Eksistensi Kulub Dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

Kulub merupakan salah satu makanan masa Jawa Kuna yang terus mengalami dinamika dari masa ke masa. Makanan ini berasal dari bermacam sayuran yang direbus bersama hingga matang. Bahan bakunya berasal dari tumbuh-tumbuhan lokal yang sering ditemui seperti daun papaya, singkong, ubi, dsb. Meskipun nampak sederhana namun kulub memiliki nilai filosofis tersembunyi yang patut untuk dijadikan pegangan hidup manusia.

Kata Kunci: kulub, sayur rebus, nilai filosofi.

Pendahuluan

Kehidupan manusia tak dapat dipisahkan dari keberadaan makanan. Oleh
karenanaya, dapat dikatakan pula bahwa makanan merupakan salah satu penanda peradaban manusia di bumi ini. Makanan dan manusia ibarat kepingan uang logam yang tak dapat dipisahkan sisi satu dengan lainnya, tak ada manusia tak kan ada makanan demikian pula sebaliknya, sehingga makanan menjadi hal utama yang harus diperjuangkan manusia sebagai sarana penyambung hidup. Lewat makanan pula, kelak manusia akan menjadi makhluk yang tamak dan rakus sehingga mengubah image makanan sebagai sarana hidup menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan
mati-matian di dalam hidup.

Read More
Konsep Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara dalam Kakawin Nagara Krtagama

PENDAHULUAN

Latar Belakang


Sudah sering kita ketahui memang, jika aspek-aspek dasar dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara kita lahir dari pemikiran para pendahulu kita sejak jaman Kerajaan Hindu dan Budha berkembang di Indonesia. Konsep-konsep dasar bernegara tersebut tertuang pada banyak karya sastra yang masih lestari hingga saat ini. Salah satu diantaranya adalah konsep dasar bernegara yang terdapat di dalam Kakawin Nagara Krtagama karya Mpu Prapanca yang ditulis ketika Kerajaan Majapahit mencapai puncak kegemilangannya.

Jika kita kaji lebih cermat lagi, selain warisan istilah Pancasila yang kita gunakan sebagai dasar negara kita saat ini, dalam Kakawin Nagara Krtagama juga terdapat konsep-konsep Nasionalisme yang sangat patut kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Oleh karenanya, penulis memilih tema bahasan “Konsep Dasar Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara Menurut Kakawin Nagara Krtagama” dengan maksud untuk menggali lagi nilai-nilai filosofis yang terdapat dalam karya sastra Nagara Krtagama supaya dapat dipahami serta diamalkan pembaca dalam kehidupan sehari-hari.

Read More
Fungsi Wayang Kulit dalam Penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Islam merupakan agama Samawi (ajaran agama yang didasarkan pada wahyu yang diberikan Tuhan kepada utusan-Nya) yang lahir di semenanjung Arab, khususnya di dataran tinggi Hijaz di kota yang bernama Mekah. Agama Islam berkembang sekitar abad ke-6 M dengan diutusnya Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul untuk menyebarkan agama Islam di seluruh penjuru dunia. Agama Islam merupakan agama muda yang perkembangan penyebarannya di dunia cukup pesat, hingga saat ini agama Islam menjadi agama kedua di dunia yang memiliki penganut terbanyak setelah agama Nasrani. 

Islam dibawa masuk oleh para pedagang Arab, Gujarat, dan Persia ke Indonesia sekitar abad ke-7 M sampai abad ke-15 M melalui jalur perdagangan. Selain itu, agama Islam juga berkembang melalui saluran pernikahan. Para pedagang yang menetap kemudian menikah dengan wanita-wanita setempat sehingga melalui proses pernikahan, agama Islam juga berkembang pesat di Indonesia. Dengan jumlah pemeluk yang semakin banyak, maka mulai muncul pusat-pusat pemerintahan yang berbentuk kerajaan. Pada awal perkembangannya, sebagian besar kerajaan Islam mulai muncul di daerah Sumatera karena Pulau Sumatera memang letaknya yang strategis sebagai jalur perdagangan internasional.

Read More
Muatan Nilai Nasionalisme Etnis Dalam Tembang Dolanan Anak Jawa (1861-1939)

Ringkasan

Tembang dolanan sebagai salah satu bagian dari tradisi lisan masyarakat Jawa, semakin menguat fungsi dan perannya pada awal abad ke XX sebagai media pembelajaran sekaligus sebagai media kritik terhadap realitas sosial yang terjadi. Oleh sebab itu, maka yang menjadi fokus bahasan dalam artikel ini adalah bagaimana kondisi sosial masyarakat Jawa pada masa Pakubuwana IX hingga Pakubuwana X serta bagaimana muatan yang terkandung dalam tembang dolanan anak Jawa pada awal abad ke XX. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan ilmu dukung semiotik yang menghasilkan hasil penelitian berupa analisis mengenai kehidupan sosial masyarakat Jawa pada masa Pakubuwana IX hingga Pakubuwana X ditengah penetrasi politik pemerintah kolonial dan analisis terhadap bentuk dan fungsi dari tembang dolanan anak Jawa beserta nilai nasionalisme yang terkandung di dalamnya.

Kata Kunci: Nasionalisme, Tembang Dolanan, Awal Abad XX

Keterikatan dan asosiasi manusia beserta lingkungan alam tempat tinggalnya akan membentuk suatu budaya yang akan menjadi ciri khas apabila dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di wilayah lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke V (KBBI V:2016) budaya merupakan hasil pikiran ataupun akal budi manusia yang tertuang dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangka kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta Budhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang berarti budi atau akal. Budaya terdiri dari unsur-unsur rumit yang menyangkut pola tindakan manusia dan dapat diwariskan dari generasi satu ke generasi selanjutnya. Budaya juga dapat mencerminkan ciri khas dari suatu kelompok manusia yang menghuni atau menempati suatu daerah .

Read More