PESAN NATAL 2020

Kepada yang terkasih, semua makhluk di Nusantara.

Intro

Ada ungkapan bahwa kehadiran Yesus di dunia ini adalah untuk menjadi Juru Selamat. Demi keselamatan bumi dan seisinyalah Dia sebagai manusia di antara kita, menjalani segala pengalaman perasaan hidup apa adanya. Demikianlah pesan natal ini disadari sebagai pesan bersama dari umat manusia dan bagi segala bentuk dan makhluk ciptaan Tuhan dalam segala pengalaman dan perasaan hidup yang sekarang sedang dijalaninya.

Kalau ada orang datang hendak menyelamatkan kita, apakah kita akan bertanya apa agamanya terlebih dahulu? Juga kalau kita hendak melakukan tindakan penyelamatan terhadap seseorang, masakan kita hanya akan bersedia jika orang tersebut sealiran dengan kita?

Read More
Kejawen: Jalan panjang menuju Agama sipil

Ha – Na – Ca – Ra – Ka [2]

(Ada Sebuah Cerita)

Meskipun masih sangat populer digunakan untuk mengidentifikasi perilaku religius orang Jawa, kejawen[3] masih berada dalam wacana perdebatan untuk diklasifikasikan sebagai agama. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

  • Pertama, kejawen sebagai pola hidup suatu kelompok masyarakat yang sifatnya terbuka lebih mudah dianalisa sebagai jenis/ragam budaya dalam arti umum. Kejawen adalah perwujudan kembali budaya jawa kuno yang melestarikan nilai-nilai jawa dalam memaknai perilaku religius seseorang. Konsep-konsep kejawen yang kosmologis-etis, individualistik-ekstasis dan harmonis-idiologis sangat memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan diri pada perubahan sosial yang terjadi. Oleh karenanya studi tentang kejawen adalah studi tentang budaya jawa.
  • Kedua, penelitian pada kejawen dilakukan dalam perspektif agama tertentu. Dengan pendekatan agama yang memiliki kategori-kategori khusus misalnya Tuhan, Nabi dan kitab suci, kejawen tidak bisa dipahami sebagai agama. Dalam perspektif teistik, kejawen bersifat mistis-sinkretis sehingga mudah dicurigai sebagai bidah/syirik. Dan dengan demikian tidak bisa diperbandingkan dengan suatu agama.
  • Ketiga, kejawen memuat begitu banyak konsep-konsep filosophis-etis. Oleh karena itu kejawen lebih fungsional ditempatkan sebagai sebuah sistem etika-sosial yang memaknai agama dibanding sebagai sebuah agama otonom. Bahkan bagi orang jawa sendiri, kejawen lebih dipahami sebagai konteks yang menguji agama-agama dalam mentransformasikan masyarakat[4]
  • Keempat, karena tidak memiliki sistem jaringan organisasi dan penyeragaman konfesi atau dogma, kejawen lebih mudah dianalisis dengan teori-teori sosial sebagai perlawanan terhadap situasi politik atau usaha reformasi agama atau ketidakpuasan terhadap agama yang ada.
Read More