PROSESI “HADEG RAJAPRASASTI SANGGURAN” DI BHUMI NGANDAT

Perwujudan Kecintaan pada Sejarah

A. Replikasi “Tetenger Sejarah Daerah”

Mutiara kata bilang “tidak ada rotan, akar pun jadi”. Tersirat arti bahwa kendatipun hal utama yang sesungguhnya tidaklah memungkinkan untuk bisa dihadirkan, apa yang dapat dijadikan sebagai “pengganti serupa”nya telah cukuplah berarti. Siratan makna mutiara kata tersebut menyemangati sejumlah pemeduli sejarah dan budaya di Malang Raya untuk berbuat sesuatu bagi petanda (tetenger) sejarah daerahnya, yakni Sejarah Daerah Batu.

Tetenger itu berupa prasasti, yakni linggoprasasti (prasasti batu) Sangguran (928 Masehi). Sejak awal tahun 1800-an hingga kini, prasasti Sangguran berada nun jauh di sebrang sana, di negara Schotlandia. Mengapa prasasti yang mulanya berada di daerah Batu itu bisa “melanglang lintas benua” dari Kota Batu pada benua Asia ke negara Schotlandia pada benua Eropa dengan terlebih dahulu untuk beberapa lama sempat singgah di Kolkata (sebelumnya bernama “Calcutta” atau “Kalkuta”), yakni kota pelabuhan Bengal (Benggala Barat)?

Read More
Khasanah Udheng di Jawa

“That an object is useful, that it required virtuoso skill to make – neither of these precludes it from also thought beautiful. Some craft generate from within their own tradition a feeling for beauty and with it appropriate aesthetic standards and common of taste”

– Howard S. Becker
Read More
PESAN NATAL 2020

Kepada yang terkasih, semua makhluk di Nusantara.

Intro

Ada ungkapan bahwa kehadiran Yesus di dunia ini adalah untuk menjadi Juru Selamat. Demi keselamatan bumi dan seisinyalah Dia sebagai manusia di antara kita, menjalani segala pengalaman perasaan hidup apa adanya. Demikianlah pesan natal ini disadari sebagai pesan bersama dari umat manusia dan bagi segala bentuk dan makhluk ciptaan Tuhan dalam segala pengalaman dan perasaan hidup yang sekarang sedang dijalaninya.

Kalau ada orang datang hendak menyelamatkan kita, apakah kita akan bertanya apa agamanya terlebih dahulu? Juga kalau kita hendak melakukan tindakan penyelamatan terhadap seseorang, masakan kita hanya akan bersedia jika orang tersebut sealiran dengan kita?

Read More
Kejawen: Jalan panjang menuju Agama sipil

Ha – Na – Ca – Ra – Ka [2]

(Ada Sebuah Cerita)

Meskipun masih sangat populer digunakan untuk mengidentifikasi perilaku religius orang Jawa, kejawen[3] masih berada dalam wacana perdebatan untuk diklasifikasikan sebagai agama. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

  • Pertama, kejawen sebagai pola hidup suatu kelompok masyarakat yang sifatnya terbuka lebih mudah dianalisa sebagai jenis/ragam budaya dalam arti umum. Kejawen adalah perwujudan kembali budaya jawa kuno yang melestarikan nilai-nilai jawa dalam memaknai perilaku religius seseorang. Konsep-konsep kejawen yang kosmologis-etis, individualistik-ekstasis dan harmonis-idiologis sangat memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan diri pada perubahan sosial yang terjadi. Oleh karenanya studi tentang kejawen adalah studi tentang budaya jawa.
  • Kedua, penelitian pada kejawen dilakukan dalam perspektif agama tertentu. Dengan pendekatan agama yang memiliki kategori-kategori khusus misalnya Tuhan, Nabi dan kitab suci, kejawen tidak bisa dipahami sebagai agama. Dalam perspektif teistik, kejawen bersifat mistis-sinkretis sehingga mudah dicurigai sebagai bidah/syirik. Dan dengan demikian tidak bisa diperbandingkan dengan suatu agama.
  • Ketiga, kejawen memuat begitu banyak konsep-konsep filosophis-etis. Oleh karena itu kejawen lebih fungsional ditempatkan sebagai sebuah sistem etika-sosial yang memaknai agama dibanding sebagai sebuah agama otonom. Bahkan bagi orang jawa sendiri, kejawen lebih dipahami sebagai konteks yang menguji agama-agama dalam mentransformasikan masyarakat[4]
  • Keempat, karena tidak memiliki sistem jaringan organisasi dan penyeragaman konfesi atau dogma, kejawen lebih mudah dianalisis dengan teori-teori sosial sebagai perlawanan terhadap situasi politik atau usaha reformasi agama atau ketidakpuasan terhadap agama yang ada.
Read More
Drona: Sang Guru Visioner

Ekalaya atau yang disebut juga sebagai Bambang Palgunadi adalah seorang satria dari bangsa Nisadha. Bangsa ini terkenal sebagai bangsa pemburu yang ahli di hutan, serta menggunakan panah sebagai senjata utamanya. Karena itu, Ekalaya muda berniat memperdalam ilmu memanahnya dengan berguru kepada Resi Drona.

Tentunya bagi para penikmat cerita Wayang mengetahui bahwa pada akhirnya Ekalaya memotong ibu jarinya atas perintah Drona. Hal ini didasari atas permintaan Drona yang meminta tanda bakti (daksina) dari Ekalaya sebagai murid, berupa cincin Mustika Ampal yang terletak dan menyatu dengan ibu jari Ekalaya. Umumnya disepakati bahwa motifasi Drona melakukan ini karena rasa kasih dan sayangnya terhadap Arjuna, dan menggadang-gadang Arjuna sebagai Pemanah tanpa tanding dan tidak tersaingi oleh siapapun.

Benarkah Drona melakukan itu atas dasar rasa sayang yang berlebih kepada Arjuna? ataukah Drona sebagai guru telah kehilangan rasa adil terhadap murid-muridnya? Atau, sebenarnya Drona sebagai seorang resi yang juga keturunan brahmana-raja memiliki pertimbangan khusus, yang bilamana dijelaskanpun, tak mudah untuk dipahami civitas akademikanya pada saat itu.

Read More
Tri Kahana Loka Bab : XXI

POKOK :  Guru wewaton kanggo wong laki rabi.

Den sira kawruhana ing ngisor iki njupuk kanggo pathokan saka wong tuwane lanang lan wadon, sarta mara tuwa lanang wadon lan si penganten lanang wadon, gunggunge kabeh ana 6 (nem) dadi  PETUNG  NEM.

Lakune kaya ngisor iki :

Njupuk naptune manten lanang lan wadon terus digunggung. Upama tumiba dina Jum’at paing naptune ana 15, lan dina Kamis Paing naptune 17. kabeh mau gunggunge ana naptu 32. upama nikahe dina Selasa Paing naptune 12, dadi gunggunge kabeh naptune 44. iku kang diarani wis cukup. Naptu 44 mau banjur dijupuk (6 – 6).

Dadi 44 dijupuk 6-6 utawa dibagi 6, nyisa 2. loro mau petungane dadi Jodho.

Kaya pratelan ing ngisor iki :

  1. Pati
  2. Jodho
  3. Rahayu
  4. Pegat
  5. Pandhita
  6. Pati Besan.
Read More
Gendhing-gendhing Yang Digunakan Di Dalam Pewayangan

Menurut Gothek, gendhing-gendhing yang digunakan dalam wayang kulit seperti yang disebutkan di bawah ini dibuat oleh para pujangga besar, ahli dalam kawruh seni tari, pedalangan dan berbagai bidang ilmu jawa. Gendhing-gendhing ini telah disesuaikan dengan rasa dan pangrasa serta jenis wayang yang ditampilkan, seperti: Gendhing Tlutur untuk megiringi wayang yang menderita dan sengsara, Gendhing Diradameta untuk mengiringi wayang yang sombong dan penuh keberanian, dan sebagainya, karena sebenarnya gendhing-gendhing Orang Jawa memiliki rasa-pangrasa yang mendalam, dan mempunyai wibawa yang beragam.

Namun karena mempertimbangkan aspek sopan dan santun, saat ini gendhing wayang seperti tersebut di bawah ini sudah banyak yang tidak digunakan, dan ada beberapa yang sudah diganti dengan gendhing baru, misalnya: Bambangan turun dari gunung, tidak menggunakan Ayak, tetapi menggunakan Ladrang Kasatriyan atau Ketawang Subakastawa Slendro pathet Sanga. Pertempuran dengan Kemuda Pelog Nem, Kapalan dengan Tropongbang Pelog nem, dan sebagainya.

Tentu saja, perubahan ini, pada gilirannya, menghasilkan reaksi dan feedback yang beragam. Hal inilah yang memberikan saya gambaran mengenai kondisi baru dan masa depan. Tetapi, sekiranya masih relevan jika kita mendata ulang tentang deskripsi nama-nama gendhing standar yang digunakan dalam pedalangan. Hal ini dapat berguna sebagai ukuran, contoh atau pertimbangan bagi yang tertarik dengan ilmu Pedhalangan. Berikut adalah beberapa gendhing-gendhing yang menjadi acuan pada pagelaran klasik:

Read More
Tri Kahana Loka

Bebuka

Rinengga sagunging karahayon

Nuwun awiyosipun :

Jer jejering kita manungsa gesang, kita kedah enget dhumateng gesang kita pribadi, kita kedah tresna dhateng sesami, kedah percados dhateng gesangipun tuwin batosipun piyambak-piyambak. Sampun ngantos gugon-tuhon, sampun pitados memuji kayu-watu utawi nyembah brahala sesaminipun.

Kedah nyantosaaken kapitayan dhumateng badanipun tuwin batosipun piyambak.

Menggah wontenipun gesang kita punika, mboten saged dipun pisah-pisahaken kaliyan wontenipin Gaib, inggih punika Gaibing Gusti Ingkang Maha Suci ingkang langkung samar.

Mila ing ngriki nuwun-nuwun sewu, dene kumawantun kula badhe nyingkap wewados kahananing dumados, ingkang kula gelar wonten ing salebeting Primbon punika. Supados pada Kadang Warganing Ngelmi Kabatosan sampun ngantos kerut dhateng panasaran.

Read More
Kelas Sosial Jawa

Semua orang tentunya tidak asing dengan penggolongan kelas sosial seperti satria, brahmana, waisya dan sudra. Hal ini seakan menjadi sebuah kerangka dasar dalam bermasyarakat dan inter-relasi yang mempengaruhi bagaimana tata cara berbicara, berperilaku bahkan berpandangan terhadap orang-orang yang menyandang atau berasal dari kelas tertentu ke kelas yang lain.

Di sisi lain, benar adanya bahwa kehidupan dalam bermasyarakat tidak dapat dipisahkan dari jenjang status kehidupan yang bertingkat-tingkat. Status tersebut diakibatkan oleh banyak faktor seperti karena keturunan, pendidikan, ekonomi dan spiritual.

Meskipun realitanya manusia memang diciptakan untuk berbeda-beda, tetapi manusia kadang terdikotomi dengan status tersebut sehingga mengganggu keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Satu bentuk variasi kehidupan dari hasil perbedaan adalah fenomena stratifikasi (tingkatan-tingkatan) sosial yang terjadi melalui proses suatu bentuk kehidupan baik berupa gagasan, nilai, norma, aktifitas sosial, maupun benda-benda.

Karena itu, fenomena dari stratifikasi sosial akan selalu ada dalam kehidupan manusia, sesederhana apapun kehidupan, berbeda satu sama lain, tergantung bagaimana cara kita menempatkannya.

Read More
Kritik dalam tradisi Jawa

Kenapa budaya rasan-rasan sangat umum dan menjadi kaprah dikalangan masyarakat kita. Terlepas dari memang hobi atau terlalu nganggur, mungkin jawabannya adalah untuk menghindari rasa tidak enak yang timbul jika harus melakukan kritik secara langsung. Anggapan bahwa mengkritik adalah suatu yang tabu masih dipegang teguh. Hingga pemikiran-pemikiran kritis dan saran yang membangun tidak tersalurkan melalui kanal yang tepat.

Pada kenyataannya, tradisi berpikir kritis ini sudah mendarah daging sejak dahulu. Banyak sekali kritik-kritik yang disampaikan secara halus hingga cara paling vulgar disampaikan para filsuf dan pemikir Jawa. Pada umumnya, kritik ini akan disampaikan melalui bahasa sastra yang terhimpun dalam serat-serat pendek atau cuplikan babad.

Read More