“Maido” cara Jawa

Dhupak bujang  merupakan salah satu cara dari tiga jalan yang dapat dilakukan oleh orang Jawa untuk mengutarakan pesan kritis. Mengapa terdapat tiga jalan? Hal ini dikarenakan orang Jawa memiliki strata sosial. Tiga cara ini dilakukan berdasarkan kesesuaian posisi sosial seseorang yang akan mengkritik kepada pihak yang akan dikritisi. Istilah dhupak bujang sendiri secara harafiah dapat diartikan sebagai tendangan lelaki dewasa. Dhupak dapat diartikan sebagai tendangan keras di wajah dan bujang dapat dimaknai sebagai laki-laki muda atau dewasa. 

Pengertian

Dalam pengertian harafiahnya, yang dimaksud sebagai dhupak adalah suatu hal yang menyebabkan rasa sakit, utamanya ungkapan pesan yang nyelekit atau menyakitkan. Sementara itu bujang diartikan sebagai orang yang memiliki kemampuan kuat seperti aktivitas menendang. Apabila seorang pemuda menendang, atau dalam konteks ini seseorang yang tengah mengkritik, maka tendangan (atau kritik) tersampaikan dengan keras. Tujuan cara kritik dhupak bujang adalah agar pihak yang sedang dikritisi dapat menangkap pesan secara langsung, serta dapat menanggapi dan menyadari bahwa tindakannya masih memiliki beberapa kekurangan. Cara kritik seperti ini biasa dilakukan dengan cara yang lugas. Kesan yang akan disampaikan dalam metode kritik ini merupakan kritik yang pedas dan terbuka.

Read More