak mengenal doa, tak mengenal dewa-dewa layaknya dalam Hindu. Maka dari itu, di India sendiri ajaran Buddha menghilang dan kemudian lebih banyak dianut di Asia Timur dan Tenggara. Pada abad ke-7 Tantrayana menyebar ke Tibet, Cina, Korea, Jepang, hingga Indonesia (Jawa dan Sumatra). Malah, pada abad ke-7, Kerajaan Sriwijaya merupakan pusat studi Mahayana di Asia Tenggara.

Mazhab Tantrayana memiliki akar pandangan yang sama dengan Mahayana, khususnya dalam hal Yogacara. Namun, Tantrayana berbeda dengan Mahayana dalam hal tujuan, wujud manusia yang telah mencapai tujuan Tantrayana, dan cara pengajarannya. Hal ini terlihat salah satunya dari pemujaan terhadap sakti Boddhisatwa dan pemujaan terhadap kekuatan gaib dari Dhyani Buddha. Ajarannya lebih bersifat esoterik karena penyebarannya bersifat rahasia dan tersembunyi. Tantra diajarkan oleh seorang guru pada siswanya setelah melalui upacara-upacara ritual dan berbagai bentuk ujian.

Jejak Tantrayana, Ritual-ritual Tantrayana

Tantrayana mengenal adanya meditasi dengan menggunakan alat berupa mandala (bagi penganut Buddha) atau yantra (bagi penganut Hindu). Mandala adalah yantra yang dianut Hindu dalam variasi lain yang bercorak Buddha, yakni lukisan yang berfungsi sebagai alat bantu dalam meditasi sehari-hari. Alat tersebut—dibuat dari tanah, kain, pada dinding, logam, atau batu—harus digunakan oleh mereka yang mencari pelepasan dari rangkaian siklus (lingkaran) kelahiran kembali. Penggunaan mandala/yantra ini biasanya dibarengi dengan memegang aksamala (tasbih atau rosario) oleh tangan kanan untuk menghitung mantra yang diucapkan terus menerus hingga kadang-kadang orang yang bersangkutan merasa bebas dari keadaan di sekitarnya. Tantrayana mengajarkan agar badan, perkataan, serta pikiran digiatkan oleh ritual, mantra, dan samadi.

Dalam Tantrayana Hindu—seperti telah dibahas di atas mengenai Panca Ma, konsep sakti Siwa mengakibatkan lahirnya kegiatan “hubungan intim” yang dianggap “suci” dan membawa manusia kepada “kebebasan jiwa” dalam upacara Tantra. Begitu pula dalam Tantrayana Buddha (Wajrayana), yang ditandai dengan adanya hubungan Dewi Tara dengan Dyani Buddha. Tantrayana menganggap bahwa penciptaan alam semesta beserta isinya dilakukan oleh Unsur Asal (dalam Buddhisme disebut Buddha, dalam Hinduisme disebut Siwa-Bhairawa) melalui hubungan intim dengan istrinya. Dalam hubungan intim, unsur jantan disebutupaya (alat mencapai kebenaran yang agung), sedangkan unsur wanita disebutprajna (kemahiran yang membebaskan). Maka timbul “penyelewengan” paham bahwa maithuna adalah paham kebebasan, tepatnya kebebasan untuk bersenggama antara pria dengan wanita. Mereka melakukan upacara tersebut diksetra atau lapangan tempat membakar mayat, sebelum mayat dibakar saat gelap bulan.

Dalam ajarannya, Tantra pun banyak memuat “kutukan” atau “sumpah”. Misalnya, Prasasti Sanghyang Tapak (Cibadak) peninggalan Kerajaan Sunda/Pajajaran menyebutkan sejumlah kutukan yang lumayan mengerikan, yakni agar orang yang menyalahi ketentuan dalam prasasti tersebut diserahkan kepada kekuatan-kekuatan gaib untuk dibinasakan dengan menghisap otaknya, menghirup darahnya, memberantakkan ususnya, dan membelah dadanya. Di Sriwijaya, di mana aliran ini lebih dulu berkembang pada abad ke-7, terdapat sejumlah prasasti, yakni Talang Tuwo dan Kota Kapur, yang berisi kutukan dan sumpah. Berikut kutipan bunyi Prasasti Kota Kapur yang dibuat pada 686 M.

…. pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk biar sebuah ekspedisi untuk melawannya seketika di bawah pimpinan datu atau beberapa datu Sriwijaya, dan biar mereka / dihukum bersama marga dan keluarganya. Lagipula biar semua perbuatannya yang jahat; seperti mengganggu ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja / saramwat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, semoga perbuatan-perbuatan itu tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu; biar pula mereka mati kena kutuk. Tambahan pula biar mereka yang menghasut orang / supaya merusak, yang merusak batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga kena kutuk; dan dihukum langsung. Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang tak berbakti, yang tak setia pada saya, biar pelaku perbuatan tersebut / mati kena kutuk ….

Jejak-jejak Tantrayana di Nusantara

Selain di Sriwijaya, aliran ini berkembang pula di Jawa. di Jawa Tengah pada abad ke-8 dalam Prasasti Kalasan tahun 778 disebutkan bahwa Rakai Panangkaran mendirikan bangunan suci, Candi Kalasan, untuk memuja Dewi Tara. Dewi Tara merupakan salah satu bentuk penyimpangan Buddha Mahayana karena dewi tersebut dianggap sebagai istri (sakti) para Dyani Buddha; padahal Buddha sendiri menilai kama (syahwat) merupakan musuh terbesar manusia.
Di Jawa Timur abad ke-10 pun keberadaan penganut Tantra telah diakui oleh Mpu Sindhok Raja Medang, pendiri Wangsa Isana. Meski Raja Sindhok penganut Siwa, ia menganugerahkan Desa Wanjang sebagai wilayah sima (yang dibebaspajakkan) kepada pujangga bernama Sambhara Suryawarana yang menyusun kitab Tantra, Sanghyang Kamahayanikan.

Contoh lain adalah raja terakhir Singasari (sebelumnya bernama Tumapel) yakni Kertanagara (1268-1292). Oleh Pararaton, ia disebut Bhatara Siwa Buddha, yang berarti ia memeluk Hindu-Siwa sekaligus Buddha. Nagarakretagama karya Mpu Prapanca menguraikan bahwa raja ini, karena telah menguasai ajaran Siwa dan Buddha, maka disebut telah terbebas dari segala dosa; bahkan pesta minuman keras adalah salah satu acara ritual agamanya. Bahkan ketika diserang tentara Jayakatwang, Sang Raja tengah melakukan ritual Tantra bersama para menteri dan pendeta, dalam keadaan mabuk minuman. Sebagai penganut dua agama, ia bergelar Sri Jnanabajreswara atau Sri Jnaneswarabajra dan diarcakan sebagai Jina Mahakshobhya (kini berada di Taman Apsari, Surabaya) sebagai simbol penyatuan Siwa-Buddha; arca ini populer dengan sebutan Joko Dolog. Kertanegara dimuliakan sebagai JinaWairocana dan di Candi Singosari sebagai Bhaiwara.

Di Kerajaan Sunda-Pajajaran pun diketahui ada sejumlah rajanya penganut Tantra, di antaranya: Sri Jayabhupati dan Raja Nilakendra (ayah Prabu Suryakancana raja terakhir Pajajaran). Naskah kuno karya anonim pada abad ke-16, Carita Parahyangan mengurai, “Karena terlalu lama Raja (Nilakendra) tergoda oleh makanan, tiada ilmu yang disenanginya kecuali perihal makanan lezat yang layak dengan tingkat kekayaan”. Di Sunda, para penganut Tantra menjalankan ibadahnya di bangunan-bangunan megalitik.

Dalam novel Pramoedya Ananta Toer berjudul Arok Dedes (Lentera Dipantara: 2009) yang bersetting awal abad ke-13, pengikut Tantra ini pun dibahas. Disebutkan bahwa pengikut Tantra ini mengucapkan mantra “Hling, Kling, kandarpa eraka …” ketika melakukan ritual maithuna, ritual persetubuhan untuk memuja “kesuburan”. Ada pun najako (wanita yang dikurbankan dalam ritual tersebut) direbahkan di atas daun kering (2009: 336). Mereka, begitu Pram menulis, melakukan ritual-ritualnya di dalam hutan, di pedalaman, dan pada malam hari.
Seperti disebutkan di atas bahwa paham Tantrayana-Hindu identik dengan pahamSiwa–Bhairawa. Bhairawa (artinya hebat) ini perwujudan Siwa yang mengerikan, digambarkan ganas, memiliki taring, bertubuh besar, dan berwujud raksasa.

Bukti-bukti dari keberadaan paham Bhairawa di antaranya: arca Bhairawa Heruka di Padang Lawas, Sumatra Barat, arca Adityawarman dalam wujud Bhairawa Kalacakra pada masa Majapahit, dan arca Bhairawa Bima di Bali. Aliran Bhairawa ditenggarai memunyai tendensi politik guna untuk mendapatkan kharisma besar yang diperlukan dalam pengendalian keamanan negara. Misalnya, Kertanagara menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi kekuatan kaisar Kubilai Khan di Cina yang menganut Bhairawa Heruka.

Adityawarman menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi raja Pagaruyung di Sumatra Barat yang menganut Bhairawa Heruka.

Arca Bhairawa ini tangannya ada yang dua, ada yang empat. Ada pun arca Adityawarman sebagai Bhairawa hanya memiliki dua tangan. Tangan kiri memegang mangkuk berisi darah manusia dan tangan kanan membawa pisau belati. Jika tangannya ada empat, maka biasanya dua tangan lainnya memegang tasbih dan gendang kecil yang bisa dikaitkan di pinggang, untuk menari di lapangan mayat damaru atau ksetra. Penggambaran Bhairawa membawa pisau konon untuk upacara ritual matsya atau mamsa. Ada pun mangkuk berfungsi untuk menampung darah untuk upacara minum darah. Sementara tangan yang satu lagi membawa tasbih. Wahana atau kendaraan Siwa dalam perwujudan Siwa Bhairawa adalah serigala, karena upacara dilakukan di lapangan mayat dan serigala merupakan hewan pemakan mayat. Sementara itu terdapat sejumlah arca tengkorak di atas kaki Bhairawa.

Candi Sukuh, Bukti Fisik Keberadaan dan Jejak Tantrayana

Keberadaan Tantrayana ini dibuktikan pula oleh peninggalan-peninggalan fisik. Di Jawa Tengah, misalnya, kita dapat melihat bukti tersebut di komplek Candi Sukuh di kaki Gunung Lawu, Dukuh Berjo, Desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Berdasarkan tulisan candrasangkala di gapura teras 1 dan 2, candi ini didirikan antara tahun 1437-1456 M; jadi di era Majapahit menjelang keruntuhannya. Struktur bangunan candinya sendiri berbentuk piramida—mirip peninggalan budaya Maya di Meksiko atau Inca di Peru.

Ada yang mengatakan bahwa Candi Sukuh dibangun oleh pengikut Siwa, ditandai dengan relief Kidung Sudamala dan relief lingga-yoni (yang jumlahnya lebih dari satu). Kidung Sudamala (diadaptasi dari salah satu parwa atau babMahabharata) mengisahkan lakon Sadewa (bungsu Pandawa) yang menyembuhkan putri seorang pertama Ni Padapa yang buta dan juga harus membebaskan Bhatari Durga (dewi utama sesembahan Tantris). Ada pun lingga adalah perlambang Dewa Siwa. Selain itu ada pula dua patung garuda dan arca kura-kura yang melambangkan bumi dan Dewa Wisnu. Tiga arca kura-kura tersebut berbentuk meja yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan sesaji dan mungkin sebagai tempat perebahan najako.

Ada pula ahli yang menenggarai lebih spesifik bahwa candi ini didirikan oleh para Tantris-Bhairawa. Pada dinding-dinding candi terdapat berbagai relief tentang proses kehidupan dan kesuburan semesta: dari bersenggama hingga proses kelahiran manusia baru. Banyak arca yang oleh manusia zaman sekarang dinilai “pornografi”. Bagaimana tidak! Di kompleks candi ini ada, misalnya, arca lelaki di mana tangan kirinya tengah menggenggam erat alat vitalnya hingga tegak. Belum lagi relief lingga-yoni, lambang pria dan wanita yang jelas terpahat di dinding candi yang terbuat dari batu andesit.

Kesan vulgar pun akan didapati ketika kita menapaki teras ketiga candi ini. Pada teras ketiga terdapat sebuah pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika pengunjung ingin mendatangi candi induk ini, batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus terlebih dulu dilalui. Konon arsitektur ini sengaja dibuat sedemikian karena candi induk yang mirip dengan bentuk kemaluan wanita ini, menurut sejumlah ahli dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun jika tidak perawan lagi, ketika melangkahi batu berundak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.
Tantrayana Pernah Berkembang Luas di Indonesia

Paham Bhirawa secara khusus memuja kehebatan daripada sakti, dengan cara-cara khusus. Bhairawa berkembang hingga ke Cina, Tibet, dan Indonesia. Di nusantara masuknya saktiisme, Tantrisma dan Bhairawa, dimulai sejak abad ke VII melalui kerajan Sriwijaya di Sumatra, sebagaimana diberikan terdapat pada prasasti Palembang tahun 684, berasal dari India selatan dan Tibet. Dari bukti peninggalan purbakala dapat diketahui ada tiga peninggalan purbakala yaitu : Bhairawa Heruka yang terdapat di Padang Lawas Sumatra barat, Bhairawa Kalacakra yang dianut oleh Kertanegara – Raja Singasari Jawa Timur, serta oleh Adityawarman pada zaman Gajah Mada di Majapahit, dan Bhairawa Bima di Bali yang arcanya kini ada di Kebo Edan – Bedulu Gianyar.

Aliran-aliran Bhairawa cenderung bersifat politik, untuk mendapatkan kharisma besar yang diperlukan dalam pengendalian pemerintahan dan menjaga keamanan wilayah kekuasaan (kerajaan), seperti halnya pemimpin dari kalangan militer di masa sekarang. Karena itu raja-raja dan petinggi pemerintahan serta pemimpin masyarakat pada zaman dahulu banyak yang menganut aliran ini.

Rakyat Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam suku, sejak dahulu memeluk agama yang berbeda-beda. Tantrayana adalah suatu aliran atau sekte yang pada masa lampau pernah cukup banyak pemeluknya dan berkembang luas di Indonesia; bahkan raja Kertanegara dari kerajaan Singasari adalah seorang penganut yang taat dari agama Budha Tantra.

Raja Kertanegara dari kerajaan Singasari di Jawa Timur adalah seorang raja yang sangat taat melaksanakan ajaran Tantrayana. Beliau hidup berpesta pora di dalam istana bersama-sama dengan mentri-mentri dan para pendeta terkemuka. Bahkan ketika Singasari diserbu oleh pasukan kerajaan Kediri pun mereka sedang mengadakan pesta pora, tetapi upacara pesta pora, makan minum besar-besaran tersebut bukan sebagai pesta biasa, melainkan raja bersama para mentri dan pendeta itu sedang melakukan upacara-upacara Tantrayana (Soekmono, 1959 : 60).

Lantas benarkan Prabhu Kertanegara penganut Tatra Bhairawa Kalacakra? Jelas ini bertentangan dengan informasi yang ditulis dalam Negarakretagama. Dalam Negarakretagama Prabhu Kartanegara disebutkan sebagai penganut Tantra Subuthi.

Dalam Nagarakretagama pupuh 43 : 2-6 :

2. Itulah sebabnya, baginda (Kertanegara) sangat teguh berbhakti memuja kaki padma Sakyamuni (Buddha), kokoh setia menjalankan Pancasila (Pancasila Buddhis), Samskara dan Abhisekakarma. Gelar Jina beliau adalahShri Jnyanabadreshwara.Mumpuni dalam tattwa (filsafat agama Shiwa dan agama Buddha), tata bahasa (sanskerta dan Palli) dan sutra-sutra lainnya

3. Sangat giat beliau mempelajari segala ilmu spiritualitas. Terutama Tantra Subhuti sangat diutamakannya. Ajarannya merasuk kedalam jiwa beliau. Beliau giat melakukan Puja, Yoga, Samadi demi keselamatan seluruh Kerajaan agar terhindar dari tenung dan agar seluruh rakyat kecil sejahtera semua.

4. Diantara para leluhurnya tidak ada yang setara dengan beliau, paham akan Sadgunna (Enam macam ilmu Politik yang diajarkan Weda), sempurna dalam ilmu ketata negaraan dan ahli dalam tattwa agama (Shiwa Buddha). Teguh menjalankan aturan Jina, dan senantiasa berlaku utama. Itulah sebabnya sampai seluruh keturunannya diberkati sebagai pemimpin utama (sampai sekarang seluruh pemimpin Nusantara masih berbau darah Singasari ~ Malang, Jawa Timur)

5. Pada tahun ABDHIJANARRYAMA (1214 Saka atau 1292 Masehi), baginda berpulang ke Jinalaya (Alam Jina), disebabkan beliau telah sempurna dalam Kriyantara (Upacara agama Shiwa Buddha) dan ajaran agama (Sawrwopadesyadika), seluruh rakyat memberikan gelar kepada beliau Bathara Shiwa Buddha. Di Candi beliau ditegakkan arca Shiwa Buddha, sangat-sangat indah menawan
.
6. Di Sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan rupawan. Serta Arca Ardhanareshwari (Shiwa dan Durga menjadi satu) disatukan dalam Arca Bajradewi, teman hidup beliau dalam tapa demi keselamatan dan kesuburan negara (Bajradewi istri Kartanegara). Arca tersebut juga lambang dari Wairochana dan Lochana dalam satu kesatuan tunggal, sangat masyhur dan indah.

  • Anandamurthi, Shriji. 1994. Discourses of tantra,
  • Bosch. 1925. De Inscriptie van Kělurak,
  • Crawfurd, John. 1985. History of the Indian Archipelago, Vol. I-III. Delhi: B.R. Publishing Corp.
  • Dasgupta, S.B. 1974. An Introduction to Tantric Buddhism. Calcutta: University of Calcutta.
  • Gupta, S. B.1974. An Introduction to Tantric Buddhism. Calcutta: University of Calcutta.
  • Kats, J (ed). 1910. Sang Hyang Kamahāyānikan. An old Javanese Texts. Leiden: Martinus Nijhoff.
  • Kemper, Bernet, 1991. Monumental Bali, Introduction to Balinese Archaeology & Guide to the Monuments. Singapora: Periplus Edition.
  • Kern, J.H.C. and W.H. Rasser. 1982. Śiva dan Buddha, Dua Karangan Tentang Śivaisme dan Buddhisme di Indonesia, (tr. KITLV dan LIPI). Jakarta: Djambatan..
  • Kumar, Dr. Bachchan, (Ed.). 2001. Glimpses of Early Indo-Indonesia Culture, Collected Papers of Himansu Bhusan Sarkar. New Delhi: Indira Gandhi National Centre For Arts, Aryan Book International.
  • Lěvi, Sylvain. 1933. Sanskrit Texts From Bali. Baroda.
  • Mantra, Ida bagus Made. 1955. Hindu Literature and Religion in Indonesia, (Thesis Submitted for the Degree of Doctor of Philosophy), Calcutta: Visva Bharati University.
  • Murti, T.R.V. 2003. The Central Philosophy of Buddhism, A Study of Mādhyamika System. Delhi: Munshiram Manoharlal.
  • Santoso, Soewito. 1975. Sutasoma A Study in Javanese Vajrayana, Delhi: International Academy of Indian Culture. Sarkar, H.B. 1980. Litterary Heritage of South-East Asia. Calcutta:. Firma KLM.
  • Thubten. 2001. Introduction to Tantra. Boston: Wisdom Publications.
  • W.F., Stutterheim, Ancient Javanese Bhima Cult; Studies in Indonesian Archaeology. The Hague: Martinus Nijhoff, 1956.
  • Widana, I Gusti Ketut, Hindu Berkiblat ke India? Dan Pertanyaan Lain tentang
    Hindu. Denpasar: Bali Post, 2001
  • Widnya, I Ketut. 2005. Evolution of Siva-Buddha Cult in Indonesia (Thesis Submitted for the Degree of Doctor of Philosophy), Delhi: University of Delhi. Yeshe, Lama