Muatan Nilai Nasionalisme Etnis Dalam Tembang Dolanan Anak Jawa (1861-1939)

Ringkasan

Tembang dolanan sebagai salah satu bagian dari tradisi lisan masyarakat Jawa, semakin menguat fungsi dan perannya pada awal abad ke XX sebagai media pembelajaran sekaligus sebagai media kritik terhadap realitas sosial yang terjadi. Oleh sebab itu, maka yang menjadi fokus bahasan dalam artikel ini adalah bagaimana kondisi sosial masyarakat Jawa pada masa Pakubuwana IX hingga Pakubuwana X serta bagaimana muatan yang terkandung dalam tembang dolanan anak Jawa pada awal abad ke XX. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan ilmu dukung semiotik yang menghasilkan hasil penelitian berupa analisis mengenai kehidupan sosial masyarakat Jawa pada masa Pakubuwana IX hingga Pakubuwana X ditengah penetrasi politik pemerintah kolonial dan analisis terhadap bentuk dan fungsi dari tembang dolanan anak Jawa beserta nilai nasionalisme yang terkandung di dalamnya.

Kata Kunci: Nasionalisme, Tembang Dolanan, Awal Abad XX

Keterikatan dan asosiasi manusia beserta lingkungan alam tempat tinggalnya akan membentuk suatu budaya yang akan menjadi ciri khas apabila dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di wilayah lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke V (KBBI V:2016) budaya merupakan hasil pikiran ataupun akal budi manusia yang tertuang dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangka kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta Budhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang berarti budi atau akal. Budaya terdiri dari unsur-unsur rumit yang menyangkut pola tindakan manusia dan dapat diwariskan dari generasi satu ke generasi selanjutnya. Budaya juga dapat mencerminkan ciri khas dari suatu kelompok manusia yang menghuni atau menempati suatu daerah .

Read More