Arti, Filosofi dan Fungsi Ketupat

Menurut H.J. de Graaf dalam Malay Annal, ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Patah awal abad ke-15. De Graaf menduga kulit ketupat yang terbuat dari janur berfungsi untuk menunjukkan identitas budaya pesisiran yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Warna kuning pada janur dimaknai oleh de Graff sebagai upaya masyarakat pesisir Jawa untuk membedakan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.

Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa, yang membangun kekuatan politik dan penyiaran agama Islam dengan dukungan Walisongo (sembilan wali). Ketika menyebarkan Islam ke pedalaman, Walisongo melakukan pendekatan budaya agraris, tempat unsur keramat dan berkah sangatlah penting untuk melanggengkan kehidupan. Di sinilah pentingnya akulturasi. Raden Mas Sahid, anggota Walisongo yang sohor dengan panggilan Sunan Kalijaga, lalu memperkenalkan dan memasukkan ketupat, simbol yang sebelumnya sudah dikenal masyarakat, dalam perayaan lebaran ketupat, perayaan yang dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal atau sepekan setelah hari raya Idul Fitri dan enam hari berpuasa Syawal.

Sinkretis Budaya

Lebaran ketupat diangkat dari tradisi pemujaan Dewi Sri, dewi pertanian dan kesuburan, pelindung kelahiran dan kehidupan, kekayaan dan kemakmuran. Ia dewi tertinggi dan terpenting bagi masyarakat agraris. Ia dimuliakan sejak masa kerajaan kuno seperti Majapahit dan Pajajaran. Dalam pengubahsuaian itu terjadi desakralisasi dan demitologisasi. Dewi Sri tak lagi dipuja sebagai dewa padi atau kesuburan tapi hanya dijadikan lambang yang direpresentasikan dalam bentuk ketupat yang bermakna ucapan syukur kepada Tuhan.

Bugnoy

Dewi Sri tetap dihormati dan dimuliakan oleh masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali. Beberapa keraton di Indonesia, seperti Cirebon, Ubud, Surakarta, dan Yogyakarta tetap melestarikan tradisi ini. Sebagai contoh upacara slametan atau syukuran panen di Jawa disebut Sekaten atau Grebeg Mulud yang juga berbarengan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad. Dalam upacara ritual semacam itu, ketupat menjadi bagian dari sesaji, hal sama juga terjadi dalam upacara adat di Bali. Di masyarakat Jawa, ketupat sering digantung di atas pintu masuk rumah sebagai semacam jimat atau penolak bala. Di pulau Bali, ketupat (di sana disebut kipat) sering dipersembahkan sebagai sesajian upacara. Selain di Indonesia, ketupat juga dijumpai di Malaysia, Brunei, dan Singapura. Di Filipina juga dijumpai bugnoy yang mirip ketupat namun dengan pola anyaman berbeda.

Tak heran jika kita melihat sejumlah tradisi di sejumlah daerah, yang berkaitan dengan agama Islam, Hindu, maupun kepercayaan lokal. Di sejumlah daerah ada tradisi unik yang dinamakan perang ketupat. Di Pulau Bangka perang ketupat dilakukan setiap memasuki Tahun Baru Islam (1 Muharam). Di Desa Kapal, Badung, Bali, perang ketupat dimaksudkan untuk memperoleh keselamatan dan kesejahteraan. Di Lombok, perang ketupat dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan panen dan menandai saat mulai menggarap sawah. Tradisi itu masih bertahan hingga kini.

Tradisi lebaran ketupat, yang notabene berasal dari wilayah pesisir utara Jawa, tempat awal penyebaran Islam, tak kuat pengaruhnya di pedalaman. Hanya sejumlah wilayah pesisir utara yang hingga kini menganggap lebaran ketupat, biasa disebut hari raya kecil, sebagai lebaran sebenarnya seperti Kudus, Pati, dan Rembang. Secara esensial, tak ada yang membedakan antara lebaran ketupat dengan lebaran pada hari raya Idul Fitri. Keduanya punya makna yang sama.

Setelah selesai dianyam, ketupat diisi dengan beras kemudian dimasak. Ketupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, sebagai lambang kebersamaan.  Rumitnya anyaman janur untuk membuat ketupat merupakan simbol dari kompleksitas masyarakat Jawa saat itu. Anyaman yang melekat satu sama lain merupakan anjuran bagi seseorang untuk melekatkan tali silaturahmi tanpa melihat perbedaan kelas sosial.

Arti Kata Ketupat

Dalam filosofi Jawa, ketupat lebaran bukanlah sekedar hidangan khas hari raya lebaran. Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Laku papat artinya empat tindakan.

Menurut Slamet Mulyono dalam Kamus Pepak Basa Jawa, kata ketupat berasal dari kupat. Parafrase kupat adalah ngaku lepat: mengaku bersalah. Janur atau daun kelapa yang membungkus ketupat merupakan kependekan dari kata “jatining nur” yang bisa diartikan hati nurani. Secara filosofis beras yang dimasukan dalam anyaman ketupat menggambarkan nafsu duniawi. Dengan demikian bentuk ketupat melambangkan nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani.

Ngaku Lepat

Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa. Prosesi sungkeman yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun, dan ini masih membudaya hingga kini. Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khusunya orang tua.

Di Karaton Surakarta Hadiningrat pada bakdo Sawal, di adakan acara “ Ngabekten “ yaitu upacara dimana para abdi dalem serta kerabat karaton menghadap Sinuhun untuk menghaturkan sungkem, sembah bektinya. Ngabekten sudah merupakan tradisi di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat. Pada upacara ini abdi dalem dan kerabat di beri kesempatan untuk bertemu muka langsung dengan rajanya, Sinuhun. Dengan pakaian kebesarannya masing-masing mereka sowan ke keraton, waktu berhadapan dengan Sinuhun para abdi dalem belum diperkenankan menatap wajah Sinuhun, berderet-deret mereka duduk bersila dengan wajah “ temungkul “ ( menunduk ), cara mendekat Sinuhun dilakukan dengan jalan “ Laku Dodok “ yaitu jalan sambil berjongkok, setelah menghaturkan sungkemnya mereka kembali ke tempat asal mereka duduk, dan menantikan sampai Sinuhun “ Jengkar “ bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke dalam kedhaton, tanda bahwa upacara ngabekten sudah selesai.

Para abdi dalem sepulangnya dirumah masing-masing mengadakan upacara ngabekten sendiri diantara keluarga, anak cucu. Maksudnya agar “ Sawab “ ( berkah ) yang diterima dari Sinuhun waktu ngabekten di Keraton dapat diteruskan ke keluarga. Selesai ngabekten dirumah dikeluarkan hidangan berupa kupat lontong, yaitu ketupat ( lontong ) dengan lauk pauk berupa gudeg, sambel goreng krecek, ( rambak ), telur, opor ayam, krupuk dan bubuk dele ( kedelai yang digoreng matang kemudian dibuat bubuk ).

Laku Papat

Laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan Lebaran. Empat tindakan tersebut adalah:

Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Berasal dari kata lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.

Bermakna meluber atau melimpah. Sebagai simbol ajaran bersedekah untuk kaum miskin.
Pengeluaran zakat fitrah menjelang lebaran pun selain menjadi ritual yang wajib dilakukan umat Islam, juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia.

Maknanya adalah habis dan melebur. Maksudnya pada momen lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Berasal dari kata labur atau kapur. Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.

Filosofi Ketupat:

Hidangan berupa kupat lontong yang disajikan pada hari bakdo ketupat itu sebenarnya mengandung makna khusus, makna ini sudah dipahami oleh setiap orang Jawa, tanpa pernah dituturkan oleh nenek moyang kita. Sastra tan Tinulis atau Sabdo tan Winedar kata orang (karya tidak tertulis ataupun yang tidak diungkap ) Kebiasaan menghidangkan ketupat lontong dengan makna yang terkandung di dalamnya turun temurun kita warisi.

  1. Mencerminkan beragam kesalahan manusia. Hal ini bisa terlihat dari rumitnya bungkusan ketupat ini.
  2. Kesucian hati. Setelah ketupat dibuka, maka akan terlihat nasi putih dan hal ini mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan dari segala kesalahan.
  3. Mencerminkan kesempurnaan. Bentuk ketupat begitu sempurna dan hal ini dihubungkan dengan kemenangan umat Islam setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak Idul Fitri.
  4. Karena ketupat biasanya dihidangkan dengan lauk yang bersantan, maka dalam pantun Jawa pun ada yang bilang “KUPAT SANTEN“, Kulo Lepat Nyuwun Ngapunten(Saya Salah Mohon Maaf).

Kupat Lontong

Lontong Vs Ketupat, Manakah yang Lebih Baik Bagi Kesehatan Tubuh? - Semua  Halaman - Grid Health
Kupat Lontong

Tiap bagian dari kupat lontong ini mengandung arti atau berisi sanepan (pitutur). Kupat mengandung sanepan, arti, lepat (bersalah), artinya kita mengakui bahwa kita telah melakukan banyak kesalahan.

Lontong mengandung arti (sanepan) kothong, kosong, artinya mari kita kosongkan hati kita dari kesalahan orang lain yang ditujukan kepada kita, mengandung arti memaafkan.

Gudeg mengandung arti judeg pikiran yang semrawut, ruwet. Sambel goreng krecek mengandung arti kiasan, hindari segala cekcok.

Telur yang dalam bahasa jawa endog mengadung kiasan jangan ngendok persoalan, jangan memendam persoalan. bubuk dele adalah kedele yang dibubuk, mengandung kiasan semua yang ruwet, yang bikin hati mendongkol, supaya dihancur leburkan. Krupuk mengandung sanepan kemprok, kemripil artinya gampang patah, mengandung kiasan jangan terlalu gampang patah dalam persahabatan.

Opor daging ayam mengandung pesan, jangan sampai mendarah daging kalau ada ketidak senangan terhadap seseorang. Jadi dalam hidangan kupat lontong ini dapat kita cari maknanya, ajakan untuk saling memaafkan segala kesalahan. Dan jika diartikan dalam keadaan sekarang ini adalah yang kita lakukan pada waktu alal-bihalal.