Belajar Nonton Wayang (1)

Sebagai produk budaya, wayang sangat dekat dihati masyarakat Nusantara. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya toponimi-toponimi daerah yang menggunakan kosakata dari dunia pewayangan. Bahkan para orang tua banyak sekali yang menggunakan nama tokoh atau istilah dalam dunia pewayangan untuk menjadi nama anaknya.

Dalam keberadaannya di sela hiruk pikuk teknologi dan serangan budaya non-lokal. Pertunjukan wayangpun masih memiliki magnet bagi masyarakat Jawa. Apalagi jika pagelarannya dilaksanakan dalam rangka hajat resmi, religi, terlebih jika gelaran wayang dihaturkan oleh para Dalang Kondang.

Modifikasi Sajian

Tapi saat ini, kebanyakan penonton wayang hanya dapat menikmati sisi hiburannya saja. Hal ini terjadi dikarenakan kondisi dan perkembangan minat serta tingkat pemahaman penonton sudah tidak lagi relevan untuk Pak Dalang menghaturkan wayang dalam bentuk yang pakem dan super baku. Walaupun sebenarnya, dalam bentuk pakem dan baku inilah nilai, tutur, filsafat, ajaran dan semua keindahan yang sering di label-i Adiluhung dapat dipersembahkan dan kita nikmati secara lengkap.

Hingga pada tanggal 7 November 2003, Wayang mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Beberapa degradasi, pengiritan dan berbagai modifikasi yang dilakukan dalam gelaran wayang, bahkan merambah hingga tahap sebelum pertunjukan itu berlangsung. Salah satu contohnya adalah garap gending Talu atau Patalon. Pada mulanya, sebelum wayang dimulai para wiyaga akan mempersembahkan sebuah assamble yang terdiri atas tujuh buah gending. Dalam gagrak Surakarta, assamble dimulai dari gending Cucurbawuk dan diakhiri dengan Sampak Slendro Manyura.

Padahal, dapat diistilahkan bahwa cara menonton wayang itu dilakukan bahkan sebelum pertunjukan wayang itu dimulai. Tahapan pertamanya adalah dengan menyelami dan mengingat kembali ajaran-ajaran serta nilai filsafat yang disampaikan Widu Pamayang melalui gending patalon.

Memaknai Patalon

Wirid Hidayat Jati

Terdapat dua mainstream pemahaman mengenai pemaknaan Patalon. Yang pertama adalah menurut Serat Wirid Hidayat Jati karya pujangga R.Ng. Ranggawarsita.

Pada bab pertama disebutkan bahwa:

Sajatine Ingsun Dzat Kang Amurba Amisesa Kang Kawasa anitahake sawiji – wiji dadi padha sanalika sampurna saka ing kudratingsun, ing kono wus kanyatahan pratandhaning af’alingsun minangka bêbukaning iradatingsun, kang dhingin Ingsun anitahake kayu, aran Sajaratu’lyakin, tumuwuh ing sajroning ‘alam ‘Adam makdum azali; nuli cahya, aran Nur Muchammad; nuli kaca, aran Miratu’lkayai; nuli nyawa aran Roh Idlafi; nuli damar, aran Kandil; nuli sêsotya, aran Darah nuli dingding-jalal, aran kijab kang minangka warananing khalaratingsun.

Wirid Hidayat Jati – Wêdharan Wahananing Dzat.

Dapat disarikan dari kalimat di atas bahwa kelahiran manusia melalui proses :

  1. Pertama aku menciptakan pohon Sajaratu’lyakin, tumbuh dalam alam adam makdum azali abadi,
  2. Kemudian cahaya, yang disebut sebagai Nur Muhammad,
  3. Setelah itu cermin, disebut Miratu’lkayai,
  4. Disambung nyawa, disebut Roh Idlafi,
  5. Diikuti oleh cahaya, disbut kandil,
  6. Kemudian permata, disebut darah,
  7. Terakhir adalah dinding jalal (tirai) yang disebut kijab.

Apakah yang dimaksud dengan Ingsun itu? Dalam hal ini, sudut pandang Ranggawarsita menggunakan kata Ingsun adalah menggambarkan Zat yang mutlak yang berkuasa penuh terhadap kehidupan. Maha Suci yang semula tersembunyi (dumunung) di Nukat Ga’ib bergelar Qun/Zat sejati (Nukat berati wiji, Sedang Ga’ib berati samar) yang kemudia Ingsun menyatakan diri sebagai Pencipta segala sesuatu. Jadi tidak bisa dipahami secara sempit bahwa Ingsun sebagai pengganti kata orang pertama.

Kesamaan makna Patalon dengan Wirid Hidayat Jati.

Jika dikomparasi langsung antara urutan gending patalon dengan urutan penciptaan manusia di Wirid Hidayat Jati, maka dapat disejajarkan sebagai berikut:

  1. Cucurbawuk kethuk 2 kerep minggah Paréanom kethuk 4, laras sléndro pathet manyura, manifestasi dari pohon Sajaratu’lyakin,
  2. Ladrang Srikaton Slendro Manyura, penggambaran Nur Muhammad,
  3. Pareanom Slendri Manyura, proses penciptaan kaca wirangi yang disebut Miratu’lkayai,
  4. Ketawang Suksmailang, peniupan Roh Idlafi kepada janin,
  5. Ayak-Ayak Slendro Manyura, melengkapi janin yang disebut kandil,
  6. Srepeg Slendro Manyura, berfungsinya darah dalam tubuh janin,
  7. Sampak Slendro Manyura, lahirnya janin.

Dalam dinamika kreasi, banyak dalang yang kemudian menggarap assamble dengan gendhing-gendhing lain yang sebobot dan mempunyai kemiripan makna. Bahkan beberapa juga menggarap dalam laras pelog pada pathet barang. Tetapi akhir-akhir ini, patalon seperti tersebut di atas sudah sangat jarang ditemui. Umumnya patalon hanya menghadirkan tiga buah gendhing, yaitu Ayak yang disambung Srempeg dan diakhiri dengan Sampak.

Disamping itu patalon juga merupakan pernyataan karya dari yang menanggap wayang, bahwa petunjukan wayang akan segera dimulai, namun dalang sebagai reprentasi roh dari bayi belum kelihatan.

Apabila gending patalon sudah selesai, maka dalang segera berbalik menghadap kelir, memanjatkan doa pedalangan, kemudian ia memukul kotak sebanyak tujuh kali sebagai tanda bahwa jejer atau adegan pertama dimulai yang disusul oleh dhodhogan sebanyak 5 kali sebagai tanda (sasmita) dimainkannya Ayak Slendro Manyura.

Selamat nonton wayang mulai awal.