Perkembangan Dan Masa Depan Seni Pedhalangan Gagrag Jawa Timuran

“Niyatingsun andhalang wayangingsun bang-bang paesan ………………………………… Ingsun dhalang purbawasesa …………………………………”

Pelungan Jawa Timuran

Kalimat (syair) diatas adalah cuplikan dari lagu ” Pelungan “ yang disenandungkan bersamaan Gendhing Gondokusumo saat berlangsungnya jejer I. Dan inilah salah satu ciri Seni pedhalangan gagrag Jawa Timuran disaat penyajian.

Kalimat-kalimat Pekungan itu mempunyai makna do’a atau mantera, yaitu permohonan kepada Tuhan agar yang terucap mendapatkan berkat sehingga semua gangguan tak ada yang bisa mendekat. Dengan demikian penyajian wayang akan selesai dalam waktu semalam suntuk tanpa gangguan suatu apa.

Sedangkan Gendhing Gondokusumo yang pathet sepuluh itu merupakan satu- satunya gendhing pengiring jejer I bagi seni pertunjukan wayang Jawa Timuran pada saat ini.

Read More
Arti, Filosofi dan Fungsi Ketupat

Menurut H.J. de Graaf dalam Malay Annal, ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Patah awal abad ke-15. De Graaf menduga kulit ketupat yang terbuat dari janur berfungsi untuk menunjukkan identitas budaya pesisiran yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Warna kuning pada janur dimaknai oleh de Graff sebagai upaya masyarakat pesisir Jawa untuk membedakan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.

Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa, yang membangun kekuatan politik dan penyiaran agama Islam dengan dukungan Walisongo (sembilan wali). Ketika menyebarkan Islam ke pedalaman, Walisongo melakukan pendekatan budaya agraris, tempat unsur keramat dan berkah sangatlah penting untuk melanggengkan kehidupan. Di sinilah pentingnya akulturasi. Raden Mas Sahid, anggota Walisongo yang sohor dengan panggilan Sunan Kalijaga, lalu memperkenalkan dan memasukkan ketupat, simbol yang sebelumnya sudah dikenal masyarakat, dalam perayaan lebaran ketupat, perayaan yang dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal atau sepekan setelah hari raya Idul Fitri dan enam hari berpuasa Syawal.

Read More
Serat Wedharaga

Karya besar dari mPu Djanggan Kraton R.Ng Ranggawarsita di tahun 1799 J. Terangkai dalam bentuk tembang Gambuh. Menceritakan percakapan antara seorang sesepuh bernama Ki Gambuh dengan seorang pemuda yang memiliki kepandaian, kecerdasan dan bakat untuk menjadi orang pinunjul. Percakapan ini berisi mengenai petuah disertai kritik-kritik tajam, yang bagi para pembaca terutama yang masih muda harus bijak dalam menyikapi. Ajaran ini tidak dikhususkan hanya kapada para generasi muda saja, beberapa kritik tajam juga di arahkan ke para “sesepuh” atau yang telah merasa sepuh pada. Contoh pada canto ke-5 disebutkan

Ing tembe yen wus pikun, pantes bae ulah idu wilut, bangsa bincil ambabatang ngusadani, mbok munia theyot theblung, tan ana wong amaido.

Wedharaga Canto 5

Secara umum pesan yang ingin disampaikan pada serat ini meliputi, sopan-santun, tirakat, olah raga, jiwa dan bathin. Selengkapnya, silahkan dibaca dan simak tiap baitnya.

Read More
Arti dan Fungsi Nasi Tumpeng

ABSTRAK

Tujuan dari makalah ini adalah untuk memfokuskan pada morfologi pesta tradisional Indonesia yang digunakan dalam banyak ritual komunal, nasi tumpeng (nasi kuning berbentuk kerucut). Meski sudah banyak artikel yang menulis tentang ritual selametan, hanya sedikit yang bisa ditemukan tentang Nasi Tumpeng. Pengertian selametan mengungkapkan pengertian syukur, berkah dan rahmat. Itu diadakan untuk merayakan ritus peralihan dan mempromosikan rasa komunitas. Makalah ini berpendapat bahwa meskipun nasi tumpeng hanya merupakan komponen dari ritual selametan, namun bisa dibilang memberikan konteks yang lebih luas di wilayah yang lebih luas daripada ritual selametan.

Bagian pertama dari makalah ini membongkar dan mengeksplorasi nasi tumpeng tradisional. Ini memberikan wawasan yang lebih dalam tentang konsep inti nasi tumpeng sebagai pesta ritual dari segi estetika, nilai, fungsi dan maknanya. Nasi tumpeng memiliki arti lebih dari sekedar makanan atau resep. Alih-alih itu adalah kisah pesta ritual tradisional yang mencerminkan budaya dan cara hidup Jawa. Bagian kedua akan membahas tentang nilai signifikansi dan perubahan nasi tumpeng dalam konteks kekinian. Melalui analisis ini, pemahaman yang lebih mendalam tentang budaya pangan Indonesia akan tercapai.

Read More
Pasopati/Pasupati

jv: ꦥꦱꦺꦴꦥꦠꦶ. Pasopati adalah nama dhapur keris lurus dengan ricikan ada-ada, kêmbang kacang pagog, sogokan, lambe gajah siji, sraweyan, ri pandhan. Sedangkan menurut catatan Mpu Djeno Harumbrodjo ditambah dengan gusen.

Kisah Pembuatan

Dari catatan Padmasukaca di buku Sarine Basa disebutkan bahwa empu pembuatnya adalah Empu Sura (putra dari Empu Supa), sedikit berbeda dengan catatan Centhini yang tidak menyebutkan secara rinci dari empu, tahun pembuatan dan masanya. Di serat centhini hanya disebutkan bahwa:

Tuwin sintên ingkang (ng)garap | Kyai Anom mèsêm wacana aris | anak pitakonmu iku | dakjujug nalikanya | jumênênge risang Dhêstharastra Prabu | binathara ing Ngastina | wus ana dhapure kêris ||

Nanging mung sangalas warna | iya iku ran dhapur Pasopati | Sêmpana Krajan Carubuk | Lar-ngatap Cundrik Sêpang | Jalak-dinding Bango-dholok Yuyurumpung | Tilam-upih Bakung Santan | Balebang Kalamisani ||

Centhini II/109:26-27
Read More
Pelacuran Masa Jawa Kuno

Pelacuran merupakan bisnis tertua yang dikenal manusia sejak zaman dulu. Praktik prostitusi seakan sudah melekat dalam sejarah peradaban manusia, baik peradaban kuno maupun modern. Jurnalis masyur asal Chicago, AS, Anne Keegan, dalam artikel bertajuk “World’s Oldest Profession Has The Night Off” bahkan menggambarkan pelacuran sebagai profesi paling tua di dunia.

Bahkan hingga kini, bisnis haram ini kian mengalami kemajuan seiring dengan berkembangnya teknologi, terutama di era industri 4.0 ini. Salah satunya dengan media internet yang saat ini makin digandrungi berbagai kalangan, membuat pelacuran menjadi makin mudah didapatkan.

Read More
Eksistensi Kulub Dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

Kulub merupakan salah satu makanan masa Jawa Kuna yang terus mengalami dinamika dari masa ke masa. Makanan ini berasal dari bermacam sayuran yang direbus bersama hingga matang. Bahan bakunya berasal dari tumbuh-tumbuhan lokal yang sering ditemui seperti daun papaya, singkong, ubi, dsb. Meskipun nampak sederhana namun kulub memiliki nilai filosofis tersembunyi yang patut untuk dijadikan pegangan hidup manusia.

Kata Kunci: kulub, sayur rebus, nilai filosofi.

Pendahuluan

Kehidupan manusia tak dapat dipisahkan dari keberadaan makanan. Oleh
karenanaya, dapat dikatakan pula bahwa makanan merupakan salah satu penanda peradaban manusia di bumi ini. Makanan dan manusia ibarat kepingan uang logam yang tak dapat dipisahkan sisi satu dengan lainnya, tak ada manusia tak kan ada makanan demikian pula sebaliknya, sehingga makanan menjadi hal utama yang harus diperjuangkan manusia sebagai sarana penyambung hidup. Lewat makanan pula, kelak manusia akan menjadi makhluk yang tamak dan rakus sehingga mengubah image makanan sebagai sarana hidup menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan
mati-matian di dalam hidup.

Read More
Toleransi Pada Masa Jawa Kuno

Indonesia terdiri dari banyak pulau, ada berbagai ras dan suku bangsa di dalamnya. Inilah yang membuat Indonesia kaya akan keberagamannya. Mulai masa klasik atau kuno di era kerajaan-kerajaan di nusantara sudah mengenal akan adanya perbedaan. Entah itu antar suku ataupun agama.

Para founding father membuat negara ini tidak lepas dari peninggalan leluhur, contohnya seperti lambang negara kita yaitu Burung Garuda. Burung Garuda sendiri merupakan hewan mitologi dalam agama Hindu yang tertulis di dalam kitab parwa. Kisah sang Garuda atau Garudeya intinya menyelamatkan sang ibu dari perbudakan. Inilah yang mungkin menjadi inspirasi Soekarno, Moh. Hatta, Moh. Yamin dan Sutan Syahrir menjadikan Burung Garuda sebagai lambang Negara kita. Karena bangsa Indonesia di ibaratkan sebagai burung Garuda dan ibunya sebagai rakyat Indonesia yang diperbudak oleh bangsa asing.

Read More
Konsep Dasar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara dalam Kakawin Nagara Krtagama

PENDAHULUAN

Latar Belakang


Sudah sering kita ketahui memang, jika aspek-aspek dasar dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara kita lahir dari pemikiran para pendahulu kita sejak jaman Kerajaan Hindu dan Budha berkembang di Indonesia. Konsep-konsep dasar bernegara tersebut tertuang pada banyak karya sastra yang masih lestari hingga saat ini. Salah satu diantaranya adalah konsep dasar bernegara yang terdapat di dalam Kakawin Nagara Krtagama karya Mpu Prapanca yang ditulis ketika Kerajaan Majapahit mencapai puncak kegemilangannya.

Jika kita kaji lebih cermat lagi, selain warisan istilah Pancasila yang kita gunakan sebagai dasar negara kita saat ini, dalam Kakawin Nagara Krtagama juga terdapat konsep-konsep Nasionalisme yang sangat patut kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Oleh karenanya, penulis memilih tema bahasan “Konsep Dasar Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara Menurut Kakawin Nagara Krtagama” dengan maksud untuk menggali lagi nilai-nilai filosofis yang terdapat dalam karya sastra Nagara Krtagama supaya dapat dipahami serta diamalkan pembaca dalam kehidupan sehari-hari.

Read More
Perjalanan Religi Gunung Arjuno (Bagian 1)

Gunung Arjuna atau sering juga ditulis Arjuno, berada di Jawa Timur ini memiliki ketinggian 3.339 m dpl. Merupakan gunung berapi dengan tipe kerucut dibawah pengelolaan TAHURA Raden Soerjo. Identifikasi nama Arjuna sebagai sebuah gunung terdapat pada kidung Tantu Pagelaran dengan kolofon yang berangka tahun 1557 Çaka atau 1635 M. Disebutkan pada kidung tersebut :

Col andap kulwan, maluhur wetan ikang nusa Jawa; yata pinupak sang hyang Mahameru, pinalih mangetan. Tunggak-nira hana kari kulwan ; matangnyan hana argga Kelaga ngaranya mangke, tunggak sang hyang Mahameru nguni kacaritanya. Pucak-nira pinalih mangetan, pinuter kinembulan dening dewata kabeh ; runtuh teka sang hyang Mahameru. Kunang tambe ning lemah runtuh matmahan gunung Katong; kaping rwaning lmah runtuh matmahan gunung Wilis; kaping tiganing lmah runtuh matmahan gunung Kampud; kaping pat ing lmah runtuh matmahan gunung Kawi; kaping limaning lmah runtuh matmahan gunung Arjjuna; kaping nem ing lmah runtuh matmahan gunung Kumukus.

Tantu Pagelaran
Read More