Drona: Sang Guru Visioner

Ekalaya atau yang disebut juga sebagai Bambang Palgunadi adalah seorang satria dari bangsa Nisadha. Bangsa ini terkenal sebagai bangsa pemburu yang ahli di hutan, serta menggunakan panah sebagai senjata utamanya. Karena itu, Ekalaya muda berniat memperdalam ilmu memanahnya dengan berguru kepada Resi Drona.

Tentunya bagi para penikmat cerita Wayang mengetahui bahwa pada akhirnya Ekalaya memotong ibu jarinya atas perintah Drona. Hal ini didasari atas permintaan Drona yang meminta tanda bakti (daksina) dari Ekalaya sebagai murid, berupa cincin Mustika Ampal yang terletak dan menyatu dengan ibu jari Ekalaya. Umumnya disepakati bahwa motifasi Drona melakukan ini karena rasa kasih dan sayangnya terhadap Arjuna, dan menggadang-gadang Arjuna sebagai Pemanah tanpa tanding dan tidak tersaingi oleh siapapun.

Benarkah Drona melakukan itu atas dasar rasa sayang yang berlebih kepada Arjuna? ataukah Drona sebagai guru telah kehilangan rasa adil terhadap murid-muridnya? Atau, sebenarnya Drona sebagai seorang resi yang juga keturunan brahmana-raja memiliki pertimbangan khusus, yang bilamana dijelaskanpun, tak mudah untuk dipahami civitas akademikanya pada saat itu.

Read More
Gendhing-gendhing Yang Digunakan Di Dalam Pewayangan

Menurut Gothek, gendhing-gendhing yang digunakan dalam wayang kulit seperti yang disebutkan di bawah ini dibuat oleh para pujangga besar, ahli dalam kawruh seni tari, pedalangan dan berbagai bidang ilmu jawa. Gendhing-gendhing ini telah disesuaikan dengan rasa dan pangrasa serta jenis wayang yang ditampilkan, seperti: Gendhing Tlutur untuk megiringi wayang yang menderita dan sengsara, Gendhing Diradameta untuk mengiringi wayang yang sombong dan penuh keberanian, dan sebagainya, karena sebenarnya gendhing-gendhing Orang Jawa memiliki rasa-pangrasa yang mendalam, dan mempunyai wibawa yang beragam.

Namun karena mempertimbangkan aspek sopan dan santun, saat ini gendhing wayang seperti tersebut di bawah ini sudah banyak yang tidak digunakan, dan ada beberapa yang sudah diganti dengan gendhing baru, misalnya: Bambangan turun dari gunung, tidak menggunakan Ayak, tetapi menggunakan Ladrang Kasatriyan atau Ketawang Subakastawa Slendro pathet Sanga. Pertempuran dengan Kemuda Pelog Nem, Kapalan dengan Tropongbang Pelog nem, dan sebagainya.

Tentu saja, perubahan ini, pada gilirannya, menghasilkan reaksi dan feedback yang beragam. Hal inilah yang memberikan saya gambaran mengenai kondisi baru dan masa depan. Tetapi, sekiranya masih relevan jika kita mendata ulang tentang deskripsi nama-nama gendhing standar yang digunakan dalam pedalangan. Hal ini dapat berguna sebagai ukuran, contoh atau pertimbangan bagi yang tertarik dengan ilmu Pedhalangan. Berikut adalah beberapa gendhing-gendhing yang menjadi acuan pada pagelaran klasik:

Read More
Tri Kahana Loka

Bebuka

Rinengga sagunging karahayon

Nuwun awiyosipun :

Jer jejering kita manungsa gesang, kita kedah enget dhumateng gesang kita pribadi, kita kedah tresna dhateng sesami, kedah percados dhateng gesangipun tuwin batosipun piyambak-piyambak. Sampun ngantos gugon-tuhon, sampun pitados memuji kayu-watu utawi nyembah brahala sesaminipun.

Kedah nyantosaaken kapitayan dhumateng badanipun tuwin batosipun piyambak.

Menggah wontenipun gesang kita punika, mboten saged dipun pisah-pisahaken kaliyan wontenipin Gaib, inggih punika Gaibing Gusti Ingkang Maha Suci ingkang langkung samar.

Mila ing ngriki nuwun-nuwun sewu, dene kumawantun kula badhe nyingkap wewados kahananing dumados, ingkang kula gelar wonten ing salebeting Primbon punika. Supados pada Kadang Warganing Ngelmi Kabatosan sampun ngantos kerut dhateng panasaran.

Read More
Kelas Sosial Jawa

Semua orang tentunya tidak asing dengan penggolongan kelas sosial seperti satria, brahmana, waisya dan sudra. Hal ini seakan menjadi sebuah kerangka dasar dalam bermasyarakat dan inter-relasi yang mempengaruhi bagaimana tata cara berbicara, berperilaku bahkan berpandangan terhadap orang-orang yang menyandang atau berasal dari kelas tertentu ke kelas yang lain.

Di sisi lain, benar adanya bahwa kehidupan dalam bermasyarakat tidak dapat dipisahkan dari jenjang status kehidupan yang bertingkat-tingkat. Status tersebut diakibatkan oleh banyak faktor seperti karena keturunan, pendidikan, ekonomi dan spiritual.

Meskipun realitanya manusia memang diciptakan untuk berbeda-beda, tetapi manusia kadang terdikotomi dengan status tersebut sehingga mengganggu keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Satu bentuk variasi kehidupan dari hasil perbedaan adalah fenomena stratifikasi (tingkatan-tingkatan) sosial yang terjadi melalui proses suatu bentuk kehidupan baik berupa gagasan, nilai, norma, aktifitas sosial, maupun benda-benda.

Karena itu, fenomena dari stratifikasi sosial akan selalu ada dalam kehidupan manusia, sesederhana apapun kehidupan, berbeda satu sama lain, tergantung bagaimana cara kita menempatkannya.

Read More
Kritik dalam tradisi Jawa

Kenapa budaya rasan-rasan sangat umum dan menjadi kaprah dikalangan masyarakat kita. Terlepas dari memang hobi atau terlalu nganggur, mungkin jawabannya adalah untuk menghindari rasa tidak enak yang timbul jika harus melakukan kritik secara langsung. Anggapan bahwa mengkritik adalah suatu yang tabu masih dipegang teguh. Hingga pemikiran-pemikiran kritis dan saran yang membangun tidak tersalurkan melalui kanal yang tepat.

Pada kenyataannya, tradisi berpikir kritis ini sudah mendarah daging sejak dahulu. Banyak sekali kritik-kritik yang disampaikan secara halus hingga cara paling vulgar disampaikan para filsuf dan pemikir Jawa. Pada umumnya, kritik ini akan disampaikan melalui bahasa sastra yang terhimpun dalam serat-serat pendek atau cuplikan babad.

Read More
Pesan dalam lakon Ciptaning

Dalam pewayangan, janturan yang biasa diucapkan Dalang saat menceritakan tokoh Arjuna akan terkesan sangat hiperbola. Segala kelokan, kesaktian, kelebihan dan kebaikan Janaka di gambarkan dalam bahasa indah yang tersusun sangat rapi. Bahkan sudah umum pula wayang Arjuna atau Janaka yang konon beristri hingga 4000 ini (yang terdaftar KUA hanya 15) ditempel di ruang tamu dan dijadikan ikon. Tetapi benarkah demikian yang terjadi? Benarkah Arjuna memang seorang tokoh istimewa yang tanpa cacat?

Kisah mengenai Arjuna memang sangat panjang, beragam dan terbilang cukup dominan dalam epos Mahabharata. Bahkan di dunia pewayangan, tokoh arjuna termasuk wayang yang mempunyai wanda atau bentuk yang terbilang banyak. Wanda sendiri berfungsi untuk mewakili watak dan karakter penokohan secara khusus dan spesifik dalam sebuah cerita. Diantaranya adalah wanda Jimat, Malatsih, Kanyut, Renteng, Mangu, Muntap, Kedu dan Kinanti. Dari tokoh Janaka muda atau Permadi terdapat wanda Temanten, Pengawe, Pengasih, Kinanti dan Kadung.

Read More
Sengkelat

Sengkelat/Sêngkêlat/Sangkelat, jv: ꦱꦼꦁꦏꦼꦭꦠ꧀, merupakan keris Luk 13 dengan ricikan Lis, Gusèn, Kembang Kacang, sogokan. Terdapat beberapa jenis varian dari dhapur ini, yaitu Sengkelat a, Sêngkêlat Bimakurda

Menurut Centhini

Dhapur Sêngkêlat ginita |
maknanira yèku urubing ati |
murade patrap linuhung |
dene ta rahsanira |
ing sarina kalawan sawênginipun |
tangi lungguh mlaku nendra |
duga-duga aywa kari |

Centhini III/236:7

Arti

Dhapur sengkelat diceritakan |
maknanya yaitu berkobarnya hati |
maksudnya adalah kelakuan yang terpuji |
terhadap nurani |
di siang dan malamnya |
berdiri duduk berjalan dan tidur |
perliaku baik jangan ketinggalan |

Read More
Katuranggan Perkutut Menurut Serat Ngalamating Kutut

Serat Ngalamating Kutut berisi mitos tentang perkutut, burung yang sering menjadi kelangenan bagi masyarakat Jawa.Teks itu tersebar di masyarakat yang memiliki paham kejawen. Teks tersebut mengandung  larangan  dan anjuran bagi orang yang mencintai perkutut. Berdasarkan isinya, masyarakat diharapkan percaya tentang sifat-sifat burung perkutut yang baik dan buruk.

Teks tersebut menguraikan lima belas macam burung perkutut. Dari kelima belas macam tersebut dapat dibagi menjadi dua. Sembilan macam adalah burung perkutut yang baik dan sebaiknya dipelihara. Sementara itu, enam macam yang lain merupakan burung yang buruk dan dilarang untuk dipelihara.

Read More
Taman Wisata Wendit, Persinggahan Hayam Wuruk

Wendit merupakan tempat wisata dibawah pengelolaan badan usaha milik daerah kabupaten Malang. Sebagai penunjang area wisata, di Wendit juga dilengkapi dengan area bermain, kolam renang alamai dan buatan serta pusat jajanan. Hingga saat ini, area di sekitar Wendit masih banyak ditemukan pohon-pohon besar yang dihuni kera berekor panjang.

Selain pemanfaatan sebagai wana wisata, air yang bersumber dari area wendit juga dimanfaatkan oleh perusahaan air minum setempat. Selain itu secara arkais, wendit mempunyai sejarah panjang yang sempat juga tertulis pada prasasti dan kitab Negarakrtagama.

Read More